Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Kekesalan Rio


__ADS_3

Episode #117


    Amar segera menekan dada Asyifa, mengeluarkan air yang tertelan, dia juga memberikan nafas buatan, berkat usahanya Asyifa terbatuk dan mengeluarkan air yang sempat masuk.


    " Syukurlah, kalau airnya sudah keluar," Rio berucap penuh syukur, dia masih tidak menyangka, kalau Humaira yang selama ini dia kenal adalah Asyifa, tidak heran jika dia langsung menjabat sebagai asisten CEO Prameswari group, tapi kenapa dia harus menyembunyikan identitasnya?" hai ini harus aku selidiki, berbahaya jika ayah tau jika Humaira adalah Asyifa," Rio tengah termenung.


Asyifa, langsung di bawa keatas kapal.


Helena pun langsung panik dan segera membawa masuk ke kamar yang ada di kapal, perempuan paruh baya itu juga menggantikan baju Asyifa, untungnya Asyifa membawa pakaian ganti lebih,, ketika dia menyeka seluruh tubuh Asyifa, tidak ada hal yang aneh, bahkan tato kupu-kupu yang berwarna hijau sudah tidak nampak lagi, sehingga Helena tidak tahu jati diri Asyifa yang sebenarnya.


Setelah menyelesaikan mengganti pakaian Humaira, tiba tiba Amar menerobos masuk, nampak Asyifa sedang tertidur dengan wajah yang sangat polos.


Walaupun tidak rela, Helena meninggalkan Amar bersama Humaira, bagaimanapun dia tidak dekat dengan wanita itu di bandingkan Amar.


Setelah memastikan jika Humaira baik baik saja, Rio melangkah menuju ruang nakhoda.


Sesampainya di sana dia langsung berteriak, " Tolong jelaskan padaku, bagaimana kapal sebagus ini bisa berguncang hebat di arus yang tenang dengan cuaca yang cerah? kalau tidak ada yang bisa memberikan penjelasan, Aku akan bawa kasus ini ke jalur hukum karena kelalaian kalian yang membahayakan nyawa penumpang, Aku akan menuntut kalian dan perusahaan kalian?" Rio nampak menahan amarahnya.


Jika di pikirkan dengan cermat, jika bukan karena kejadian ini, Rio Tidak mungkin tahu jika Humaira adalah Asyifa, akan tetapi dia lebih memilih untuk tidak mengetahui identitas seseorang, jika itu membahayakan nyawa orang tersebut, cukup hanya dia yang kehilangan sahabat terbaiknya, dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.



"Masih tidak ada penjelasan? Baiklah, saya sudah menyuruh kalian mengakuinya sendiri, jangan salahkan saya, kita bertemu di pengadilan!" Rio berbalik badan dan berlalu pergi.



Semua orang di sana, termasuk kapten dan anak buah kapal, ketar ketir, mereka tau ada yang sengaja melakukan itu, tidak ada gunanya menjelaskan apapun.



Dua langkah sebelum mencapai pintu, Rio berhenti, " Jangan kalian pikir masalah akan berhenti di sini, Aku akan mencari dan menyelidiki sendiri, siapa yang terlibat, mudah sekali bagiku untuk mencari keluarga kalian, dan menghabisi mereka, tanpa meninggalkan jejak sedikitpun, pikirkanlah, apa kalian lebih memilih keluarga atau melindungi pihak yang merencanakan ini semua, jika aku sudah keluar dari ruangan ini, Aku menganggap kalian memilih opsi kedua," Rio langsung melangkahkan kakinya.

__ADS_1


Sebelum langkah terakhir keluar dari ruangan itu, seorang anak buah kapal berlutut dan mengaku, " Saya mengaku bersalah, ada yang menyuruh saya,"


Mulut Rio berkedut.


Ancaman seperti ini selalu berhasil, kebanyakan orang tidak takut bahaya yang menimpa dirinya, tetapi, takut membahayakan orang tercintanya, Rio pun kemudian berbalik.


" Saya salah pak, seorang Nona dari keluarga anda menyuap saya, dia,...." anak buah kapal itu menceritakan detail nya.


Setelah mendengarkan anak buah kapal tersebut Rio mengepalkan tangannya, "sepertinya mereka sudah hidup damai belakangan ini, sampai bisa bertingkah sejauh ini!"


Rio beranjak, tanpa mengucapkan sepatah katapun.


" PLAK!" Suara tamparan menggema di ruangan nakhoda, " Kalau kau mau mati jangan ngajak ngajak kami, keluarga Kusuma bukan orang yang bisa kita singgung, dengan satu kata, habiskan riwayat kita, dan semua keluarga kita, Lain kali, jangan bertingkah lagi!" seru kapten kapal, dan beranjak pergi.



Suasana seketika hening, di ruangan nakhoda.


Sementara itu, di lambung kapal, di kamar kabin, Amar menggenggam tangan Asyifa, wajah pucat Asyifa menambah perih hati Amar, Amar menggenggam tangan Asyifa hingga kapal berlabuh.


Rio dan Helena tetap berada di dalam kamar menemani Amar, tatapan Amar tak sedikitpun berpaling dari wajah pucat Asyifa.


Helena dan Rio saling bertatapan, mereka mengerti bahwa perasaan Amar begitu besar dan tulus pada Asyifa, Helena sedikit gusar, karena bagaimanapun dia berharap Angga yang akhirnya akan mempersunting gadis itu.


Tak lama kemudian, dokter datang bersama Angga, Terlihat jelas, Angga begitu khawatir, karena Bagaimanapun dia sudah nyaman dengan kehadiran Asyifa, kenyamanan sebagai seorang sahabat.


Ketika memasuki ruangan, Angga melihat kedua orang tuanya di sana, Angga juga sedikit terkejut, melihat kehadiran Amar di sana.



" Amar yang menyelamatkan Nona May!" ungkap Rio.

__ADS_1



Angga pun berterima kasih pada Amar tulus.


" Tolong kamu gantikan aku menemani Carrey, aku akan menjaga Humaira di sini, maaf jika aku tidak dapat hadir di acara ulang tahun nyonya Arum," Amar berkata pelan Kepada Angga, sekalipun dia tidak mengalihkan pandangannya pada Angga, dia tetap melihat Asyifa yang berbaring pucat.


Mendengar nama Carrey, Angga sedikit terkejut, dan sedikit lengkungan tercipta di bibirnya, walaupun sepersekian detik, hal itu tidak luput dari penglihatan Helena yang tajam, " Sepertinya anak ini punya hati untuk Carrey," pikir Helena, setelah melihat reaksi putranya.



" Tidak masalah, jangan terlalu sungkan, seharusnya aku yang meminta maaf, karena tidak dapat menjaganya dengan baik


," Nada penyesalan nampak jelas pada suara Angga.


" Saya periksa dulu ya?" Dokter yang sedari tadi di sana berdiri, akhirnya membuka suara, dia sedikit gugup dengan aura wibawa kedua tuan muda yang berpengaruh di negara ini.


Setelah memasang infus, Dokter berkata," Nona ini tidak apa apa, dia hanya sedikit shock, dengan istirahat sejenak, nanti dia akan sadar!" setelah mengatakan itu, dokter tersebut membereskan peralatannya.


Amar menghela nafas lega, setelah mendengar penjelasan dari dokter, dia tetap berada di sisi Asyifa.


Helena berpamitan, dia ingin memeriksa persiapan pesta ulang tahun nyonya Arum, sang mertua.


Rio mengajak Angga keluar, di sepanjang perjalanan, Rio menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, dia mengungkapkan, Bagaimana liciknya anggota keluarga lainnya, untuk menyingkirkan Humaira.


" Ini sudah tidak bisa didiamkan lagi pah! semakin kesini, mereka semakin keterlaluan, ini sudah termasuk tindak pidana kriminal, pembunuhan berencana, kita tidak bisa diam saja!" Angga berbicara begitu geram.



" Kamu tahu apa yang membuat mereka menderita, Sebaiknya benalu seperti mereka di buang saja, daripada semakin menjadi kedepannya!"Rio memberikan perintah, bukan lagi nasehat, Jelas, karena korbannya Asyifa, anak sahabatnya sendiri, rasa bersalahnya pada wanita itu semakin besar.


__ADS_1


" Tenang saja pa! Kali ini mereka akan membayar mahal," Angga memantapkan niatnya.


****


__ADS_2