
Episode #59.
Seminggu pasca hukum hakim, pada Ami Andreas.
Akhirnya Asyifa mendapat jadwal kosong juga, sehingga bisa membesuk mantan adik iparnya tersebut, setelah menjadwal ulang beberapa pemotretan, akhirnya Bastian bisa mengosongkan hari ini untuknya.
Seperti yang ada di pikirannya, Bastian memang layak di pekerjakan.
Asyifa masih berdiri di depan cermin, Riasannya sudah rapi, dandanannya pun kasual, Dia sudah tidak sabar ingin bertemu malaikat mautnya tersebut.
Dia hanya tersenyum sinis, membayangkan, seperti apa reaksi dari Ami, ketika dia mengungkapkan identitas nya, " Ami, oh, Ami, mbak akan segera datang, he he he,!" kekehannya sebelum meninggalkan apartemen.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya Asyifa sampai di lapas, dimana Ami sekarang tinggal.
Segera dia meninggalkan semua barang-barang elektronik dan yang lainnya di mobil, toh, sampai di sana, semua barang juga akan di tinggal di ruang pemeriksaan, jadi lebih baik dia hanya membawa kartu identitas dan cemilan makanan ringan kesana.
Ami, masih ada tamu, jadi Asyifa menunggu, tanpa ponsel di tangannya, terasa membosankan, dan Asyifa sesekali menguap, terasa mengantuk.
Beberapa petugas sipir memperhatikan paras cantiknya, mereka mengira-ngira wajah Asyifa tidak asing, ingin sekali mereka mengajak foto bareng, tapi niat itu terpaksa di kubur dalam dalam, bagaimanapun juga mereka sedang bertugas.
Tiga puluh menit kemudian, Asyifa sudah di persilahkan oleh petugas untuk menjenguk Ami, ketika dia hendak masuk, dia berpapasan dengan Andreas dan Ani, orang tua dari Ami, dan juga mantan mertuanya.
Andreas hanya melihatnya sekilas, dia merasa asing dengan parasnya, tapi entah mengapa dia merasakan Aura yang familiar, berbeda dengan Andreas, Ani terlihat bersemangat, bertemu dengan sosok Humaira, yang menolongnya sewaktu di pesta ulang tahun tuan WIJAYA Kusuma, tempo hari.
" Nak, May, membesuk siapa di sini?" tanya Ani ramah, dengan senyum khas menjilatnya, Ani masih mengingat penampilan wah dari Humaira kala itu, apalagi dengan perhiasan berlian yang di kenakan itu, " Benar benar konglomerat,!" batin Ani, Samar samar Ani mencium wangi parfum yang familiar, " Seperti wangi parfum Asyifa, sang menantu Babon bulet,!"
__ADS_1
" Saya membesuk teman lama di sini Tante, mari saya duluan!" Humaira yang tak lain adalah Asyifa, segera pamit undur diri, dia tak ingin berbasa-basi dengan mantan ibu mertuanya tersebut, sekilas dia melirik Andreas, ada kesedihan di pelupuk lelaki paruh baya itu, Asyifa hanya mendesah pelan, dan kemudian berlalu.
Ani, yang ingin berbincang lama, hanya menelan kekecewaan, dia hanya bisa menatap punggung wanita itu hingga menghilang dari pandangan.
Andreas segera menarik tangan istrinya untuk segera keluar dari lapas.
Ani tak ada pilihan lain, selain menuruti apa kata suaminya, tatapannya masih ke arah ruang tunggu.
Asyifa masuk, disana terlihat penampilan seorang Ami Andreas, yang biasanya selalu rapi dan fresh, sekarang begitu berbeda, lebih tepat di bilang kacau, tak ada lagi maskara, blush on, lipstik, eyeshadow, atau alis yang cetar membahana, yang ada sekarang adalah, sesosok wanita yang begitu layu, dan Kumal, alias kucel, wajahnya seperti menua sepuluh tahun lebih cepat.
Ami, awalnya senang, masih ada tamu yang berkunjung untuk nya, Dia sempat berfikir, bahwa yang membesuknya kali ini adalah Arif, suaminya, yang menyetujui untuk rujuk, akan tetapi dia harus kecewa, sosok yang datang adalah seorang wanita cantik, yang mirip dengan Dewi Yunani, Ami menyipitkan matanya, dia belum pernah melihat wanita itu sebelumnya, jadi dia tidak mengenalnya.
" He, he, he,!" Humaira alias Asyifa, hanya tertawa renyah, kemudian dia duduk di hadapan Ami, segera dia meletakkan makanan ringan yang tadi di bawanya di atas meja, Dengan santai dia membuka salah satu dan langsung memakannya.
Dia membawa makanan ringan tersebut tentu saja untuk dirinya sendiri, " Memberikan pada Ami?" uuh, itu namanya bersedekah tidak tepat sasaran, lebih baik dia memberi makan anjing liar, daripada wanita di hadapannya ini.
Ami masih keheranan dengan sikap perempuan di hadapannya ini, dia sudah malas untuk meladeninya, " Kalau tidak penting, aku akan kembali ke sel," Dengusnya, dan mulai berdiri, hendak beranjak meninggalkan Asyifa.
" Apa kau tidak rindu dengan mbak Babon bulet mu ini sayang? mbak berbaik hati datang menjengukmu loh, adik ipar kesayangan?"ucap Asyifa dengan suara aslinya, tidak ada lagi suara Humaira.
Mendengar suara yang sudah lama menghilang, tetapi masih kental di ingatan, bahwa itu adalah Benar benar suara Babon bulet, julukan yang dia, Ardi, Camilla dan mamanya Ani, berikan, perempuan itu menghentikan langkahnya, dan sedikit keringat mengucur di dahinya, Dia kemudian duduk kembali, dan memperhatikan perempuan itu dengan lekat, Ami, berusaha mencari persamaan dari Dewi Yunani di depannya ini dengan mantan Kaksk iparnya Asyifa, tetapi dia tidak menemukan, apapun.
__ADS_1
" Hahahaha, kau mau mencoba menipuku dengan menirukan sebuah suara? Babon bulet itu sudah mati! dia tidak akan mungkin kembali lagi! sebenarnya apa maumu, ha?" Ami sudah mulai bersikap kasar lagi, untungnya tangannya terborgol, jadi dia tidak bisa melakukan apa-apa.
" Aku sudah kembali dari kerak neraka, sayang? bagaimana dengan oleh oleh yang aku bawa? Apa kau menikmatinya? melihat kondisimu sekarang, kelihatannya kau cukup puas dengan buah tanganku, ha ha ha!" kekeh Asyifa, sambil memakan cemilan di tangannya, terlihat dia sangat menikmatinya.
" Coba di ingat ingat lagi, kesalahan apa saja yang ada di dalam hidupmu, setelah , Aku jatuh ke jurang, akibat botol air mineral yang kau bubuhi obat tidur itu? sengaja kau mendekatkan botol itu, agar aku segera mengambilnya, dan meninggalkan milikku di atas meja?"
Ami tercekat mendengar itu, hanya mereka berempat yang tau rencana itu, wajahnya semakin pucat, dia melihat Humaira seperti melihat seseorang yang bangkit dari kubur.
Melihat reaksi dari Ami, Asyifa tersenyum puas.
" Semua bukti sudah ada sayang, adik ipar manisku, Rekaman CCTV di cafe tersebut, Sudah ada di genggaman ku, hasil lab juga sudah keluar, dimana dalam darahku di temukan Obat tidur, semua hanya tinggal menunggu waktu sayang, kalau kau sekarang di hukum hanya sekitar lima tahun, setelah itu aku akan bongkar kasus ini, dan hukumanmu akan di tambah menjadi hukuman mati, atau seumur hidup, akibat pembunuhan berencana,\* Asyifa mengungkapkan fakta dengan begitu santai,, seolah tidak ada beban di hatinya.
Ami sebenarnya sudah ketakutan, apa yang di katakan wanita di depannya ini adalah sebuah kebenaran, tetapi dia masih tidak ingin mengakuinya, dan berbalik melawan.
" Hahahaha, dengan parasmu yang sudah berubah ini, tidak akan ada yang percaya, membuallah terus, tak akan ada yang percaya," Ami terkekeh, mencoba menutupi ketakutannya.
" Ooh, seperti itu rupanya!" Asyifa menatap Ami lekat, dan kemudian tersenyum, " Aku bukan Babon bulet yang bodoh, yang selama ini kalian pikir, aku diam bukan berarti aku tidak bisa melakukan apa-apa, lihatlah dirimu sekarang, apakah aku turun tangan untuk menghancurkanmu? kalau kau berpikiran seperti itu, sungguh, Darling, kau sangat naif!"
Tatapan intimidasi dari Asyifa membuat hawa dingin menyeruak dalam ruangan itu,
Ami kemudian teringat dengan panggilan perempuan itu," Darling? itu adalah panggilan khusus Asyifa pada dirinya, di awal dia menikah dengan kakaknya, jadi? apakah ini benar-benar si Babon bulet? tidak! tidak mungkin!"
" Waktu kita sudah tidak banyak ternyata, Aku sedikit kecewa, pada diriku sendiri, kenapa hanya bermain-main sebentar denganmu, ingat tidak, perhiasan imitasi, penggelapan dana yang terbongkar, perselingkuhan dengan berondong keturunan Turki juga terkuak, akh, tidak seru, seharusnya kebusukan yang lain juga perlu tampil, Eh, kamunya Sudah di sini!" Asyifa mendesah, tampak sekali dia kecewa pada dirinya sendiri.
" Apa maksudmu, Apakah kau dalang dari semua ini?" geram Ami, tangannya terkepal erat.
" Oops!" Asyifa menutup tangan ke mulutnya, " Yah,. Aku ketahuan, Hahaha!" perempuan itu terkekeh, sebelum melanjutkan, " Ini hanya langkah awal, Darling, Babon bulet ini akan menyeret, kakakmu, calon kakak iparmu, serta ibu tercintamu, kesini, tenang, kau tidak sendirian, tapi, sebelum itu, aku ingin bermain-main dulu sebentar dengan mereka, Oh ya, selamat atas perceraian mu dengan Arif, aku akan segera mengenalkan dia dengan seorang pendamping, yang cocok untuknya, bukan narapidana pastinya, Hmm, satu lagi, nikmati saja hari hari mu, hukuman mati atau seumur hidup telah menantimu!"
Ami sangat marah, wajahnya memerah seperti kepiting rebus,
" Sudah ah, waktunya sudah habis, cemilannya juga, Aku pulang dulu ya Darling, " Have a nice day!" setelah mengatakan itu, Asyifa pun keluar dan segera mengambil kartu identitasnya, kemudian berjalan ke parkiran, lalu segera melajukan mobilnya di jalan.
Sementara itu Ami terdiam di kursinya, seorang sipir perempuan membawanya kembali ke dalam jeruji besi.
****
__ADS_1