
Episode #02
Asyifa menyiapkan makan malam untuk Bastian dan Tia, keduanya akan langsung ke apartemen setelah pulang dari kantor.
Setelah menghidangkan beberapa makanan di atas meja makan, telponnya berdering, Asyifa langsung lari ke kamar, setelah melihat nama kontak penelpon, " Tante Helena" Dia nampak kecewa, tadi dia berharap penelpon nya adalah Mr Teddy Bear!
" Halo Tante, apa kabar?" Asyifa menyapa.
" Halo sayang, kabar Tante baik, tante ganggu gak?"
" Tentu saja tidak Tante! Tante tak pernah mengganggu syifa, Aku malah senang Tante menelpon!"
" Baguslah kalau begitu! Jadi Tante dan Om akan merayakan anniversary ke 33 tahun, Tante mengundang kamu, untuk ikut ke villa di Cisarua, nanti, Angga akan jemput, Bagaimana? sebenarnya ada hal penting yang ingin Tante bicarakan!"
Asyifa langsung teringat, bahwa Rio, ayahnya Angga, juga mengundangnya pada saat pameran lukisan di taman Ismail Marzuki.
" Baiklah Tante, Aku tunggu jemputan ya, he he he!" Asyifa terkekeh.
" Oke, sayang!"
Panggilan pun terputus.
" Sebenarnya apa yang ingin Tante Helena bicarakan?" pikir Asyifa.
Bel pun berbunyi, Bastian dan Tia sudah tiba, Tia masih sedikit gugup, bagaimanapun kedua kakaknya bersekongkol melenyapkan Asyifa.
Asyifa membuka pintu, dia segera memeluk Tia, untuk mengurangi kecanggungan gadis itu, " Wah kalian sudah datang, Ayo masuk, Aku sudah menyiapkan makan malam!"
" Asyik, Nona Boss memang terbaik!" Bastian langsung menuju meja makan.
Asyifa dan Tia Hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Bastian yang kekanak-kanakan.
Ketiganya pun langsung makan,
" Mbak syifa!" Tia memanggil di tengah acara makan.
Asyifa mendongak, matanya menatap Tia lembut, dia menunggu apa yang gadis itu ingin katakan.
" Papa mau menemui mbak, tapi papa malu katanya!" Tia akhirnya bicara, setelah jeda beberapa detik.
Asyifa hanya tersenyum, " Setelah makan, kita jumpai papa, ya?"
" Aku ikut!" Bastian berseru.
Tia menatap Bastian heran, " Mas Bagong, ngapain ikut?"
" Ya, mas Bagong mau sungkem sama calon papa mertua!" Asyifa berceletuk.
__ADS_1
Pipi Tia memerah.
Bastian tersedak.
Setelah makan malam, ketiganya lalu memilih oleh oleh, Bastian memilih kaos yang bertuliskan Maldives, dan sebuah miniatur hewan, Sedangkan Asyifa, memilih mug dan tikar anyaman.
Setelah itu, ketiganya langsung bergegas menuju rumah Tia, Bastian menyetir, sedangkan Asyifa dan Tia duduk di belakang, Kedua wanita itu tertawa cekikikan, kecanggungan yang semula di rasakan oleh Tia, seketika lenyap.
Bastian mengerucutkan bibirnya, kemudian berseru," Hey, Aku bukan supir ya!"
Keduanya semakin tertawa cekikikan, Bastian bertambah kesal, karena di abaikan sedari tadi.
Tak lama kemudian, mobil parkir di halaman, Tia langsung turun dan mengetuk pintu, Andreas Sedang duduk membaca koran di ruang tamu, dan Ani duduk di atas kursi roda sembari menonton televisi di ruang keluarga.
" Papa!" panggil Asyifa.
Asyifa sudah menggunakan suaranya, tidak ada lagi suara seorang Humaira.
Mendengar suara yang tidak asing, dia tertegun, dan menurunkan korannya, dan melihat Asyifa datang bersama Tia, dia langsung memeluk Asyifa, " Syifa, maaf!" suara laki laki itu parau, matanya basah.
Asyifa membalas pelukan Andreas, " Papa tidak perlu meminta maaf pada syifa, Sudah pah, ini Syifa bawakan martabak terang bulan ketan coklat, kesukaan papa!"
Andreas melepaskan pelukannya, dia menyeka matanya yang basah.
Mendengar suara yang tidak asing, Ani yang terduduk di kursi roda, mencoba berbicara, mengeluarkan suaranya, " Hmm, Hmmp!" sayangnya hanya gumaman saja yang terdengar.
Asyifa langsung menyalami tangan Ani, bagaimanapun Ani adalah orang tua yang patut untuk di hormati, terlebih keadaan Ani sangat memprihatinkan.
" Ma,.. inta ma'p!" gumam Ani dengan matanya yang basah.
" Mama minta maaf!" Andreas menerjemahkan perkataan Ani yang tidak jelas.
Semenjak Ardi menikah dengan Camilla, di situlah Ani memahami bahwa Asyifa adalah menantu idaman, dia baik, perhatian, tidak pernah mengeluh, Ardi memang tidak pantas mendapatkan mutiara seperti Asyifa.
" Mama!" ucap Asyifa lembut, tangannya menggenggam tangan Ani," syifa, sudah memaafkan mama, jauh sebelum mama meminta maaf! Bagaimanapun kita adalah keluarga, mantan suami memang ada, tapi mantan mertua, bagi Syifa sendiri, itu tidak ada, mama cepat sembuh ya? Rajin terapi, biar nanti kita bisa ngerecokin bulan madunya Tia!"
" Kaka!"Tia tiba tiba berseru, pipinya sudah memerah seperti kepiting rebus.
" Tia, bawa mama ke kamar, dia butuh istirahat!" Andreas memerintah.
" Baik, pah!" Tia langsung mendorong kursi roda Ani dan segera membawa ke kamarnya.
Marni sang asisten rumah tangga yang baru di kediaman Andreas, datang membawa minuman, semenjak Ani sakit, jam kerja asisten rumah tangga di sana bertambah, sebelumnya Hanya sampai sore, namun sekarang bertambah waktu, maka dari itu Andreas mencari asisten rumah tangga yang dapat melakukannya.
Melihat Bastian yang bening, marni langsung melancarkan rayuan mautnya, " Mas ganteng!" panggilnya.
Bastian menoleh, karena hanya dia yang berada di ruangan itu, " Ya mba!" jawabnya sopan.
__ADS_1
" Kaki mas tidak sakit?" tanya marni penuh perhatian.
Bastian melihat kakinya," Tidak mbak, tidak sakit!" jawabnya polos.
" Bisa jalan?" tanya marni lagi.
" Bi,.. Bisa!" jawab Bastian bingung.
" Ayo, mas, kapan? Biar marni bisa siap siap!" Marni cekikikan, dia merapikan rambutnya yang sudah rapi.
Bastian kehilangan kata-kata.
Sementara itu, Andreas membawa Asyifa ke taman belakang, mereka berdua menikmati martabak ketan coklat yang di beli Asyifa, selera keduanya memang sama.
" Ardi meminta maaf padamu syifa, dia ingin mengatakannya langsung, tapi dia tak mau bertemu denganmu, dia sudah kehilangan wajahnya di depanmu!" Andreas membuka percakapan.
" Syifa belum bisa mengatakan, bahwa syifa sudah memaafkannya papa, syifa Sedang berusaha untuk itu, papa tau sendiri, bagaimana luka yang di berikan pada syifa, syifa mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri, syifa Sedang berusaha ke arah sana pah!" Syifa tiba tiba teringat dengan perlakuan mantan suaminya tersebut, dan juga janin yang tidak bisa ia pertahankan.
" Papa tahu kamu perlu waktu, oh, ya, dia memberikan uang deposito kepada kamu, sebesar dua puluh miliar,uang itu akan cair sekitar lima tahun lagi, katanya anggap saja uang itu sebagai nafkah, karena selama ini dia tidak pernah menafkahi kamu!" Andreas menyampaikan pesan dari Ardi.
Asyifa sedikit terkejut mendengar itu, Ardi yang begitu pelit menjadi dermawan!'
"Terima kasih sebelumnya pah, Syifa terima uang itu, sekarang Syifa berikan uang itu untuk papa, untuk biaya pengobatan mama,"
Andreas sudah menebak hal itu, yang membuat dia terkejut, Ani menjadi alasannya.
Asyifa tahu, uang dua puluh miliar itu, adalah uang yang di berikan oleh Wijaya Kusuma selama ini, dia kumpulkan, dengan kata lain bonus setiap Ardi berhasil menyakitinya, baik secara psikis atau fisik, apakah Asyifa mau menerimanya? dia sendiri tidak pernah kekurangan uang, segitu hanya sepersekian persen dari pendapatan Prameswari group.
" Tadi sore, Arif dan istrinya datang berkunjung, selain menjenguk mama, dia juga mengundang untuk acara tiga bulanan istrinya," Andreas memberitahukan Asyifa, dia tersenyum pahit mengatakannya, Arif adalah menantu yang sangat baik dan penuh perhatian.
Asyifa memahami hal ini, entah mengapa, Andreas lebih dekat dengan para menantunya daripada dengan anaknya.
" Sabar ya pah, sebentar lagi juga papa punya menantu lagi, baik, ganteng, perhatian lagi, tidak ada bedanya dengan Arif!" Asyifa menggoda.
" Siapa?" Andreas penasaran.
" Tuh, yang di godain sama teh Marni!" tunjuk Asyifa.
Andreas melihat ke arah ruang tamu, dia melihat Bastian yang begitu canggung, menghadapi gombalan dari Marni.
" Mas tau gak, sejak kenal mas, saya kok jadi sakit mata ya?" goda marni.
" Kamu perlu periksa ke Dokter mata itu!" jawab Bastian canggung.
" Iya, mas, semuanya jadi hitam putih, hanya mas yang berwarna!" Marni cekikikan lagi.
" Marni, jangan goda berondong, ingat suami di rumah!" teriak Tia dari dalam kamar.
__ADS_1
****