
Episode #141
Setelah memadu kasih di apartemennya yang baru, Ardi dan Camilla masih bergelung dalam selimut, keduanya nampak lelah, jejak peluh keringat masih terlihat jelas.
"Sayang!" suara manja Camilla terdengar.
Ardi yang hendak memejamkan matanya terpaksa di tunda, dia memiringkan tubuhnya ke hadapan Camilla," Hmmp," Ada apa, masih kurang?" dia mengerlingkan matanya sambil membelai wajah istrinya itu.
Kesan nakal dari Ardi membuat Camilla tersipu, dia menutup wajahnya dengan selimut, untuk menutupi rasa malunya.
Ardi segera memeluk Camilla di bawah selimut," Ada apa?" tanyanya sambil mengecup dahi Camilla.
Camilla menatap Ardi dengan binar mata yang jernih," Aku bosan tidak ada kegiatan, Aku mau kerja, apa kamu kasih ijin?"
Ardi tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, bukan karena niat Camilla yang ingin bekerja, tapi cara Camilla yang meminta ijin padanya, selama ini Camilla selalu melakukan sesuatu sekehendak hatinya, baru kali ini Ardi merasa sangat di hargai sebagai pasangan.
" Kamu mau kerja?" tanya Ardi memastikan lagi.
" Iya, boleh ya? suara Camilla sangat genit dan manja, membuat Ardi merasa bahwa istrinya begitu imut.
Ardi mencubit hidung Camilla dengan lembut," Kamu mau balik syuting lagi atau pemotretan?"
Camilla melepaskan tangan Ardi dari hidungnya, " Bukan, Aku sudah tidak berminat lagi kerja di entertainment, aku mau mengandalkan ijasah aku, sayang sekali kalau tidak terpakai, sia sia aku kuliah!"
Ardi tercengang," Ker,....Kerja kantoran?"
Camilla mengangguk.
" Kamu mau kerja di mana? kamu mau gak, kerja di tempat aku saja? nanti aku pilihin posisi yang bagus, bagaimana?" tawar Ardi.
Camilla langsung mengecup pipi kanan dan kiri Ardi," Terima kasih sayang, kamu memang suami yang terbaik!"
" Suami terbaik? Berarti suamimu banyak dong?" Ardi bercanda.
__ADS_1
Sebuah cubitan kecil, mendarat di pinggang Ardi.
Camilla melingkarkan kepalanya di dada Ardi, " Walaupun Aku mau bekerja bareng kamu, tapi aku benar-benar tidak bisa," keluh Camilla.
" Kenapa?" tanya Ardi heran, dia adalah seorang CEO, dia bebas mempekerjakan siapapun.
" Aku tidak ingin merusak nama kamu di kantor!" jawab Camilla pelan.
"'Maksudmu?" Ardi semakin heran.
" Sayang, Aku tak ingin para karyawan membicarakan kamu, Aku tak ingin kamu menyalah gunakan jabatan kamu di kantor, terlebih lagi kasus Ami kemarin, semuanya masih segar di ingatan karyawan, aku ingin namamu tetap baik, jadi, aku ingin melamar pekerjaan di perusahaan lain,"
Mendengar itu hati Ardi luluh seketika, dia mempererat lagi pelukannya, kemudian dia mengecup pucuk kepala Camilla, " Istriku memang pengertian sekali, nah, sekarang kamu mau melamar pekerjaan di mana?"
" Kamu tau tidak, perusahaan properti di bawah naungan keluarga Surya?" tanya Camilla.
" Tau dong, keluarga Surya merupakan keluarga terkuat di negeri ini setelah keluarga Kusuma , Syaputra, Prameswari, bakri dan Surya!" ada nada getir setelah Ardi menyebutkan nama Prameswari.
" Salah satu investor nya itu adalah keluarga Yaw, dari bankir Singapore, salah satu anggota keluarganya itu akan meninjau proyek di sini, jadi dia butuh asisten, yang syarat utamanya harus fasih berbahasa Inggris lisan dan tulisan, lowongan itu sudah di buka, Aku berencana untuk melamar, sekaligus untuk membuka jalur relasi kita yang baru, mudah mudahan dengan cara seperti itu, kita akan lebih maju, bagaimana?"Camilla menjelaskan dengan begitu meyakinkan, kepalanya masih berada di dada Ardi.
"Aku sudah melamar di bagian itu, dan besok Aku di panggil untuk wawancara, bagaimana? apa boleh aku pergi?"tanya Camilla manja.
"Tentu saja dong sayang, aku akan selalu mendukung kamu, selama kegiatan itu positif, setelah mengatakan itu, Ardi mengecup pucuk kepala Camilla.
Keduanya pun tertidur sambil berpelukan.
***
Keesokan harinya di tower Kusuma.
"Semuanya sampah!" Tuan besar Wijaya Kusuma, melempar semua dokumen yang ada di meja, beberapa kertas beterbangan melayang di udara.
" Coba ceritakan, bagaimana semua peserta yang kamu kirimkan gagal? Bukankah dari setengahnya adalah orang yang kamu rekomendasikan?" Suara bentakan tuan besar Wijaya Kusuma memenuhi ruangan, untungnya ruangan tersebut dilengkapi dengan peredam suara, sehingga suara keras tuan Wijaya Kusuma tidak sampai terdengar ke luar ruangan.
__ADS_1
Baskara, tangan kanan tuan Wijaya Kusuma, yang di percayai mengurus urusan kantor, mulai menceritakan kronologinya.
"Awalnya semuanya berjalan lancar, lima orang yang kita utus sudah memenuhi lima puluh persen kandidat, satu dari mereka memprovokasi pelamar lain, ketika waktu wawancara terlambat tiga puluh menit, orang itu langsung keluar ruangan, dan diikuti oleh empat lainnya, jadi di ruangan itu hanya tersisa dua orang lagi, selain kandidat kita, empat lainnya berusaha menekan dan menindas keduanya untuk menurunkan kepercayaan diri mereka, tetapi satu orang melawan, dan balik menindas perlakuan mereka,"
Mata tajam tuan Wijaya Kusuma tidak berkedip.
Baskara pun melanjutkan," Karena tidak ingin menimbulkan keributan yang lebih besar, sehingga menarik perhatian pihak kantor, mereka pun menindas satu peserta lagi yang begitu cupu, dengan tujuan mereka pergi meninggalkan ruangan wawancara, dengan empat orang kandidat di sana, mereka yakin salah satu dari mereka akan terpilih jadi asisten CEO, berdasarkan pengalaman dan kualifikasi mereka sendiri, hingga kemudian Nona May masuk dan menyuruh Bastian menyelesaikan wawancaranya, ternyata orang cupu yang mereka tindas adalah pewawancara nya, otomatis peserta yang kita kirim semua gagal,"
" Dasar bodoh, Goblok! namanya saja lulusan luar negeri, tapi nalarnya gak bisa jalan!" tuan Wijaya Kusuma marah.
" Semuanya benar benar sampah! Kalau begini caranya, bagaimana kita bisa menyusupkan mata mata kesana?" hardiknya lagi.
" Tuan,..!" Baskara ingin mengutarakan pendapatnya.
" Bagaimana kalau kita menyuap yang lolos saja, dia adalah Tia Andreas, adiknya Ardi dan Ami, seperti kedua kakaknya, kita pasti bisa mengendalikan dan memperdaya nya, Bagaimana tuan?" Baskara mempunyai ide cemerlang.
" Ha ha ha!" tuan Wijaya Kusuma tertawa, ". Bodoh!" umpatnya kemudian, " Tia itu berbeda dengan kedua kakak kakaknya, yang goblok, Dia di didik langsung oleh Andreas, Andreas itu sifatnya hampir mirip dengan Rio dan Umar, mereka itu sahabatan, kalau Andreas itu serakah, dia tidak akan bertahan menjadi pegawai negeri sipil di kementrian olahraga, dia pasti menerima tawaranku untuk menjadi pemegang saham, di salah satu anak perusahaanku dulu, Sudahlah, pikirkan cara lain!" Setelah mengatakan itu, tuan Wijaya Kusuma langsung duduk, dia meminum segelas air putih di mejanya, dia kehabisan energi karena marah marah.
Tak lama kemudian, Angga tiba di ruang kerja kakeknya, dia melihat berbagai kertas dan dokumen berserakan di lantai.
Kemudian Angga mendekati kakeknya dan langsung berdiri di belakangnya, dia memberikan pijatan yang menenangkan saraf, " Kakek jangan marah marah, nanti darah tinggi kakek naik lagi loh?" Angga memberikan peringatan.
" Hmmp!" Tuan Wijaya Kusuma Hanya berdehem, mengiyakan, " Kamu boleh pergi!" ucapnya pada Baskara.
Baskara pun mengangguk, tanpa sadar dia menyeka keringat yang ada di pelipisnya.
Adegan itu, tak lepas dari pengamatan Angga, dia melihat, ada tahi lalat, di pelipis dan ujung matanya, " Apakah orang ini, yang di maksud oleh Tinro?"pikirnya.
__ADS_1
*****