Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Rebecca Jhonson


__ADS_3

Episode #34


  " Bagaimana keadaan kakek ma?"Angga memasuki ruangan VVIP dimana tuan Wijaya Kusuma di rawat.


  Angga mendapat telpon dari mamanya, jika kakeknya terjatuh dan langsung pingsan, Dia yang sedang meeting di kantor, terpaksa meminta asistennya beserta sekretarisnya untuk mewakili meeting dan menangani pekerjaan yang dia tinggalkan.


    Di sana, nyonya Arum tak meninggalkan tuan Wijaya Kusuma barang sedetikpun, dia terus menggenggam tangan suaminya tersebut.


   Helena, mamanya Angga, dia hanya bisa menghela nafas, dan mengamit tangan Angga, dan mengajaknya duduk di kursi ruangan itu, sementara Rio menemani mamanya untuk menjaga sang papa.


  " Kata nenekmu, sepulang dari sandiego hills, kakekmu terus diam, Dia tak bernafsu makan sama sekali, nenekmu juga bilang, Dia berprilaku aneh sepulang dari sana, Dia lebih banyak melamun dan berpikir," ujar Helena.


    " Dokter berkata, kesehatan kakekmu memburuk, karena beban pikiran, kamu tahu sendiri, kakekmu tidak boleh banyak pikiran, hal itu akan memperburuk keadaannya!" Helena menambahkan.


    " Kata nenekmu, sebelum kakekmu pingsan, dia menerima telpon, entah dari siapa, setelah itu jantung kakekmu, bermasalah, dan langsung jatuh pingsan sampai sekarang dia tidak sadarkan diri!"Helena melihat mertuanya yang terbaring di ranjang rumah sakit.


  Angga mengangguk, sepertinya dia sudah menangkap poinnya, dia menyimpannya untuk dirinya sendiri.


  Bagaimanapun dia tidak akan ikut campur, seperti janjinya pada Asyifa Sebelumnya, itu adalah hukum'untuk kakeknya tuan besar Wijaya Kusuma, atas dosa dosanya sendiri.


  " Boleh Aku lihat ponsel Kakek, ma? Aku penasaran, siapa yang menelpon kakek!" Angga meminta ijin.


  " Minta sama nenekmu, Dia yang menyimpan ponsel kakekmu!" kemudian Helena bangkit berdiri, Dia menghampiri suaminya, Rio.


    Helena dan Rio kemudian meninggalkan ruangan VVIP tersebut.


    Nyonya Arum kemudian menghampiri Angga, dan memberikan ponsel tuan besar Wijaya Kusuma" Ini, periksalah!"ujarnya.

__ADS_1


    Nyonya Arum pun duduk di samping Angga, "Sebenarnya telepon itu berasal dari pihak kepolisian, bagian penyidik meminta kakekmu untuk datang ke kantor polisi, karena Baskara menyebutkan namanya!"


   Angga hanya terdiam, Dia menunggu neneknya selesai bicara," Walaupun kakekmu sudah berupaya, menguatkan dirinya, untuk situasi seperti ini, ternyata dirinya belum cukup kuat, jantung kakekmu sudah tak kuat lagi," nyonya Arum melihat ke ranjang suaminya.


  Angga mengerti," Nenek yang sabar ya? Semoga dengan ujian seperti ini, Dosa dosa kakek berkurang, kita ambil sisi positifnya, ya, nek!" Setelah mengatakan itu, Angga memeluk neneknya erat, Dia seperti mentransfer kekuatan untuk neneknya.


  " Kau sudah semakin dewasa, kakekmu bisa tenang, membiarkanmu mengurus keluarga ini!" Nyonya Arum mengelus lembut rambut cucunya tersebut.


  " Iya dong nek! Semuanya berkat ajaran kakek dan nenek!" Angga mengecup pipi neneknya tersebut.


    Setelah mengobrol sebentar, Angga pun kemudian pamit undur diri.


    Sepeninggal Angga, tuan Wijaya Kusuma dalam komanya, mengalami sesuatu yang sangat buruk.


  Tuan Wijaya Kusuma, berada di sebuah perahu kecil di tengah danau, semakin dia mendayung, semakin jauh dia dari daratan, dalam sekali putaran mata, dia melihat Umar dan flora, menumpang di perahu kecil miliknya, beban ketiganya membuat kapal hampir tenggelam, tiba tiba, bayangan anak dan menantu Amir Prameswari itu menghilang, setelah itu, Dia mengayuh lagi perahunya, semakin mendekati daratan, maka daratannya semakin jauh, tak lama kemudian, Umar dan flora muncul lagi, dan membuat perahu kecil itu semakin oleng, begitu seterusnya.


   Tinro adalah, mekanik suruhan tuan Wijaya Kusuma yang di sewa oleh Baskara, tangan kanan tuan Wijaya Kusuma, untuk menyelidiki kecelakaan orang tua Asyifa.


  " Berikan saja!" ucap Angga, dan segera masuk kedalam mobil, di kursi penumpang, Angga melihat jalanan, dan bermonolog sendiri, " Aku tidak dapat berbuat apa-apa, jika apa yang di lakukan Asyifa pada Tinro, dia lakukan juga pada kakek, bagaimanapun kakek bersalah dalam hal ini, jika kakek tidak bisa menerima kematian adik perempuannya, yang begitu tragis, apakah Asyifa juga dapat menerima kematian orang tuanya yang secara tragis juga? Biarlah kakek menerima hukuman apa yang di berikan Asyifa, apapun yang sudah Asyifa lakukan pada kakek, tidak merubah fakta sedikitpun, bahwa kakek sudah menghancurkan kehidupan masa kecilnya dan juga pernikahannya, siapapun di posisi itu, pasti tidak akan memaafkan dengan mudah, iya kan?"


   Sang supir hanya bisa memperhatikan tuan muda Angga Kusuma, dia tidak berkomentar apapun.


 Angga menghela nafas," Biarkan berjalan sebagaimana mestinya, setidaknya Asyifa hanya mendendam kepada satu orang saja, bukan satu keluarga!" renungnya.


  Suasana hening, dalam mobil begitu terasa.


  Sementara itu, belasan kilometer dari Jakarta.

__ADS_1


     " Bagaimana, apa kau sudah mencari lebih jauh tentang pemuda itu?" tanya Rebecca kepada asistennya sekaligus menejernya. Aston.


    " Apa yang kau maksud adalah Amar cucunya Steward?" tanya Aston, sambil memainkan ponselnya.


  Rebecca yang sedang di rias melemparkan salah satu kuas ke arah Aston." Siapa lagi kalau bukan dia? Apa Dia pewaris dari kerajaan bisnis Stewart?"


  Aston menggelengkan kepalanya," Kau terlalu mengkhayal Rebecca, hingga sekarang Adam Stewart Belum mengumumkan siapa penerusnya, bukankah Adam Stewart masih memiliki cucu yang lain? terlebih lagi, Amar bukan cucu tertua!"


  " Baiklah, jangan bahas itu sekarang, Apa yang kau ketahui dari dia?" Rebecca sudah tidak sabar.


    Tenanglah, jangan terburu-buru begitu, di sini Amar hanyalah pekerja biasa, di salah satu pertanian di pinggiran kota London, Dia tidak terlalu hebat, Dia tergolong pemuda biasa saja!"ujar Aston seraya memberikan ponselnya, kepada Rebecca.


    " Aku sudah menemukan akun Instagramnya, kau bisa memeriksanya sendiri," kemudian Aston membuka majalah, dan membiarkan Rebecca menuntaskan rasa penasarannya.


  Di akun Instagram Amar, tidak ada hal hal mewah yang di pamerkan, dia hanya menampilkan sebuah kehidupan sederhana, seperti, tinggal di apartemen sederhana, bekerja mengendarai motor sederhana, dan berfoto dengan seseorang, dengan keterangan bahwa dia adalah seorang karyawan.


    Melihat itu, wajah Rebecca terlihat kecewa.


    Kenapa? Apa dia tidak sesuai dengan, harapanmu?" Aston hanya bisa tersenyum melihat raut wajah Rebecca.


  " Aku pikir dia orang yang berpunya, tapi ternyata dia hanya orang sederhana, entah apa maksud kakek, menikahkan salah seorang cucunya pada pemuda sederhana itu, tapi, bagaimana dia bisa mendapatkan tiket konser?" Rebecca merasa heran.


" Ayolah Rebecca, tiket itu dibayarkan oleh Glenn Yaw, sahabatnya sendiri!" Aston menjelaskan lebih detail.


" Pantas saja, dia akan menghabiskan sebulan gajinya jika membeli tiket konser itu," Rebecca bergumam.


Penata rias beralih ke wajah Rebecca, untuk merias wajahnya.

__ADS_1


****


__ADS_2