
Episode #35
" Bagaimana persiapannya, Tian? apa kau sudah mengurus semua berkas berkas keberangkatanku?"tanya Asyifa, ketika dia sedang menulis daftar pekerjaan apa saja yang akan di kerjakan Bastian dengan Tia, selagi dia dan Ferdinand melanjutkan studi di united kingdom.
" Sudah Nona Boss, sewa apartemen yang dekat dengan kampus juga sudah lunas untuk satu tahun!" Bastian menunjukkan kwitansi pembayarannya," Saya juga sudah mengirimkannya ke email anda, Nona Boss!"
Asyifa mengangguk," Terima kasih Tian!" jawab Asyifa tulus.
Asyifa pun melanjutkan pekerjaannya, dia nampak serius sekali.
Tak lama berselang, Tia menyapanya," Mbak Syifa,...!"
Asyifa berhenti menulis, dan langsung mengarahkan pandangannya ke Tia, mantan Adik iparnya," Ada apa sayang?"
Asyifa selalu menganggap Tia sebagai adik kandungnya, selama hidup berumah tangga dengan Ardi, hanya Tia dan papa Andreas yang selalu memperlakukannya dengan baik, dan tulus, tanpa memandang latar belakangnya, bahkan hanya Tia yang menjaganya, selama dia di kuretase pasca keguguran dulu.
Kemudian Tia memberikan sebuah kado," Aku hanya bisa memberikan kado ini untuk mbak Syifa, Aku mengerjakannya sendiri, Aku bingung harus memberi apa!" ucap Tia malu malu.
Asyifa langsung sumringah, dan menerima kado tersebut, perasaan hangat langsung menjalar dalam hatinya, Tia selalu memperlakukannya sebagai keluarga, terlepas dari apa yang terjadi antara mereka
" Terima kasih sayang, boleh mbak membukanya?" Asyifa melihat Tia.
Gadis itu mengangguk malu malu," Boleh mbak!"
Asyifa langsung membukanya," Sebuah syal!" Asyifa berseru, dan kemudian mengembangkannya lebih lebar," Ini motif melati!"
" Iya, aku sengaja merajutnya Dengan motif melati, coba mbak endus syalnya!"pinta Tia.
Asyifa mengendus syal itu, "Ini,... Bau wangi melati!"
Tia mengangguk," Aku ke kebun melati, dan langsung mengekstrak nya, setelah itu, benang rajutannya aku rendam dengan ekstrak itu, sehingga syalnya berbau melati!"
Asyifa memeluk Tia, " Terima kasih sayang, kamu memang yang terbaik!"
Tak lama Bastian berceletuk, Untung Nona Boss hendak ke luar negeri, Gak bisa di bayangkan kalau itu di kenakan di negara kita, Hhii!" Bastian bergidik ngeri.
Asyifa mengeryit," Maksudnya Bagaimana, Tian! kok Hhii?" Asyifa bertanya dengan polosnya.
"Kata di masyarakat kita, jika kita mencium aroma melati yang lumayan pekat, itu menandakan adanya makhluk halus yang sedang datang!" Bastian berkata serius.
__ADS_1
Asyifa sama sekali tidak mengerti hal ini, Dahinya mengerut, Dia baru pertama kali mendengar ini.
" Apa nona Boss tak pernah mendengar ini?" Bastian bertanya tidak percaya.
Asyifa menggeleng.
" Plak!"sekotak tisu terbang beberapa meter, dan mengenai dahi Bastian.
" Aaw!" Bastian mengaduh kesakitan, walaupun itu hanya sekotak tisu, entah mengapa kekuatannya begitu besar.
Kemudian Bastian tersadar setelah melihat Tia menyipitkan matanya kearah Bastian.
Bastian memucat.
" Ha ha ha!"Asyifa tak bisa menahan tawanya," Lain kali, Hati hati, Tian! Asal kau tau saja, Tia ini pemegang sabuk hitam, Dia sudah di latih bela diri sejak kecil oleh papa Andreas!"
Bastian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian dia menghampiri Tia, " Aku hanya bercanda,"
"Aku juga hanya bercanda, melemparkan sekotak tisu, Seharusnya aku melemparkan pukulan pada mas Bagong!" setelah mengatakan itu, Tia segera kembali ke layar komputernya, dia merajuk.
Bastian menghela nafas," Yaa, ngambek lagi!"
" Gak ada yang ngambek! Enak saja nuduh ngambek!" Tia mencebik.
Baik pipi Tia maupun pipi Bastian sama sama memerah.
Melihat adegan itu Asyifa hanya terkikik," Kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian ya! Aku mau ke kedutaan dulu, mengurus visa Ferdinand!" setelah mengatakan itu Asyifa beranjak keluar, suara tawanya masih terdengar jelas di telinga Tia dan Bastian.
" Eh, mas Bagong, mau makan siang bareng?" tanya Tia, bersikap seolah olah tak terjadi apa-apa.
" Mau!" jawab Bastian cepat.
Keduanya pun terdiam, kehabisan topik, entah kenapa suasana menjadi canggung.
***
Sementara itu, ribuan kilometer dari Jakarta.
Amar sedang menyantap sarapan pagi dengan Elysa Stewart, mamanya.
__ADS_1
" Minggu depan, Jasmine ulang tahun, apa Kamu ada waktu? Kita bisa menghadirinya bersama, Dia sangat merindukanmu!" Elysa berkata sambil mengoleskan selai pada roti di Deli.
Amar mengeryitkan dahinya," Jasmine ulang tahun? Wow, waktu cepat sekali berlalu, aku merasa sudah lama tak bertemu dengannya!" Amar berseru.
" Temuilah dia, Dia pasti senang bertemu denganmu, setiap dia menjengukku di Sony, dia selalu menanyakan kabarmu, kurasa dia sangat merindukanmu!" Elysa memberikan roti itu kepada Amar.
" Thanks mom!"ucapnya Setelah menerima roti itu, "Seperti apa Jasmine sekarang, Mom?"
" Dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, Dia mirip sekali dengan ayahnya!" Elysa terkekeh.
Amar mengangguk, " Akan aku pikirkan, semoga aku ada waktu untuk bertemu dengannya, jika dia datang berkunjung, sampaikan salam ku padanya!"
" Baiklah, Habiskan sarapanmu!" Perintah Elysa.
Tak berapa lama, Glenn Yaw sudah berada di mansion keluarga Stewart, dia ingin bertemu dengan Amar, salah satu pelayan mengantarkannya ke taman, pelayan tersebut membawakan teh dan cemilan ke sana.
" Teh lagi, teh lagi! kenapa orang Britania sangat suka minum teh?" Kemudian Glenn Yaw menyesap tehnya.
Amar kemudian menyapanya, amar sudah membuka obrolan dia langsung duduk di sebelah Glenn Yaw, mereka berdua sedang melihat pohon yang menggugurkan daunnya.
" Aku sudah membuat menghubungi Rebecca, Aku ingin membuat janji bertemu dengannya, entah mengapa dia terlihat sangat sibuk, dia beralasan, Dia harus latihan karena dia harus menghadiri beberapa acara!" Amar menghela nafas.
" Apa kau sudah cek jadwal acaranya?" Glenn Yaw mencomot biskuit yang di sajikan oleh pelayan rumah Amar.
" Sudah, acaranya akan berlangsung di musim dingin, bukan di musim gugur, jelas dia menghindari ku! Entah kenapa! Apa kau tahu penyebabnya?"Amar menatap Glenn Yaw lekat.
" Apa kau tidak berulah baru baru ini? Maksudku begini, Kau dan Rebecca sama sama orang asing, kalian tidak mengenal satu sama lain, jadi satu satunya cara adalah, Dia mencari informasi tentang mu, dari akun media sosial mu, Mungkinkah kau memposting sesuatu yang aneh?"Glenn Yaw memberikan pendapatnya.
" Sebentar!" Kemudian Amar mengeluarkan ponselnya, Dia membuka akun Instagramnya, dan menunjukannya pada Glenn Yaw, " Apa, menurutmu, karena postingan postingan ini?"
Glenn Yaw menyipitkan matanya, Dia menggulir layar ponsel Amar, Dia tak bisa menahan tawanya, tawanya pecah," Apa ini serius? Kau memposting hal hal seperti ini? Apartemen sederhana? Kendaraan sederhana? Bahkan jadi karyawan? " Ha ha ha! Jangankan seorang bintang kelas atas seperti Rebecca, seorang staff biasa saja berpikir dua kali untuk berkencan atau bertemu dengan mu,"
" Akh!" Berarti mereka tidak tulus, kau tau sendiri, aku sangat tidak suka pamer hal hal seperti itu!" Amar mendengus kesal, Memang tidak ada perempuan sebaik dan setulus pujaan hatinya, Asyifa.
" Kapan ya, Aku bertemu dengan Asyifa, Aku benar-benar merindukannya!"Amar hanya bisa memendam kerinduan dalam hatinya.
" Memang tak ada yang sebaik Asyifa, he he!"tiba tiba Glenn Yaw berceletuk.
__ADS_1
Amar hanya bisa menghela nafas
****