
Episode #50
" Bagaimana rasanya, Edhena?" Edmund bertanya dengan penasaran.
Di gigitan ketiga, Edhena membelalakkan matanya, " Ini,.. Ini tidak mungkin Edmund? Bagaimana seenak ini? Maksudku, burrito ini persis seperti buatan leticia, dan ini adalah resep turun temurun, dalam keluarganya, Aku tahu, dalam keluarganya, hanya anggota keluarga tertentu yang bisa mendapatkan warisan resep legendaris ini!" Edhena memakan lagi sisa burrito itu, dia masih tidak percaya, masih bisa merasakan makanan ciri khas dari kampung halamannya ini.
" Maksudmu? Hanya anggota keluarga?" Edmund terbelalak.
Edhena mengangguk," Apa kau tidak tahu? Apa leticia tidak pernah bercerita? Dulu ketika masih tinggal di Meksiko, keluarga leticia adalah pemilik kedai burrito terkenal, sebelum perang Dunia pecah, kedai itu sudah di wariskan secara turun temurun, hanya anggota keluarga terpilih yang mendapatkan resepnya, kebetulan leticia dapat, dan di turunkan kepada Lady, Apakah dia anak dari Lady yang sebenarnya? sosok yang di beritahu pihak imigrasi, yang menginformasikan tentang perhiasan itu?"
Edmund berpikir," Aku tidak tahu Edhena, wajahnya tidak ada kemiripan sekali dengan Lady, dari segi penampilan, Molly Lebih mendekati, sosok anak perempuan dari Lady!"
Edhena mendengus kasar, " Jangan tertipu dengan wajah, Edmund, bukankah kau sudah belajar dari pengalaman mu di masa lalu?" Edhena menelan kembali burrito di mulutnya, sebelum melanjutkan, " Karena salah mengenali wajah, kau malah termakan fitnah, dan kau kehilangan anak perempuanmu, selain itu, dampaknya malah berimbas kepada leticia dan pada akhirnya, kau kehilangan istrimu juga!"
Edmund menghela nafasnya kasar, tatapannya berubah nanar, Apa yang di katakan Edhena adalah hal yang sebenarnya, karena kebodohan dan kecerobohannya, dia termakan tipuan dari saudara kandungnya sendiri," Sudahlah, jangan membahas hal itu!" pinta Edmund.
" Baiklah!" Edhena juga tidak memperpanjang masalah itu lagi, hal terpenting sekarang adalah, Edmund sudah menyadari kesalahannya dan mengakuinya, Sebagai mantan tentara di Medan perang, Edmund akan mempertanggungjawabkan segala hal yang dia perbuat.
" Edmund, Di jaman sekarang, mudah sekali untuk membuat wajah palsu, sekali kali, pergilah menonton film, entah lewat Netflix atau menonton bioskop, lihatlah, mereka bisa membuat dua orang berwajah yang sama persis, belum lagi, ada riasan yang membuat mu begitu mirip dengan orang lain!" Edhena memasukkan burrito terakhir yang jadi jatahnya.
" Jadi, Apa yang harus Aku lakukan?" Edmund bertanya.
" Satu satunya jalan yang harus kau tempuh adalah, tes DNA secara diam-diam, saranku, kau harus menemukan perempuan itu, dan melakukan tes DNA denganmu juga, begitu juga dengan Molly, nanti kau bisa membandingkan, siapa yang cucumu sebenarnya!" Edhena lalu membereskan kotak bekal yang tadi berisi burrito tersebut.
" Edmund, Saranku, kau harus bisa memperhatikan hal kecil lagi, lihat kotak makan ini, gambarnya adalah Mikey mouse, kau pasti tidak lupa kan, kalau Lady adalah penggemar tokoh kartun tersebut?" Edhena kemudian berdiri, "Aku akan melanjutkan pekerjaanku, Permisi!" Edhena kemudian meninggalkan Edmund dengan pikirannya.
Keesokan harinya.
__ADS_1
" Nenek, Apakah semuanya sudah siap?" si kecil Jasmine bertanya perihal ulang tahunnya.
Elysa mengangguk," Sudah dong sayang, Paman Amar yang mengatur semuanya, pokoknya kamu tinggal beres saja!" Sejak ibunya meninggal, ulang tahun Jasmine di urus oleh Elysa, neneknya, Wilson terlalu sibuk di kampus, sehingga tidak bisa di harapkan.
" Asyik! Aku tak sabar untuk pergi, Bolehkah kita pergi sekarang?"pinta Jasmine dengan wajah yang sangat memelas.
" Boleh ya, nenek cantik!" Jasmine mengedipkan matanya tiga kali.
" Ha ha!" Elysa terkekeh, " Sayang, lihatlah! Di luar masih gelap dan dingin! matahari senja Belum keluar, apalagi teman temanmu, pasti mereka masih meringkuk di bawah selimut mereka, tidak sepertimu saat ini!" Elysa menjawil hidung Bangir Jasmine,
" Aku tak mengharapkan Mereka, nenek, Aku hanya ingin melihat ayah berjalan bersama Tante yang cantik itu!" Jasmine terlihat senang, beberapa kali dia mengucek matanya yang masih mengantuk.
"Ha ha!" kau tak bisa menyembunyikan apapun dari nenek, Apakah kau punya maksud dan tujuan lain?" Elysa mengeryitkan alisnya, dia masih duduk sambil memangku Jasmine di atas tempat tidurnya.
" Huuhh! Nenek paling hebat sedunia, tahu saja apa Rencanaku, he he!"Jasmine menutup wajahnya malu.
Elysa kemudian menjentikkan jarinya di dahi Jasmine," Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau sekarang Jasmine mandi dan berdandan, kita bisa beralasan, kita bisa berangkat lebih dulu ke Daddy Wilson, jadi,...!"
" Jadi papa dan tante cantik itu berangkat berdua, begitu kan maksud nenek?"
" Ha ha!" Elysa terkikik, "anak pintar, kau tahu darimana ide seperti itu!" Elysa penasaran, bagaimana anak sekecil Jasmine bisa membaca pikirannya.
" Dari novel nek, Aku mengoleksinya di kamar, tapi Daddy menahannya, katanya itu buat anak remaja, setelah itu Daddy malah memberiku buku komik, Nyebelin, deh nek!"
" Ha ha ha!" Elysa sampai tak bisa menahan tawanya, dia sampai memegangi perutnya.
" Kalau begitu, Jasmine mandi dulu ya, nek!" Jasmine berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Satu langkah lagi di depan pintu k kamar mandi, Jasmine berhenti melangkah, gadis kecil itu melihat kepada neneknya, " Nenek juga harus mandi sekarang, Aku tak mau menunggu nenek dandan, nanti jadi tidak ada alasan, meninggalkan Daddy sendirian dengan si Tante cantik itu!"
Tawa Elysa meledak lagi," Baiklah, nenek akan mandi sekarang!"
Jasmine pun langsung masuk ke kamar mandi.
***
Sementara itu di apartemen Asyifa.
Pagi sekali Ferdinand melangkah ke unit di sebelahnya, yaitu unitnya Asyifa, sesekali dia menguap menahan ngantuk, semalaman dia begadang, dia menyelesaikan beberapa Draft tesis yang di minta profesornya.
" Pagi, Bu Boss!" Dua langsung masuk saja, karena dia sudah tahu kode unit Asyifa, sebelumnya dia telah mengirim pesan terlebih dahulu, bahwa dia akan datang.
Di dapur Asyifa sedang sibuk, dia terlihat mencampurkan beberapa bahan makanan, ada adonan kue di mana mana.
" Aku akan buatkan kopi ya, Bu?" Ferdinand membuatkan kopi untuk mereka berdua.
" Apa rencanamu di akhir pekan ini, fer? kalau tidak ada, kau bisa ikut denganku ke daerah pertanian di pinggiran kota London, anak prof yang membimbingku, berulang tahun di sana, Apa kau mau ikut bareng?" Asyifa menawarkan.
Ferdinand menggeleng, "Aku berencana ziarah ke makam Lady DI, Enyak nanyain terus, kapan aku kesana?" Ferdinand kemudian menyuguhkan segelas kopi pada Asyifa.
Asyifa segera menyesapnya," Pas, seperti biasanya!"Dia langsung memasukan kismis dan gula merah, juga kismis yang dia masukan kedalam roti yang akan dia buat.
" Apa kau sudah mengunjungi pihak estate nya, perihal kunjunganmu? tanya Asyifa, dia mengerti, bahwa ada beberapa peraturan persyaratan kunjungan, jika ingin mengunjungi makam itu, yang di berikan oleh pihak estate.
" Sudah! Semuanya sudah siap! kemudian Ferdinand beranjak, dia mengambil beberapa bahan makanan dari dalam kulkas, " Aku akan membuat sarapan ya, Bu Boss? Bu Boss silahkan melanjutkan membuat Chelsea buns nya! Melihat dari bahan yang digunakan Asyifa, Ferdinand sudah tahu nama kue yang akan di buat Asyifa.
__ADS_1
Asyifa menganggukkan kepalanya.
***