
episode #24
malam harinya.
Koh Erik sedang berada di salah satu club'malam miliknya, berbagai jenis minuman di sediakan di sana dan di sajikan oleh bartender profesional, musik yang di mainkan oleh DJ cantik menambah kemeriahan di sana, lantai dansa serasa penuh dengan orang orang yang ingin menghilangkan penat dan stress akibat tekanan hidup.
" Setelah mendapatkan minumannya tequila, Michael segera menyusul koh Erik di mejanya.
" Halo Koh !.. bagaimana,? beres,? sapa Michael seraya menghempaskan bokongnya di sofa, persis di sebelah Koh Erik.
Koh Erik yang sedang memangku salah seorang waiters cantiknya segera melepas rangkulannya dan menyuruh wanita itu pergi.
Segera Koh Erik menghisap rokoknya dan menghisapnya perlahan, sebelum dia berkata, " Menarik Bro,"
" Maksudnya bagaimana Koh,? Berhasil,? Michael tidak sabar dan langsung bertanya.
Koh Erik hanya tersenyum, nyaris matanya yang hanya sebesar lubang celengan tidak terlihat, setelah menyesap gin dari tangannya , laki laki itu melanjutkan.
, "Dia galak sekali,.. aku baru menyelesaikan satu kalimat dia sudah menyelesaikan ucapanku dengan satu tamparan, setelah itu tanpa kata apapun dia pergi begitu saja,"
Michael,.." hmm"
Michael terdiam dengan penuturan Erik, setahunya Melinda adalah perempuan lemah lembut yang tak pernah berbuat kekerasan.
Setelah beberapa saat menguasai kesadarannya, Michael memberikan tanggapan." Apa perlu aku berikan dia pelajaran koh,?"
Mendengar hal itu Koh Erik terkekeh.
Michael menatap bingung, biasanya jika ada yang berbuat kasar seperti itu ,Koh Erik tidak akan segan segan berurusan langsung dan mengeksekusinya.
" Jangan di apa apakan, biarkan dulu, kita lihat aja dulu perkembangannya, sepertinya dia tipikal orang yang sulit di taklukan, harus ada strategi, gadis itu tak selemah dan sepolos yang di perlihatkan olehnya," ucap koh Erik mencegah tindakan yang akan di lakukan Michael.
Michael hanya tersenyum canggung mendengar perkataan koh Erik, dalam hatinya dia mencibir" Tak sepolos yang di perlihatkan olehnya, kalau dia tidak polos bagaimana mungkin dia belum sadar aku tipu ratusan juta,! setelah menyesap Tequila di tangannya dia berucap.
" Baiklah Koh, aku ikuti permainan koko saja, jika butuh bantuan hubungi aku lagi,"
Setelah mengatakan itu Michael menarik salah satu waiters dan mengangkatnya lalu mendudukkannya di pahanya.
Koh Erik hanya tersenyum penuh arti,
" Silahkan di lanjutkan, aku masih ada urusan dulu," ucap Koh Erik sebelum berdiri meninggalkan Michael yang sudah asyik bermain dengan waiters tersebut.
"Melinda,.. Melinda,.."
Gumam Koh Erik tersenyum, mengingat bagaimana Melinda yang awalnya begitu manis menjadi beringas, " Tunggu saja ya,.. gadis kecil," ucapnya seraya memegangi pipinya.
****
Keesokan paginya, setelah menenangkan diri sejenak dari rasa kesalnya dengan Koh Erik, pagi ini Melinda terbangun dengan suasana hati yang lebih baik dari kemarin.
Pagi pagi sekali dia sudah datang ke butik 'Lady's palace' bahkan sebelum karyawan yang lain datang, hanya ada beberapa petugas office boy dan office girl yang sedang melakukan tugasnya, Melinda langsung masuk kedalam ruangannya, menunggu para pegawai datang, lebih tepatnya Nany.
Dia meraih foto yang ada di meja kerjanya, foto itu adalah foto sang mama, Ketika grand opening butik ini,pelan dia mengusap foto itu dan berkata dalam hati, " Cici gak akan menghancurkan kerja keras mama, Cici akan mengembalikan keadaan semula, Doakan Cici semoga ada jalan keluarnya, maafkan Cici sudah membuat mama kecewa,!"
"Tes,!
Satu bola kristal jatuh tepat mengenai figura foto tersebut, buru buru dia mengambil tissue dan mengusapnya perlahan.
Satu jam kemudian, para pegawai sudah berdatangan, dan melakukan pekerjaan mereka masing masing, Melinda segera menghubungi Nany agar segera ke ruangannya.
Tak berselang lama pintu pun di ketuk.
"Tok,..Tok,. Tok,"
"Masuk,!
"Klek," suara pintu terbuka.
"Iya Ci,?" Nany masih belum bisa menatap wajah Melinda, dia merasa sangat bersalah, tidak di laporkan ke pihak berwajib sudah sangat bersyukur, dia tidak dapat membayangkan jika dia di suruh ganti rugi dan harus mendekam di hotel prodeo, ibunya yang sepuh itu pasti akan shock.
" Apa kemarin Michael kesini dan menemui mu,? Melinda menatap tajam Nany, suaranya dingin dan datar.
Dengan wajah tertunduk Nany menganggukkan kepalanya, kemudian dia menjawab, " Benar Ci,!"
" Apa yang kalian bicarakan,!" tanya Melinda langsung ke intinya.
" Percakapannya sudah saya rekam Ci, diam diam, Cici bisa dengar sendiri," ucap Nany seraya mengeluarkan ponselnya dan membuka rekaman.
(Rekaman suara )
__ADS_1
@Michael: " Nany, apa Cici ada menanyakan sesuatu,?
@Nany: " Nanya apa mas,! " Cici tidak menanyakan apapun.
@Michael: "Apa dia ada cerita tentang keadaan butik,?"
@Nany: " Cici tidak menanyakan apapun mas,! " biasanya kalau ada masalah, pasti kita di kumpulkan dan bahas sama sama,!
@Michael: "Hmm, Kapan masok barang lagi,?
@Nany: " Stok masih banyak mas,! jika nanti barang kurang dari dua puluh persen baru masok barang lagi,"
@Michael: ," Jangan lupa nanti hubungi saya jika stoknya sudah mulai menipis, biar saya yang handle, kasian Cici jika mengurus semuanya,"
@Nany:" Baik mas, nanti saya hubungi, jika stoknya sudah berkurang,"
@Michael: " Bagus,! ya udah kamu lanjutkan kerjanya"
@Nany: " Baik mas"
Tap ,..tap,..tap,.. ( anggap suara langkah kaki ya😁)
Rekaman pun terhenti.
Mendengar rekaman itu Melinda berseru dalam hati, " Dasar keong racun licik!"
Nany masih tertunduk malu,dia tidak berani mengangkat wajahnya, jika ada pekerjaan lain, mungkin dia akan mengundurkan diri karena rasa malu dan rasa bersalah, tidak di suruh ganti rugi dan berurusan dengan pihak berwajib saja dia sudah bersyukur.
" Apa kamu sudah tahu sekarang, apa yang harus kamu lakukan,? tatapan Melinda masih tajam ketika bertanya.
" Iya Ci,.. saya akan melaporkan hal apapun sekarang pada Cici dan akan bersikap pura pura tidak tahu pada mas Michael," cicit Nany.
" Ini kesempatan terakhirmu Nan,! saya tidak akan memberikan kesempatan lagi," peringat Melinda tegas.
" Terima kasih Ci,! Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini!" Nany berucap parau, suaranya bergetar, begitu nampak penyesalan dari wajah gadis itu.
" Sekarang kembali bekerja,!" Melinda menyuruhnya kembali.
Nany pun berbalik dan segera menutup pintu.
" KLEK,! suara pintu tertutup.
Melinda merenggangkan kembali persendiannya, sebenarnya dia begitu gugup hari ini, tidak ada sama sekali pinjaman yang dia dapatkan.
Dia berjalan mondar mandir di ruangannya, nampak sekali kalau dia sedang panik, dan ketika melewati cermin, dia berhenti, dan menatap pantulan dirinya di sana, gadis itu kemudian menarik nafas pelan dan mengeluarkannya perlahan, di ulanginya hingga tiga kali, ketika sudah merasa sedikit tenang dia tersenyum dan mensugesti dirinya sendiri " Ok,..stay calm,stay positive,you will find a way,!"
(Baik,.. tetap tenang, tetap positif , kamu akan menemukan jalannya)
Setelah tenang, dia duduk kembali ke kursi kerjanya, dia memeriksa ponselnya, dan mencari kontak yang bisa memberikan dia pinjaman.
Setelah menggulir layar ponselnya sekian lama, tidak ada seorangpun yang menarik minatnya, hingga pada satu kontak, dengan nama " Bestie Camilla" tersenyum sinis, ingin sekali dia menghapus kontak itu tetapi Camilla akan mencurigainya," bagaimana kalau aku minta bantuan pada ular betina itu saja, aku pura pura belum tahu apa yang terjadi, kalau di bantu syukur, walaupun aku tidak terlalu berharap padanya" pikir Melinda.
Segera Melinda menekan tombol hijau, dan panggilan pun tersambung.
"Tuutt,.. Tuuut, . Tuutt,. " tidak ada jawaban.
Melinda pun mendengus sebal, di ulanginya hingga lima kali panggilan, tapi tetap tidak ada jawaban.
" Pasti dia lagi molor, kebanyakan olahraga dengan Michael atau Ardi" gumamnya asal.
"Ardi,!" Melinda pun mengulang nama itu, " Kenapa tidak terpikirkan ya,,? tunggu, aku masih menyimpan kartu namanya" pikir Melinda, lalu merogoh tasnya, dia menemukan kartu nama tersebut, tanpa berpikir panjang dia langsung menelpon.
" Tuutt,.. Tuuut,.. Tuuut" panggilan tersambung.
Seketika Melinda teringat sesuatu langsung memutuskan sambungan telepon tersebut sebelum di angkat.
" Kenapa aku bodoh sekali,? dia memang CEO, tapi menang jabatan saja, aslinya mah nol besar, dia pasti tidak punya apa-apa, kalau dia memang beneran berada, tidak mungkin mama dan adiknya viral gara gara jual perhiasan imitasi, huuh, aku harus bagaimana? mungkin lebih baik jual mobil aja" pikir Melinda pasrah.
Melinda Sudah bertekad menjaminkan mobilnya ke pihak bank, berapapun hasilnya, toh menjual mobil tidak semudah yang di bayangkan, dengan menyerahkannya ke pihak bank membuat sedikit masalahnya teratasi, walaupun sebenarnya dia tidak rela.
Tidak lama kemudian ponselnya berdering, " Kriiing, .Kriiing, .Kriiing"
Melinda segera melihat id callernya dan mengeryitkan dahinya, ternyata Ardi menelpon balik, dengan malas dia angkat juga.
" Halo pak Ardi,?" sapanya ramah.
"Aah, Melinda, tolong jangan panggil pak dong,.. panggil Ardi saja, kan sudah saya beritahu sebelumnya,? sapa Ardi di seberang sana sambil tersenyum manis.
ARDI begitu bahagia, melihat panggilan tidak terjawab dari Dewinya Melinda.
__ADS_1
"Ada perlu apa Mel,? Apa ada yang bisa aku bantu,? Ardi menawarkan bantuan, berharap sang Dewi membutuhkannya.
Entah mengapa mendengar nada suara Ardi yang seperti itu seketika membuat Melinda jijik, nadanya terkesan seperti om -om di mall yang sedang mencari mangsa ABG.
" Gak ko Di,.. tadi aku menghubungi Camilla, tapi tidak di angkat, aku kira dia sedang bersama kamu, tapi setelah aku pikir,jam segini kamu pasti sudah di kantor, maaf ya tadi ganggu,!" Melinda tak ingin berbasa-basi dan langsung menjelaskan maksud dan tujuannya menelpon.
" Kalau begitu aku tutup dulu ya, Di, .. masih banyak kerjaan," Melinda memutuskan telpon sepihak.
Ardi di seberang hanya tertegun, dia sudah senang membayangkan Melinda mengajaknya ketemuan.
Dua jam, Melinda di sibukkan dengan mengecek akun online shop nya, selain membuka butik dia juga menjual produknya melalui beberapa platform jual beli.
Ketika sedang asik dengan aktifitasnya tiba tiba Nany menelpon dan mengatakan ada yang ingin bertemu dan menawarkan kerjasama, Melinda tentu saja sangat gembira, kebetulan dia memang butuh dana.
"Selamat siang nona Melinda," sapa seorang pemuda gagah dengan mengenakan jas hitam komplit khas para eksekutif muda, dia mengulurkan tangan setelah di persilahkan masuk oleh Nany.
Melinda menyambut uluran tangan tersebut," Selamat siang' pak,. " kalimat Melinda tergantung karena dia tidak tahu nama pemuda tersebut.
" Panggil saya Arsyad, saya asisten pribadi tuan AMAR SYAPUTRA,"!
Mendengar nama itu Melinda langsung bergidik , dia tidak pernah menyangka tuan muda dari keluarga tersohor dari negri ini ingin menjalin kerjasama dengan pengusaha kecil sepertinya, dia tidak bisa mempercayai matanya sendiri.
" Oh,. ya pak Arsyad, jadi kerjasama seperti apa yang ingin anda tawarkan?" Melinda langsung pada intinya,dia tahu orang orang seperti ini tidak suka berbasa-basi.
" Untuk lebih tepatnya, tuan AMAR yang akan menjelaskan secara langsung pada anda, nona, jika anda berkenan, tuan AMAR Sudah menunggu di restoran dekat sini, mari saya tunjukkan jalannya!" tanpa menunggu persetujuan Melinda, Arsyad langsung keluar ruangan dan langsung menuju parkiran.
Melinda hanya menggeleng perlahan, dia bahkan tidak ada pilihan selain mengikuti pemuda itu.
Lima belas menit kemudian.
Arsyad mempersilahkan Melinda untuk menemui tuannya di private room restoran itu."
" Selamat siang nona Melinda, senang rasanya nona memenuhi undangan saya"! sapa Amar seraya mempersilahkan Melinda Duduk. Ya
" Sama sama tuan AMAR, perihal apa kiranya tuan mengundang saya?" tanya Melinda anggun.
Sebenarnya Melinda grogi bertemu dengan tuan muda ini, banyak sekali wanita kelas atas berharap memenuhi undangannya atau sekedar berkencan, sosoknya begitu berkharisma, bohong kalau Melinda tidak terkesima.
Jangan panggil saya tuan nona Melinda, saya hanya rekaan kerja bukan atasan nona, lagipula ini di luar, bukan di kediaman saya!"AMAR mencoba rendah hati.
" Langsung ke intinya saja nona Melinda, saya membutuhkan bantuan anda sebagai mata mata,!" ucap Amar lugas.
Melinda masih tertegun, dia bingung, tidak tahu harus merespon bagaimana.
Amar seketika terkekeh, dia merasa lucu dengan respon Melinda " Tenang,. ini tidak membahayakan anda nona!"
" Maksud anda?"Melinda meminta penjelasan lebih lanjut.
" Saya tahu, nona mempunyai tunggakan cicilan di bank sebanyak dua ratus juta, selain itu saya juga tau bahwa kekasih nona, Michael, berselingkuh dengan sahabat anda, Camilla, yang juga menjalin hubungan asmara dengan ARDIANSYAH, CEO PT GARUDA TV NUSANTARA, bahkan kekasih nona sendiri mengumpankan nona kepada Erik seorang pemilik club malam dengan bisnis prostitusi model, apa nona tau kalau pekerjaan kekasih nona sebenarnya adalah asisten germo yang mencari model sebagai kedok belaka!" terang Amar panjang lebar.
Melinda begitu tercengang, dengan fakta yang baru saja dia dengar.
"Jika anda bersedia bekerjasama, saya akan menjamin keselamatan nona, ini 250 juta sebagai harga pembuka,. bagaimana,? saya hanya memberikan tawaran satu kali nona, " Take it or leave it,!" Amar menyerahkan selambar cek di atas meja.
( Ambil atau tinggalkan)
Melinda mengambil nafas panjang, dia memang membutuhkan cek itu tapi dia juga ragu.
Melihat sorot kebimbangan di wajah Melinda, kemudian Amar mengatakan,. " jikalau nona bergabung, kehancuran dua manusia itu semakin dekat,"
Mendengar itu keraguan yang dari tadi bersarang langsung sirna tak berbekas, seperti embun yang bertemu sinar matahari, Melinda menampilkan wajahnya yang tersenyum dan berkata, " Saya bergabung, kapanpun anda membutuhkan saya, segera hubungi saya,!"Melinda segera memasukan cek itu dengan berhati hati.
"Baiklah,.. saya akan menghubungi nona jika sudah waktunya,!" Amar menjabat tangan Melinda.
Melinda pun permisi dan meninggalkan ruangan tersebut, dia akan ke bank terlebih dahulu dan kembali ke butik.
Diruang tersebut hanya tersisa Amar dan Arsyad, tanpa sadar Arsyad berucap," Nona Melinda begitu mudah masuk perangkap anda tuan, anda bertindak seolah-olah cicilannya menunggak, padahal itu sudah hampir lunas dan menyuruh pegawai kita untuk berpura pura sebagai pegawai bank untuk meminta pembayaran, anda sungguh luar biasa,"
"Aku hanya ingin pembalasan nona Syifa sempurna, dan kita butuh dia sebagai teman dari musuh kita, lagi pula gadis polos itu memang sedang butuh perlindungan" ucap Amar dingin.
***
__ADS_1