Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Klien Rahasia


__ADS_3

Episode #85


  Setibanya Melinda di butik, beberapa pegawai menyambutnya ramah, mereka senang sekali bisa melihat mantan bos mereka, walaupun seperti itu, Mega mendung di wajah mereka tidak bisa di samarkan, para pegawai masih mengingat, bagaimana Melinda, yang kerap mereka panggil "Cici" itu masih tetap mempertahankan mereka untuk tetap bekerja di butik Lady's palace, walaupun sudah tidak di milikinya lagi.


   Melinda langsung di layani oleh Nany, untuk berkeliling butik, pegawai kepercayaan Melinda, sepanjang berkeliling, Nany banyak bercerita tentang keadaan butik, dia juga memberitahu, kalau sampai saat ini, para pegawai penasaran dengan bos barunya, mereka tidak pernah bertemu, akan tetapi,bos barunya akan melakukan pengawasan dengan orang yang tak mereka sadari dan di kenal, jadi para pegawai setiap kali selalu merasa diawasi, karena mereka berpikir, bisa saja salah satu pengunjung adalah bos-nya.


   Mendengar celotehan Nany, Melinda hanya terkikik geli dalam hatinya, Semua ini adalah idenya, sehingga para karyawannya memiliki kesadaran diri untuk melayani, pengunjung dengan baik.


   Tak berselang lama, Melinda pun pamit dan berlalu, dia sempat melambaikan tangan pada para pegawainya, tak lupa juga dia menyapa tukang parkir dan sekuriti yang bertugas.


  Melinda melajukan mobilnya ke PT GARUDA TV NUSANTARA, dia berencana akan menghubungi dan menceritakan perihal kehilangan Camilla kepada Ardi, tak lupa juga dia meminta tolong laki laki itu untuk ikut mencari jejak keberadaan kekasihnya.


  Satu jam menempuh perjalanan tanpa macet, akhirnya mobil yang di kendarai Melinda terparkir rapi di gedung itu, dengan gaya anggunnya, Melinda turun dari mobil kesayangannya.


    Melinda terus berjalan melewati lobi dan terus melangkah ke arah ruangan CEO, beberapa kru yang sudah mengenal gadis itu menyapa, Ketika melihat dirinya, Melinda memang, bersikap ramah kepada siapapun.


   Melinda terus melangkah, hanya beberapa langkah lagi dia sampai di ruangan sang CEO, ARDIANSYAH.


    Melinda Sudah bersiap mengetuk pintu, tetapi sebuah suara menghentikannya.


  " Pak Ardi sedang rapat dengan klien penting, sifatnya rahasia, sedari tadi tidak ada seorangpun di perkenankan masuk, Nona bisa menunggu" suara Ferdinand terdengar jelas.


  Melinda sontak mengalihkan pandangannya, di meja pojok, sesosok pria bertubuh jangkung dengan kacamata bulat, sedang menatapnya dari meja kerjanya.


     Ini adalah kali pertama, Ferdinand dan Melinda berinteraksi, mereka memang sering bertemu di kantor ini, tetapi tidak pernah bertegur sapa.


  "Kalau Nona bersedia menunggu, silahkan duduk," Ferdinand menunjukkan sebuah sofa yang memang di sediakan untuk menunggu, disana juga terdapat meja, lengkap dengan air kemasan ukuran gelas, beserta beberapa cemilan, jadi orang yang menunggu, tidak akan terlalu bosan.


   " Baiklah, terima kasih pak" Setelah itu dia berjalan ke sofa yang tadi di sebutkan Ferdinand.


   Ferdinand hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia melanjutkan pekerjaannya.


     Sudah satu jam Melinda menunggu, dia hampir saja tertidur, akan tetapi, ketika mendengar suara derit pintu, ngantuknya seketika lenyap, dan badannya serasa bugar.


  "Senang bekerjasama dengan anda pak Ardi,!" ucap seorang pria paruh baya yang diantar Ardi sampai kedepan pintu.

__ADS_1


" Saya yang seharusnya berterima kasih pak!" balas Ardi dengan senyum melekat di wajahnya, nampak sumringah, berbeda dari biasanya.


   Ferdinand hanya menatap keduanya dengan penuh kecurigaan, tetapi dia sangat lihay menyembunyikan ekspresi wajahnya, pria itu terkesan cuek dan tidak perduli, tetapi diam diam mengamati Ardi secara rahasia, Nama klien rahasia tersembunyi sudah ia kantongi, " Sungguh mencurigakan! Aku di suruh menunggu di luar, dan terkesan, tidak boleh tau apa yang mereka bahas, apa namanya tidak mencurigakan?" pikir Ferdinand.


   Si klien penting pun segera berlalu, meninggalkan ruangan dan gedung PT GARUDA TV NUSANTARA.


    Ketika Ardi berbalik ingin menuju ruangannya, langkahnya terhenti, ketika ada yang memanggil, suaranya sangat familiar di telinganya.


    " Pak Ardi, tunggu!" pekik Melinda, berdiri berjalan anggun ke sisi Ardi.


Ardi yang melihat Melinda, langsung tersenyum cerah, bagaimanapun dari pertemuan pertama mereka, Ardi sangat mengagumi sosok Melinda.


  " Sudah berapa kali saya katakan nona Melinda, jangan panggil saya dengan sebutan pak, panggil saja langsung nama saya, Ardi" senyum sumringah terpatri di wajah tampan Ardi.


    Melinda Merasa jijik mendengarnya, dia merasa Ardi lebih cocok jadi om om para sugar baby, " mungkin inilah bakat menjadi sugar Daddy!" pikir Melinda, menahan rasa jijik dalam hatinya.


    " Oh ya, mari silahkan masuk, kita berbincang di dalam!" ujar Ardi, mempersilahkan Melinda masuk.


   Melinda pun mengangguk, dan melangkahkan kakinya kedalam ruang CEO, ini pertama kalinya dia memasuki ruangan ini,


   Merasa di panggil, Ferdinand mengalihkan fokusnya ke arah Ardi.


  " Tolong suruh OB, untuk mengantar minuman beserta cemilan ke ruangan saya,!" ucap Ardi, dan segera berlalu ke ruangannya, tanpa menunggu persetujuan dari Ferdinand.


   " Silahkan duduk Nona Melinda, suatu kebanggaan untuk saya, nona berkenan berkunjung, apa ada yang bisa saya bantu?" ucap Ardi begitu lembut.


    Melinda sedikit bergidik, melihat bagaimana ardi berinteraksi padanya, suaranya bagi Melinda bukan terkesan lembut, tapi genit.


  " Begini pak, eh Ardi," Melinda langsung merapat ucapannya, " Saya datang ke sini untuk menanyakan keberadaan Camilla, dia menghilang, saya sudah cari kemana mana, tetapi belum juga ketemu, bahkan Camilla, melewatkan syuting live Perdana hati ini, sehingga Tim kreatif menegur saya, tentang Camilla, saya sudah mencoba menghubungi anda, tetapi tidak terhubung, sepertinya ponsel anda mati!" Melinda mengungkapkan niat kedatangannya langsung, tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.


  Mendengar itu, Ardi segera merogoh kantong celananya, dia mengeluarkan ponselnya, benar, ponselnya dalam keadaan mati, Ardi sengaja mematikan telponnya, ketika meeting dengan si klien penting tadi.


    " Maaf, ponsel saya kehabisan daya" Ardi langsung mencarger ponselnya, dia langsung berpura pura ponselnya kehabisan batrr.


    Apa yang terjadi dengan Camilla,? bukankan tidak ada masalah di pekerjakan? trus kenapa Camilla menghilang?" tanya Ardi kepada Melinda, dia memang belum tahu kalau Camilla di suruh memilih, program penurunan berat badan atau mengundurkan diri oleh pak Aliansyah, belum ada laporan masuk terkait hal ini.

__ADS_1


  " Saya juga tidak tahu, saya sudah mencoba menghubunginya, tetapi tidak bisa!" Melinda menampakkan raut wajah yang begitu khawatir, tentu saja itu bertentangan dengan suasana hatinya yang begitu santai.


Ardi mengangguk, seperti mengerti dengan apa yang terjadi, pria itu berjalan keluar dan memanggil Ferdinand untuk masuk ke ruangannya, Dia terpaksa melakukan itu, karena ponselnya sedang di charger.


Ferdinand memasuki ruangan itu, sebelum dia bertanya, Ardi sudah memberikan perintah, " Coba kamu lacak keberadaan Camilla, jika ponselnya memang tidak bisa terhubung, kamu bisa lacak melalui smartwatch nya.


Ferdinand langsung menuju komputer di ruangan Ardi, dia berusaha keras menemukan titik koordinat berdasarkan smartwatch Camilla, yang terhubung ke akun google miliknya, selang lima menit kemudian, Ferdinand berhasil menemukan keberadaan Camilla.


" Ini pak, Sudah ketemu titiknya sekarang Camilla sedang berada di klinik sehat jaya, Sukabumi, sekitar seratus lima puluh kilometer dari sini.


Ardi terkejut dengan apa yang di temukan Ferdinand, segera Ardi mengutus anak buahnya yang bertugas di daerah Sukabumi untuk datang memeriksa.


\*\*\*\*


Bagaimana keadaan pasien, Dok!" tanya seorang perawat,pada seorang Dokter yang sedang menangani Camilla.


" Dia lemas, dan kehilangan tenaga, biar di infus dulu, biar tenaganya pulih!" ucap perempuan yang memakai jas berwarna putih dengan stetoskop di bahunya, " Keadaannya cukup stabil, hanya saja luka bekas cakaran monyet di wajahnya akan sangat sulit di hilangkan, dia harus di operasi, untuk menyembuhkannya, kasian sekali, sepertinya dia mempunyai wajah yang cantik sebelumnya" Dokter itu melanjutkan ucapannya.


Perawat mengangguk, Apa yang di katakan dokter dia menyetujuinya.


Sore ini, klinik itu di hebohkan oleh sekelompok buruh tani, dan mandornya, yang menemukan seorang wanita tergeletak dengan luka bekas cakaran monyet.



\*\*


Sementara itu di tempat lain, Asyifa sedang menyesap teh hijau yang di campur dengan daun mint, sensasinya begitu menyegarkan, dengan malas dia merogoh kantong Nya dan mengambil ponsel, lalu melihat pesan dari Ferdinand, segera dia membuka dan membacanya.


( Nona, saya sudah menemukan sebuah petunjuk)


Pesan singkat tersebut, seketika menaikkan mood Asyifa.


" Sekarang giliranmu sayang, mantan suami tercinta," benaknya, dia meminum tehnya kembali.


****

__ADS_1


__ADS_2