
Episode #7
Tak lama setelah Helena keluar, Asyifa pun keluar, setelah memperbaiki riasannya, mata bengkaknya terlihat Sudah tidak kentara lagi, selepas Helena pergi, dia menangis, mengingat mamanya dan Amar, sebuah tangisan penuh kerinduan.
Asyifa menutup pintu kamarnya, tak lama berjalan, seorang pelayan yang membawa nampan berisi minuman seketika tersandung dan menabrak tubuh Asyifa.
" Maafkan saya nona, sungguh saya minta maaf!" seru pelayan wanita tersebut seraya membersihkan minuman di baju Asyifa.
" Sudah,. Sudah,.. tidak apa apa!" Asyifa berusaha menghentikan tangan pelayan itu, sebuah kertas yang tersembunyi di sebuah serbet yang di gunakan, untuk membersihkan tumpahan minuman tadi, langsung berpindah tangan, Asyifa segera mengerti, dan menyembunyikan kertas itu didalam bajunya, dengan kecepatan tangannya.
Tidak ada gerakan yang mencurigakan, walaupun adegan tersebut di ulang beberapa kali, gerakan keduanya dengan jelas di tangkap oleh cctv yang ada di sudut ruangan.
" Maafkan saya Nona!" pelayan wanita itu nampak ketakutan, dia sampai meminta maaf beberapa kali.
Hal ini tidak mengherankan sama sekali, karena anggota keluarga Kusuma, terkenal, memperlakukan asisten rumah tangganya semena mena.
" Tidak apa-apa, kamu lanjutkan pekerjaanmu kembali! saya akan mengganti pakaian!" setelah mengatakan itu, Asyifa masuk kembali ke kamarnya dan menutup pintu.
Pelayan wanita itu segera mengambil alat kebersihan, dan membersihkan tumpahan minuman tersebut, " Syukurlah, Aku pikir aku akan di hukum!" gumamnya.
Di dalam kamar, setelah mengganti pakaiannya, Asyifa membuka lipatan kertas tersebut.
" Salam Nona syifa, Saya adalah anak buah tuan muda Amar, malam ini Nona Syifa sudah di targetkan oleh yang di atas, saya sudah mengetahui rencana mereka, dan sudah menyusun rencana bersama Tim yang di bentuk tuan muda AMAR, jika ada yang menawari anda makanan dan minuman, anda jangan meminum atau menelannya, anda hanya harus berpura pura untuk keamanan, Nona syifa bisa mengambil makanan atau minuman di meja prasmanan yang di sediakan, setelah menerima makanan dan minuman, selang tiga puluh menit kemudian, Nona akan berpura-pura sakit kepala dan kembali ke kamar, mereka akan langsung menyergap Nona, mohon Nona berpura-pura tidak melawan, dan berserah diri, Tim kami akan terus memantau dan mengikuti Nona, kita juga sudah menghubungi pihak kepolisian, dengan menyertakan bukti yang sudah ada di tangan Tim, mohon kerjasamanya Nona.
Asyifa terkejut, dia segera merobek kertas itu kecil kecil dan membuangnya ke toilet, dia menghela nafas lega.
Setelah menenangkan diri, Asyifa beranjak keluar, semua tamu langsung menyambut Asyifa, dia tidak mengenal semuanya, hanya anggota keluarga Kusuma yang pernah ikut ke labuan Bajo saja yang dia kenal.
__ADS_1
Angga dan Carrey, segera menghampiri Asyifa.
" Kamu keluar juga, kata mama, kamu lagi kurang enak badan ya?" sapa Angga dengan hangat.
carrey hanya tersenyum, mendengarkan keduanya mengobrol ringan, sesekali dia menanggapi.
Di sudut sana, tampak Tamara Sedang menatap Asyifa dengan tatapan tajam dan membunuh, jika bukan karena perempuan itu, pasti dia masih bisa menikmati fasilitas keluarga Kusuma, dan tidak bekerja sebagai office girl, yang gajinya, tidak seberapa, belum lagi dia harus tinggal di kosan yang kecil dan kumuh, kini dia hidup hanya bergantung pada gaji sebagai office girl, tanpa bantuan dari siapapun, Angga melarang keras anggota keluarga Kusuma yang lainnya, membantu Tamara, dia jugoa kehilangan gebetannya, Ovan, seorang mahasiswa keturunan Turki, semua gara gara Asyifa.
Charlie anggota keluarga Kusuma lainnya mendekati Tamara, " Jangan gegabah lagi, perhatikan sikapmu!"
Tamara memandang Charlie sinis, dia melengkungkan bibirnya dan berucap," Bacot!" kemudian pergi, dia sempat mengacungkan jari tengahnya kehadapan Charlie.
Charlie hanya bisa menggelengkan kepalanya, sejak di labuan Bajo, hubungan dia dan Tamara memburuk, sepupunya itu bahkan memblokirnya, di semua Akun medianya.
" Sudahlah, dia butuh waktu untuk menerima semuanya!" Jane, ibunya Tamara menepuk pundak Charlie.
Bukan Hanya Charlie yang diperlukan seperti itu, Tamara juga melakukan hal yang sama dengan dirinya, putri kesayangannya tersebut bahkan tak pernah mengangkat telponnya.
dan kedua orang tuanya, Rio dan halena.
"Sepertinya Om dan Tante sangat menyukai perempuan itu!" Charlie mengatakan dengan nada datar, kepada Jane, merekapun melihat ke arah Angga dan Carrey.
" Sebaiknya kita tidak usah mencampuri urusan keluarga mereka, cukup Tamara saja yang menjadi korban!" Jane menggelengkan kepalanya, mengusir segala niat jahat, untuk memisahkan keduanya.
Charlie Hanya mengangkat bahunya, dia tidak peduli, kecemburuan telah menguasai hatinya.
Sementara itu, Asyifa menuju meja prasmanan, dia sedikit haus, sehingga mengambil segelas minuman kemasan,, dia lebih memilih itu karena masih bersegel, sehingga tidak mungkin dapat di sisipi obat apapun.
__ADS_1
Seorang perempuan menyikut lengan Asyifa, Asyifa yang sedang minum hampir tersedak.
" Selamat ya, sekarang sudah sah jadi janda, kalau Jadi janda jaga harga diri ya,.., jangan sampai merayu' para suami uami orang!" Tamara melengkungkan sebelah bibirnya, dengan sinis, Dia memandang Asyifa rendah.
" Plak!" Suara tamparan mendarat di pipi Tamara, dia tidak menyangka Asyifa seagresif ini.
" Oops!" ada nyamuk! Sayang sekali nyamuknya kabur," Asyifa menatap sinis gadis di depannya itu, dia melihat keatas, kebawah, dan keatas lagi, pandangannya begitu merendahkan.
Tamara mengepalkan tangannya, dia ingin balas menampar, tapi tangannya di tahan oleh seorang perempuan cantik,.
" Jangan mempermalukan dirimu Tamara! jika kau di posisi Asyifa, belum tentu kau kuat dan hidup sampai sekarang!" ucap perempuan cantik itu.
" Urus saja urusanmu, Zoya! dari dulu kau suka sekali ikut campur!" Tamara berlalu pergi meninggalkan keduanya.
Belum tentu kau bisa kuat hingga sekarang!" kata itu mengiang terus di kepala Asyifa.
" Maafkan sepupuku ya! Dia memang sedikit labil, oh ya, perkenalkan, Namaku Zoya, sepupunya juga!" Zoya mengulurkan tangannya.
" Asyifa!" Asyifa balas mengulurkan tangannya, " Panggil saja syifa!" sambungnya ramah.
" Aku turut prihatin dengan apa yang menimpamu, syifa, Jika Aku di posisimu, mungkin aku sudah memilih menghabisi nyawaku sendiri, Aku benar benar kagum dengan perempuan kuat seperti mu!" tegasnya kemudian.
Entah mengapa, setiap perkataan Zoya membuatnya tidak senang, kenapa harus selalu ada kata kata yang menyiratkan pembunuhan.
" Sebagai tanda perkenalkan, bolehkah kita bersulang?"
" Bersulang? tentu saja boleh! Anda tidak perlu sesungkan itu!" Asyifa langsung menerima segelas minuman yang di tawarkan Zoya. diapun berpikir, jika Zoya suruhan dari pihak yang di atas.
__ADS_1
Kedua perempuan cantik itupun segera bersulang, dari ekor matanya Asyifa bisa menangkap, bahwa Zoya melengkungkan bibirnya, walaupun hanya sepersekian detik Asyifa langsung paham, jika Zoya sedang berusaha menjebaknya.
***