
Episode #26
Di lain tempat,
Ovan di kosannya, bersama temannya hanya bisa menonton live streaming, mengandalkan WiFi gratis dari tempat kosan.
" Dosen lu cantik banget, Udah gitu pinter dan anggun lagi, wajar sih, dia adalah seorang bangsawan!" Doni teman se kosan Ovan hanya mengomentari sekilas.
"Iya, Bu Dosen gua emang paling the best, untuk pertama kali, gua jatuh cinta dan langsung belajar melepaskan!" Ovan tersenyum kecut.
" Di bandingkan dengan tuan muda Angga Kusuma, lu, ga ada apa apanya, Bro!"timpal Doni.
" Benar, Apalah gue, yang hanya rempah rempah rengginang!" Ovan menatap lekat layar laptopnya.
Doni hanya menepuk pundak Ovan, turut bersimpati, Doni tahu, bagaimana perasaan ovan pada Dosen pembimbingnya itu.
Kembali ke acara
" Baiklah, kali ini adalah acara, tukar cincin!" pembawa acara memberitahukan acara selanjutnya.
Helena kemudian bangkit mendekati Carrey Ramos, Helena mengeluarkan kotak cincin, cincin emas putih bertahtakan berlian itu langsung di pasangkan oleh Helena ke jari Carrey Ramos.
Warganet pun heboh di kolom komentar.
" Gila banget! Berliannya indah banget!"
" Lho, itu bukannya cincin keluaran terbaru dari brand ternama ya?"
" Itu cincinnya senilai puluhan milyar!"
" Aku mau pingsan! cincin nya luar biasa!"
Selanjutnya, Angga memberikan buket bunga mawar merah kesukaan Carrey, itu simbolis dari seserahan yang di berikan Angga.
Kemudian kamera di arahkan pada kotak seserahan.
Warganet pun kemudian heboh.
" Gila, seserahannya!"
" Ada satu set perhiasan keluaran terbaru!"
"Skin care dan make up dari brand brand ternama!"
" Wah, pakaiannya dari Chanel dan Gucci!"
" Loh, itukah kamera DSLR terbaru yang baru rilis, fotografer terkenal belum tentu punya!"
"Tas sama sepatunya tidak tahan, tolong?! itu kalau di jual bisa beli rumah di pondok indah!"
" Jiwa Miss Queen ku meronta tinta!"
__ADS_1
Selanjutnya, pasangan pun memulai sesi foto, acara perkenalan keluarga pun di mulai, para undangan pun di persilahkan menikmati hidangan.
Di meja prasmanan, Asyifa hanya mengambil minuman, di seberang nya ada Jeni, Lusi dan beberapa sepupu Angga.
Sayup sayup Asyifa bisa mendengar pembicaraan mereka, walaupun Asyifa dan keluarga Kusuma pernah berlibur ke labuan Bajo sebelumnya, itu tak berarti hubungan mereka dekat.
" Pupus sudah, kita tak punya kesempatan untuk bertindak lagi!" Lusi mengeluh.
" Carrey itu tidak mudah di tindas, dia seperti Helena, dia memiliki prinsip tegas!" Jeni menambahkan.
" Apakah kau sudah tahu kabar terbaru dari Janeta Surya? Dengar dengar dia di hukum, tidak boleh keluar rumah selama setahun, akibat videonya yang melabrak Carrey!" Lusi memberikan informasi.
" Itu salahnya sendiri, dia tak pintar, bagaimana caranya bermain cantik, dia benar-benar payah!" Charlie menggeleng gelengkan kepalanya.
" Memangnya kau bisa bermain cantik? kalau bisa tidak mungkin Angga membuangmu ke Ambon!" celetuk Tamara.
Lusi yang sedang minum tersedak," Apa? Ka,..Kau di mutasi ke Ambon? Kenapa?"
" Itu,.." Charlie menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia sedang mencari alasan yang masuk akal," Sial, kenapa Tamara malah membongkarnya?"
" Itu karena Charlie sendiri yang mengirim Janeta Surya ke Carrey, Angga pasti tahu, dan membuang Charlie!" tanpa menunggu Charlie menjawab Tamara malah membongkar semuanya.
Wajah Lusi merah padam, ingin sekali dia menampar anak lelakinya tersebut.
Sementara itu di kursi lain, tempat tuan besar Wijaya Kusuma dan nyonya Arum, serta Rio bersama istrinya, Helena, duduk, seorang pelayan menghampiri semuanya.
" Maaf tuan besar, Nona Asyifa ingin bicara serius, dan super penting katanya!" pelayan itu menyampaikan apa yang Asyifa suruh.
" Mari tuan besar, Nona Asyifa sudah menunggu di sana!" sang pelayan menunjukkan sebuah private room yang ada di hotel itu, sebelumnya Asyifa memang sudah memesannya terlebih dahulu.
Sebelumnya Asyifa sudah mendiskusikan semuanya dengan Angga, untuk membongkar segala kebusukan dari tuan Wijaya Kusuma, di hari pertunangannya, Angga tentu saja sangat setuju, karena keselamatan Asyifa lebih terjamin, tidak akan ada yang berani macam-macam pada pesta pertunangannya bukan? Apalagi kakeknya sudah bagaikan macan ompong, namanya saja yang masih macan, tetapi kekuatannya sudah tak ada lagi.
Rio merasa hari ini akan terjadi, entah bukti apalagi yang sudah di temukan oleh wanita itu.
Tuan besar Wijaya Kusuma terlihat begitu waspada.
Helena dan ibu mertuanya saling melirik, mereka tidak tahu apa yang terjadi,
" Hal penting apa? Bahkan super penting?"
Pelayan tersebut kemudian menuntun keempatnya ke private room yang sudah di pesan Asyifa.
Setelah keempatnya masuk, sang pelayan segera undur diri, tugasnya sudah selesai, dia senang sekali dapat uang tips dua juta rupiah, hanya menyampaikan sebuah pesan saja.
" Kakek, nenek, Om, Tante! sapa Asyifa, " Silahkan duduk!"perempuan muda itu mempersilahkan.
Keempatnya langsung duduk.
" Ada berita penting apa sih syifa?" Helena tidak bisa menahan rasa penasarannya.
" Sabar nak, biarkan syifa bicara dulu!"nyonya Arum menyikut lengan Helena.
__ADS_1
" Iya Bu!" Helena tersenyum kikuk.
Asyifa menghela nafas panjang sebelum dia berkata" Maaf sebelumnya, jika mengumpulkan kalian di tempat dan acara yang tidak semestinya, menurut saya ini adalah saat yang paling tepat,"
Helena dan nyonya Arum melirik lagi.
" Sudahlah jangan bertele-tele, langsung saja, buat apa kau mengumpulkan kami di sini? Masih banyak tamu yang harus kami sapa!" Tuan besar Wijaya Kusuma berkata ketus, dia sungguh tak ingin melihat cucu Amir sama sekali, dia mengingatnya pada orang itu.
" Baiklah, saya tidak akan bertele-tele lagi!"Asyifa bersikap tegas," Saya mengumpulkan kalian di sini, untuk meluruskan kesalahpahaman di masa lalu!"
Nyonya Arum menyela," Apa maksudmu Syifa? kesalahpahaman Bagaimana?"
Helena gantian menyikut lengan mertuanya," Ma,..!"
" Kesalahpahaman antara almarhum kakek dan Kakek Wijaya!" Asyifa berkata tegas.
Semua mata melihat kearah tuan besar Wijaya Kusuma.
" Apa maksudmu?" tuan besar Wijaya Kusuma mendelik.
" Saya tahu jika tuan Wijaya dan kakek umar adalah sahabat sejak kecil, dan dari kampung yang sama, kalian sama sama merantau ke kota, dan berjuang bersama merintis bisnis baru, hingga suatu hari, kakek Wijaya menipu kakek saya, dan sempat Ling lung beberapa waktu!"
Semua terdiam, apa yang di bicarakan Asyifa memang sebuah kebenaran, Tuan besar Wijaya Kusuma pernah melakukan itu.
" Itu semua memang pantas dia dapatkan, dan semua itu jauh dengan kata cukup!" tuan besar Wijaya Kusuma berkata lantang.
" Apa juga tidak cukup dengan membunuh anak keturunannya? Menyuruh orang untuk membunuh anak, menantu dan cucunya? Bahkan ketika cucunya selamat anda masih tidak puas dengan menyuruh seorang laki-laki untuk menikahinya dan membuatnya hidup seperti di neraka? seperti itu?" Asyifa berkata lirih, dia berusaha keras agar air matanya tidak tumpah.
" Apa maksudmu Syifa? Apa kau menuduh kakek Wijaya penyebab kecelakaan orang tuamu?" nyonya Arum terlihat kesal, dia tidak terima jika Asyifa menuduh suaminya tanpa bukti.
" Nenek perlu bukti? Apa nenek tidak melihat, akhir akhir ini kakek uring-uringan setelah baskara tertangkap polisi karena berusaha membunuhku?" Asyifa mengangkat alisnya," Itu karena baskara tersangka di balik kecelakaan itu, dia menyuruh seorang montir untuk membajak rem mobil dan setelah kecelakaan itu, dia juga mengajak montir itu untuk memperbaiki remnya kembali, sebelum kepolisian menemukan keanehan yang lain!" Asyifa melengkungkan bibirnya," Kakek sangat cerdas sekali!" puji Asyifa.
Kemudian Asyifa memutar video pengakuan dari Tinro, rekaman tersebut sontak mengguncang ruangan tersebut.
Nyonya Arum terbelalak, seolah dia tidak percaya pada apa yang dia tonton, " Apa maksud semua ini? Pengakuan orang ini tidak dapat di jadikan bukti!"
" Nenek, pengakuannya memang masih lemah, tetapi ada Baskara yang di tahan, mau tidak mau Baskara akan mengungkapkan semuanya, cepat atau lambat, Baskara akan mengaku juga!" kemudian Asyifa menatap tuan besar Wijaya Kusuma," Kakek, Sepertinya waktu untuk menghirup udara kebebasan semakin berkurang, bukan?"
" Ha ha ha!" tuan besar Wijaya Kusuma terkekeh, kemudian bertepuk tangan," Prok! Prok!"
Semua terkejut melihat tuan besar Wijaya Kusuma saat ini," Analisis mu cukup tinggi nak? Itu tak akan mengungkapkan apapun! Meskipun Baskara mengatakan bahwa akulah pembunuhnya, polisi belum tentu menangkap ku, karena kurang bukti!"
Asyifa hanya tersenyum saja, dia terlihat sangat santai, intimidasi dari tuan besar Wijaya Kusuma tidak akan berpengaruh padanya.
" Benarkah itu kek? Apakah kakek yakin kalau aku tidak memiliki bukti?" Asyifa menaikkan alisnya.
"Jika kakek mengira aku mengumpulkan kalian hanya untuk menampilkan orang di video itu, kakek salah besar!"
Asyifa menggeleng gelengkan kepalanya," Aku Sudah mengumpulkan banyak bukti, dan itu semua menjurus kearah kakek!"Ada jeda sejenak, sebelum Asyifa melanjutkan," Bahkan, mantan suamiku juga ARDIANSYAH mau bersaksi atas namaku, bukankah kakek yang menyuruhnya untuk mendekatiku untuk membuat hidup aku menderita? Apakah kakek merasa bahwa ARDIANSYAH orang biasa yang mudah sekali untuk di tindas?"
" Asal kalian tahu saja, pembicaraan kalian, rencana kalian itu, telah di rekam oleh ARDIANSYAH sebelumnya, untuk apa? Untuk berjaga jaga jika suatu saat nanti kakek meninggalkan nya seperti anjing di jalanan, dan sekarang terbukti kan? kakek bahkan berpura pura tidak mengetahui keberadaannya yang terpuruk masuk penjara! Kakek pikir, dia tak akan menyeret, kakek? " He he he! Kakek salah besar, ARDIANSYAH bukan orang seperti itu! Kemudian Asyifa memutar rekaman percakapan ARDIANSYAH dengan tuan besar Wijaya Kusuma.
__ADS_1
****