
Episode #22
Setelah menenangkan diri sejenak di dalam mobil, Melinda menghapus air matanya dan memperbaiki riasannya, bergegas dia kembali menuju butiknya, segera dia harus menyelesaikan permasalahan keuangannya, dan mencari pengkhianat di sekitarnya, urusan Michael dan Camilla akan di tangani nanti, mereka harus di perlakukan dengan hati hati.
Perjalanan agak sedikit macet hingga menghabiskan waktu sekitar satu jam, akhirnya Melinda sampai juga di butik Lady's palace, butik yang dia kelola dari mendiang mamanya, dia sangat mencintai butik itu, karena hanya butik itu peninggalan dan kenangan satu satunya dari orang yang paling dia cintai dan rindukan,tentu saja dia tidak akan membiarkan jerih payah sang mama hancur sia sia.
Beberapa langkah memasuki butiknya, Melinda langsung di sapa oleh para pegawainya.
" Ci,.." sapa para pegawai ramah.
Melinda hanya mengulas senyum tapi tidak tulus seperti biasanya, salah satu dari pegawai kepercayaannya pasti sudah berkhianat.
" Nany,.. tolong kalau ada yang mencari saya, katakan saya tidak di tempat, kecuali yang sudah punya janji dengan saya, dan tolong jangan ganggu saya, butik tolong tangani dulu," perintah Melinda tegas tanpa senyuman.
Nany sang tangan kanan Melinda, pegawai kepercayaannya, hanya menganggukkan kepala seraya berkata, " Baik ci,"
Melinda pun langsung memasuki ruangannya dan lekas mengunci pintu lalu segera mengambil minuman dingin di kulkas dalam ruangannya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi, dia menutup matanya seraya mencari solusi dari permasalahannya.
Seketika matanya terbuka, tiba tiba dia teringat sahabat semasa kuliahnya, Fany yang bekerja sebagai auditor lepas, segera dia menghubungi dan mengutarakan niatnya untuk melakukan audit di butiknya untuk mencari celah pengkhianatan pegawainya, Dua jam lagi Fany akan mengunjungi butiknya.
****
Dua jam telah berlalu, Melinda pun sudah menyiapkan semua dokumen dan catatan keuangan yang bisa saja di perlukan, jika Fany akan langsung beraksi.
" Tok,..Tok,..Tok,." suara pintu di ketuk.
" Masuk Fan,!" titah Melinda.
Gadis itu sudah tahu jika Fany yang datang, karena sebelumnya dia telah mengingatkan pegawainya untuk tidak mengganggu dirinya.
" Hay Mel,..long time no see, I miss you so much," Fany langsung memasuki ruangan Melinda dan mereka langsung berpelukan dan cipika cipiki, alias cium pipi kanan dan kiri.
( Hai Mel, lama tidak bertemu, aku sangat merindukanmu)
" I love you too, sorry I've been so busy lately, I need your help today,?"
( aku juga begitu sayang,. maaf akhir akhir ini Aku begitu sibuk, aku butuh bantuan kamu hari ini,?)
"don't say that, calm down, I will definitely help you dear, .. now can you tell me everything in its entirety,?"Fany langsung ke intinya.
( jangan ngomong begitu, tenanglah aku pasti akan bantu kamu sayang, sekarang bisakah kamu menceritakan semua secara keseluruhan?)
Melinda seketika menceritakan masalahnya hari ini, terutama tentang cicilannya ke bank yang sudah menunggak dua bulan sebesar dua ratus juta rupiah, selain itu dia juga menyampaikan keheranan atas pendapatan butik yang tidak sesuai dengan harapan, banyak barang yang terjual tetapi pemasukan kurang, jadi Melinda mencurigai ada pihak yang bermain dan menusuknya dari belakang.
" ok, i understand now, let me check your boutique account, give me data, especially capital expenditure, payment records, income and net profit,. i will analyze and we will find out what happened in this boutique," Fany membuka semua data itu dan langsung membuka laptopnya untuk bekerja, karena dia tidak ingin membuang buang waktu lagi.
( oke, aku mengerti sekarang, biar aku check akun butikmu, berikan aku data terutama pengeluaran modal, catatan pembayaran, pendapatan dan keuntungan bersih, aku akan menganalisa dan kita akan menemukan apa yang terjadi di butik ini,")
" sure,.. this is it,.. I had prepared before you came, because I predicted it," Melinda langsung menyerahkan sebuah flashdisk ke tangan Fany.
__ADS_1
( tentu, ini dia, aku sudah mempersiapkan sebelum kamu datang, karena aku sudah memprediksi itu,")
Fany langsung memasukkan flashdisk itu dan mulai bekerja, dia terlihat sangat serius menganalisa keuangan butik itu, Melinda tidak mengganggunya samasekali, gadis itu hanya menyediakan minuman dan cemilan, kemudian dia memikirkan bagaimana cara dia mendapatkan uang dua ratus juta untuk menutupi cicilan, sedangkan pendapatan butiknya hanya cukup untuk menutupi gaji karyawan, perawatan operasional gedung, dan membayar bunga cicilan tersebut, dia begitu pening sekali karena dalam dua hari ini harus menyiapkan uangnya.
Tiga jam telah berlalu, saat ini Waktu sudah masuk jam Lima sore, akhirnya Fany bernafas lega, dia merentangkan sejenak jari jari dan pinggangnya, dia sudah selesai menganalisa dan mendapatkan permasalahannya.
" Honey. come here.., I will show you something, you will be surprised," ucap Fany kepada Melinda, yang terlihat sedang melamun memikirkan permasalahannya.
( sayang,. kemari deh, aku akan menunjukkan sesuatu, kamu akan terkejut,")
Mendengar suara yang tiba tiba Melinda sedikit gelagapan karena baru tersadar dari lamunannya, seketika dia datang menghampiri dan berdiri di belakang Fany.
Fany mendekatkan laptopnya kearah Melinda, " Look,. that chart, . actually there is no problem in sales and profits,.. meanwhile, your capital outlay is too big to get the goods that your boutique sells," jelasnya, sambil menunjukkan grafik yang sudah dia kerjakan.
( lihat,. grafik itu, . sebenarnya tidak ada masalah dalam penjualan dan keuntungan,.. sementara itu, pengeluaran modalmu terlalu besar untuk mendapatkan barang barang yang butikmu jual,")
" From this, what conclusions do you draw,?" tanya Fany menampilkan wajah serius, tatapannya menatap Melinda dalam.
( Dari hal ini,.. kesimpulan apa yang kamu ambil,")
Mendengar pertanyaan Fany wajahnya memerah dan tangannya mengepal, seketika dia memukul meja," wow,.. this is interesting,. I never imagined that I would employ someone who would so boldly betray me," Melinda tertawa sinis, tak bisa menahan kecewanya.
( wow,.. ini menarik,. aku tidak pernah membayangkan bahwa aku mempekerjakan seseorang yang dengan berani mengkhianatiku,")
Fany hanya menatap Melinda nanar, sorot kekecewaan begitu terlihat di mata gadis itu," he was so disappointed," ucap Fany dalam hatinya, seraya menggelengkan kepalanya pelan.
Sudah pukul tujuh malam, Fany dan Melinda sudah makan malam, mereka memesan makanan dari restoran favorit Melinda yang tidak jauh dari butiknya.
Setelah itu Melinda menghubungi Nany dan menyuruhnya untuk datang ke ruangannya, selang beberapa saat kemudian suara ketukan pintu terdengar.
"Tok,. Tok, .Tok,."
"Masuk Nany," perintah Melinda.
Ketika Nany masuk ke ruangan, gadis itu menoleh ke arah Fany yang sudah siap untuk pulang, dia melihat Fany sedang memasukkan laptopnya ke dalam tasnya, seketika dia merasakan ada hawa dingin yang merasuk hingga ke tulangnya, ada sebutir keringat keluar dari keningnya, padahal jelas jelas ruangan tersebut di pasang pendingin ruangan.
" Nany,.. tutup butik satu jam lebih cepat, setelah itu umumkan pada semua pegawai untuk berkumpul di lantai bawah, semuanya, tanpa terkecuali,!" perintah Melinda dengan sangat tegas.
Melihat ketegasan Melinda Nany menundukkan kepalanya, tak pernah dia melihat perempuan itu bersikap dingin dan datar.
" Basa,.. Baik ci ," ucap Nany terbata bata.
" fany,..stay a little longer please,..i need you to handle all this,i'm afraid to make the wrong decision,!" pinta Melinda ketika melihat Fany yang ingin pamit pulang.
( fany,.. tolong tinggal sebentar lagi ya,.. aku butuh kamu untuk menangani semua ini, aku takut mengambil keputusan yang salah,!)
" sure,..I'm here,! balas Fany tersenyum.
( tentu,.. aku disini )
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama, butik Lady's palace pun tutup, sesuai arahan dari Melinda, semua pegawai juga sudah berkumpul di lantai bawah, termasuk tukang parkir.
Melihat ada tukang parkir di sana, Melinda hanya mengeryitkan dahinya, dengan sopan dia bertanya," Sedang apa bapak di sini,?"
Tukang parkir yang di tanyapun hanya cengengesan, " Saya tidak tahu ci,.. katanya di suruh kumpul, ya Udah saya ikut ngumpul,!"
Melinda seketika menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan meminta maaf, kalau perkumpulan ini hanya untuk pegawai yang di dalam gedung, setelah itu si tukang parkir pun keluar.
Semua sudah di kumpulkan di lantai bawah sesuai dengan instruksi sebelumnya, Melinda menatap tajam satu persatu para pegawai di butiknya, tatapan gadis itu terasa begitu menusuk, sehingga membuat para pegawai berdiri tidak tenang, Fany yang memperhatikan suasana tegang ini hanya mengulas senyum.
" Hmmm,. selamat malam semua," ucap Melinda dengan nada datar dan dingin.
" Selamat malam ci," ucap para pegawai serentak.
Melinda masih menatap tajam para pegawainya sebelum dia berkata dengan nada datar dan dingin.
"Saya mengumpulkan kalian di sini, malam ini, tanpa ada persiapan apapun juga, saya hanya ingin mengumumkan, bahwa, sebaiknya kalian sudah mulai mencari pekerjaan baru, butik kita berada di ambang kebangkrutan, setelah di selidiki, ternyata ada pihak dari dalam yang bermain curang, kita sudah lama bersama, ada yang bekerja di sini semenjak mama masih hidup, dan ada juga yang masuk ketika saya telah mengelolanya, saya tidak ingin berburuk sangka, bagaimanapun saya sudah menganggap kalian seperti keluarga sendiri, sekarang saya ingin kejujuran kalian, tentang peran dalam pengkhianatan ini, jangan sampai saya yang menyelidiki sendiri dan menemukan pelakunya, kalau ini terjadi, pihak berwajib yang akan menyelesaikannya, saya masih di sini untuk satu jam kedepan, menunggu kejujuran kalian, jika saya sudah melangkahkan kaki keluar dari butik, itu tandanya sudah tidak ada lagi kesempatan, sekarang kalian boleh pulang, dan besok kembali bekerja seperti biasanya, selamat malam,!"
Setelah mengatakan itu, Melinda kembali bersama Fany di belakangnya, mereka menuju ruangan Melinda, bisik bisik antara pegawai mulai terdengar, dan kedua gadis itu mengabaikannya.
Melinda dan Fany sudah bersiap untuk pulang, kurang lima menit sebelum waktu yang di tetapkan oleh Melinda untuk sebuah pengakuan, ketika mereka hendak keluar ruangan dan membuka pintu, kedua gadis tersebut mendapati Nany terpaku dengan pose ingin mengetuk pintu.
"Nany,?" Melinda mengeryitkan dahinya, tidak mempercayai penglihatannya.
" Iya ci," raut wajah Nany sudah begitu pias, dia hanya bisa menunduk.
" Masuk," perintah Melinda.
Nany segera masuk dan berdiri di seberang meja Melinda.
"Ci, maafkan saya,! saya tidak tahu apa apa, saya sudah tidak bertanggung jawab dalam pembelian barang dari garmen ataupun pabrik, semua itu sudah di ambil alih oleh mas Michael dan katanya itu di perintah oleh Cici, saya percaya saja, karena menimbang kedekatan mas Michael dengan Cici, maafkan saya Ci, harusnya saya laporkan pada Cici kebenarannya," cucit Nany menjelaskan, air matanya sudah turun dengan derasnya.
" Apa saya bisa percaya dengan kamu,? " Apa kamu punya bukti,? tanya Melinda begitu tegas, tangannya melipat di dada.
"Saya tidak berbohong Ci,?" bukti fisik saya memang tidak punya, tapi Cici bisa menanyakannya langsung dengan Suppliers kita di garmen atau pabrik," nany menjawab dengan mata basah dan kepala tertunduk.
" Sekarang kamu boleh pergi," ucap Melinda dingin.
" You have to investigate before you make a decision, lest you lose the people you trust and trust you," Respon Fany.
( kamu harus investigasi sebelum kamu ambil keputusan, jangan sampai kamu kehilangan orang orang yang kamu percaya dan mempercayaimu,")
" you're right fany, I'm too tired,. let's go home and rest," Melinda mengajak pulang.
( kamu benar fany,. aku terlalu lelah,.ayo pulang dan beristirahat,")
Mereka berdua pun keluar dari butik dan menuju mobilnya masing masing dan bergegas pulang.
" Sialan kau Michael,!
" Sialan kau Camilla,! " Aku tak akan memaafkan kalian,!" gumam lirih suara gemelutuk giginya terdengar.
__ADS_1
*****
... ...