
Episode #83
Arsyad bergegas menyusul Asyifa, mereka tiba di parkiran dan segera memasuki mobil lalu berangkat ke tempat tujuannya.
Arsyad terus fokus menyetir, tidak ada perbincangan diantara keduanya, ingin sekali laki laki itu mengajaknya mengobrol, akan tetapi melihat bagaimana suasana hati sahabat majikannya itu, akhirnya dia menelan kata katanya, dia tidak ingin memperkeruh suasana.
Perjalanan semakin jauh, meninggalkan ibukota, saat ini Arsyad dan Asyifa Sudah memasuki kawasan hutan, suasana di tengah malam seperti ini, terasa amat sepi, hanya suara hewan yang terdengar, dan beberapa kendaraan yang lewat.
Arsyad semakin fokus menyetir, sekarang mereka sudah meninggalkan jalan besar dan kini mobil mereka memasuki jalan kecil, kiri dan kanan jalan, hanya ada beberapa pohon besar dan rindang, suasananya begitu mencekam dan begitu horor, untungnya keduanya bukanlah seorang yang penakut, sehingga mereka mengabaikan pemikiran akan adanya makhluk tak kasat mata.
Lima belas menit kemudian, mereka sampai di sebuah lapangan di tengah hutan, disana Sudah berkumpul, tuan muda AMAR, dan beberapa laki laki berpakaian serba hitam, dengan mengenakan topeng, nampak juga seseorang yang dia kenal, namun orang itu sengaja di buat pingsan.
Arsyad keluar dari mobil, dan langsung membukakan pintu mobil untuk Asyifa, semua yang ada segera menundukkan kepalanya, sebagai tanda kehormatan, hanya Amar yang tidak melakukannya, dia hanya tersenyum pada Asyifa.
" Bagaimana, perempuan ini mau di apakan Boss?" tanya salah satu komplotan yang berbaju hitam dengan memakai topeng, sepertinya dialah ketua dari para komplotan itu.
"Seret dia keluar! tapi jangan sampai terluka!" perintah Asyifa dingin.
Laki laki itupun segera menyuruh kedua anak buahnya, untuk mengeluarkan sosok itu, tak lama, perempuan yang ada di dalam mobil sudah diseret ke hadapan Asyifa, dan di letakkan di bawah kakinya.
Amar hanya menonton, tidak memberi komentar, sesekali pandangannya tertuju kearah Asyifa.
Asyifa berjongkok, dia membelai pipi halus sosok yang masih pingsan tersebut, berbagai jenis emosi begitu terpancar di matanya.
Segera Asyifa berdiri dan merogoh tasnya, dia mengeluarkan tisu basah, dan mengelap tangannya dengan jijik, seperti dia baru saja menyentuh kotoran.
__ADS_1
" Segera tuang bahan bakar di mobilnya!" perintah Asyifa.
Para laki-laki bertopeng pun segera mematuhi perintahnya, empat jerigen bahan bakar, langsung membasahi mobil tersebut, sekejap mata, si jago merah melahap habis mobil itu, Asyifa tersenyum manis, melihat bagaimana si jago merah beraksi.
Semua bergidik ngeri melihat dengan apa yang di perbuat Asyifa, mereka hanya bisa menelan ludahnya kasar, mereka seperti melihat penjelmaan iblis wanita yang sangat cantik, mereka berjanji untuk selalu setia dan mematuhi semua perintah dari bos cantiknya ini, karena mereka tidak ingin menanggung resiko dengan menyia-nyiakan nyawanya.
" Ayo pergi, tinggalkan saja wanita itu di sini, biar dia tau, Bagaimana api menghanguskan mobilnya!" setelah mengatakan itu, Asyifa beranjak menuju mobil Amar, dengan Arsyad dan Amar menyusui di belakangnya.
Para komplotan bertopeng pun melakukan hal yang sama, mereka langsung masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan wanita itu dengan kondisi ponsel rusak dan uang tunai yang raib.
Asyifa menyandarkan badannya ke kursi, dia membuka botol air mineral, kemudian meneguknya hingga tandas, dia kehausan, karena menahan gejolak membunuh dalam hatinya.
" Itu hanya pukulan ringan untuk Camilla, aku hanya meminta kembali dengan apa yang sudah aku berikan, Aku tidak ikhlas, dia memakai mobil pemberianku sebagai hadiah ulang tahunnya, Aku lebih rela membakar mobil itu, daripada melihat ia mengendarainya," Asyifa berbicara begitu mantap dan santai, seolah olah membakar mobil seperti membakar jagung.
" Kenapa rencanamu berubah? Sepertinya ini bukan rencana awal bukan? bukannya kamu berencana menjebak dia dan memfitnahmu, Setelah itu, kamu akan melaporkannya atas kasus, pencemaran nama baik dan memasukannya ke penjara? dengan cara itu, karirnya akan hancur dengan sendirinya," Amar merasa ada yang aneh dengan perubahan rencana ini.
Asyifa menganggukkan kepalanya dua kali, Seperti anak ayam sedang mematuk beras.
" Benar sekali, awalnya aku juga berfikiran ke arah sana, tetapi sekarang keadaan mendesak, aku harus segera menyelesaikan kasus Camilla, ada yang lebih penting, dibandingkan perempuan itu," kilatan tajam segera muncul dari tatapan Asyifa, walaupun dalam keadaan di mobil gelap, Amar bisa melihat itu.
" Apakah ini tentang keluarga Kusuma?" Tanya Amar, menebak.
__ADS_1
Asyifa menghela nafas panjang, dia mengangguk lemah.
" Aku hanya ingin mengingatkan kamu agar perlu berhati-hati, tuan Wijaya Kusuma Sangat berbahaya dan licik, dia tidak pernah peduli tentang siapapun atau apapun, kecuali dirinya sendiri, dia tidak berperasaan, setahu aku, dia akan melibatkan siapapun, untuk memuluskan rencananya, tidak perlu itu darah dagingnya sendiri, kamu harus berhati-hati, jangan menghukum orang yang salah," tuan muda itu mengingatkan.
Asyifa mengerti, bahwa yang di maksud dengan orang yang salah adalah Angga Kusuma, walaupun dia terlihat akrab dengan sang Kakek di depan umum, terlebih di pesta ulang tahun tuan WIJAYA Kusuma tempo hari, Asyifa menyadari, bahwa, ada yang tidak beres antara keduanya, mereka akrab, tetapi ada sedikit rasa canggung dari Angga, walaupun ia tak kentara menunjukannya, bagi yang sensitif seperti Amar dan Asyifa, mereka sudah bisa menyimpulkan bahwa keduanya hanya berinteraksi seperti atasan dan bawahan, bukan seperti kakek dan cucu, dalam konteks yang sebenarnya.
" Tidurlah, besok kamu harus beraktivitas kembali! Aku akan membangunkan mu ketika sudah sampai!" ucap tuan muda AMAR, seraya mengusap lembut rambut Asyifa.
Asyifa terkejut melihat sikap Amar, tetapi melihat ekspresinya yang biasa saja, Asyifa membiarkan lelaki itu mengusap rambutnya dan mengangguk, kemudian Asyifa memejamkan matanya.
Amar merengkuh kepala Asyifa, untuk bersandar di bahunya, agar tidurnya semakin nyaman, Asyifa pun menurut.
Arsyad hanya memperhatikan mereka dari balik kemudi, diam diam garis bibirnya melengkung, "'pasti tuan muda berdebar, ketika bersikap mesra seperti itu, he he he!" ejeknya dalam hati.
Mobil pun terus melaju meninggalkan hutan, dan menuju ke gemerlapan ibukota.
****
Keesokan paginya, Camilla terbangun, kepalanya terasa sakit sekali, dia masih belum pulih sepenuhnya, ingatannya masih samar samar, tadi malam, ketika dia berniat menyetir ugal-ugalan, dia pergi berkendara di area yang lenggang, yang sepi dan jarang di lintasi orang orang, di tengah perjalanan dia tersadar, sejak tadi ada mobil yang mengikutinya dari tadi, akhirnya dia menepi, dan perasaannya terbukti benar, mobil itu segera menghampiri, dan memaksanya untuk keluar, Camilla masih berusaha melawan dan tidak keluar dari mobil, sontak karena geram, Satu laki laki bertopeng itu, memecahkan kaca mobil Camilla,
Camilla terkejut, dan kemudian berhenti melawan, tak lama kemudian,. salah satu komplotan itu, menutup hidungnya dengan sapu tangan, diapun merasa lemas dan tidak sadarkan diri.
Matahari bersinar kearah wajahnya, membuat Camilla mau tidak mau membuka matanya, suara burung berkicau, seolah mengejek keberadaan Camilla di sana.
Ketika membuka mata, Camilla terbelalak melihat sekitarnya, tidak ada manusia disana, yang ada hanya pepohonan kiri dan kanan, kemudian pandangannya tertuju pada rongsokan yang berada tak jauh dari tempatnya, ,dia sangat kaget, melihat mobilnya sudah habis terbakar.
Spontan dia berteriak, TIDAAAK!" mendengar teriakkan Camilla, burung burung yang hinggap terbang, karena terkejut.
__ADS_1
****