Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Kelakuan Melinda


__ADS_3

Episode #67


   Di ruangan CEO ARDIANSYAH.


   Camilla memasuki ruangan Ardi, setelah Ferdinand mempersilahkannya masuk, semua orang di kantor tau, hubungan bos Ardi dengan artis tersebut.


   " Ada apa sayang? Bagaimana syutingnya? tanya Ardi lembut dan penuh kasih sayang.


     Camilla hanya tersenyum kecil, sebenarnya dia masih sedikit marah dengan Ardi, karena dia masih belum rela pemeran utama yang seharusnya untuk dia di gantikan dengan Humaira, oleh karena itu dia tidak mengeluarkan suara sepatah katapun.


      Camilla segera meraih tasnya, kemudian mengambil bungkusan tisu dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya kepada Ardi.


   Ardi yang penasaran, segera meraih benda itu lalu membukanya, alangkah terkejutnya Ardi, ketika melihat hasil tes kehamilan tersebut, Garis dua! di perhatikan lagi, benar benar garis dua!


  Lalu Ardi berdiri dan tiba tiba dia memeluk Camilla sambil mengayun ayunkan wanita itu.


   " Aku pusing,.." ucap Camilla.


  Kemudian Ardi menurunkan tubuh wanita tersebut, dan langsung memeluknya, " Kamu Hamil sayang! Aku,..Aku, bahagia sekali! Ayok sekarang kita periksa ke dokter kandungan!" ucapnya bahagia.


      " Ferdinand, Ferdinand, " Ardi memanggil asisten pribadinya.


    Ferdinand pun langsung masuk, dia ingin mengucapkan sesuatu, tetapi di sela oleh Ardi.


   " Kamu tolong selesaikan pekerjaan dulu, ya, saya ada kepentingan di luar!" ucap Ardi, dan langsung menarik tangan Camilla.


     Camilla tidak dapat berkata apa-apa lagi, melihat reaksi Ardi.


    Sesampainya di ruang dokter praktek kandungan, Ardi dan Camilla tampil layaknya suami-istri, dokter dengan ramah bertanya.


   " Ada keluhan apa Bu?"tanyanya.


   " Ini Dok, Tadi pagi istri saya testpack, hasilnya garis dua, jadi kita ingin periksa!" jawab Ardi antusias.


      Kata kata dan perlakuan Ardi seketika membuat hati Camilla menghangat, belum pernah lelaki ini memperlakukannya setulus ini.


       " Mari, kita lakukan pemeriksaan!"ajak dokter itu mengarahkan keruang periksa.


     Di sana Camilla berbaring, dokter mengangkat sedikit bajunya, dan memberikan gel, kemudian dia melakukan pemeriksaan, hasilnya ada di monitor.


     " Bagaimana Dok?" tanya Ardi penasaran.


       Dokter tetap mengamati monitor, tetapi dia tidak menemukan apa-apa, " Sepertinya ibu tidak hamil pak, tidak terlihat kantung janin di sini, bapak liat sendiri, rahimnya kosong!" jelas dokter, menunjukkan ke monitor dengan bantuan kursor.


   Kekecewaan langsung menghampiri Ardi.


  " Tapi, kenapa bisa garis dua dok?" tanya Ardi.


     " Alat uji kehamilan itu tidak seratus persen benar pak, bisa saja terjadi kecacatan" Dokter tersebut menjelaskan lebih detail, kepada pasangan di hadapannya tersebut.


   Ardi dan camilan pun pulang, mereka menuju kantor PT GARUDA TV NUSANTARA, terlebih dahulu, karena mobilnya Camilla masih terparkir di sana, hening, tidak ada pembicaraan antara keduanya.


   ***


     Sementara, Arsyad dan Melinda nampak sudah akrab, tidak ada kecanggungan lagi diantara keduanya.


   " Hari ini, Aku ngerjain Camilla loh!" ungkapnya dengan penuh semangat.


      " Oh ya, ngerjain bagaimana?" tanya Arsyad dengan penuh semangat.


     "Kemarin malam ada beberapa testpack di tasnya, jadi aku ambil satu" ucap gadis itu.


   " terus, kamu pakai sendiri itu testpack!" ucap Arsyad bercanda.


   " Apaan sih,? ya nggak dong! ucap Melinda, sambil merapikan rambutnya yang sudah rapi.


   " Aku berpikir, Camilla pasti memakai alat itu besok, kebetulan aku baru dekat dengan tetangga apartemen yang sedang hamil, jadi dengan berakting ala artis artis ibukota, Aku minta tolong sama ibu itu, untuk pakai tes tersebut, dan ibu itu akhirnya mau" senyum sumringah terlihat di wajah yang manisnya, matanya yang sipit seakan terbenam.


      " Trus" Arsyad bertanya penasaran.


    " Jadi, tadi pagi testpack nya aku ganti dengan punya ibu itu, ha ha ha!" Melinda terkekeh, " Pastinya dia jadi kepikiran dan kurang fokus dengan syuting itu! pintarkan Aku!" ucap Melinda membanggakan diri.


      " Iya, Pinter, banget!" puji Arsyad, tanpa sadar mengelus kepala wanita itu.


     Melinda sedikit merinding, lebih tepatnya terkejut.


      Arsyad kemudian tersadar, dan menarik tangannya, " Ma,.. Maaf!" ucapnya canggung.


      Melinda hanya mengangguk, hatinya sudah berdetak tak karuan.


     Suasana seketika canggung kembali.

__ADS_1


   ****


  Sementara itu di kediaman orang tua Ardi.


     Mira, sang asisten rumah tangga di rumah orang tua Ardi, nampak sibuk sekali, dia sedang sibuk menjamu geng sosialita dari Ani, sang majikan perempuannya.


     Pasca penangkapan Ami Waktu itu, Ani jadi omongan tetangga, setiap dia keluar rumah, mata para penghuni komplek, selalu memperhatikannya dengan seksama, seolah olah ingin bertanya langsung, " Apa yang terjadi djeng? kenapa kok Ami, dibawa ke kantor polisi dengan di borgol segala?


    Akibat para tetangga yang menggosipkan dirinya langsung, ketika insiden kasus penjualan perhiasan imitasi, mereka tidak lagi menggosipkan dirinya secara terang-terangan, para tetangga itu tidak ingin mendapatkan masalah pingsannya lagi ibu Ani seperti waktu itu, kejadian tersebut sudah membuat heboh kompleks perumahan itu, oleh karena itu mereka menahan diri untuk sekedar bertanya pada djeng Ani.


     Alhasil, Miralah yang sekarang jadi bulan bulanan mereka untuk mendapatkan informasi, tetapi sayangnya usaha mereka sia sia belaka, Setelah Mira merasakan enaknya mendapatkan banyak cuan untuk informasi yang dia berikan kepada wanita cantik misterius itu.


   Tentu saja Mira akan meminta bayaran lebih dulu, tentu saja para tetangga menolak tegas dan menyumpahi Mira, jadi bisa di simpulkan, para tetangga tidak tahu alasan Ami di tangkap, akhirnya mereka hanya bisa gigit jari.


      Karena kasus ini, tidak bisa di pungkiri, kesehatan Ani sedikit menurun, mau tidak mau hal tersebut mempengaruhi ruang gerak sosialitanya, para bestie nya merasa ada yang kurang, jika Ani tidak ikut bergabung kalau nongkrong, karena mereka harus bayar masing-masing, karena di geng itu, hanya Ani, yang sedikit saja di sanjung, akan sangat bermurah hati untuk mentraktir teman temannya.


   " Maaf ya, djeng Ani, kita baru bisa jenguk, akhir akhir ini kita pada susah kumpul, maklum, anak dan suami minta di perhatikan lebih" ungkap djeng Siska sambil menyesap teh.


     " Iya, djeng, Ami yang kuat yah? semoga dengan berkelakuan baik, masa tahanannya akan di persingkat dan mendapatkan remisi" ucap djeng Sinta, sambil mengelus pundak Ani yang duduk di sebelahnya.


" Iya, terima kasih yah, kalian sudah peduli, kalian memang bestie yang baik, he he he!" kekeh Ani, perempuan itu mencoba bersikap seperti biasa, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa malu dan kecewanya terhadap anak perempuan satunya itu.


" Gara gara anak Tak berbakti itu, sekarang aku jadi malu, rasanya tak punya muka untuk bertemu orang orang".


" Oh ya djeng, Bagaimana dengan Arif? apakah hubungannya dengan Ami masih baik baik saja? tanya djeng Sinta lagi, sambil mencomot biskuit dan mengunyahnya.


Ani kelihatan menghela nafas, tak selamanya semuanya bisa di sembunyikan, cepat atau lambat semuanya pasti tahu, bukankah bangkai yang di simpan akan tercium juga baunya?



Dia menoleh ke arah djeng Sinta, yang sedang mengunyah biskuit kalengan yang di sediakan Mira, " Arif baik baik saja, bahkan dia juga menalangi kerugian yang paling besar, di bandingkan papanya Ami dan kakaknya, dia sosok suami yang sangat baik" ungkap Ani tulus, dia tidak menyembunyikan kebenaran, kalau memang Arif adalah laki laki baik, hanya anaknya saja yang,.." Sudah ah, gak usah dipikirkan lagi" pikir Ani.



" Syukurlah kalau memang hubungan mereka baik baik saja djeng!" hela nafsu djeng Sinta, sebelum dia melanjutkan kalimatnya," Beberapa hari yang lalu, aku tak sengaja melihat Arif di pengadilan agama, aku berpikir, apakah hubungan Arif dan Ami bermasalah?" lanjutnya.



" Djeng Sinta berfikir terlalu jauh, gak semua orang ke pengadilan agama karena urusan perceraian, contohnya sendiri deh, djeng Sinta emang ngapain tuh ke pengadilan agama? mau bersidang dengan pak Indra? kekeh djeng Rina yang sedari tadi belum mengeluarkan suara.


Mendengarkan obrolan teman temannya Ani hanya tersenyum pahit.


" Maaf banget loh sebelumnya djeng Ani, saya ga ada maksud apa-apa" djeng Sinta menatap djeng Ani dengan perasaan yang bersalah.


" Hahahaha!" semuanya pun ikut tertawa.


Ani hanya bisa tersenyum canggung, " Jelas jelas,Ami Sudah di talak oleh Arif, Dasar anak bodoh, Arif seperti berlian, malah terbuang demi mokondo tidak jelas itu! umpat Ani dalam hati.


Djeng Sinta menambahkan, " Wajar dong djeng, secara, Arif itukan sosok Suami idaman, finansial ok, spiritual juga ok, Good looking pula, jadi tidak ada alasan untuk menolak pesonanya, bisa di katakan Hot husband, he he he!"


Yang lain mengangguk setuju, mendengar pernyataan djeng Sinta.


Sampai detik ini Ani masih bisa tersenyum, walaupun dalam hatinya tidak rela kehilangan menantu sebaik Arif, tanpa ada yang menyadari, dia menghela nafasnya pelan.


Mira, sedari tadi sudah siap dengan ponsel di tangannya, dengan posisi yang pas untuk merekam, sayangnya sedari tadi, tidak ada hal yang menarik terjadi, " Kalau keadaan aman, damai dan tentram, seperti ini, trus, gagal dong, aku beli skincare yang terbaru, yang lagi nge hits di group WhatsApp para asisten rumah tangga di komplek ini, huff, gak bisa deh aku pamer lagi" pikirnya.


Ketika geng Macan, manis cantik tersebut sedang asik berbincang dan bercanda, ponsel Ani berdering.



Ani melihat identitas pemanggil, sayangnya nomor tersebut tidak tersimpan di kontaknya, setelah memperhatikan lebih teliti, itu bukan dari nomor seluler, tapi dari nomor jaringan tetap, berupa Nomor kantor, awalnya Ani mengabaikannya, karena dia sudah sering menerima telpon bermodus penipuan, dari jaringan telpon tetap seperti itu.


Setelah tiga kali berdering, djeng Siska menyarankan, " Tolong di angkat saja djeng Ani, kalau tidak jely tinggal matiki, laporkan trus langsung blokir," ketiga temannya mengangguk setuju.


Pada deringan ke empat, akhirnya Ani mengangkat telponnya.



Belum sempat Ani mengucapkan salam, wajah perempuan paruh baya itu terlihat pias dan tidak sengaja, memecahkan gelas yang ada di tangannya.



yang lain terkejut, dan sontak menoleh.



Mira, yang mendengar ada pecahan gelas, segera berlari ke ruangan tamu, untuk membereskan kekacauan tadi.


Sejak menerima telpon, Ani Belum mengatakan sepatah katapun, bahkan mengucapkan Hello, assalamu'alaikum, salam, selamat siang, atau yang lainnya juga belum.


" Baiklah, saya akan segera kesana!" Ani mematikan telponnya.

__ADS_1


Setelah mematikan panggilan telepon tersebut, para geng Macan ingin bertanya, Ada apa? Apa yang terjadi? tetapi pertanyaan itu urung mereka ungkapkan, karena Ani sudah langsung bergegas kedalam kamarnya.


Tak lama kemudian, Ani keluar dengan outfit yang berbeda, geng Macan, yang berkunjung sudah bisa menebak, bahwa Ani sudah mau pergi, jadi mau tidak mau mereka pun pamit undur diri.


" Gagal deh, dapat cuan lebih" pikir Mira, seraya membereskan ruang tamu.


""""


Sementara itu di kampus tempat Tia berkuliah.


" Ini metodenya Sudah benar, hasil dan pembahasannya juga sudah nyambung, kesimpulannya juga bagus, tidak perlu di utak Atik lagi, hanya saja, landasan teorimu masih kurang, coba cari lagi, Lima jurnal internasional, yang mendukung teori ini, untuk selanjutnya sudah bagus, kamu hanya perlu meminta pak Sigit, selaku dosen pembimbing anggota, untuk meninjau kembali, mungkin setelah revisi kali ini, Draft ini sudah bisa di ACC, dan kamu harus siap siap, mempersiapkan diri, untuk sidang sarjana," ucap ibu Dosen pembimbing Tia adik bungsu ARDIANSYAH.


Mendengar kata ACC, seketika Tia terbengong, dan tak bisa berkata-kata, para pejuang skripsi pasti tau, betapa keramatnya kata tersebut.


"Aduh, terima kasih ibu, saya senang sekali" ungkap Tia, tidak bisa menahan kegembiraannya.


Ibu Dosen pembimbing, hanya tersenyum, melihat tingkah gadis itu, semua orang pasti akan bereaksi hal yang sama, Setelah jenuh dengan segala jenis revisian.


" Kalau begitu, saya permisi dulu ya Bu? saya mau revisi secepatnya! Tia segera pamit undur diri.


Keluar dari ruang bimbingan program studi, Tia menghembuskan nafas besar, sesak dalam hatinya tiba tiba menghilang, Dia lega sekali!



Sayangnya, perasaan yang menyenangkan itu tidak bertahan lama, sebuah tangan, yang lumayan kekar dan besar, langsung memegang pergelangan tangannya, Dan menariknya menuju bawah tangga, yang tidak terlalu ramai di lewati oleh mahasiswa yang lain.



Tia, masih berusaha melepaskan diri, tetapi pria itu semakin kuat mencengkram tangannya.


Tia tidak punya pilihan lain, dia segera menggigit tangan laki laki itu, dengan sekuat tenaga, sontak tangan itupun terlepas.


" Aaauch,!" pria itu kesakitan dan langsung mengangkat tangannya, dia memperhatikan bekas gigitan yang bercampur air liur Tia.



" Eeww!" ucapnya jijik.


" Gak usah sok jijik deh, Ovan, palingan kamu kena rabies, dan itu masih bisa di sembuhkan, nah, Aku yang rugi sendiri, bagaimana bisa sembuh dari HIV/ AIDS!" sindir Tia, habis habisan, ketika mengetahui bahwa Ovan yang sedang mencari masalah dengannya.


" Iya, maaf, Aku sengaja nungguin kamu, sudah beberapa hari ini aku nyariin ksmu, tapi gak ketemu" Ovan mengemukakan alasannya.


" Cih!" Tia meludah, dan kemudian melanjutkan," Mencari seorang Tia Andreas, atau ...Ami Andreas?



" Ok, sorry,. Aku memang cari Ami, sudah beberapa kali aku kontak dia, tetapi selalu gagal, dia seperti hilang di telan bumi" ungkap Ovan dengan ekspresi yang begitu memprihatinkan.


Siapapun akan merasa tertipu, melihat, betapa manisnya perlakuan pria tampan keturunan Turki itu.


" Hahahaha" Tia tertawa dengan sikap Ovan, setelah bisa mengendalikan dirinya dia berkata," Sepertinya tuan Ovan, masih sibuk dengan Tante kesepian yah, sampai sampai, tidak tahu kekasihnya hilang di telan bui"


Sontak kalimst terakhir yang di lontarkan Tia, membuat hatinya mencelos.


" A, Apa? Tidak mungkin Ami masuk penjara, kamu jangan mengarang cerita Tia" bentak Ovan marah.



Melihat ekspresi Ovan yang mudah terpancing, Tia makin tertawa kencang.



" Baiklah, bos Ovan, Aku Sudah tak ingin berlama-lama lagi dengan anda," ungkap Tia, sambil memasukkan Draft skripsi nya kedalam ranselnya, " mulai sekarang, anda harus berhati-hati, Ami kakakku yang paling aku sayang, telah mendekam di balik penjara, karena kasus penggelapan dana Dividen, salah satu pemegang saham di sana, dia di hukum sekitar, empat tahun penjara" Setelah mengatakan y, Tia memperhatikan gurat wajah kekasih gelap kakak perempuan nya itu.



" Ma,.. masuk penjara,.Ba,.. Bagaim,..." Ovan belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tetapi sudah di srla oleh Tia.



" Dan kau akan segera menyusul, Boss! apa kau tidak curiga sedikitpun, kenapa Ami hanya mengirimkan uang itu ke rekeningmu dan bukan ke rekeningku, atau rekening anggota keluarga lainnya? itu karena rekeningmu Hanya di jadikan alat untuk mencuci uang , jika penyelidikan terus berlanjut, kamu akan terseret karena ini, dan aku baca baca, kejahatan ini akan di denda, paling banyak sepuluh milyar, atau dua puluh tahun penjara, sedikit lebih kejam, di bandingkan kasusnya sendiri, dengan denda sebanyak sembilan ratus juta rupiah dan kurungan empat tahun, jadi Boss, mulai sekarang, ksu harus lebih berhati-hati!" peringatan Tia, sambil meninggalkan Ovan berdiri termangu di sana.


Ovan, hanya bisa mengepalkan tangannya karena saking kesalnya.


**


Episode ini agak sedikit panjang ya?


mohon terus dukungannya ya gaes,..🙏


terima kasih untuk yang sudah memberikan like and comment nya ya,..

__ADS_1


semoga semua selalu sehat dan bahagia,.. aamiin


__ADS_2