Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Kekacauan di pesta


__ADS_3

Episode #39


    Hening seketika setelah kepergian Tyas Suroso, Desainer terkenal, Amar tersenyum puas, " Satu langkah yang sempurna, untuk membangun karir Asyifa," batinnya.


         " Terima kasih ya mbak may, sudah bantu mama saya," ucap Ardi tulus, seraya tersenyum, dia berharap Humaira merespon balik, tetapi wanita itu hanya tersenyum saja.


        Mendengar itu, Asyifa sedikit heran, darimana mantan suaminya tersebut mengetahui identitas barunya, setelah mengingat kejadian barusan, setelah dia sempat mengenalkan diri pada Tyas Suroso yang di tolongnya, ia pun menarik kesimpulan, bahwa Ardi tahu namanya dari perkenalan singkat tersebut.


    Asyifa alias Humaira, tidak merespon berlebihan, dia hanya sebatas tersenyum saja, tidak mengeluarkan sepatah katapun.


     " Terima kasih loh, nak may, tadi sudah bantu Tante, kalau tidak ada kamu, tante pasti bingung mau ngelakuin apa," ada jeda sejenak, sebelum wanita paruh baya itu melanjutkan, " Duh, kamu cantik sekali sih nak,! gak cuma Cantik paras, tapi juga Cantik hati," Beruntung sekali yang jadi pasangan kamu," cerocos Ani.


   " Eh, kenalin, nama Tante Ani, dan ini anak tante Ardi, namanya, dan ini,.." Ada hening sejenak sebelum melanjutkan," Ini temannya Camilla," Ani memperkenalkan mereka.


   Mendengar kata, gak cuma Cantik paras tapi juga Cantik hati Beruntung sekali yang jadi pasangan kamu, rasanya Asyifa ingin sekali tergelak mengejek mereka, tetapi dia tahan, karena harus menjaga citra dirinya yang tidak mengenal mereka.


   Pak HAMDAN dan Amar juga sempat melirik satu sama lain juga memiliki respon yang sama dengan Asyifa.


   Asyifa sebenarnya jijik, menyambut uluran tangan mereka bertiga, tetapi melihat ekspresi Camilla yang masam karena tidak di akui, sebagai menantu, tetapi sebagai teman Ardi, cukup menghiburnya, dengan perasaan enggan diapun menyambut tangan mereka.


     Seorang pelayan melintas, pelayan itu membawa baki berisi banyak minuman, Ani yang merasa haus seketika mengambil minuman dan meneguknya, tanpa bertanya terlebih dahulu, minuman apa itu, Ardi ingin menghentikannya, tetapi Ani sudah terlanjur meneguknya,


   " Aaakh, minuman apa sih ini, ko rasanya aneh! ucap Ani, karena gengsi dia menghabiskan segelas minuman itu.


   Asyifa ingin tertawa, melihat kepolosan Ani, sepertinya baik Camilla maupun Ardi tidak memberitahu, bahwa minuman yang di bawa para pelayan itu adalah minuman beralkohol, sedangkan minuman yang tidak mengandung alkohol, Sudah di tata di meja prasmanan.


    Wajah Camilla sudah tidak menampilkan ekspresi apapun, dia terlihat menikmati pesta, tetapi sebenarnya memikirkan bagaimana cara mempermalukan Humaira di pesta ini.


    Asyifa mengamati sekilas, mantan sahabatnya tersebut, dan Sudah tahu apa yang di pikirkan perempuan itu.


       Amar berbincang dengan pak HAMDAN, dan Ardi hanya menjadi pendengar di antara keduanya, sesekali dia melirik ke arah Humaira, entah mengapa dia merasa aura yang di miliki perempuan itu tidak begitu asing, seperti pernah bertemu dan dekat sebelumnya, Ardi berusaha membongkar ingatannya tetapi tetap tak menemukan, bahwa mereka pernah bertemu.


     Camilla yang menyadari tatapan Ardi, seketika kesal, dia segera menyenggol lengan Ardi dengan sikunya, sementara Ani merasa pusing setelah minum tadi, dia sudah pergi mencari tempat duduk, kepalanya terasa pening,


    " Pak Amar, saya ambil minuman sebentar, kalian teruskan berbincang," ucap Asyifa, seraya melangkahkan kakinya.


    Camilla mengulas senyum, dia melirik kemana perempuan yang baru saja merebut jobnya itu pergi,


   Seketika terdengar suara MC, alunan musik yang lembut pun semakin pelan menghilang, semua perhatian terfokus pada pembawa acara tersebut.


   " Silahkan, para undangan mencari tempat duduk yang telah di sediakan di meja," ucap MC tersebut kepada para undangan yang masih berdiri.


      Ardi, Ani, Camilla, pak HAMDAN, AMAR dan Asyifa yang sedang mengambil minuman, terpaksa satu meja yang sama, kecanggungan jelas terlihat disana.


  Setelah beberapa kata sambutan, akhirnya tibalah acara tiup lilin, sebuah kue raksasa di pesan khusus untuk acara ini, seluruh keluarga besar Kusuma, berkumpul mengelilingi tuan Wijaya Kusuma, setelah itu para hadirin pun bertepuk tangan.


    Acara selanjutnya adalah perjamuan, seluruh tamu undangan mengambil makanan dan minuman yang di inginkan, banyak pelayan berkeliaran memantau semua kebutuhan pesta terpenuhi.


    Amar dan Asyifa, terlihat menikmati berbagai makanan, terkadang Amar menyuapi Asyifa, dan wanita itu akan berpura pura menolak, dan akhirnya dia makan sendiri, Amar mengambek, ekspresinya menurut Asyifa begitu lucu, jadi dia hanya tertawa.


    Beberapa tamu undangan yang mengamati mereka, hanya menatap iri, banyak pria lajang yang ingin sekedar berkenalan dengan Humaira, tetapi niat tersebut mereka urungkan melihat sang pengawal, tuan muda AMAR SYAPUTRA, yang selalu bersikap dingin, Auranya menurut mereka begitu menyeramkan.


    Camilla mengetahui keinginan para pria itu, dan seketika dia merasa iri.


    Angga Kusuma, sang tuan rumah, sekaligus cucu dari Wijaya Kusuma, yang akan menjadi pewaris dari Kusuma group, salah satu keluarga yang berpengaruh besar di negara ini, datang menghampiri meja Amar dan Asyifa, Dengan sopan dia meminta wanita itu untuk berdansa dengannya, di acara ulang tahun ini memang di sediakan lantai dansa, untuk para undangan, sebagai salah satu hiburan.


       Amar menatap pria itu, wajahnya benar-benar rupawan bagi standar kaum hawa, hidung mancung, alis tebal, kulit putih dengan brewok tipisnya, benar benar membius wanita, kesan macho bisa terlihat jelas, Amar tahu, betapa playboy nya lelaki tersebut.


     " Apakah nona may, bersedia berdansa dengan saya? Angga meminta dengan begitu sopan, dia menjulurkan tangannya, menanti balasan dari Humaira alias Asyifa.

__ADS_1


   Sebenarnya Asyifa ingin tertawa, " lihatlah laki laki ganteng ini bahkan memanggilnya nona, Hahaha,, lucu sekali.


      " Seandainya dia tau identitasku apakah dia akan mengajakku berdansa,? Dasar Buaya Darat! batinnya.


     Asyifa sekilas melihat ke wajah Amar, dia memperhatikan sahabatnya itu terlihat tak suka, lagi pula dia tidak perduli, ini hanya sekedar dansa, dan jika dia menolak, tak enak pada tuan rumah.


     Asyifa alias Humaira, mengulurkan tangannya, sebelum dia beranjak ke lantai dansa dia berkata, " Terima kasih atas keramahan tuan Angga sebagai tuan rumah, saya merasa tersanjung," kemudian keduanya beranjak kelantai Dansa.


     Amar hanya melihat, ekspresi nya dingin, seolah tidak merasakan apapun, tetapi di dalam hatinya, lelaki itu mengumpat," Angga, playboy sialan,!.


   Camilla yang menyaksikan itu semua mengepalkan tangannya, lagi lagi Asyifa mencuri perhatian, dari dulu dia selalu berusaha mendekati Angga, tetapi pewaris Kusuma group tersebut tak pernah menggubrisnya, akhirnya sekarang dia hanya mendapatkan Ardi, hanya seorang CEO tanpa kepemilikan saham, sungguh rugi sekali!" " keberuntungan gak selalu berada di tanganmu j@ Lang! umpat Camilla dalam hatinya.


   Terbersit ide sekilas dalam pikiran Camilla, dia berdiri sebentar dengan alasan ke toilet, " Aku ke toilet sebentar!": ucapnya pada Ardi yang sedang berbincang dengan beberapa produser tv.


      Ardi hanya mengangguk mengiyakan, sedangkan Ani masih tetap duduk di kursinya, kepalanya masih pening karena minuman tadi, dia sedikit mabuk jadi memilih istirahat di mejanya.


   Tak lama kemudian Camilla kembali, lalu dia mengajak Ardi kelantai Dansa, pria itu langsung mengakhiri bincang basa basinya dengan para produser tv, lalu menuju kelantai Dansa, di sana Ardi sangat terkejut melihat Humaira berdansa dengan Angga, mereka terlihat bahagia di sana, sesekali may tertawa atas guyonan dari Angga, keduanya cukup akrab, entah mengapa ada bagian dari dirinya yang merasa tercubit, dan dia tidak tahu mengapa itu terjadi.


   Ardi dan Camilla segera memangkas jarak dan berdansa di dekat mereka,


  Amar tetap mengawasi semuanya seperti CCTV, dia merasa cemburu tapi berusaha untuk tetap stay cool.


   Sudah sepuluh menit Ardi dan Camilla memasuki lantai dansa, mereka menikmatinya, sesekali Ardi melirik kearah Humaira, bahkan dia sendiri tidak tahu kenapa harus melirik wanita itu.


      Tak berapa lama,ada pelayan yang membawa baki minuman, semua orang tahu bahwa itu mengandung alkohol,


    Angga dengan lembut berkata," Apa nona merasa haus? mau minum segelas?"


   Menanggapi itu Asyifa alias Humaira hanya terkekeh pelan, " He he he, minuman itu tidak menghilangkan dahaga tuan, aku tidak meminum alkohol"


    " Wow, menarik!" jawab Angga, sambil menyuruh pelayan yang membawa minuman pergi.


    "BRUUK!" Suara tubuh pelayan itu dengan jelas.


   " PRAAANG,!" Suara baki dan gelas berjatuhan.


  Sebelum jatuh, pelayan itu sempat menabrak tubuh Camilla yang berdansa di belakang Angga dan Asyifa.


   Gaunnya basah terkena minuman, sedangkan pakaian Ardi masih bersih, bergegas dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


   Amar segera berlari untuk menghampiri Angga dan Asyifa, ketika tiba dia langsung menarik pergelangan tangan may, agar posisi tubuhnya berhadapan, " May, kamu nggak apa-apa? tanya pria itu khawatir.


    " Nona may, baik baik saja Amar, jangan terlalu khawatir," ucap Angga menenangkan.


    "Aku baik baik saja, gak usah terlalu khawatir, Aku ke toilet dulu," ungkapnya dan kemudian berjalan ke toilet.


     Ketiga pria yang masih berdiri di sana, Amar, Angga dan Ardi, hanya bisa melihat dari jauh.


     Kemudian mereka bertiga membubarkan diri, dan menuju ke kursinya masing masing.


   Kekacauan tersebut juga sudah di bereskan oleh para pelayan.


      Camilla memasuki kamar mandi, tidak ada pengunjung ataupun petugas disana, langsung dia berteriak melampiaskan kekesalannya, " Brengsek tuh perempuan! Beruntung terus, Habisi dulu stok keberuntunganmu! tatapnya geram di wastafel sambil memandangi wajahnya.


          Diapun segera beranjak ke kamar toilet, untuk buang air kecil, dia duduk di toilet dan menunggu, dia buka ponselnya, samar dia mendengar suara, suara itu sangat familiar baginya.


    "HIK,.. HIK,..HIK, " suara tangisan perempuan lirih.


     Camilla terkejut, hampir saja ponselnya terjatuh, Dengan mengeraskan suaranya dia bertanya, " Mbak kenapa? Kalau ada masalah di selesaikan mbak, nangis bukan solusi, walaupun sedikit meredakan perasaan," ucapnya bijak.

__ADS_1


    Camilla masih berfikir bahwa itu adalah salah satu tamu undangan pesta.


    "Camilla,.. Camilla,.. aku kesepian di sini,. dingin,.. ikut aku yuk,.. katanya kamu selalu ada buat aku,.. ayok mil,.." lirih suara itu begitu menyayat hati.


   Camilla ketakutan, sekarang dia ingat, bahwa itu suara Asyifa.


    " Syif,.. syifa," ucapnya lirih, keringat sudah muncul, bergegas dia menekan tombol flush, dan seketika terdengar suara air.


   " IKUT AKU MIL,..HIK,. HIK,.HIK,." tangisannya semakin memilukan.


     Camilla langsung membuka pintu toilet, dan lampu tiba tiba mati.


   " Aaargh," Camilla sontak berteriak.


   Ada kekuatan lain, pintunya langsung tertutup kembali, Camilla berusaha membuka tapi tidak bisa, wajahnya pias, Camilla sudah sangat ketakutan.


      Tiba tiba lampu hidup, Camilla langsung keluar dari toilet, ketika dia menuju ke arah wastafel, dia di kejutkan dengan penampakan Humaira di sana.


     Humaira hanya melirik sekilas, sambil membersihkan sedikit cipratan minuman di gaunnya, dia mengabaikan Camilla.


   Camilla mendekat, dia ingin melampiaskan kekesalannya hari ini.


   Dia berjalan mendekati kearah Humaira,


       May hanya memperhatikan.


Tiba tiba tangan Camilla sudah hampir melayang ke wajahnya, Dengan sigap dia menahan tangan Camilla, dan dengan tangan satunya lagi, menampar Camilla bulak balik.


   " PLAK!


    " PLAK!


   Langsung Asyifa alias Humaira, melepaskan tangan Camilla, dengan satu tangannya, Humaira mencengkram dagu Camilla, membuat wajahnya mendongak, sehingga mata mereka bertatapan.


" Dengar ya j@lang, Aku tak tahu kau punya masalah apa sama Aku, Aku tak pernah mengusikmu, semenjak di salon, kamu sudah mencari masalah terlebih dahulu! Aku tahu, kau yang membuat si Ani tersandung agar aku terjatuh! kau juga yang menyuruh pelayan menumpahkan baki minuman di lantai dansa, untuk mempermalukan aku! semuanya aku tahu, tapi semuanya berbalik padamu! jangan pernah mencari masalah denganku, j@lang! aku bukan orang yang mudah memaafkan! Cuuuuih!" setelah mengatakan itu, Asyifa meludahi wajah Camilla dan segera meninggalkan kamar mandi tersebut.


Hati Asyifa puas sekali!


Camilla langsung membersihkan wajahnya, dia marah sekali, dia menggerakkan giginya.


Asyifa kembali ke meja dengan wajah sumringah, dia puas sekali, Amar tersenyum menyambut dan berkata," Kok, lama di kamar mandi?


Tiba tiba Camilla datang dan langsung duduk, wajahnya di tekuk, ada bekas kemerahan di wajahnya.


Asyifa menjawab pertanyaan Amar, " Tadi ada kecoak di kamar mandi, jadi aku bereskan dulu,! ucapnya santai.


" Baiklah,! tanggap Amar.


" Hueeeek," tiba tiba Ani, mamanya Ardi menumpahkan semua isi perutnya, sedikit banyaknya muntahan itu mengenai Camilla.


Camilla yang sudah emosi langsung mengepalkan tangannya dan pergi meninggalkan ruangan tersebut, dia langsung pulang dengan memesan taksi online tanpa menoleh ke belakang, dia membersihkan muntahan tersebut dengan sebotol air mineral, dia tidak mungkin ke kamar mandi, karena takut di teror oleh suara Asyifa lagi.


Ardi juga panik, dan langsung memapah Ani, mamanya pulang, dia lupa bahwa datang ke acara ini bersama Camilla juga, sedangkan Asyifa tersenyum, sambil menikmati acara ini sampai selesai, hatinya merasa puas untuk hari ini.


****


Author minta maaf ya? kalau ada kurang dalam penempatan tulisannya ?


makasih ya atas dukungan dari kalian dengan like dan comment 🙏

__ADS_1


__ADS_2