
Episode #58
Beberapa hari ini, semuanya tenang, dan tidak ada permasalahan.
Bastian dan Melinda, sudah menjadi seorang menejer, mereka sudah menjadwalkan beberapa kegiatan artis mereka.
Hari ini adalah hari persidangan Ami, dengan pihak PRAMESWARI group, jaksa penuntut umum, menuntut Ami dengan hukuman empat tahun penjara, sesuai dengan undang-undang yang berlaku tentang penggelapan.
Pengacara Ami, tidak bisa berkutik, di awal dia sudah mengatakan bahwa dia hanya berperan sebagai pendamping bukan pembela, siapapun akan kalah di persidangan jika itu berhadapan dengan kilau hukum yang di ketuai oleh pengacara kondang HAMDAN HUTAPEA.
Asyifa masih berbaring di tempat tidur apartemennya, hari ini dia libur dan tak ada jadwal, awalnya dia ingin menghadiri persidangan Ami, tetapi akhirnya dia memutuskan untuk menonton live streaming nya saja, dia malas berhadapan dan bertemu dengan keluarga mantan suaminya kecuali, mantan bapak mertuanya dan adik ipar bungsunya, siapa lagi kalau bukan Andreas dan Tia.
Karena kesibukan yang mulai padat dengan beberapa jadwal pemotretan, Asyifa belum sempat melihat rekaman video yang di kirimkan oleh Mira, sang asisten rumah tangga di rumah mantan mertuanya, yang tidak sadar menjadi mata mata Asyifa di sana.
Dalam video itu menampilkan, dua orang polisi mendatangi rumah mantan mertuanya, mereka membawa surat penangkapan untuk Ami.
" Selamat malam Pak," Ucap salah satu polisi, ketika Andreas membukakan pintu, " Kami kesini ingin memberikan surat penangkapan yang tertuju atas nama Ami Andreas, karena kasus penggelapan dana yang saudari Ami lakukan," polisi itu melanjutkan, dia menyerahkan surat penangkapan tersebut.
Andreas mempersilahkan kedua polisi itu untuk duduk, tetapi mereka menolak.
Di video juga terlihat, beberapa tetangga berkerumun dan mengintip kearah dalam rumah orang tua Ardi, bahkan sudah ada yang berdiri di depan pintu rumah, para tetangga yang pada, awalnya memiliki jiwa kepo, langsung penasaran melihat ada mobil polisi terparkir di depan rumah pak Andreas.
Ami pun keluar dari kamarnya, karena mendengar keributan, dia sedang asyik menonton film di Netflix, merasa terganggu dan keluar.
Begitu dia melihat polisi, Ami ingin kabur, namun polisi sudah mengetahui gerak gerik tersebut dan langsung meringkusnya, mereka sudah berpengalaman dalam hal ini.
" Apakah saudari yang bernama Ami Andreas? saudari kami tahan, karena kasus penggelapan dana Dividen atas perusahaan PRAMESWARI group, mohon kerja samanya, kami tidak ingin bertindak kasar dan merusak keributan," ucap polisi itu, dan temannya langsung mengeluarkan sebuah borgol, tangan Ami kemudian di borgol dan di bawa ke mobil polisi.
Beberapa tetangga menyorakinya, " Huuuuuu, Koruptor!"
" Gak nyangka ya, cantik cantik ternyata maling!"
" Gak cuma kasus penipuan perhiasan, ternyata juga korupsi!"
" Eh, jangan jangan suaminya bawa koper kemarin, karena di selingkuhin lagi!"
Ani yang mendengar keributan langsung keluar dari kamar, alangkah terkejutnya dia, melihat para tetangga sedang berkumpul dan Ami sudah terborgol, suaminya, Andreas, hanya berdiri lesu di hadapan polisi.
" Apa apaan ini, Bubar semuanya!" hardik Ani kepada para tetangganya, tatapan tajam Ani membuat nyali mereka ciut, tetapi mereka tetap di sana, tidak perduli dengan hardikan perempuan tersebut " Toh ada bapak polisi," pikir mereka.
Polisipun menjelaskan kepada Ani perihal penangkapan Ami, akhirnya Ani pun pasrah, dan membiarkan mereka membawa Ami, dia juga tak ingin terjerat hukum, karena melindungi tersangka, dan menghambat kinerja polisi.
__ADS_1
Ami, terlihat masih shock, bahkan dia tidak menyadari jika tangannya sudah terborgol.
Kedua polisi itupun membawa Ami memasuki mobil polisi, disitulah kesadaran wanita itu kembali.
" Tidak! Tidak! lepaskan aku! Aku tidak bersalah! ini semua karena ulah Babon bulet yang pelit itu! Aku hanya ingin mendapatkan hak ku! Lepaskan aku, Huaa!" Ami berontak dan menangis, tetapi tidak ada yang memperdulikan.
" Mas, Arif, tolong aku mas!" teriaknya.
Tetapi tetap, tidak ada yang perduli
Mobil polisi pun melaju, dan video pun berakhir.
Asyifa hanya menonton tanpa ekspresi, Ini belum seberapa," pikirnya.
" Untuk seseorang yang berani melenyapkan aku, ini masih permainan yang kecil, lihat, apa yang akan aku perbuat selanjutnya, Hahahahah,"
Asyifa terkekeh, untung saja dia hanya sendirian di apartemennya, dan ini sudah pagi hari, hanya Amar yang tau bagaimana tawa Asyifa yang sebenarnya, tidak ada bedanya dengan mba Kunti, alasan inilah kenapa Asyifa jarang tertawa di hadapan publik, dan hanya tersenyum.
Asyifa, membuat Roti bakar dan segelas susu untuk sarapannya, dia sudah membuka laptop dan nampak suasana persidangan di sana.
Asyifa malas menonton dari awal, jadi dia hanya melihat putusan hakim saja.
Saat saat seperti ini yang di tunggu Asyifa, sesaat putusan di bacakan, nampak di sana, Ami dirangkul oleh Ani, menguatkan dirinya, nampak juga Andreas hanya terduduk lemas, menyaksikan Putri sulungnya akan menginap di hotel prodeo.
Ami, hanya menangis sesenggukan, dia kehabisan kata kata dan air mata, di ujung ekor matanya, dia nampak melihat, sesosok penampakan yang di rindukan, beberapa hari belakangan ini.
Arif tidak bergerak sedikitpun, dia memang menunggu momen ini.
" Mas, Arif kesini untuk bantu aku kan? Mas Arif kesini untuk ngebebasin Aku kan? Mas Arif kesini, karena masih peduli kan sama aku?" tanya Ami dengan pedenya, dia masih berharap bisa rujuk dengan Arif, sosok yang sangat mencintai dan mempedulikannya, bahkan ketika orang orang mencemooh dan menghindarinya, Kini dia menyadari, atas apa yang selama ini dia lakukan pada suaminya yang sangat baik itu, dia sadar, telah terjerat oleh Ovan, yang ternyata, simpanan Tante Tante, sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. ( penyesalan selalu datang belakangan, ya kalau duluan namanya pendaftaran, wkwkwk)
" Ekhem!" Arif berdehem, " Aku turut sedih, dengan apa yang menimpa kamu, semoga kamu kuat menjalaninya, Aku datang kesini, hanya untuk menyerahkan ini," Arif menyerahkan sampul coklat dengan logo pengadilan agama.
__ADS_1
Ami pun terduduk lemas, kakinya sudah tidak kuat menahan berat badannya lagi, Andreas dan Ani, langsung menghampirinya.
" Mas Arif serius mau cerai? Aku maunya kita masih bisa rujuk lagi Mas, Aku tak mau bercerai, Aku masih ingin kita bersama!" Isak Ami pelan.
Arif hanya mendesah pelan, banyak sekali yang ingin dia utarakan, tetapi lelaki itu mengurungkan lagi niatnya, melihat kondisi sekarang, yang sudah tidak kondusif.
" Lebih baik kita selesaikan di pengadilan agama," Setelah mengatakan itu, Arif pun pergi meninggalkan Ami yang masih terisak, Arif hanya menjabat tangan Andreas dan pamit undur diri.
Asyifa pun mematikan laptopnya.
" Tontonan kali ini cukup menghibur," gumamnya.
Dia meraih ponselnya, dan segera menghubungi Bastian.
"Tuutt! Tuutt! Tuutt!" telpon pun terhubung
" Ya, Nona," suara Bastian di seberang telepon.
" Bas, tolong kosongkan beberapa jadwalku, atau cari kapan jadwal kosong, Aku perlu membesuk teman lama, di hotel prodeo,!"
" Baik, Nona May,!"jawab Bastian menyanggupi.
Telpon pun terputus, Asyifa tersenyum senang.
\*\*\*\*
__ADS_1