
Episode #75
Amar langsung memesan tiket pesawat saat itu juga, penerbangan yang ada paling cepat sekitar tiga jam lagi, bergegas mereka kembali ke dalam hotel untuk berkemas.
Sekitar tiga puluh menit berkendara dari Nusa Dua ke Bandara I Gusti Ngurah Rai, baik Asyifa ataupun Amar, sama sama tidak banyak mengeluarkan suara, mereka sedang asyik dengan pikiran masing-masing, tidak biasanya pak HAMDAN, bertingkah aneh seperti ini" itu yang ada di benak mereka berdua.
Setelah check in, Asyifa dan Amar menunggu di salah satu kafe di depan gate keberangkatan mereka.
" Aku penasaran, kira kira apa yang ingin di bahas oleh om HAMDAN !" ucap Asyifa memulai pembicaraan..
" Hemmp!" Amar berdehem sedang memikirkan sesuatu, " Sepertinya ini bersifat rahasia, karena tidak ingin ada jejak bukti percakapan, jika di lakukan secara langsung, jika dikatakan melalui pesan atau telpon,itu sangat mudah di dapatkan, asal punya keahlian IT" ucapnya Setelah jeda sesaat.
" Entah mengapa, aku merasa deg degan sekali," ungkap Asyifa.
Amar masih memandang lembut ke wanita yang masih berstatus sahabatnya itu, dia tidak mengatakan apapun.
Pembahasan mereka pun berlanjut tentang banyak hal, mereka pun langsung menggibah tentang Melinda dan Arsyad, tak ketinggalan juga tentang niat Asyifa yang menjodohkan Arif dengan Song Chai Mi.
Satu jam berlalu, tidak terasa jika sudah menggibah, Amar dan Asyifa segera memasuki pesawat, ketika pesawat mereka akan terbang.
Perjalanan dalam pesawat begitu membosankan, Asyifa hanya tidur selama perjalanan, anehnya penyakit ngoroknya tidak kambuh jika ada orang lain, Amar pun menyandarkan kepala Asyifa di bahunya, agar terasa nyaman, terkadang dia tidak bisa mengendalikan tangannya untuk mengusap usap kepala Asyifa dengan lembut, dia menatap teduh wanita di sampingnya, " Satu hal yang selalu membuatku heran, jika dia tidur di tempat umum, pasti terlihat anggun, tapi jika tidur sendiri, sangat, sangat He he he!" kekehnya dalam hati.
Amar membangunkan Asyifa, ketika pesawat mereka hampir mendarat di Bandara Sukarno Hatta di Cengkareng, lelaki itu menepuk nepuk pipi Asyifa lembut, " May, bangun, kita sudah hampir sampai!"
Asyifa membuka matanya, dia merasa tidurnya sangat nyenyak, dia tidak tahu kalau Amar sudah pegal sedari tadi.
Karena kepulangan mereka yang mendadak, bahkan sang asisten pribadi Arsyad juga tidak tahu, otomatis tidak ada yang menjemput di bandara, Amar segera memesan taksi dan segera meluncur ke kantor sang pengacara kondang HAMDAN HUTAPEA.
perjalanan dua jam terasa sangat lama bagi Asyifa, padahal arus lalulintas termasuk lancar, karena bukan jam sibuk, Beberapa kali perempuan itu menggerutu tidak sabaran, Amar hanya terkikik geli melihat tingkah sahabatnya itu, sementara supir taksi sesekali melirik, bukan karena kesal dengan gerutuan perempuan itu, tetapi dia sangat beruntung sekali, mendapat penumpang yang sangat cantik.
__ADS_1
Sesampainya di kantor, Asyifa langsung menerobos menuju ruangan pak HAMDAN, para pegawai di sana, sudah terbiasa dengan tingkah perempuan itu.
" Om!" teriaknya sambil membuka pintu.
Teriakkan Asyifa langsung menarik perhatian para pegawai yang sedang lalu lalang di koridor kantor, Asyifa tidak peduli.
" Syukurlah kalau kamu sudah sampai," ucap pak HAMDAN lega, " Duduk dulu!" perintahnya kemudian kepada Asyifa dan Amar.
Keduanya menurut, dan langsung duduk di sofa yang ada di ruangan itu, pak Hamdan kemudian segera menyuruh sekretarisnya untuk menyiapkan minuman dan cemilan kepada tamunya.
Tak lama berselang, minuman dan makanan ringan segera terhidang, setelah sekretaris pergi, pak HAMDAN segera duduk dan membuka percakapan.
" Om ingin bertanya Syif, dimana kamu waktu papa sama Mama kamu kecelakaan? tanya pak HAMDAN langsung ke inti pembicaraan.
Asyifa yang sedang minum teh, sontak menyemburkan tehnya kembali, lekas Amar menyerahkan tisu pada wanita itu, Asyifa tidak menyangka langsung ke topik itu, perasaannya langsung tidak enak, bagaimanapun dia masih belum bisa terima, kepergian orang tuanya yang begitu tragis.
" Aku tidak begitu ingat om, waktu itu ada acara apa ya, sehingga papa sama Mama berangkat, akupun sebenarnya di paksa mama sama papa ikut, Tapi aku keluar ke rumah Amar" Asyifa mengingat ingat saat terakhir bersama kedua orang tuanya, satu tetes air mata pun tidak bisa di hindarkan, jika dia ikut, tentu saja dia juga jadi korban kecelakaan maut itu.
Pak HAMDAN mendesah perlahan, " Keputusanmu Sudah tepat pada waktu itu syif, kamu harus tahu tentang ini sebenarnya, besar kemungkinan jika papa dan mama kamu, bukan hanya kecelakaan, sepertinya memang sengaja di rencanakan untuk di bunuh, itu bukan kecelakaan biasa.
Gelas yang ada di tangan Asyifa sontak terjatuh dan pecah, dia begitu terkejut dengan fakta itu, begitupun dengan Amar, raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, Dahinya mengeryit, seolah minta penjelasan.
" Lihat ini!" Pak HAMDAN mengeluarkan potongan koran lama, itu adalah berita tentang kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orang tuanya, di sana di sebutkan, bahwa alasan kecelakaan tersebut adalah Rem mobil yang blong, sehingga menabrak pembatas jalan dan mobil pun meluncur bebas kedalam jurang, total korban ada tiga, sepasang suami istri dan supirnya.
Dengan tangan gemetar, Asyifa membaca potongan berita itu kembali , rasa sakit pun mulai menjalari perasaannya.
" Bagaimana mungkin Rem blong, jika dua hari sebelumnya mobil di servis, Aneh bukan?" tanya pak HAMDAN.
Asyifa berusaha membongkar ingatannya, dia menganggukkan kepalanya, dia ingat waktu mobil itu di servis, dia dan mamanya langsung pulang'ke rumah dengan naik taksi, sebelum itu sang mama mengajaknya berbelanja dulu, itu adalah momen kebersamaan terakhir mereka .
__ADS_1
" Mengapa om bisa mengatakan, bahwa kematian mama dan papa adalah sebuah pembunuhan berencana? Bukankah pihak berwajib mengatakan kasus ini murni kecelakaan?" tanya Asyifa, air matanya sudah tidak terbendung lagi, ada isak tangis di sana.
Pak HAMDAN lantas menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu, di salah satu pertemuan perusahaan ternama di negri ini, Dia sebagai praktisi hukum yang sudah memiliki nama diantara para pengusaha besar, pasti di undang.
Di salah satu meja pertemuan, dia tidak sengaja mendengar tentang Prameswari group, pak HAMDAN pun pura pura mendekat dan mengajak bicara salah satu koleganya di sana, tetapi sebenarnya dia mencuri curi dengar.
" Ini, dengarlah, om Sudah merekam semuanya! walaupun tidak terdengar jelas, tapi masih bisa menangkap pembicaraan mereka" setelah mengatakan itu, pak Hamdan segera membuka laptopnya untuk mendengarkan isi rekaman, asisten pribadinya telah berusaha, menjernihkan isi rekaman tersebut.
Asyifa dan Amar memusatkan perhatian.
Setelah pak Hamdan menekan tombol play, rekamanpun berputar.
" Susah sekali mengambil keuntungan dari Prameswari group"
" Benar, aku sudah berusaha mengelabui para petinggi di sana, mereka tetap kekeh untuk bertahan bekerja bersih, padahal sudah tidak adalagi pewaris dari grup itu"
" Sepertinya pekerjaan Big Bos sia sia belaka, menyingkirkan kedua orang itu!"
"Iya sih, anaknya tidak ikut dalam insiden itu, sayang sekali , tapi Big Bos pun sudah punya rencana menghabisinya, sepertinya berhasil, walaupun hingga sekarang keberadaan jasadnya tidak di temukan!"
" Katanya sih jatuh ke jurang! mungkin sudah jadi santapan hewan buas, seharusnya dalam kondisi tidak ada kepemimpinan seperti ini, Prameswari group bisa dengan mudah di tekan, tetapi sampai sekarang mereka begitu keras kepala!"
" Sepertinya ada pemimpin cadangan yang selama ini tidak di publikasikan"
" Biarlah itu urusan Big Bos, pokoknya kita selesaikan tugas kita masing-masing.
Isi rekaman terhenti
Asyifa dan Amar, saling bertukar pandang.
__ADS_1
****