Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Melinda Hamil


__ADS_3

Episode #62


    " Nenek tahu Cah Ayu, ...!" ada jeda sejenak sebelum Nyonya Arum melanjutkan," Nenek tahu, selama ini banyak sekali, luka penderitaan dan rasa sakit menghantui dirimu, malam malam kau habiskan dengan deraian air mata dan terkadang mengutuk takdir yang tak adil padamu!"


  Mendengar itu, air mata Asyifa sudah keluar begitu saja.


   " Nenek tahu Cah Ayu,.. Selama ini, kamu hanya memakai topeng, agar terlihat baik baik saja di luar, padahal kamu sangat rapuh di dalam, Nenek juga tahu, banyak sekali pertanyaan menghantuimu selama ini dan banyak sekali pertanyaan yang hingga saat ini tidak kamu temukan jawabannya,.. untuk itu, Nenek bersimpuh minta maaf padamu," isak tangis semakin terdengar.


" Sudah ma, sudah!" Suara Helena, mamanya Angga, Terdengar menenangkan nyonya Arum yang semakin keras terisak.


Asyifa masih terdiam, dengan air mata yang sudah membendung di kelopak matanya.


Semua luka batin yang di tutupinya seketika terbuka.


" Cah Ayu," panggil nyonya Arum, setelah dia menenangkan diri sejenak, " Nenek tahu, kesalahan kakek Wijaya memang tidak mudah untuk di maafkan, Maafkan kakekmu yang selama ini buta akan cinta kasihnya terhadap adik kandungnya, hingga dia melakukan semua hal gila itu, maafkan kakek Wijaya yang di masa mudanya masih begitu naif, mempercayai begitu saja apa yang di katakan oleh adiknya, tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu,.. Tolong maafkan kakek Wijaya yang sudah terlanjur bersumpah di depan jasad adiknya yang tewas gantung diri, untuk membalas dendam kepada keluarga Amir, tolong,.. tolong, maafkan Kakek Wijaya, agar jalannya menuju sang pemilik kehidupan, bisa tenang," isak tangis pun terdengar lagi," Biarkan kakek Wijaya menerima segala hukuman dari dosanya di pengadilan terakhir!"


Asyifa masih terdiam, dia nampak sedang mencerna kata-kata nyonya Arum.


Ferdinand yang sudah selesai menyeduh kopi Hanya bisa diam berdiri di depan pintu kamar, dia kemudian berbalik ke arah dapur ketika melihat reaksi Asyifa, yang mematung dengan pipi yang basah.


Hati Asyifa tersentuh, Benar Wijaya Kusuma bersalah, dia terlalu naif mempercayai semua yang di katakan indah, jika di runutkan, indahlah yang seharusnya pihak yang paling bersalah, dialah yang mengadu domba dua sahabat, karena cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Dari sudut pandang Wijaya Kusuma, dia juga adalah korban, korban kelicikan adiknya sendiri, Wijaya Kusuma juga menderita batin di sisa akhir waktunya, hidup dalam sebuah penyesalan, terpahit yang menghantuinya, sehingga bertemu dengan sang pemilik kehidupan.


Asyifa kemudian menjawab," Nenek, Aku,...Aku memaafkan kakek Wijaya,... Aku sudah memaafkannya, Aku memilih memaafkan, agar bisa berdamai dengan luka dan diriku sendiri, sampaikan kepada kakek Wijaya, Aku Sudah memaafkan segala kesalahannya!" setelah itu Asyifa mematikan telpon genggamnya, dan melemparnya ke ranjang.


Dia duduk tergugu dengan air mata mengalir, Air mata kedamaian dan kelegaan, akan dendam yang sudah luruh.


Ferdinand di seberang pun mengusap air matanya.


***

__ADS_1


Sorenya, Arsyad dan Melinda sudah datang berkunjung ke unit apartemen Asyifa, wajah Asyifa begitu sumringah, melihat pasangan muda itu.


" Hei, Akhirnya kalian sampai juga! Aku sudah menunggu kedatangan kalian! Ayo masuk, Aku sudah menyiapkan beberapa cemilan, kalian pasti suka!" Asyifa kemudian mempersilahkan keduanya untuk masuk.


" Ferdinand mana, Nona syifa?" tanya Arsyad yang begitu masuk langsung menanyakan Ferdinand.


" Anak itu aku suruh belanja ke supermarket terdekat, dia harus sering berinteraksi dengan orang sekitar, agar dia bisa meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya," ucap Asyifa senang.


Keduanya langsung memasuki apartemen Asyifa, di meja makan, Asyifa sudah menyiapkan aneka macam cemilan khas Indonesia, dia memasaknya sendiri.


" Wah, Ada putu ayu, kue lumpur, klepon, onde onde, kue cucur, nagasari dan keripik tempe!" Melinda berseru senang, dia langsung memasukkan putu ayu kedalam mulutnya, " Yummy, rasanya enak sekali!" Melinda berseru seraya menutup matanya.


Arsyad hanya bisa menggeleng melihat tingkah istrinya.


Asyifa hanya tertawa melihat tingkah Melinda, yang sepertinya sudah rindu dengan kuliner Nusantara.


" Apa Nona syifa sudah tahu berita besar dari negara kita?" tanya Arsyad, seraya menyesap kopi yang sudah di buat Asyifa.


Arsyad dan Melinda menatap satu sama lain, keduanya meneguk ludah secara bersamaan, saking kompaknya, pasangan suami istri itu juga mendesah pelan secara bersamaan.


" Bukan berita besar seperti itu yang saya maksud, Nona!"Arsyad hanya bisa tersenyum canggung, " Saya tidak memungkiri, bahwa itu adalah berita besar yang lagi hot, di negara kita, Berita besar yang saya maksud adalah, kematian tuan besar Wijaya Kusuma tadi pagi, beritanya sudah menjadi trending di berbagai media elektronik,"


" Iya, kabarnya pernikahan Angga dan Carrey juga di tunda karena hal ini, Setelah masa berkabung selesai, baru mereka akan membahas tentang pernikahan mereka kembali!" Arsyad melanjutkan.


" Kasihan sekali Carrey, Aku bisa memahami perasaannya, ini seperti kisah kita ya, Beb, ketika pernikahan kita di tunda karena masa berkabung," Melinda berkomentar.


" Sayang sekali, kematian tuan besar Wijaya Kusuma akan menutup kasus kasus yang baru saja melibatkan namanya, dari pengadilan terakhir yang saya ikuti, Baskara, akhirnya menyebutkan nama Wijaya Kusuma, namun semua itu sia sia, sebelum di panggil untuk di selidiki, penyakit jantung tuan Wijaya Kusuma kambuh, dan akhirnya meninggal dunia!"Arsyad menggelengkan kepalanya," Sayang sekali, sampai matipun dia masih bisa bebas dari hukum!" Arsyad menyampaikan pendapatnya.


Asyifa tersenyum, dia tak sedikitpun berkomentar tentang kematian tuan Wijaya Kusuma, Baginya, hukuman yang di jalani Wijaya Kusuma lebih menyakitkan, di bandingkan hukuman negara, Rasa penyesalan yang dalam, hingga ajal menjemputnya.


" Melinda?" tanya Asyifa kepada Melinda yang sekarang sedang sibuk mengunyah onde onde.

__ADS_1


Melinda langsung menoleh, karena mulutnya penuh dia tidak bisa menyahut.


" Kamu kasih makan apa Arsyad selama kalian menikah? Kenapa sekarang dia begitu cerewet dan banyak bicara? Eh, Bahkan dia sudah bisa di ajak bergosip sekarang, biasanya kan, dia orang paling kaku sedunia, Hanya menanggapi ya dan tidak saja!" Asyifa berkelakar.


" Uhuk!" Arsyad yang sedang makan kue klepon pun tersedak, mendengarnya, begitupun dengan Melinda.


" Ha ha ha!" Asyifa semakin tertawa, " Lihatlah kalian! Kalian bahkan bisa tersedak bersama! Sungguh romantis!"Asyifa langsung memberikan dua gelas air putih kepada keduanya.


" Nona syifa semakin pandai bercanda!" Arsyad akhirnya buka suara.


Asyifa hanya menaik turunkan alisnya kepada Melinda.


Melinda tersipu.


" Kalian pasti sudah lapar kan! Ayo kita makan saja! Jam berapa kereta akan berangkat?"


" Sepertinya Nona syifa Sudah masak makanan yang enak, Hmmp, Dari baunya saja sudah tercium!" komentar Melinda," Dari baunya saja sudah tercium, Bau rendang, ayam bakar, sambel terasi, Bener kan?"


" Wah, penciuman Melinda sangat tajam!" Asyifa memuji.


" Iya, efek ada Utun!" Arsyad tersenyum.


" Utun?"Dahi Asyifa mengeryit.


" Kata Arsyad, Utun itu panggilan orang Sunda untuk anak yang masih berada di dalam perut!" Melinda menjelaskan.


Asyifa masih mencerna ucapan Melinda dan kemudian dia berteriak," Hah? Kamu Hamil? Selamat ya!" Arsyad memang topcer, gak nunggu lama langsung jadi!" Asyifa memeluk Melinda dengan sepenuh hati, Dia kemudian mengelus perut Melinda yang masih rata," Dek Utun, baik baik ya di dalam, Kalau papa jengukin adek Utun di dalam, pukul aja yang keras ya!"


" Uhuk! Uhuk!" Arsyad yang sedang minum tersedak, mendengar ucapan Asyifa barusan. pipinya bersemu merah.


****

__ADS_1


__ADS_2