
Episode #55
Arif begitu geram dengan Ami, karena menampar mantan teman kuliahnya Natali, tiba tiba, Awalnya dia di minta pak Boss atasannya, untuk menggantikan dia meeting dengan klien baru, yang ternyata adalah mantan teman semasa kuliahnya dulu, keakraban pun muncul.
Arif melihat Ami yang menoleh ke luar kaca jendela mobil, Hening, tidak ada perbincangan diantara keduanya.
Arif tak habis pikir dengan kelakuan Ami, untungnya itu Natali, teman kuliahnya, coba kalau orang lain, bisa di pastikan, bukan hanya riwayat rumah tangganya saja yang hancur, karirnya juga pasti menyusul, memikirkan itu, laki laki itu hanya bisa mendesah pelan.
Mobil Arif terus melaju, membelah jalanan ibukota, yang pada jam segini tidak terlalu macet.
Masih tidak ada perbincangan diantara mereka, Arif melirik Ami, nampak wanita yang masih sah menjadi istrinya itu, sedang memegang pipinya yang merah dan bengkak, karena perbuatan Natali, Siapa suruh lawan Natali, mantan atlet karate di kampusnya.
Tak berselang lama, merekapun sampai di kediaman orang tua Ami, Arif langsung masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamarnya, Mira sang asisten rumah tangga, ingin menegurnya, tapi di urungkan, karena melihat Arif dalam suasana yang tidak baik, daripada dia menjadi pelampiasan laki laki itu, lebih baik dia berpura pura tidak melihat saja,
Ami mengekor di belakang laki laki itu, diapun segera masuk ke kamarnya.
Di dalam kamar, tampak Arif sudah mempersiapkan koper dan merapikan semua pakaian dan barang barang nya, Ami yang baru masuk, langsung membanting pintu dan menguncinya.
" Mas, ini apa apaan sih, pakaian di masukin koper segala!" bentak Ami, dan langsung memasukkan lagi pakaian ke lemari.
Arif langsung menahan tangan Ami, dan menghempaskan dirinya ke kasur,, laki laki itu tidak mengucapkan sepatah katapun, dia menyusun kembali pakaiannya ke koper,
Ami terlonjak kaget, dia tidak menyangka laki laki yang di Nikahinya dua tahun yang lalu, tega menghempaskannya begitu saja ke kasur, tapi itu tak berselang lama, Ami bangkit dan kembali mengambil pakaian yang di koper dan ingin mengembalikannya ke dalam lemari lagi.
Arif, kesal sekali dengan tingkah Ami, dia langsung mencengkeram bahu Ami, nampak Ami meringis kesakitan.
" Jangan buat Aku bertingkah kasar ya, Ami, tolong jangan buat aku lepas kendali!" Lontar Arif dengan sangat lirih menahan kemarahan, mata lelaki itu sudah memerah, menahan gejolak emosinya.
Nyali Ami menciut, Arif memandang bukan tipe lelaki pemarah, Dia orang yang sangat lembut, Ami teringat dengan sebuah kata, Jika seseorang yang jarang marah, maka sekalinya marah akan sangat berbahaya, akhirnya dia memilih diam, dan menangis di atas ranjang tempat tidur mereka, Ami tak bisa mengatakan hal apapun lagi, dia Hanya memandangi Arif yang telaten merapikan barang barang nya.
***
Malam menjelang
Sinar jingga sudah di telan oleh kegelapan malam. seluruh penghuni rumah, sudah berkumpul, sebentar lagi waktu makan malam telah tiba, di rumah ini seperti ada aturan tidak tertulis, bahwa sarapan dan makan malam wajib bersama.
Arif sudah selesai membereskan barang bawaannya, semuanya di angkut, dan tidak tersisa sedikitpun barang barang miliknya di kamar itu, melihat itu Ami hanya bisa menahan dadanya yang sesak, dia sudah tidak mengeluarkan air mata lagi, sepertinya air matanya sudah terkuras habis.
__ADS_1
Memandang penampilan Ami yang begitu kacau, Arif sebenarnya tidak tega, lelaki itu memang berhati lembut, dia tidak tahan dengan air mata, walaupun begitu, logika harus tetap berjalan, dia sadar, bahwa dia sudah tidak di inginkan lagi, Jika Ami mencintainya, dia pasti tidak akan beralih pada sosok tampan itu,
" Entah siapa yang mengirimkan foto dan video perselingkuhan Ami, tapi aku harus berterima kasih banyak padanya, entah apa niatnya, tetapi dia sangat membantu," batin Arif.
" Tok, Tok, Tok" suara pintu di ketuk dari luar.
" Mas, Mba, makan malam sudah siap, bapak, ibu, sudah menunggu di meja makan," Mira sang asisten rumah tangga, memberi tahu jika waktu makan sudah tiba.
" Hapus air matamu, benahi penampilanmu, aku duluan," ucap Arif ketus, dan berlalu keluar kamar, meninggalkan Ami sendirian.
Ami mengepalkan tangannya, dia geram sekali, bergegas dia ke kamar mandi, mencuci muka dan membenahi penampilannya, setelah itu dia menyusul yang lainnya ke meja makan.
Di sana sudah ada, Andreas, Ani, Tia dan Arif, Ami kemudian beranjak dan duduk di samping Arif, nampak Mira masih menyiapkan beberapa hidangan di meja makan.
Arif tiba tiba berdehem, " Mah, pah, semuanya, selesai makan ,ada yang ingin Arif sampaikan!"
" Deg !
Hal yang di takutkan oleh Ami, akan terjadi malam ini.
Ani dan Andreas menatap satu sama lain, seolah pandangan mereka bertanya, " Ada apa? apa yang terjadi?"
"Baiklah" ucap Andreas kemudian.
Makan malam tetap berlanjut, semua dalam ketegangan, Arif yang biasanya kalem, tak pernah berbicara seperti ini, pasti ada hal serius yang di bicarakan, hanya Tia saja yang begitu santai, menikmati makan malamnya, dia tidak terlalu perduli, selama itu tidak mempengaruhi kehidupannya.
Mira yang mendengar kata kata dari bibir Arif, langsung tersenyum, sudah terbayangkan, cuan dalam jumlah besar yang akan dia terima, jika menghasilkan video yang bagus, " Sudah waktunya beraksi lagi nih, he he he" kekehnya.
Makan malam pun sudah selesai, semuanya beranjak ke ruang keluarga, semuanya penasaran dengan apa yang akan di utarakan oleh Arif, nampak Ami wajahnya semakin memucat.
Semuanya sudah duduk, semua mata tertuju pada Arif, begitu juga dengan Mira, dia sudah mendapat posisi yang pas, untuk merekam video yang bagus.
__ADS_1
" Baiklah," Arif menghela nafas, sebelum dia melanjutkan, " Papa dan mama, sebelumnya saya minta maaf, kalau selama ini saya belum jadi menantu ideal, buat mama dan papa, Saya Arif Kusuma Ingin memulangkan putri Papa Ami Andreas,"
Semua terkejut, dengan apa yang di bicarakan oleh Arif, belum sempat mereka melontarkan apapun, Arif melanjutkan ucapannya, " Ami Andreas binti Andreas, dengan ini saya Arif Kusuma, ingin menjatuhkan talak satu kepadamu, mulai sekarang kita bukan suami istri lagi,"
" DUAR,"
Bagai terkena Sambaran petir, Ami terduduk lemas, apa yang di takutkan akhirnya terjadi juga.
Andreas sudah ingin mengucapkan banyak pertanyaan, tetapi Arif sudah mengantisipasi nya.
Saya sudah mengirimkan di group keluarga, alasan saya menjatuhkan talak kepada Ami," ucapnya tenang.
Semua anggota keluarga, segera meraih ponselnya dan membuka chat group keluarga, dan di sana terpampang lah foto dan video , yang menampilkan perselingkuhan Ovan dan Ami.
" Masih ada bukti lainnya, tapi itu terlalu fulgar untuk di tampilkan di group, dan saya tidak ingin terjerat kasus UU IT, jadi sudah saya serahkan kepada pengacara saya sebagai bukti perceraian," ungkap Arif.
Semuanya terdiam, Andreas nampak sangat terpukul sekali, bagaimanapun Arif adalah sosok menantu yang baik.
" Loh, inikan, Ovan, gak nyangka kak Ami selingkuhan cecunguk satu ini,z pekik Tia terkejut.
" Emang kamu kenal, siapa cowok itu?" tanya Ani antusias.
" Kenal banget mah, ini itu teman kampusku, beda jurusan, satu angkatan tau, Dia itu Simpanan Tante Tante, gak nyangka, kak Ami juga terjerat sama nih, cowok buaya,!" ketus Tia, bagaimanapun dia bersimpati pada Arif.
" APA?" Ani memekik, dan menampar Ami.
" PLAK!"
" Tak tahu malu, Tak tahu di Untung!" hardik Ani.
" Sudah mah, jangan buat keributan lagi," tegas Andreas.
Ami hanya memegangi pipinya kembali, perih dan bengkak dia rasakan, hari ini, dia sudah di tampar dua kali, di tempat yang sama.
" Kalau memang itu sudah keputusan dari nak Arif, kita sudah tidak dapat berbuat apa apa lagi, maafkan Ami, maafkan jika kami tidak bisa mendidik anak dengan baik," ucap Andreas yang tak terlalu suka dengan drama, dia menyambut niat dari Arif, bagaimanapun Ami yang bersalah.
" Kalau begitu, saya pamit yah," ucap Arif, seraya masuk ke kamar dan menyeret kopernya keluar.
semuanya hanya memandang, punggung laki laki tersebut, tanpa berkata apapun.
__ADS_1
Ami hanya menangis, tergugu di kursinya.
****