Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Song Chai Mi dengan Arif


__ADS_3

Episode #73


    Insiden jatuhnya Camilla tidak mempengaruhi jalannya acara, acara tetap berlanjut dengan meriah, seolah tidak terjadi apa-apa, hal ini berkebalikan dengan apa yang ada di dunia Maya, Asyifa dan Camilla sama sama viral, tentu dengan keviralan yang berbeda, Asyifa Viral dengan penampilan yang memukau, sedangkan Camilla, Viral karena penampilannya yang sangat memprihatinkan.


  Ketika acara penutupan fashion show selesai, berbagai pengunjung membawakan buket bunga, kepada para model yang mereka kenal, sebagai ungkapan bahwa penampilan mereka begitu berkesan, begitu juga dengan Angga, Amar dan Arsyad, mereka masing masing membawa sebuket bunga.


    " Penampilan kamu luar biasa sekali Nona May, anda sungguh luar biasa! Sungguh keren!" ungkap Angga, sambil menyerahkan sebuket bunga di tangannya, nada suaranya begitu bersemangat.


  Asyifa tersenyum, dan menerima bunga tersebut, " Terima kasih bunganya tuan muda Angga, anda memuji saya sangat berlebihan".


   Melihat interaksi keduanya wajah Amar masam. " Nih, selamat ya!" ucap Amar datar, sambil memberikan sebuket bunga Krisan merah yang di campur mawar putih, ada beberapa Peony juga di sana.


   Asyifa sebenarnya ingin menjitak Mr Teddy Bear dengan ekspresinya itu, tetapi karena ini masih di tempat umum, dia menerima dengan anggun, " Terima kasih tuan muda AMAR, anda sangat perhatian sekali, dengan memberi buket bunga berisi bunga kesukaan saya!"


   Mendengar pujian tersebut wajah masam Amar sudah menjadi sumringah, senyumnya begitu hangat, dia merasa satu langkah didepan Angga.


    " Nona May, apakah anda punya waktu malam ini? saya ingin mengajak anda ke suatu tempat" ujar Angga dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi.


    Mendengar itu, sontak wajah Amar yang sebelumnya sehangat mentari, berubah, menjadi sedingin salju.


   Belum sempat Asyifa menjawab, seseorang sudah meneriakkan namanya, " May!"


      Semuanya menoleh, Angga sendiri merasa heran dengan sosok tersebut yang sedang berlari ke arahnya.


   Sosok tersebut langsung memeluk Asyifa, Setelah berpelukan melepas rindu sepersekian detik, mereka melepaskan pelukan masing masing.


  " Penampilan kamu sangat bagus sekali, maaf aku terlambat, tadi aku gak tau jalan, jadi aku diantar oleh seseorang" ucap Song Chai Mi yang kerap dipanggil Rose oleh Asyifa, perawatnya selama di Seoul, dengan aksen koreanya yang masih begitu kental, " Eh, kamu kesini!" tanya Song Chai Mi, kepada orang yang tadi membantunya hari ini.


  Sosok itupun berjalan semakin mendekat, " Selamat Nona May, penampilan anda memukau sekali," ungkap lelaki tersebut.


     " He he he, terima kasih Arif, saya tidak pernah menyangka, bahwa anda bisa bertemu sahabat saya, terima kasih sudah mengantarkannya kesini!" ucap Asyifa tulus.


  Arif hanya tersenyum dan menanggapi, " Tidak masalah Nona May, kebetulan jadwal kerja saya sudah selesai, jadi saya punya waktu senggang, mengantarkan Nona Song Chai Mi kemari."


  Melihat Arif dan Song Chai Mi, sebuah ide terlukis di benak Asyifa, keduanya sekarang berstatus masih single, alangkah baiknya jika mereka jadian," berbagai rencana, sebagai mak comblang bertebaran di benaknya saat ini.

__ADS_1


     " Ekhem!" Deheman Angga terdengar.


  Asyifa kemudian tersadar, bahwa dia belum menjawab pertanyaan dari tuan muda Angga.


   " Oh ya, tuan muda Angga, perkenalkan ini adalah Song Chai Mi, sahabatku dari Seoul" Asyifa memperkenalkan gadis berkewarganegaraan Korea itu padanya.


  Keduanya pun berjabat tangan dan menyebutkan namanya masing masing.


   Sepertinya Nona May akan begitu sibuk malam ini, kalau begitu saya pamit dulu," ucap Angga dengan sedikit kecewa, dia menyediakan dinner malam ini dengan begitu romantis, namun terpaksa harus di batalkan, untung saja uang bukan masalah untuk orang sekelas sultan seperti Angga.


   Asyifa mengangguk, dan mempersilahkan tuan muda Pergi.


  Wajah Amar yang awalnya sedingin salju, berubah lagi menjadi sehangat mentari.


  Ketika melihat di sana ada juga Amar, Song Chai Mi semakin bertingkah heboh, di bandingkan Asyifa, Song Chai Mi lebih dulu mengenal Amar.


   Amar pun menawarkan mereka untuk berbincang lebih hangat di luar, jadi mereka berempat meninggalkan musium pasifika, tempat acara peragaan busana di gelar.


    Mereka berbincang dan tertawa satu sama lain, bagi yang tak mengenal mereka akan menduga bahwa mereka sedang double date.


  Melinda Sudah mengetahui bahwa Camilla sudah berpulang, ups, salah, maksudnya sudah pulang terlebih dahulu, akibat insiden memalukan di atas lantai catwalk, sekarang, artis yang karir modelingnya terancam hancur tersebut, pasti sedang melampiaskan amarahnya dengan sangat brutal, daripada dia jadi korban KDRA, ( kekerasan dalam rumah artis) lebih baik dia di sini, dan pergi menikmati udara malam, dengan dalih, mencari keberadaan artisnya.


      Ketika Melinda ingin keluar dari gedung, tak menyangka ekor matanya menangkap sosok yang hari ini sudah memporak-porandakan hatinya, sedang memberikan bunga kepada gadis yang menjadi model di acara fashion show tadi, yang dia temui di bandara I Gusti Ngurah Rai.


  Melinda tetap berdiri di tempatnya, dia memperhatikan Arsyad memberi buket bunga tersebut, perempuan itu langsung menerimanya, dan mereka saling berpelukan, perempuan itu bahkan mencium pipi Arsyad.


   Melihat semuanya, Melinda hanya tersenyum getir, dia mentertawakan kebodohan dirinya sendiri, yang merasa ia dan Arsyad memiliki perasaan yang sama, saat ini hatinya begitu sakit, seperti di iris sembilu dan kemudian ditaburi cuka, hatinya betul betul menangis.


  Tak di sangka, mata gadis tersebut, melihat ke Melinda, gadis itu pun berbisik ke telinga sebelah kanan Arsyad, Arsyad pun sontak melihat ke arah Melinda, dan tersenyum, seolah olah tak ada yang terjadi.


  Melihat Arsyad yang tersenyum ramah padanya, hati Melinda semakin sakit, " Lihatlah, bahkan Arsyad sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah! sepertinya Aku yang berkhayal terlalu tinggi, jika dia mempunyai perasaan yang sama denganku!" benaknya.


     Arsyad dan gadis itu berjalan ke arah Melinda berdiri, Arsyad menggenggam tangan gadis itu.


  "Waduh, ngapain mereka kesini? gumam lirih bercampur keheranan.

__ADS_1


    keduanya semakin memangkas jarak dengan Melinda.


   " Jangan kencang kencang dong jalannya, kaki aku sakit loh! ini masih pakai high heels" protes gadis itu kepada Arsyad, yang samar samar terdengar oleh Melinda, karena mengajaknya sedikit berlari.


" Hai Mel, pasti lagi nyari Camilla ya? dia sudah pulang, tadi aku lihat dia terburu buru keluar naik taksi" ucap Arsyad tersenyum kaku.


" Oh ya, terima kasih infonya, kalau begitu, saya balik dulu" ucap Melinda sambil berbalik dan segera melangkah.


" Eh, Mel tunggu!" Arsyad menahan lengan Melinda.


Melinda pun akhirnya berbalik badan lagi menghadap keduanya, " Ya, ada apa ya?" tanya Melinda dengan ekspresi datar, yang sangat berbalik dengan hatinya.


" Tidak ada apa apa, aku hanya ingin memperkenalkan dia, ini Naura, adik aku satu satunya!" jawab Arsyad dengan senyumnya.


Mendengar itu, mega mendung, beserta kilat gunturnya, yang bersarang di wajah dan hati Melinda, seketika sirna, berganti dengan, sinar mentari yang sangat hangat di tepi pantai.


Melinda pun menjulurkan tangannya dan memperkenalkan diri, " Melinda" senyum ramahnya langsung keluar.


Perempuan itu pun menyambut tangan Melinda dan berucap," Namaku, Naura, senang bertemu dengan kakak i,.,.." Naura tidak dapat menyelesaikan ucapannya karena Arsyad sudah menutup mulutnya.


Melihat itu Melinda terkekeh, " Kalian kakak beradik? kok gak mirip?" tanya Melinda, yang memperhatikan keduanya, tidak ada kemiripan samasekali, jadi pantas saja jika orang lain mengira mereka pasangan.


" Iya, kak, eh Ci,. Aku panggil Cici saja ya, biar akrab!" pinta Naura.



" Bebas" ucap Melinda.


" Iya, Cici, kita Emang gak mirip, kita seibu tapi beda ayah, Nah Abang Arsyad ini lebih mirip dengan ayahnya, sedang aku lebih mirip dengan papaku, jadi wajah kita memang sangat jauh, makanya mama sering uring-uringan, anaknya cuma dua, tapi satupun tidak ada yang mirip dengan dia, he he he!"jawab Naura dengan akrab.


Melinda Sudah mulai akrab dengan Naura, adik perempuan Arsyad, pembawaan Naura yang mudah bergaul, membuat suasana canggung menjadi ramai sekali.


Entah kenapa Arsyad sangat senang, melihat adiknya dan Melinda sangat akrab..


****

__ADS_1


__ADS_2