
Episode #40
Hening seketika diantara ketiganya, Ketika Ferdinand ingin memperkenalkan Asyifa, sosok laki-laki bertubuh tegap, berkulit sawo matang, perawakannya mirip orang India, datang menghampiri, " Sayang, belanjaannya sudah selesai?"
" Ayah!" Keumala langsung menghamburkan dirinya memeluk laki laki itu.
Ferdinand hanya tersenyum.
" Sudah, kita sudah selesai!" Cut Sari langsung berbalik menuju meja kasir.
Asyifa memperhatikan nada suara Cut Sari, walaupun dia bisa menyembunyikan perasaannya dan bersikap sangat normal, pendengaran Asyifa bisa menangkap, ada nada getir di dalam suaranya.
Keluarga kecil itu pergi, bahkan tanpa mengucapkan kata pamit.
" Sepertinya mereka bukan keluarga yang harmonis, Apakah itu, sosok yang belum bisa ada yang menggantikan untuk saat ini?"Asyifa bertanya seraya memilih beberapa barang.
Ferdinand hanya tersenyum canggung, " Aku pertama kali jatuh cinta ketika melihat Dia ketika sedang di hukum, berlari dua putaran karena terlambat datang, ketika ospek di mulai, Aku memberikan sebotol air mineral, karena melihat dia sudah begitu kehausan," Ferdinand mengingat kembali awal pertemuan mereka.
" Kenapa gagal? Sepertinya dia perempuan yang lembut dan tidak macam macam!" Asyifa tidak perduli meskipun pertanyaannya membuat Ferdinand sedih.
Ferdinand kembali melihat list, dan memasukan barang yang belum ada di troli, "Empat tahun kami menjalin hubungan, akhirnya semua sirna hanya karena latar belakang, Bu Boss tahu sendiri, dia memiliki gelar Cut, yah, akhirnya keluarganya menikahkan dia dengan seseorang yang memiliki gelar kebangsawanan yang sama, yaitu seorang Teuku, di tambah lagi kala itu aku hanya seorang admin biasa di sebuah garmen!" Ferdinand hanya tersenyum getir.
" Aku melihat perasaannya tidak pernah berubah, memang benar, jika suaminya memiliki dirinya, tetapi hatinya sepenuhnya milikmu!"Asyifa mencoreng daftar list belanjaan yang sudah dia masukkan kedalam troli.
" Bu Boss bisa aja,, jangan buat Aku senang, Bu Boss!" Jika memang benar apa yang di katakan Asyifa, Ferdinand merasa sedikit merasa puas, Diapun segera menggelengkan kepalanya, menepis pemikirannya dan bayangan kenangan yang seolah terpanggil kembali atas pertemuan tak sengaja itu.
"Hmmp! Untuk kesekian kalinya, jangan panggil aku lagi Bu Boss!"Asyifa langsung mendorong troli belanjaannya kekasir.
" Maaf syifa!" Ferdinand mengejar Asyifa, walaupun dia merasa lebih nyaman memanggil dengan sebutan Bu Boss daripada memanggil nama.
Keduanya nampak seperti pasangan muda, Orang lain akan mengira hal tersebut, jika tidak mengenal mereka.
Tak lama setelah itu, keduanya kembali ke apartemen.
Malam dingin di kota London.
Apartemen yang di huni Asyifa dekat dengan berbagai restoran dan bar, hanya berjarak beberapa ratus meter, beberapa bar akan terlihat.
__ADS_1
" Syif, keluar yuk?" Ferdinand masuk kedalam apartemen Asyifa.
" Kamu saja, Aku sedang sibuk!" Asyifa sedang melihat laptopnya, membaca baca jurnal, dan mulai menelis esai, besok aku akan bertemu dengan Professor Wilson, Aku sarankan kamu juga menghubungi profesor mu secepatnya," Asyifa berbicara tanpa menoleh sedikitpun.
Ferdinand Hanya bisa nyengir kuda, " Baiklah aku akan hubungi secepatnya, kalau begitu, Aku pergi dulu syif!" Ferdinand meninggalkan apartemen Asyifa dan berjalan menuju lobi.
Asyifa menghela nafas," Anak itu memang harus bisa menjelajah kota ini sendirian, agar tidak tergantung pada siapapun!"
Kemudian Asyifa mengalihkan pandangannya dari laptop, dan meraih ponselnya melihat lokasi yang di bagikan oleh Glenn Yaw.
" Apakah Amar benar benar ada di sana?" Gumamnya, sambil mengklik lokasi itu, "Ternyata letaknya ada di pinggir kota London!"
Kemudian Asyifa mencari cara di internet untuk mencapai lokasi itu.
Sementara itu, Ferdinand berjalan lurus ke arah bar dan restoran, awalnya dia hanya ingin berkeliling saja, tanpa masuk ataupun hanya sekedar singgah, terlebih lagi perutnya masih kenyang, memakan olahan Bu Boss nya yang tidak kalah dengan restoran bintang lima.
Dalam kerumunan orang-orang, Ferdinand tidak sengaja melihat seseorang yang dia kenal, walaupun hanya beberapa jam.
" Itu bukannya Rasyid?" Dia menyipitkan matanya, berusaha memfokuskan pandangannya, bahwa laki laki yang menggandeng wanita berambut blonde adalah suami Cut Sari.
Awalnya Ferdinand berusaha untuk mengabaikannya, dan melanjutkan perjalanannya, tapi entah mengapa dia malah mengikuti mereka ke arah bar koktail.
" Ada tidak, minuman yang tidak mengandung alkohol?"Ferdinand menanyakan kepada bartender tersebut dengan bahasa Inggris yang lancar tapi dengan aksen Indonesia nya.
Bartender kemudian mengangguk dan menyiapkan pesanan Ferdinand!"
Ferdinand mengucapkan terima kasih dan mengendusnya sejenak, setelah yakin tidak ada aroma alkohol nya Diapun menyesapnya, perpaduan lemon dan jeruk Mandarin, dengan sentuhan rempah sangat terasa!" pikirnya.
Duduk di sana, Ferdinand hanya memperhatikan Rasyid dan wanita berambut blonde bermesraan, tak perduli lingkungan sekitar.
Hati Ferdinand terasa sakit untuk Dek Nong, Dia masih mengingat betul ketika Dek Nong menunggunya di depan garmen menangis sesenggukan sambil bercerita jika dia akan di nikahkan dengan kerabat jauhnya.
Keesokan harinya Ferdinand langsung pergi menemui keluarga Cut Sari atau biasa yang dia panggil Dek Nong, Dia datang melamar, tetapi sayangnya Dia di tolak, dengan alasan mereka tidak pantas bersanding.
Ferdinand pergi dengan hati hancur, begitupun dengan Cut Sari, semenjak saat itu keduanya sudah tidak dapat berkomunikasi lagi, tapi entah mengapa, kota London mempertemukan mereka kembali.
Sekarang, adegan yang semakin tidak enak di lihat semakin terpampang di hadapan Ferdinand, Rasyid dan wanita itu sudah semakin lupa, dimana keberadaan mereka, setelah minumannya habis, Ferdinand pun kembali pulang ke apartemennya dengan perasaan yang kacau.
__ADS_1
Keesokan harinya.
Asyifa pergi ke kampus, Hari ini dia sudah membuat janji dengan Professor Wilson, Dia sedikit bingung, karena prof Wilson tidak mengunggah fotonya, sehingga Asyifa tidak memiliki sedikitpun gambaran penampilan prof Wilson.
Di ruang tunggu, Asyifa beberapa kali melihat pergelangan tangannya, sudah hampir satu jam dia menunggu, tetapi belum ada tanda-tanda prof Wilson akan menemuinya.
Seseorang perempuan di sampingnya langsung mengajaknya bicara, " Hey, Aku Katy, apa kau juga sedang menunggu prof Wilson?" tanya perempuan itu ramah. seraya memperkenalkan diri.
" Halo Katy, Aku Asyifa, Aku mahasiswi baru megister, kebetulan Aku memilih prof Wilson jadi pembimbing aku!" Asyifa menjelaskan.
" Kau termasuk beruntung jika prof Wilson memilihmu, dia profesor termuda di kampus ini, di usia pertengahan tiga puluhan, dia sudah menjadi seorang profesor, Bukankah itu mengagumkan?" Timpal Katy.
Asyifa hanya tersenyum, Dia tak tahu bagaimana harus menanggapinya lagi," Iya, itu sangat keren!"
Keduanya pun mengobrol perihal perkuliahan di tingkat megister.
" Nona Katy!" Seorang laki-laki muda memanggil Katy.
" Sekarang giliran ku, aku duluan, nanti kita sambung lagi, oke?"Katy masuk dan masuk dalam ruangan bimbingan.
Sekarang tinggal Asyifa di sana, Dia duduk di kursi tunggu yang di sediakan sendirian, Dia pun membuka ponselnya, dan menggulir layar ponselnya untuk mengurangi kebosanan.
Beberapa berita lewat berseliweran di akunnya.
Carrey Ramos dan Angga Kusuma, tuan muda dari keluarga Kusuma, akan melangsungkan pernikahannya bulan depan!
Pasca pertunangan sang pewaris, patriark keluarga Kusuma, Wijaya Kusuma, dilarikan ke rumah sakit.
Kepala keluarga Kusuma di duga kuat terlibat dalam kasus insiden kecelakaan anggota keluarga Prameswari group belasan tahun silam.
Asyifa membaca semua berita tersebut, dia cukup kaget, karena om Hamdan Hutapea bisa bekerja secepat ini.
" Sudahlah, biarkan saja Om Hamdan yang mengurusnya!" Asyifa menutup layar ponselnya.
" Gedebug!" terdengar seseorang terjatuh.
Asyifa langsung bergegas melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
Di luar ruangan seorang gadis kecil seusia Keumala sedang merintih kesakitan, dia terjatuh dari sepedanya dan mulai menangis," Hua,... Daddy,...!"
****