
Kedua pasang mata saling bertemu, bukan karena jatuh cinta dan terpesona , tetapi karena ada rasa tersendiri. Dendam....yah antara Gery dan Bara... mereka berdua seperti musuh yang kini saling menyerang dan menandakan adanya dendam permusuhan.
Vee yang sedari tadi memperhatikan kedua nya, ia menggelengkan....gadis itu tidak bodoh. Ia tau apa yang sebenarnya terjadi antara tunangan nya dengan teman masa kecil nya.
Dan ia juga tidak ingin mereka berdua terlibat pertikaian, Vee tidak mau kedua nya saling benci dan bermusuhan hanya karena diri nya.
Tetapi apa yang bisa ia lakukan?? di satu sisi...ada tunangan nya, yang saat ini Vee cintai. Tetapi di sisi lain, ada teman nya sejak kecil, bahkan dia sudah seperti saudara nya sendiri.
Kalau Vee di suruh memilih, ia yakin....tidak bisa memilih, karena kedua nya bukan pilihan.
Melihat Bara dan Gery yang semakin tajam saja menatapnya, Vee akhirnya mengambil keputusan untuk mengajak Gery pulang. Tentunya ia tidak ingin membuat suasana siang ini menjadi sangat kacau karena ulah nya.
"Yank, pulang yuk...aku ngantuk.", ucap Vee biasanya.
Tetapi entah mengapa Bara langsung menatap ke arah Vee, ia merasa kalau Vee memang sengaja membuat nya cemburu, dengan sikap manja yang di tunjukkan nya barusan.
Padahal ucapkan Vee dan aksi Vee biasa biasa saja , tidak terdengar manja ataupun dibuat buat. Atau mungkin karena Bara yang cemburu hingga semua nya menjadi serba salah.
"Ayok yank....pulang ke apartemen nya.", jawab Gery dengan mengedipkan sebelah matanya.
'Apartemen?? apartemen apa?? Gery ngacau!! atau memang ia sengaja mengatakan itu?? gila!!', batin Vee.
'Apartemen?? apa Vee selama ini sudah pernah satu kamar dengan Gery, dan mereka melakukan hal hal sebelum waktunya??', batin Bara kesal.
Bara yang tadinya cemburu, makin cemburu saja ketika kata apartemen di lontarkan begitu saja dari bibir Gery. Bahkan Bara juga tidak menyadari apa itu beneran atau tidak, atau hanya untuk membuat ia cemburu.
Seakan akan otak Bara kini sudah tertutup, ia bahkan tidak bisa menggunakan akal dan pikirannya dengan sebaik baiknya.
"Kalian ke apartemen??", tanya Bara.
__ADS_1
Laki laki itu dengan cepat menanyakan apa yang ada di pikirannya yang sempat mengganjal.
"Iya, kenapa??"
Gery tidak kalah sinisnya, ia merasa kalau akhir akhir ini Bara selalu mengambil kesempatan untuk bisa bersama dengan Vee.
Apalagi sekarang ada proyek kerjasama antara Perusahaan Bara dengan Perusahaan Papah Cesa, dan kebetulan sekali...Vee di minta untuk ikut andil dalam proyek itu.
Sungguh.... antara ikhlas dan tidak, tetapi....Gery mencoba untuk percaya pada tunangan nya, meskipun begitu....ia sama sekali tidak tenang ketika Vee bersama dengan Bara.
"Kalian belum menikah, dan tepat nya tidak akan pernah menikah. Mengapa sudah ke apartemen??", ucap Bara dengan kembali menatap tajam Gery.
"Kau!!", tunjuk Gery.
Gery yang sudah ingin berdiri dan meninggalkan cafe, sontak saja mengurungkan niatnya. Apalagi mendengar ucapan yang keluar dari mulut Bara, yang seperti nya memang laki laki itu benar benar menabuh genderang perang untuk nya.
"Kenapa??? Mau nonjok??", tantang Bara.
Tentu saja ia sombong, untuk menghadapi laki laki seperti Bara, memang diperlukan sikap seperti itu. Kalau diam dan mengalah, Bara akan semakin menginjak nginjak dan tidak mau kalah.
Deg
Ucapan dari Gery membuat dada Bara terasa sakit. Seperti dihantam batu besar, sungguh kalau ia bisa membawa Velia pergi dari Indonesia, akan ia lakukan saat ini juga.
Dua bulan .... ucapan dari Gery tentang dua bulan lagi,.itu membuat Bara semakin terguncang pikiran.
'Dua bulan lagi?? tidaaaaakkkk!! bahkan aku saja tidak percaya jika mereka akan menikah dalam waktu secepat itu. Apa yang harus aku lakukan??? aku tidak mau kehilangan Vee?? aku tidak bisa melihat Vee menikah dengan laki laki lain??'
Sedangan Vee dan Vika saling menatap, mereka sama sama pusing mendengar dua orang laki laki yang saking berdebat dan tentu saja tidak ada yang mengalah.
__ADS_1
"Sudah sudah...aku pulang ya Kak, Bar!!", pamit Vee kemudian.
Gadis itu merasa hawa di cafe semakin panas dan mencekam. Sebelum terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, Vee membawa Gery untuk keluar dari cafe.
...****...
"Segitu besar nya rasa cintamu ke dia Bar??"
Vika menatap sendu sahabat nya, setelah kepergian Vee dan Gery, Bara menjadi lebih pendiam, bahkan ia ingin pergi ke club siang ini juga.
Gila!! club mana yang buka siang siang begini?? kalau enggak orang yang agak konslet, enggak bakalan nyariin club di siang bolong.
Tetapi, Vika berhasil mencegah nya. Dan bisa menahan Bara untuk tetap duduk di cafe.
"Lo tau sendiri Vik, gimana perasaan gue ke dia?? bahkan gue rela bolak balik Jakarta Jerman supaya bisa bertemu dengan dirinya, selama dua tahun ini, tetapi....kenapa saat kita sudah bertemu....dia malahan mau menikah dengan laki laki lain, apa salahku??"
'Kau tanya apa salah lo?? Lo tidak sadar Bar, kalau lo dulu pernah menyakiti hati Vee, dengan mencintai orang lain sementara Vee menaruh hati pada Lo!! tetapi....Lo hanya menganggap dia sebagai teman saja, bahkan sudah seperti saudara sendiri??? Lo inget enggak Bar!!!'
Ingin sekali Vika mengucapkan seperti itu, tetapi...hanya ia pendam dalam hati saja. Ia tau Bara bukan semakin sadar tetapi malahan semakin menjadi jadi nanti nya.
"Salah lo, Lo mencintai tunangan orang Bar!! bukannya dari awal Lo sudah tau kalau Vee dan Gery sudah pacaran , kenapa Lo masih mengejar nya."
"Karena cinta tidak tau akan berlabuh kemana Vik, dan Lo tau sendiri, selama dua tahun ini gue mencoba untuk menghapus rasa untuk Vee tetapi tidak bisa!!"
Vika menghela nafasnya kasar. "Lo enggak melakukan itu Bar!! Lo enggak melupakan Vee, yang ada Lo malahan gencar untuk mencarinya. Kalau memang Lo benar benar melupakan nya, Lo sekarang sudah bersama dengan wanita lain!!"
'Dan wanita itu adalah gue Bar!!'
Bara terdiam sesaat, apa yang dikatakan Vika adalah benar adanya. Ia bahkan sampai menutup pintu hatinya untuk wanita lain, hanya ingin membuat Vee menjadi miliknya seorang.
__ADS_1
"Gue enggak tau. Tapi yang jelas, gua harus mendapatkan Velia, apapun caranya. Dan gue tidak akan tinggal diam, hanya karena mendengar ucapan dari Gery."
Bara yang masih emosi tiba tiba berdiri dan meninggalkan Vika, suasana hatinya sangat kacau saat ini. Entahlah.....yang ada dipikiran nya hanya Velia seorang.