Perjodohan Rahasia

Perjodohan Rahasia
Mencari Velia


__ADS_3

"Papah tau....memang sangat sulit menerima semuanya itu, tetapi kamu harus sabar, harus ikhlas untuk menerima semua nya, Papah tau....tidak mudah berada di posisi kamu, begitu juga dengan Velia...."


Gery mengangguk, meskipun hatinya terluka dan sakit, tetapi...di depan Papah Cesa, ia harus kuat dan tidak boleh terlihat lemah.


"Pah, sebenarnya Vee ke mana??", tanya Gery kemudian.


Ia harus bertanya dulu di mana Velia berada, meski pun kenyataan nya, ia yakin kalau Vee ada di Bogor, tetapi...siapa tau..Papah Cesa akan mengatakan kepada nya.


Papah Cesa menggeleng, terlihat urat kesedihan di dalam wajah nya, laki laki yang tidak muda lagi itu juga sebenernya tidak tau di mana putri nya berada, karena Velia hanya berpesan ingin menenangkan diri sejenak saja, dan tidak memberi tahukan ke mana arah tujuannya.


"Vee tidak mengatakan di mana dia berada, dia hanya menelpon satu kali sehari saja, dan itu pun memakai nomer lain...."


Sudah Gery duga, Vee akan melakukan itu semua, dia tidak ingin diganggu oleh siapapun juga baik itu Papah nya maupun dirinya sendiri.


"Vee tidak memberi tahukan ke mana dia pergi??", tanya Gery sekali lagi


Bukan nya tidak percaya, hanya saja untuk memastikan kalau Vee memang benar benar tidak ingin orang lain tau.


"Tidak, Vee hanya bilang akan pergi ke suatu tempat, di mana tidak ada yang tau keberadaan nya, dia hanya ingin menenangkan diri satu Minggu lama nya.", jawab Papah Cesa jujur.


Gery menghela nafas, antara lega dan tidak.... tetapi.... setidak nya Vee sudah memberikan kepada Papah Cesa, kalau dirinya baik baik saja.


"Sama siapa Pah??"


Ia tau, dalam keadaan seperti ini....Velia tidak mungkin seorang diri ke sana, meskipun Vee ingin menenangkan diri dan ingin menyendiri, tetapi...bukan Vee namanya kalau hanya pergi sendiri saja, apalagi ke Bogor.


"Brisa."

__ADS_1


Akhirnya Papah Cesa mengatakan yang sejujurnya tentang kedatangan Brisa, dan Vee yang saat ini bersama dengan Brisa, yah ... hanya kepada Gery lah, Papah Cesa dapat mengatakan seperti itu.


"Brisa??"


Gery mengulangi ucapan dari Papah Cesa, antara percaya dan tidak, kalau Brisa bersama dengan Velia saat ini. Karena Gery sendiri tidak tau dan belum mendapatkan kabar kalau Brisa telah kembali.


"Iya, Brisa... Brisa sudah selesai kuliah nya, dan tinggal menunggu bulan depan wisuda saja, jadi....Brisa sengaja pulang dan menemui Velia, dia juga tidak memberitahukan kepada kedua orang tua nya, apalagi kepada Bara, dan Papah minta....kamu juga merahasiakan kepulangan Brisa....itu yang Velia pinta."


Gery mengangguk, ia lega sekarang... meskipun belum dapat mengetahui dengan jelas di mana Velia, dan belum dapat melihat keadaan nya, tetapi... dengan adanya Brisa, setidak nya.....Velia tidak kesepian di sana.


"Papah tau, alamat rumah yang ada di Bogor?? yang tempat nya jauh dari peradaban, jauh dari perkotaan..yang tempat nya sejuk dan indah, juga tenang...", tanya Gery.


Ia sudah tidak bisa menyembunyikan lagi di mana Vee berada, dan ia sangat yakin kalau Vee berada di sana, apalagi dengan Brisa, karena tempat itu sangat cocok untuk menenangkan diri, dan juga sepi.


"Rumah di Bogor??", Gery mengangguk.


"Yang mana Ger, Papah bukan hanya punya satu rumah di sana, tapi ada beberapa rumah milik Opanya Velia."


"Yang berada di pedalaman Pah, yang sangat sejuk dan pemandangan nya indah, jauh dari perkotaan.", jawab Gery langsung tanpa basa basi.


"Apa mungkin Vee ada di sana??? Ada satu rumah, yang memang seperti yang kamu sebutkan, tetapi...untuk mencapai ke sana itu membutuhkan waktu yang sangat lama, lagipula di sana benar benar jauh dari perkotaan, tapi.... pemandangan nya sangat indah...."


Papah Cesa mengingat lagi ada satu rumah di Bogor dengan pemandangan yang sangat indah, tetapi.. sangat jauh dari perkotaan, apa mungkin Velia ada di sana???


Gery tersenyum, semoga usahanya untuk menemukan Velia membuahkan hasil.


"Aku minta alamat nya Pah, aku janji....tidak akan berbuat macam macam dengan Velia, kami hanya perlu bicara dari hati ke hati, meski pun sulit.....aku akan berusaha menerima keputusan Velia apapun itu...."

__ADS_1


Gery mengiba, ia berharap Papah Cesa mau memberikan alamat nya, ia juga tidak akan neko neko, hanya ingin bertemu dengan Velia saja dan berbicara dari hati, siapa tau Velia mau merubah keputusannya.


Jujur saja, Gery masih berharap untuk bisa bersama dengan Velia, membina rumah tangga yang selama ini diidam idamkan dengan gadis pujaan hatinya, dan apapun yang terjadi...apapun keadaan nya Gery akan menerima Velia dengan ikhlas.


"Sebentar...."


Melihat Gery yang memelas, beliau juga merasa kalau kedua anak itu memang harus berbicara lagi lebih dalam, akhirnya Papah Cesa memberikan alamat rumah yang di Bogor, meski pun sebenarnya Papah Cesa ragu kalau Vee ada di sana, tetapi...tidak ada salahnya di coba.


"Ini Ger, kalau ada apa apa hubungin Papah, dan Papah harap kamu dan Vee memutuskan apa yang terbaik..."


Gery mengangguk, setelah menerima alamat dari Papah Cesa, ia pun berpamitan untuk segera pergi ke Bogor lagi, tentu saja Alex sudah menghubungi helikopter untuk segera bersiap.


Dengan wajah yang tanpa ekspresi, Gery pun segera menuju ke helikopter yang akan membawa nya langsung ke Bogor, atau lebih tepatnya ke salah satu rumah yang ia duga Velia ada di sana.


Entahlah, apakah nanti adalah pertemuan terakhir nya dengan Velia mengingat apa yang pernah di katakan oleh Bara, kalau Bara dan Vee akan menikah Minggu depan.


'Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan, jika Vee benar benar menerima pernikahannya itu?? aku enggak kuat kalau tidak bersama Vee...'


Batin Gery menjerit, mengingat kepedihan yang ia rasakan....ini bukan kah akhir dari segalanya, tetapi.. merupakan awal dari kehancuran nya.


Tidak berselang lama, helikopter yang ditumpangi oleh Gery dan juga Alex sudah tiba kembali di kota Bogor, mereka pun segera turun dan sudah di sambut oleh anak buah Gery yang ada di sana, yang sudah stanby.


"Langsung saja ke tempat itu Ger??", tanya Alex. Siapa tau Gery akan mampir dulu ke mana, atau ingin membeli sesuatu untuk Velia.


"Ya, langsung saja ke sana.", jawab Gery datar.


Ia menjawab, tetapi sama sekali tidak melihat ke arah Alex , asik dengan pandangan matanya sendiri yang tertuju pada pemandangan indah di depannya.

__ADS_1


__ADS_2