
Tidak ada yang tau apa yang terjadi di dalam sana, meskipun itu Dokter. Dokter hanya perantara tetapi yang berkuasa atas semuanya adalah Tuhan.
Begitu juga nasib Bara di dalam sana, semua Dokter sudah mengupayakan yang terbaik untuk pasien nya, tetapi mereka bukanlah penentu hidup dan mati seseorang.
Sudah tiga puluh menit, Bara berada di dalam ruang operasi. Tidak tau apakah Operasi itu akan berhasil ataupun gagal.
Sedangkan diluar ruangan, nampak keempat orang sedang menunggu dengan harap harap cemas meskipun mereka nanti akan menerima kabar terburuk sekalipun.
Raut wajah cemas sudah terlihat di kedua orangtua Bara, ketika pintu ruangan operasi itu di buka.
Bahkan Mommy Cheryy yang tadinya masih dalam dekapan Velia, langsung berdiri dan menghampiri Dokter yang sudah keluar dari ruang operasi, rasanya Mommy sudah tidak sabar untuk mendengarkan hasil selama satu jam lamanya.
Tak terkecuali, Daddy Brylli yang juga langsung mendekat... kedua orang tua Bara itu sudah berada di depan Dokter dan siap untuk mendengarkan apa saja, meskipun itu kemungkinan terburuk.
"Bagaimana putra kami Dokter.?", tanya Daddy Brylli mewakili Mommy.
Dokter itu pun tersenyum, dan senyuman itu malahan membuat Daddy dan Mommy saling pandang. Tidak semuanya kabar buruk itu disertai dengan aura wajah yang mencekam, ada juga dengan senyuman supaya keluarga tidak sok mendengar nya.
"Alhamdulillah... operasi berjalan lancar, tapi....."
"Alhamdulillah...."
Setelah mengucapkan itu, Dokter kembali menunduk, walaupun Operasi berjalan dengan lancar, tetapi... kondisi Bara belum sadar dan tidak tau apakah dia akan mengalami amnesia atau tidak, meskipun kemungkinan untuk tidak itu sangat kecil, mengingat bagaimana parahnya luka yang berada di kepala dan juga begituan keras yang mengenai otaknya.
"Tapi, saya belum bisa memastikan apakah Tuan Muda Bara bisa mengingat atau malahan amnesia. Maaf."
"Tidak!!"
Teriak Mommy Cherry, beliau sungguh kaget mendengar pernyataan dari Dokter, tidak bisa membayangkan kalau putra sulung nya akan hilang ingatan, bagaimana nanti??
"Mommy tenang dulu, itu hanya dugaan saja, belum tentu benar. Iya kan Dokter??"
"Iya..."
Dokter itu pun mengiyakan, bukan hanya sekedar untuk menghibur Mommy Cherry, tetapi sang Dokter juga belum bisa memastikan sebelum Bara sadar.
Tidak ada yang dilakukan lagi selain berdoa, Karen tim ahli Rumah Sakit sudah melakukan tugasnya dengan baik, tinggal menunggu hasilnya saja.
__ADS_1
"Saya permisi dulu, dan pasien akan segera di bawa ke ruang perawatan."
Dokter itu pun segera berlalu dari hadapan sepasang suami-istri yang masih terlihat kaget dengan kenyataan yang ada, tetapi... mereka harus optimis, kalau tidak terjadi apa apa dengan putra sulung nya.
"Mommy tenang ya?? percaya kalau Bara bisa melewati semua ini, dan jika memang kenyataannya tidak seperti yang kuat harapkan, yakinlah itu adalah yang terbaik untuk putra kita.", Mommy Cherry mengangguk.
Apa yang dikatakan oleh suami nya memang benar, dan Mommy seharusnya bersyukur kalau Bara masih bisa lolos dari maut dan selamat, meskipun nanti akan kehilangan ingatan nya, daripada Bara dinyatakan meninggal, itu malahan membuat sedih banyak orang.
Tidak ada senyuman di wajah cantik Mommy, begitu pun dengan Velia. Gadis itu juga sedari tadi masih berada di rumah sakit, padahal hari sudah mulai gelap.
Pintu ruang operasi kembali di buka, dan keluar lah beberapa perawat yang mendorong brangkar Bara.
Tidak dapat menahan tangisnya, Mommy Cheryy kembali menjatuhkan air matanya, melihat putranya dengan kondisi seperti itu.
Kepala yang diperban dan juga tangan kanan nya yang sudah dipasang gip, karena patah tulang.
Mommy dan yang lainnya, termasuk Velia mengikuti dari belakang. Mereka sudah memesan kamar perawatan khusus untuk Putra nya.
"Mommy duduk dulu. ", ujar Vee dengan segera membawa Mommy Cherry untuk duduk di sofa.
Gery juga sama, ia mengajak keluar Daddy Brylli untuk sekedar ngopi di kantin. Para laki laki memang tidak boleh cengeng dan harus tangguh, bisa menerima semua takdir yang ada meskipun itu sangat pahit.
Beberapa jam kemudian....
Keempat orang itu masih berada di dalam ruangan Bara, dan mereka pun menunggu Bara untuk sadar.
Satu jam dua jam, laki laki itu belum membuka matanya, mungkin efek obat tidur yang tadi diberikan oleh Dokter pas operasi.
Gery melihat jam di tangannya, sudah waktunya Velia untuk pulang, begitu juga dengan Mommy Cherry.
Walaupun Papah Cesa malam ini tidak pulang karena ada urusan di luar kota, tetapi Gery mempunyai tanggung jawab kepada Vee untuk membawa gadis itu pulang ke rumahnya.
Yah, mau tidak mau, sadar atau belum sadar, Vee malam ini harus pulang, terserah kalau besok mau berkunjung lagi, Gery tidak apa apa.
"Yank..kita pulang ya?? ini sudah malam.", ujar Gery pelan.
"Tapi yank??"
__ADS_1
Sebenernya ia ingin menolak, dan masih mau menemani Bara, tetapi...Vee sadar kini posisi nya sudah menjadi tunangan Gery dan tidak ingin menyakiti hati Gery.
"Besok bisa ke sini lagi, lagipula kamu belum membawa apa apa.", jawab Gery cepat.
Tidak berniat untuk melarang, tetapi juga tidak mengijinkan Velia disini apalagi sampai menginap.
"Iya Sayank, kamu pulang saja, biar Bara sana Mommy dan Daddy."
"Mommy juga istirahat saja, biar malam ini Bagas yang di sini, Daddy juga."
Bagas yang baru dapat kabar dari Gery langsung saja menuju ke Rumah Sakit, ia juga berkeinginan untuk menginap malam ini di sini.
Bagas sudah terbiasa dengan kedua orang tuanya Bara, dan menganggap seperti orangtuanya sendiri.
"Tapi nak, Bara??"
Mommy Cherry masih enggan untuk meninggalkan Bara , beliau ingin melihat putra sulung nya membuka mata, tetapi...
"Ayok Mom, biar Bagas saja, lagipula Bara tidak apa-apa, tinggal menunggu sadar saja."
Daddy Brylli mengiyakan permintaan Bagas, bukan karena diirinya lelah, tetapi kasihan dengan Mommy kalau tidak istirahat di rumah.
"Baiklah....nanti kabari ya Gas kalau Bara sadar."
"Pasti Mom"
Kedua orang tua Bara sudah pulang, kini gantian Vee dan Gery yang masih ada di ruangan Bara.
"Ayok sayank....tidak baik kamu malam malam menunggu di sini, lagian sudah ada Bagas ", ajak Gery lagi..
Sedari tadi Vee tidak mau diajak pulang, dan itu membuat Gery gemas. Ingin marah tetapi kondisi nya tidak memungkinkan.
Begitu juga dengan Vee, merasa bersalah dan juga kasihan terhadap Bara, tetapi...ia juga melihat ke arah Gery, yang sedari tadi cemburu karena diirinya tidak mau diajak pulang.
"Ya sudah, aku pulang."
Kesal Gery karena Vee tidak menjawab ataupun tidak bergerak sedikit pun juga, dan lebih memilih untuk menemani Bara malam ini.
__ADS_1