
Tiga hari di Rumah Sakit, tiga hari itu pula Bara yang menemani, sesekali Bagas, Vika dan juga Melihat ikut menemani Velia.
Tidak ada yang berbeda yang dirasakan oleh Vee terhadap Bara, rasa benci nya kepada laki laki itu masih ada, bahkan untuk menatap wajah nya saja Vee enggan untuk melakukan nya.
Selama tiga hari Vee berada di Rumah Sakit, Gery belum juga balik dari Jepang, tetapi...laki laki itu juga tidak pernah absen untuk memberikannya kabar dan juga memberikan perhatian pada Vee.
Dan selama Vee dirawat di Rumah Sakit, Gery juga tidak tau...karena Vee menyembunyikan, tidak ingin laki laki itu khawatir dan melalukan penerbangan ke Indonesia.
Lagipula, Vee juga belum siap untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, belum sanggup untuk membuat laki laki sebaik Gery itu bersedih dan hatinya hancur karena mengetahui kenyataan pahit.
Sedangkan Bara, pagi ini sudah siap untuk menemui dan menemani Vee seperti biasanya, bukan hanya Gery yang tidak tau kalau Vee di rawat, tetapi kedua orang tua mereka pun tidak tau kalau gadis cantik itu sudah tiga hari menjadi penghuni Rumah Sakit.
Dan hari ini, Vee sudah di perbolehkan pulang, tentu saja ini merupakan kabar yang menggembirakan untuk Velia., terlebih untuk Bara.
"Sayank....hari ini kita pulang, dan nanti sore kita ke Korea...aku tidak akan menunda suatu kebaikan."
Entahlah....apakah harus senang ataupun sedih, Vee bingung untuk menyikapi semua nya ini. Ia sendiri sebenarnya belum siap untuk bertemu dengan orang tua Bara apalagi orang tua Vee.
Ada rasa takut dan juga pastinya tidak ingin melihat orang tua nya kecewa, dengan apa yang sudah terjadi.
"Bisakah enggak di tunda?? aku takut..."
Vee mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya, jujur saja ia masih takut kalau orang tua nya kaget dan kecewa.
"Tidak ada yang perlu di takut kan lagi ... aku juga tidak mau menunda nya?"
"Tapi Bar??"
Velia masih ragu, pasti ini adalah aib untuk nya. Meskipun Bara mau bertanggung jawab, tetapi...bukan ini yang seharusnya ia mau.
'Astaga...apakah aku harus menikah dengan Bara??? aku memang menyayangi nya tetapi....untuk mencintai nya, aku tidak bisa...mungkin dulu memang iya... tetapi... sekarang....ah......'
"Hei...lihat aku Vee....."
Bara mendekati Velia, ia juga meminta Vee untuk melihat ke arahnya, karena Vee masih tidak mau melihat wajah nya.
__ADS_1
Memang selama tiga hari bersama dengan Bara, ia sudah tidak marah marah atau mengusir Bara.. tetapi....untuk melihat wajah nya, Vee masih belum bisa .... dan juga masih belum memaafkan laki laki itu.
Vee juga tidak mau melihat ke arah Bara, rasanya kalau ia melihat Bara, ia teringat kejadian beberapa hari yang lalu, yang membuat kehidupan nya berubah seketika.
"Sayank....percaya sama aku, aku akan membuat kamu bahagia....dan kalau kamu mau minta aku untuk meminta maaf padamu", Bara menggeleng....tangan nya meraih dagu Vee untuk diarahkan melihat wajahnya.
"Aku tidak mau, karena aku memang sengaja melakukan itu, dan aku tidak akan meminta maaf....aku benar benar mencintai kamu Vee, menikahlah dengan ku."
Vee memejamkan mata, saat wajahnya sudah diarahkan untuk melihat Bara.... rasanya ia masih belum bisa untuk sekedar melihat barang sekilas saja, rasa di dalam hatinya begitu membenci laki laki itu.
"Aku tau....tapi aku mohon, terimalah lamaran dari ku."
Bara melepaskan dagu Vee, kemudian tangan nya terulur ke bawah untuk memegang tangan Vee, dan memegang jari manis yang masih tersemat cincin pertunangan nya dengan Gery.
Dengan perlahan lahan, Bara ingin melepaskan cincin itu dan akan mengganti nya dengan cincin yang sudah di beli beberapa hari yang lalu, tetapi....
Vee yang sadar langsung menarik tangan nya, masih tidak mau untuk melepaskan cincin yang masih melekat di jari manis nya itu.
"Jangan sentuh cincin ini dengan tangan kamu!!"
"Aku akan menggantinya sayank....dengan cincin pemberian ku, karena kamu adalah milikku...."
Vee menggeleng..."Aku yang akan melepaskan nya, bukan kamu. Dan pastinya aku juga butuh waktu. Tolong mengertilah!!!"
Tidak ada air mata yang keluar dari mata Vee, rasanya sudah tidak mempan ia menangisi semua yang terjadi, dan pastinya....tidak akan pernah bisa mengembalikan seperti semula, seperti dulu lagi.
"Oke....jangan lama lama, paling tidak setelah bertemu dengan orang tua kita, kamu harus mengatakan pada Gery, dan juga melepaskan cincin nya."
Ucap Bara yang sebenarnya sudah ingin sekali menghalalkan Vee secepat nya, ia tidak mau keduluan dengan Gery, yang ia juga yakin kalau Gery akan menerima Vee apa adanya.
Vee diam, ia tidak bisa lagi berbuat apa apa.... entahlah....apa memang keputusan yang ia ambil itu adalah benar adanya.... tetapi setidaknya....ia memang harus bertemu dengan Papah Cesa, supaya hatinya lebih nyaman.
"Iya, tapi jangan bicara apapun pada Gery sebelum aku mengatakan nya...."
"Dan aku akan berada di sisi mu saat itu tiba. Kamu tidak akan menanggung nya sendiri. Sekarang, aku bantu untuk siap siap, sebentar lagi Bagas akan menjemput...."
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Velia, ia pun memilih untuk bangun dan menurunkan kakinya, kebetulan juga selang infus sudah di lepas, jadinya ia bisa bebas bergerak.
"Hati hati sayank,...."
Bara yang melihat Vee menurun kakinya, ia kemudian menghampiri Vee, dan berusaha untuk meraih tangan Velia.
"Aku bisa sendiri."
"Jangan menolak....aku tidak mau kenapa kenapa."
Bara tidak mau melepaskan tangan Vee, ia masih terus menggenggam dan membantu Velia untuk berdiri.
Kring.... kring....
Seketika Vee menghempaskan tangan Bara, karena telpon nya berbunyi..
Velia segera mengambil ponsel nya itu dan melihat siapa yang menelpon nya.
"Gery...."
Entahlah. ..sejak kejadian itu, rasanya Vee tidak begitu semangat untuk mengangkat panggilan telpon atau video dari Gery, ada rasa bersalah di dalam hati nya....karena ia tidak bisa menjaga apa yang seharusnya dipersembahkan untuk suaminya kelak, dan tentu Gery.
Dan untung saja, pagi ini Gery hanya menelpon saja, tidak melakukan panggilan video.
"Hallo....."
Dengan berat hati, Vee mengangkat telpon dari Gery...dan sebelum waktunya tiba, ia harus berusaha untuk baik baik saja di depan Gery.
"Hai sayank ... aku nanti malam pulang, dan besok pagi sudah sampai, aku kangen....dan ingin segera bertemu....lalu mengurus semua berkas pernikahan kita."
Deg
Ingin sekali Vee berteriak, dan menangis sekencang-kencangnya, tetapi... ia tidak bisa melakukan itu.
"Hallo sayank...kamu masih di sana kan??"
__ADS_1
'Apa mungkin Gery juga merasakan yang aku rasakan, dan ia juga merasa ada sesuatu yang tidak beres??'