
Malam ini, mereka sudah memutuskan untuk menginap di rumah Papah Cesa, meskipun Papah Cesa sudah berangkat ke Jepang tadi sore, tetapi...malas rasanya kalau harus bolak balik, apalagi tadi siang baru saja dari rumah Daddy.
"Bar.....", panggil Velia seperti biasanya, lidahnya masih kelu untuk mengganti panggilan yang lebih pas, tetapi...kalau di depan orang banyak beda lagi...
"Hmm...."
Bara mendongakkan wajahnya ke atas, melihat ke arah Velia yang saat ini sedang berada di samping nya dengan membawa secangkir kopi dan segelas susu.
"Apa kamu tidak keberatan jika kita tinggal di sini selama nya Bar??"
Pertanyaan Velia membuat Bara menghentikan aktivitas nya, sedari tadi ia berbalas pesan dengan Bagas, tentu saja ada sangkut pautnya dengan pekerjaan.
"Mau jawaban yang jujur atau enggak??"
Bara menepuk tempat duduk yang berada di samping nya, dan meminta Velia untuk duduk di sana.
"Jujur lah, tapi aku takut dengan jawaban itu...."
Seperti nya, tanpa di tanya... Velia sudah tau jawabannya, apalagi dengan ekspresi wajah Bara yang tiba tiba serius.
Bara memegang tangan Velia, laki laki itu mencium punggung tangan Vee dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Jujur ya, sebagai seorang laki laki, apalagi sudah beristri dan matang serta mapan seperti Mas, tentu saja...Mas ingin memiliki rumah sendiri yang nantinya akan ada Mas, kamu dan anak anak kita."
__ADS_1
"Dan mempunyai rumah sendiri itu adalah impian semua orang, bukan hanya Mas saja. Dan Mas yakin kalau kamu juga ingin seperti yang Mas pingini."
Bara terdiam sesaat, ia menarik nafasnya panjang sebelum meneruskan ucapan nya yang masih ada kelanjutannya lagi, bukan berhenti sampai disitu saja.
Sama seperti Bara, Velia juga diam. Dan apa yang ada di dalam pikiran Bara itu sama dengan apa yang ada dipikiran nya saat ini, tetapi... ia tidak mungkin untuk meninggalkan Papah Cesa, dengan alasan untuk tinggal di rumah nya sendiri.
Bukan Papah Cesa yang tidak mau ditinggal, tetapi... mamang Velia yang tidak bisa meninggalkan Papah Cesa, ia merasa sudah cukup lama meninggalkan Papahnya , karena keegoisan nya sesaat dulu.
Velia melirik ke arah Bara, kemudian melihat ke atas .. memandang langit yang malam ini cerah dan bertaburan banyak bintang.
"Tidak perlu kamu pikirkan, Mas hanya mengutarakan kebenaran nya saja, tetapi...Mas lebih senang dan lebih bahagia jika berada di samping kamu , bersama dengan kamu...dan tinggal disini seperti apa yang kamu mau, Mas tidak masalah sayank...."
Bara tau, istrinya merasa bersalah dan tidak enak. Bukannya setiap wanita yang sudah menikah harus mengikuti kemana suaminya pergi?? kemana suami membawa nya?? tetapi..untuk Bara dan Velia, Velia lah yang memutuskan dan Bara mengikuti nya.
Tidak masalah bagi Bara, seperti yang sudah dikatakan nya pada Velia, kalau ia tidak apa apa untuk tinggal bersama dengan Papah Cesa, yang memang Bara sendiri juga tau bagaiman dengan kondisi Papah mertua nya itu.
Bara menggeleng, "Jangan dipikirkan...Mas tidak apa apa, lagipula...Mas dan Papah sudah sejak kecil kenal kan, Papah sudah Mas anggap seperhatian Papah kandung Mas sendiri....tapi, Mas minta...kita sesekali menginap di rumah Mommy ya?? tidak perlu lama lama, semalam saja sudah cukup...kalau urusan Papah... nanti pas kita menginap di rumah Mommy, biar Bagas atau asisten Papah yang kesini...."
Menikahi Velia, itu berarti Bara juga sudah siap menerima apapun juga, termasuk memikirkan tentang kondisi dan keadaan Papah mertuanya, dan Bara sudah merencanakan akan meminta Bagas atau asisten Papah Cesa untuk menemani Papah, jika ia dan Velia menginap di rumahnya Mommy.
"Makasih Bar....dan maaf kalau sikap ku dulu kasar sama kamu, dan tidak sopan... aku janji, akan bersikap baik dan belajar mencintai kamu...."
Yah, Velia memang harus belajar lagi untuk mencintai Bara, karena bagaimanapun ia dan Bara sudah menikah.
__ADS_1
"Terimakasihnya sayank, Mas senang mendengarnya. Jadi, tidak perlu di pikirkan lagi, Mas juga nyaman tinggal di sini...."
Velia tidak perlu meragukan lagi ketulusan cinta dan sayang Bara padanya, hal sekecil itu saja....Bara mampu untuk membuat Velia senang.
"Makasih....besok ke rumah Mommy ya??"
Bara menatap wajah cantik Velia, ia senang...tanpa di mintai...Velia mengajak ke rumah Mommy Cherry.
"Iya sayank, Mas nurut apa katamu saja...."
"Makasih, tapi aku bobok sama Brisa ya...", ucap Velia dengan sedikit menaikkannya alisnya, ia tau kalau suaminya pasti tidak akan mengijinkan nya.
"No....kalau yang itu, Mas tidak akan mengijinkan nya sayank...enak saja...sudah cukup kamu dan Brisa tidur bareng dulu nya, dan sekarang hingga selama nya ..."
"Hei...aku kan tidak meminta ijin sama kamu, dan itu tadi bukan sebuah permintaan ijin tetapi pemberitahuan...dan kamu tidak boleh menolaknya...."
Mendengar ucapan Velia yang tidak masuk akal, membuat Bara gemas seketika...ia pun dengan cepat menarik tubuh Velia, dan juga mendaratkan ciuman manis dibibir Velia.
Tidak hanya mencium saja, Bara juga menekan tengkuk Velia dan melu_mat bibik Velia, hingga... Velia yang terbuai dengan sentuhan Bara, akhir nya... mambalas apa yang dilakukan oleh Bara.
"Manis, makasih sayank...."
Sengaja Bara menghentikan ciumannya, karena tidak ingin sesuatu di bawah sana menjadi jadi. Bara masih ingin menikmati waktu malam ini dengan Velia, tanpa buru buru membawakan ke atas ranjang dan memakannya.
__ADS_1
"I love U Velia sayank...."
Velia mengangguk, "Akan aku usahakan membalas nya...."