
Tiga hari kemudian.
Brakk
Bara menggebrak meja nya, dan seketika Bagas yang ada di depannya kaget, hingga berkas berkas yang di tangan nya jatuh berserakan di lantai.
Bara emosi, karena mendengar berita yang tidak enak di telinga nya. Hari ini, ia gagal untuk kembali ke Jakarta, karena salah satu klien penting tiba tiba menundurkan meeting nya.
Bisa saja Bara membatalkan sepihak, tetapi akan berakibat buruk bagi Perusahaan yang ada di Indonesia.
Padahal, hari ini adalah hari yang sudah di nanti nantikan oleh Bara, hari ini ia sudah mengatur rencana untuk pulang ke Jakarta dan langsung menemui Vee.
Bara juga sudah menyiapkan segala kata kata yang romantis dan manis, yang sudah ia pendam selama dua tahun lamanya.
Tetapi, rencana hanyalah rencana....ia gagal terbang hari ini, dan tetap dengan rencana awalnya, beberapa hari ini, itupun kalau tidak mundur.
"Shiiiitttt.!!!"
Lagi lagi Bara mengumpat, ia benar benar kesal dengan klien itu, terutama dengan Bagas yang tidak pecus untuk menghandel nya.
"Sabar bro!! lebih baik kita selesaikan di sini dulu, daripada lo sudah balik ke sana tetapi akhirnya balik lagi ke sini."
"Lo kalau ngomong enak, tetapi lo tidak tau bagaimana perasaan gue."
"Kalau soal perasaan, gue enggak tau Bos, tetapi...."
"Banyak omong Lo!! mendingan cepat kerjakan, biar gue enggak lama di sini."
"Gue rindu!!", sambung Bara lagi dengan lirih. Menatap foto Vee yang berada di ponsel nya, mengamati lebih intens lagi, gadis cantik yang kini sudah beranjak dewasa.
__ADS_1
"Semakin lama kamu tambah cantik saja. Aku jadi tambah suka ma kamu. Maaf kalau aku pernah buat kamu sudah dan kecewa, aku janji akan menebus kesalahanku sayank."
Cup
Seperti orang gila, Bara mencium foto Velia, ia juga berbicara sendiri dengan foto itu, yang membuat Bagas menggeleng, takut saja jika sahabatnya itu kesurupan.
Ceklek.
Seorang gadis cantik masuk ke dalam ruangan Bara, dengan membawa dua cangkir kopi yang masih mengebul, tanda kalau kopi itu baru saja di buka.
"Minum dulu, gue buatin kopi untuk kalian."
Vika, gadis cantik dengan tingkah kecerdasan yang tinggi. Diusia yang sebaya dengan Bara, ia mampu mendampingi Bara untuk mengembangkan perusahaan nya bersama dengan Bagas tentunya.
Yah, ketika anak muda itu memang sengaja di daulat Daddy Brylli untuk memimpin sebuah perusahaan yang memang benar benar dikhususkan untuk anak muda dengan tingkat kecerahan yang diatas rata rata.
Sama dengan Bagas dan Bara, Vika pun masih berstatus sebagai mahasiswi, sama dengan Bara dan Bagas tingkatan nya.
"Kalian bahas apaan sih?? tegang banget??"
Vika belum tau kalau gadis yang diincar oleh Bara sudah berada di Jakarta.
"Pacar rahasia Bara, sudah kembali."
Deg
'Pacar Rahasia??'
"Velia?? gadis yang sering lo ceritain, dan yang membuat lo seperti orang gila itu??"
__ADS_1
Bara menatap tajam ke arah Vika, ia tidak suka dengan ucapan Vika barusan, yang seakan akan menyalahkan Vee karena diirinya yang lebih fokus mencari Vee di bandingkan dengan mengurus perusahaan.
"Sorry Bar!"
Menyadari kalau ditatap tajam oleh Bara, Vika meminta maaf, ia sadar kalau Bara tidak ingin seseorang yang sudah selama ini Bara pikirkan itu di jelek jelekkan, padahal Vika sendiri tidak menjelek jelekkan Velia.
"Minum dulu lah. Gue haus.",
Bagas mengalihkan pembicaraan kedua nya, ia tau kalau selama ini Vika memendam rasa untuk Bara, tetapi....Bara sendiri tidak menyukainya.
"Laporan yang gue minta sudah beres Vik??"
Bara juga sama, ia tidak ingin terlarut dengan perasaan yang merindu, hingga membuat emosi nya tidak terkontrol.
"Sudah, gue ambilkan sebentar."
Setelah Vika keluar dari ruangan Bara, Bagas melihat ke arah Bara.
"Kenapa lo enggak coba buka hati sama dia?? dia sudah suka sama lo sejak dulu."
Bara yang kembali berada di depan laptopnya melihat ke arah Bagas, ia pun tersenyum.
"Lo sudah tau cerita tentang gue. Gue bukan orang yang mudah jatuh cinta, dengan mantan saja gue setia, tiga tahun tanpa melirik yang lainnya, dan lo juga tau cerita tentang gue dengan Vee, dua tahun gue mendam cinta sama dia, dan gue rasa ... Vee adalah jodoh yang dipersiapkan oleh Tuhan untuk gue, meskipun datang nya terlambat."
"Gue tau, gue paham. Tetapi....gue cuma takut jika apa yang sudah lo rencanakan tidak sesuai dengan kenyataan nya, dan Vee masih bersama Gery. Lo tau kan kalau Gery dan Vee saling mencintai??"
Sengaja Bagas mengucapkan seperti itu, ia ingin menyadarkan sahabat nya saja, supaya nanti tidak sakit hati jika menerima kenyataan sebenarnya.
"Kalau sampai itu terjadi, gue akan lakukan seperti apa yang Dio lakukan, gue enggak perduli kalau cara gue salah, yang penting....gue bisa mendapatkan hati Vee, dan memiliki Vee seutuhnya."
__ADS_1
Glekkkk
"Gila!!"