
Bara sudah sampai di Jerman, tentu nya ia langsung naik taxi untuk menuju ke rumah Bunda Rania, ia sudah hapal dan tidak perlu menelpon Bunda nya.
Bara juga ingin memberikan kejutan, takut saja kalau ia memberikan kabar, Vee akan di sembunyikan.
Lelah, lelah hati dan pikiran yang Bara rasakan saat ini. Ia bahkan sampai lupa ini hari apa, yang ada dipikiran nya hanyalah Velia, bagaimana caranya ia harus membawa Vee pulang ke Indonesia, dan menyetujui Perjodohan yang sudah dibatalkan.
Katakanlah kalau Bata egois, ia seperti tidak ingin hidup sendiri, dan seakan akan ingin membalas dendam dengan Meli dan juga Dio, kalau ia juga bisa bahagia dan tidak menderita.
Taxi sudah sampai di depan rumah mewah nan megah, Bara pun turun setelah membayar taxi.
Tidak ada yang berubah dengan rumah yang ada di depannya, terakhir ke sini satu tahun yang lalu, bersama sama dengan orang tua nya.
Satpam yang masih hafal, langsung membuka gerbang depan, kebetulan satpam itu juga berasal dari Indonesia, bahkan semua asisten rumah tangga nya juga berasal dari Indonesia.
"Den Bara ya??",
"Iya Pak, masih ingat saja."
"Masih lah, masuk den."
Bara mengangguk, lalu masuk ke dalam. Sebelum masuk, ia mendongakkan wajah nya ke atas, ke kamar Vee.
Yah, kamar yang menghadap ke arah jalan raya adalah kamar Vee, dan berharap gadis yang diam diam ada di dalam hatinya itu berada di rumah ini.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam,", jawab Bunda Rania.
Bunda pura pura kaget saja, ketika Bara datang.... padahal beliau sudah tau sebelum nya.
"Bara?? sama siapa??"
"Sendiri Bun."
"Duduk nak..."
__ADS_1
Bara yang lelah langsung duduk dan lagi lagi matanya melihat ke segala arah, melihat kalau kalau Vee ada di sini.
"Minum dulu, kamu pasti capek."
Dengan cepat Bara menghabiskan minuman yang ada di depannya, kemudian menanyakan kepada Bunda Rania.
"Vee ada di sini kan Bun??"
Bunda Rania mengeryitkan alisnya, pura pura bingung saja, supaya akting nya natural dan Bara tidak curiga.
"Vee?? dia ada di Amerika nak.", jawab Bunda santai.
"Tidak.... Bunda bohong kan??? Bara tau kalau Vee ada di sini, bukan di Amerika.", ucap Bara yang tidak terima dengan jawaban Bunda Rania.
"Untuk apa Bunda bohong sama kamu?? kamu sudah Bunda anggap seperti anak Bunda sendiri."
Bara terdiam, ia tidak mau berdebat dengan Bunda nya, ia yakin kalau Bunda Rania juga sudah sekongkol untuk menyembunyikan Vee.
"Maaf, tetapi Bara sudah mencari Vee di Amerika tidak ada."
"Lihatlah ke atas. Kamu bisa lihat ke kamar Vee, tidak ada dia di sana, kamu bisa tidur di sana Bar. Menginap lah di sini, kamu butuh hiburan."
Bunda Rania menepuk pundak Bara, beliau tidak tega dengan putra sahabat nya itu. Tetapi juga tidak mungkin memberi tahukan di mana Vee berada saat ini, meskipun sebenarnya sangatlah dekat.
.
.
.
.
"Ayah pulang dulu. Kamu baik baik di sini, jangan kemana mana, karena Bara ada di rumah utama."
Ayah Arga mencium kening putri sambung nya yang sudah dianggap anak kandung sendiri, Ayah Arga tidak membeda bedakan antara Vee dengan kedua adiknya, bahkan Ayah Arga lebih menyayangi Velia.
__ADS_1
"Iya Ayah, Vee akan di apartemen saja, lagipula belum masuk kuliah."
"Ada bibik di belakang, sementara kamu di temani bibik dulu, maaf...Ayah dan Bunda tidak bisa kemari sebelum Bara kembali ke Indonesia."
"Vee tau Ayah."
"Ayah pulang, kalau ada apa apa minta bantuan sama bibik.", Vee mangangguk lalu tersenyum.
Ayah Arga baru saja ingin membuka pintu Apartemen, tetapi beliau urungkan niat nya, dan berbalik badan untuk melihat Vee.
Ayah melihat Vee tidak baik baik saja, dan seperti nya menyembunyikan sesuatu.
"Ada apa?? apa kamu mau bertemu dengan Bara?? Ayah tidak masalah kalau kamu merubah keputusan mu."
Vee menggeleng, "Tidak Ayah, bahaya kalau Vee bertemu dengan Bara. Nanti malahan tidak bisa move on. Bara bukan milik Vee lagi, dan dia juga akan menikah bulan depan, Vee tidak ingin menjadi perusak hubungan mereka."
Vee memang tidak tau kalau hubungan Bara dengan Meli sudah berakhir, sengaja memang Ayah dan Bunda nya tidak memberitahu kan kepada Vee. Beliau juga yakin kalau Vee menghapus semua akses yang berhubungan dengan Bara.
"Kirain kangen dan mau bertemu.", ledek Ayah Arga.
"Enggak lah yah, Vee sudah melupakan nya."
'Taoi bohong.', batin Vee.
Sepeninggal Ayah Arga, Vee hanya diam mematung menatap ke halaman di belakang Apartemen.
Apartemen yang bukan sembarang apartemen, karena memiliki halaman dibelakang, walaupun tidak begitu luas tetapi cukup memanjakan matanya.
Tidak ada niatan Vee untuk bertemu dengan Bara, karena tekadnya sudah bulat, ia ingin melupakan Bara, walau hatinya merindu.
"Ingat Vee, Bara sudah bahagia, dia sudah memiliki Meli, dia datang kesini hanya ingin bertemu dengan kamu saja, karena kamu menghilang tiba tiba dan tidak pamit. Udah itu saja, dan jangan GeEr kamu Vee....", gumam Vee.
Kring....
Suara dering telpon membuyarkan lamunan Vee, ia melihat ke arah layar ponselnya, dan tersenyum.
__ADS_1