Perjodohan Rahasia

Perjodohan Rahasia
Akan Berubah


__ADS_3

Tidak ada semenyakitkan hari ini, ketika kamu dengan terang terangan melupakan sebuah janji yang kamu buat sendiri, dan memilih untuk tidak mengembalikan sesuatu yang sudah aku incar.


Selama kita bersama, dari kecil hingga kita Segede ini, dari kamu belum punya pacar, hingga jadian dan bertahan lama, baru kali ini hatiku benar benar sakit karena kamu.


Mulai hari ini, aku akan berubah, mencoba untuk menghapus semua kenangan tentang kita sewaktu masih kecil dulu, dan melupakan kalau kamu dan aku pernah dekat, dekat sebagai saudara.


Dan, aku juga akan menutup buku ini, menutup kisah cintaku yang hanya bertepuk sebelah tangan, apalagi aku sudah memutuskan sesuatu yang mungkin menurut ku memang sebaiknya begitu.


I hate u BARA.


Velia menutup diary berwarna pink itu, diary yang juga dari pemberian Bara. Yah, mulai hari ini, semua yang berkaitan dengan Bara akan ia simpan saja.


Gadis cantik itu mengambil pita merah, kemudian menalikan di buku diary nya, lalu memasukkan buku itu ke dalam kotak, dan ingin menguncinya rapat kotak ajaib itu, berikut dengan semua barang barang yang berhubungan dengan Bara, termasuk foto nya dengan Bara.


Setelah semua nya masuk, Vee manguncinya, kemudian membuang kunci itu ke sembarang tempat, biarlah ilang, ia pun tidak perduli.


Marah?? sudah enggak, tetapi yang jelas Vee kecewa, kecewa dengan perlakuan Bara yang menganggap enteng sebuah masalah, tanpa tau isi hati nya seperti apa.


"Ah sudahlah.... memang ini cara yang terbaik, supaya aku tidak mengharapkan nya."


Vee membaringkan tubuh nya ke atas kasur, dan memejamkan matanya, berharap begitu bangun semua nya hanyalah mimpi...


******


Pagi harinya.


"Pagi Pah."


Cup


Vee mencium pipi kanan dan kiri Papah Cesa, kemudian ia sadar kalau ada pria yang dari tadi duduk di depan Papah nya dan tersenyum manis padanya.


"Ngagetin aku aja Ger.", ucap Vee yang memang baru sadar jika sudah Gery di meja makan.


"Mau makan?? sudah lama?"


Gery menggeleng, "Aku sudah sarapan, dan juga sudah lama di sini."


"Oh... maaf. Aku sarapan dulu keburu kan??"


Vee melihat jam yang melingkar di tangannya., kemudian menatap Gery.


"Keburu, tenang saja. Makan dulu, aku tunggu."

__ADS_1


"Oke. Lah Papah , kenapa sudah selesai??"


Vee membrengut kesal, karena Papahnya sudah selesai sarapan.


"Maaf sayank, Papah buru buru, ada meeting. Kamu ditemenin Gery ya?"


Cup


Papah Cesa mencium kening Velia, kemudian melihat ke arah Gery.


"Iya Om. Gery akan nemenin Vee."


"Jaga Vee, Om percaya sama kamu."


Gery mengangguk yakin, "Pasti Om."


Tanpa di minta pun, Gery akan menjaga Velia, karena ia sudah mencintai Vee dan akan melindungi Velia.


"Papah ke kantor dulu. Oh ya, tadi pagi Bunda telpon Papah, katanya dari semalam nomer kamu tidak aktif."


Velia menepuk keningnya sendiri "Baterai habis Pah, dan lupa."


"Kebiasaan, nanti jangan lupa telpon Bunda, biar gak khawatirr. Satu lagi, Oma dan Opa nanti sore pulang, usahakan jangan kemana mana."


Papah Cesa melirik kembali ke arah Gery. "Main di rumah saja Ger, sekalian kenalan dengan Oma dan Opa nya Vee. Belum kenal kan??"


"Iya Om, Gery mau."


Seperti mendapatkan lampu hijau, Gery langsung mengangguk dan menyetujui permintaan Papah Cesa, karena ia juga belum mengenal Oma dan Opa nya Vee, hanya sebatas tau nama dan juga wajahnya saja, tetapi belum sampai ngobrol bareng.


"Berangkat sekarang?", tanya Gery yang melihat Vee sudah selesai makan nya.


"Iya, yuk Ger!!"


Gery mengangguk, tetapi ia melihat sesuatu yang masih menempel di sudut bibir Vee.


"Bentar."


Gery mengambil tisu, kemudian mengusap sisa makanan yang masih menempel di sudut bibir Vee.


"Masih belepotan."


Cup

__ADS_1


Gery mencium kening Vee, yah hanya kening saja. Tetapi itu cukup membuat Vee kaget.


"Aku sayank kamu, jangan khawatirr...aku tidak akan melampaui batas, dan tidak akan merusak kamu. Hanya kening saja, enggak apa apa kan??"


Gery merasa bersalah, karena ia lancang mencium kening Vee yang membuat gadis itu terlihat seperti tidak nyaman.


"Tidak apa apa, janji ya...hanya kening."


"Iya sayank....tapi kalau khilaf, bibir juga boleh.", goda Gery.


Dan langsung mendapat pukulan dari Vee, lalu kedua nya keluar dari rumah dengan tangan Gery menggandeng tangan Vee.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil, tetapi sebelum masuk, Vee melihat ke sekeliling rumah nya, pandangan matanya meneliti ke segala arah, berharap menemukan seseorang yang selama ini tidak pernah absen untuk menjemput nya.


Tetapi pagi ini tidak ada....


'Nyari apa kamu Vee?? sudah tau, dia juga tidak bakalan datang mengantar jemput kamu lagi. Jangan menunggu nya, apalagi berharap.'


Vee tersenyum kecut, rupanya apa yang ia katakan semalam dengan kenyataan pagi ini begitu berbeda.


"Pakai sabuk nya Vee."


Suara Gery membuyarkan lamunan nya, yah....Vee baru ingat kalau ia dari semalam sudah mati matian melupakan Bara, tetapi....


Gery melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, tidak perlu buru-buru karena waktunya masih panjang.


Disepanjang jalan, Vee sudah kembali ke mode awalnya, cerewet dan ceria. Ia bahkan menceritakan tentang Bunda Rania dan Ayah Arga kenapa bisa tinggal dan menetap di Jerman, sedangkan diirinya di Indonesia.


Yah, Velia Putri Aditya. Putri pertama dari Rania Wijaya dengan Cesa Aditya. Kehadiran Velia dulu bahkan tidak diinginkan oleh kedua orang tua kandungnya, tetapi.....seiring berjalannya waktu, Rania bisa menerima Velia, karena Vee adalah anak hasil perkosaan dari Cesa Aditya.


Bunda Rani dan Ayah Arga, beserta adik adiknya dan juga Oma, sudah dua tahun yang lalu menetap di Jerman, karena mereka harus mengurus bisnis nya di sana.


Velia juga diajak, tetapi...ia tidak mau. Di samping karena berat meninggalkan Papah Cesa, Oma dan Opa Adit, Vee juga tidak ingin meninggalkan Bara dan juga Brisa, teman nya sejak kecil.


"Kamu mau ikut ke sana??", tanya Gery seketika setelah Vee menyelesaikan cerita nya. Dan tanpa Vee tau, Gery sudah tau terlebih dahulu, tentunya dari Papah Cesa.


"Belum ada pikiran untuk meninggalkan Papah Ger, kasihan dengan Papah, apalagi kamu tau kan masa lalu Papah seperti apa?? dan aku gak mau, kondisi Papah terguncang lagi."


Gery juga sudah tau kalau Papah Cesa pernah menjadi penghuni Rumah Sakit jiwa, tetapi Gery tidak perduli dengan masa lalu keluarga Velia.


"Apapun keputusan kamu, aku selalu mendukung, dan ada aku yang selalu di samping kamu."


Velia mengangguk, ia ingin membuka pintu mobil, karena tidak terasa sudah sampai di parkiran sekolah.

__ADS_1


Tetapi....tangan Gery menahan tangan Velia yang ingin membuka pintu.


__ADS_2