
Flashback On.
Pagi harinya, Bara yang memang sudah terbiasa bangun pagi dan melakukan berbagai macam aktivitas, hari ini juga sama. Bara menggeliat, membuka matanya sedikit demi sedikit, sembari memegang kepala nya yang masih agak pening, dan melihat di sekeliling nya.
Ia benar benar tidak ingat betul tentang kejadian semalam, tentunya setelah Bara menenggak minuman beberapa gelas.
"Hmmm ternyata aku ada di apartemen ku sendiri."
Bara menghela nafas nya, dan baru mengingat kalau semalam ada Bagas yang menolong nya, entah apa jadinya kalau sahabat nya itu tidak ada di sana, mungkin Bara sudah jadi santapan wanita wanita yang haus akan kasih sayank.
Setelah sadar dirinya di mana, Bara mengambil ponsel yang berada di sakunya, tetapi.... ternyata tidak ada, dan...ia melihat diatas meja di dekat ranjang, dan ternyata ada di sana.
Tentu saja ini semua perbuatan Bagas, dan Bara patut bersyukur mendapatkan sahabat sekaligus asisten pribadi yang tanpa di suruh langsung gerak cepat.
Bara melihat jam, dan ternyata masih jam lima pagi, sebenarnya kepalanya masih sangat pusing dan males juga beranjak dari tempat tidur nya, apalagi tidak ada jadwal meeting di pagi ini, yang membuat Bara bisa bebas ke kantor agak siang an sedikit, tetapi....lagi lagi ia mengingat kalau hari ini Velia ada kuliah pagi., jadi dengan semangat empat lima Bara membuka matanya.
"Yah ...aku tidak bisa menyerah, setidaknya....aku harus dekat kembali dengan Vee, kalau aku sudah dekat ... untuk menjerat hati Vee lagi akan sangat mudah pasti nya. Ya.... seperti nya ide ku bagus juga."
Bara yang sadar dengan itu, segera turun dari ranjang dan bergegas pergi ke kamar mandi, ia ingin menemui Vee pagi ini, dan ia yakin kalau Vee akan ke kampus sendiri, tidak di jemput oleh Gery.
Laki laki tampan itu bergegas ke kamar mandi, dan tidak membutuhkan waktu lama, Bara keluar dari kamar mandi.
"Aku lebih tampan dari Gery, pastinya tidak sulit untuk menarik perhatian kami Vee, dan aku yakin....kalau sebenarnya kamu juga masih cinta sama aku."
Dengan pedenya Bara mengucapkan seperti itu, seperti nya memang sikap pede nya itu keturunan dari Daddy Brylli yang pede abis.
Bara segera keluar setelah merasa dirinya rapi dan ganteng tentunya.
Ceklek.
Laki laki tampan itu keluar, dengan setelan khas abege tanpa jas dan juga dasi, yang membuat siapa saja pasti memandang ke arah Bara, apalagi aroma parfum mahal yang melekat di dalam pakaian yang di pakai oleh Bara, sungguh ... pemandangan yang menggugah selera para perempuan perempuan di luar sana.
__ADS_1
"Jam berapa ini??"
Bagas yang baru saja membuka mata nya, kaget seketika....tatkala melihat Bara yang sudah rapi,.padahal pagi ini tidak ada jadwal ke kampus, dan juga tidak ada agenda meeting pagi ini, tetapi kenapa pagi ini Bara sudah rapi dan wangi... apalagi.... penampilan nya yang seperti abege, membuat Bagas menggelengkan kepala nya.
"Masih jam enam kurang."
"Apa?? jam enam kurang?? Lo enggak salah lihat jam kan?? dan lo juga enggak mabuk lagi kan??"
Bagas yang sudah membuka matanya, merasa kaget dan tidak percaya mendengar jawaban dari Bara.
"Gue enggak mabuk, Lo kali yang mabuk."
"Nih lihat!!! gue sudah seger, rapi dan juga tampan....", sambung Bara lagi.
"Gila!!! Lo enggak kesambet kan?? Lo enggak ingat semalam Lo ngapain??"
"Sorry sudah lupa!!"
"Mau kopi enggak?? mumpung gue lagi baik hati!!"
"Mau lah, tapi ada angin apa Lo pagi pagi sudah rapi seperti ini, wangi lagi."
Bagas yang kini sudah berada di ruang makan, dengan tangannya yang ia letakkan di atas meja, juga matanya yang sedari tadi tidak pernah lepas dari memandang wajah Bara.
"Ke kampus, mau ketemu sama Vee."
"What?? gue enggak salah dengar??"
"Kuping Lo enggak tuli kan??"
"Masih waras lah, gue sering periksa ke THT, enggak seperti Lo!!"
__ADS_1
"Hahaha.....gue memang mau ke kampus, hari ini enggak ada jadwal kuliah, yang pastinya Vee berangkat sendiri dan tidak diantar oleh Gery. Nah, gue mau jalan saja sama dia, mau sarapan bareng."
"Ckkk Lo sadar??"
"Gue sadar sesadar sadarnya, dan mulai hari ini....gue tidak akan menyerah, meskipun gue harus banyak banyak stok sabar dan juga bahan cemburu, tetapi....gue akan dekati Vee pelan-pelan, bukankah kita dulunya teman kan??"
Bagas diam, ia meminum kopi hitam sedikit demi sedikit, dan melihat ke arah Bara yang seperti nya laki laki itu yakin dengan apa yang keluar dari mulut nya.
"Dan bukannya Lo dulu ya juga pernah bilang, kalau gue harus pepet terus Vee, dan tidak akan melepaskan nya."
"Hah?? kapan gue bilang seperti itu?? yang ada gue bilang, kalau gue akan mendukung Lo untuk mendapatkan Vee kembali."
"Masa' sih??? perasaan enggak gitu deh. Tapi....enggak penting lah!! yang jelas gue tidak akan menyerah dan akan merebut hati Vee. Apapun caranya."
"Hmm terserah..gue sebagai sahabat hanya mendukung, tetapi...tentu saja yang baik baik saja, kalau yang jelek enggak lah!!"
"Thanks....gue pergi dulu, doakan semoga berhasil."
Bara meninggalkan Bagas yang masih asik dengan kopi nya, sementara ia sendiri sudah menghabiskan kopi nya.
Dnegan senyuman yang mengembang di wajahnya, Bara keluar dari apartemen untuk segera ke kampus bertemu dengan Vee. Ia bahkan tidak perduli dengan kepalanya yang masih ada sedikit pening.
Dengan kecepatan penuh, mobil yang di kemudikan oleh Bara sudah sampai di kampus, yah.... seperti apa yang ia duga, kalau berangkat lebih pagi, tentunya tidak macet.
Bara masih berada di mobil, dan tentunya di parkiran masih terlihat sepi, walaupun sudah ada beberapa yang datang, mungkin pikirannya juga sama, tidak ingin terjebak macet pagi ini.
Dan juga apa yang ada di dalam pikiran nya tadi benar, kalau pagi ini Vee tidak bersama Gery melainkan berangkat sendiri.
Yah, mobil mewah warna hitam itu baru saja masuk ke parkiran, dan tantu saja Bara sangat hafal siapa pemilik mobil warna merah, karena mobil itu adalah mobil kesayangan Vee saat SMA dulu.
Bara tersenyum, ia masih di dalam mobilnya dan hanya melihat Vee dari kaca spion saja, tentunya ia menunggu sang empu mobil keluar dan memberikan kejutan untuk Vee.
__ADS_1
Flashback Off