Perjodohan Rahasia

Perjodohan Rahasia
Sate Ayam


__ADS_3

Gery dan Velia sudah sampai di kampus, dan benar saja perjalanan hanya memakan waktu kurang dari tiga puluh menit. Telat sedikit keluar dari rumah Papah Cesa, maka akan terjebak macet yang luar biasa.


"Seharusnya kamu tidak menjemput ku yank??? kan terlalu jauh??"


"Tidak masalah, lagian kita juga tidak kena macet kan??"


"Iya sih, tapi aku kan enggak enak??"


"Enakan aja, balas dengan rasa cinta mu padaku, itu sudah cukup."


"Pasti."


Jawab Velia yakin, jelas tidak ada keraguan di dalam hatinya, ia yakin....yakin sudah untuk memilih Gery, setelah perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan, berusaha mati matian mengeluarkan nama Bara di dam hatinya.


"Mau di sini terus atau turun??"


Gery mendekat, tentunya menatap lekat lekat wajah Velia yang sangat cantik, ia takut kalau akan menjadi primadona kampus dan banyak yang naksir dengan Velia.


"Turunlah. Tapi kalau kamu lihatin aku seperti itu, mana bisa aku turun!!", kesal Vee.


Disuruh turun , tetapi malahan di tatap dengan tajam, siapa coba yang enggak panik tiba tiba, apalagi jarak pandang Gery yang begitu dekat, dan....


Cup


Gery mencium bibir manis Velia, setelah itu membuka sabuk pengaman sang tunangan nya.


"I love u sayank....jangan pernah berpinggang dariku, meskipun di luar sana banyak yang lebih ganteng dari ku, tapi..... percayalah hanya aku yang mempunyai cinta tulus dan besar untuk kamu."


"Hmmm gombal. Usah ah keluar, aku lapar."


Tangan Vee mendorong pelan wajah Gery, bukannya marah, laki laki itu malahan tersenyum senang. Ia senang saat Vee bisa tertawa bahagia, meskipun ada rasa khawatir di dalam hati Gery saat ini


Bagaimana kalau bertemu dengan Bara?? Fery yakin jika Bara sudah mendengar berita tentang kepulangan Vee, apalagi sekarang satu kampus, dan tentu saja dengan dalih pertemanan, Bara bisa bebas bertemu dengan Velia.


Lalu bagaimana dengan aku??

__ADS_1


Sungguh di dalam lubuk hati yang paling dalam, Gery tidak ingin ada perpisahan lagi, perpisahan singkat dua tahun yang lalu membuat hidup nya tidak bersemangat, meskipun akhirnya yang dinanti kembali juga, dan dengan kisah manis yang mereka rajut hingga bisa tersemat cincin pertunangan di jari masing masing.


Velia keluar, tentunya ia menyandarkan punggungnya dulu di samping mobil Gery. Ia tidak menyangka akan kembali lagi ke Jakarta dan berkuliah di kampus yang memang sudah ia damba dambakan.


Yah, cita cita Velia dan keinginan gadis itu tidak muluk muluk, tidak pula ingin kuliah ke luar negeri seperti Abege abege pada umumnya, hanya di kota kelahirannya saja ,itu sudah membuat nya senang.


Tetapi, takdir berkata lain. Satu hal membuat gadis itu putra arah, meninggalkan Indonesia, meskipun berat tetapi....harus ia jalani.


Dan takdir pula yang membawa Vee kembali dan menginjakkan kakinya di negara asal, tentunya karena sebuah insiden juga, dan pastinya....kali ini ia tidak akan pernah menyerah dan tidak menyesali semua nya.


"Aku tidak menyangka bisa berada di sini lagi."


Masih bersandar, dengan matanya yang menelisik ke segala penjuru kampus ternama di kota ini.


Memang terkesan mewah, tetapi....bukan alasan untuk Vee berada di kampus ini.


"Au..... sakit yank."


Gary sengaja mencubit Velia, biar ia tersadar kalau Vee bukan lagi melamun atau berhalusinasi, dan ini memang nyata.


"Itu tanda nya yang ada di depan mata kamu nyata yank, kamu tidak bermimpi. Ayok...cuss...aku juga laper."


Mereka yang melihat bahkan tidak percaya, seorang Gery bisa datang dan menggandeng gadis cantik yang ada di sampingnya, tentunya ini sesuatu yang langka yang tidak pernah terjadi selama dua tahun Gery kulihat di sini.


Apalagi gadis yang di samping Gery itu sangatlah cantik, dengan balutan kemeja dan juga celana panjang, Vee tampil memukau. Tentu saja riasan wajah yang tidak mencolok, yang terkesan anggun dan sangat mempesona.


"Yank....mereka ngelihatin ke kamu. Apa jangan jangan diantara mereka dulunya ada yang jadi pacar kamu??"


Gery melihat sekitar, ia pun tersenyum.... karena yang sedari tadi dilihat nya adalah teman teman satu angkatan, dan kebanyakan satu kelas nya, jadi memang wajar.


"Ngaco. Dari dulu sampai sekarang dan sampai nanti, pacar aku hanya kamu, calon istri dan istriku hanya kamu. Mereka teman teman satu angkatan, mungkin enggak menyangka kalau aku menggandeng tangan seorang gadis cantik."


"Hah??"


Vee melihat ke bawah, dan benar saja jika tangan nya bergandengan dengan tangan Gery, dan saking nyamannya hingga tidak sadar kalau bergandengan seperti truk gandeng.

__ADS_1


"Duduk yank....aku pesenin yang khas di sini dan itu makanan kesukaan kamu."


"Makanan kesukaan aku?? kan ada banyak??", gumam Vee.


Vee menurut, dengan duduk manis di kursi kantin, menunggu Gery memesan makanan, dan tentunya penasaran dengan apa yang dikatakan oleh tunangannya itu .


Lima belas menit kemudian, Gery datang dengan membawa dua buah piring lontong sate ayam, lengkap dengan gorengan dan juga lemon tea favorit Velia.


"Wah....."


Vee bertepuk tangan, ia menggeleng ketika melihat makanan sudah berada di depannya. Sudah lama memang ia menginginkan makanan itu, bahkan selama di Jerman tidak ia temukan, meskipun ketemu... tentu rasanya tidak seenak di Indonesia.


"Ini lontong sate ayam khas Madura, makanan favorit kamu, dan dulunya kita suka beli di taman kota. Dan ini sepesial banget, karena aku yang bakar sendiri."


Vee terharu, ia spontan langsung memeluk Gery, tidak perduli banyak yang melihat, tentu saja karena saking senangnya.


Jahat kalau Vee sampai melepaskan dan menyakiti laki laki sebaik Gery.


"Nanti saja pelukannya, bukannya aku enggak suka atau malu, tetapi kasihan cacing di dalam perut kamu, yang seperti nya sudah demo."


Vee mangangguk, lalu mengambil satu tusuk sate ayam yang sudah dilumuri dengan bumbu kacang khas Madura itu.


Nyam.....


"Ini, bukannya yang ada di taman itu yank??"


Tidak salah lagi, Vee hafal rasanya. Meskipun banyak penjual sate ayam Madura disepanjang jalan, tetapi lidah nya tidak bisa berbohong.


"Kamu benar, dan mereka memang sekarang berjualan di sini. Waktu aku tau ada tempat yang kosong, aku langsung saja menghubungi Cak Agus, dan meminta untuk menempati tempat kosong itu, lagian menu sate ayam juga belum ada di sini, dan Alhamdulillah....."


"Wah...aku jadi semangat kuliahnya, enggak perlu ke taman kota dan nunggu sore hari untuk menikmati sate ayam ini."


"Makanya, aku ajakin kamu ke sini, aku yakin kamu kangen dengan sate kan??"


"Hummb......"

__ADS_1


Gery mengambil tisu, mengusap sudut bibir Vee yang ada saos kacang nya, padahal ingin sekali laki laki itu mengusap dengan lidah nya, tetapi enggak mungkin dilakukan.


'Dasar otak lo mesum Ger!!', batin Gery.


__ADS_2