
Vee mengikuti apa yang diminta oleh Bara, tentu saja dengan terpaksa. Ia tidak mau Bara melakukan hal yang tidak-tidak, apalagi ini di rumahnya, dan keadaan yang sepi tidak ada kedua orang tua Bara.
Vee tau kalau Bara orang nya nekad, sekali ia berkata sudah pasti akan dilakukan nya.
"Sudah siap?? aku antarkan pulang."
Begitu bodoh nya Bara, kenapa dia juga ikut mengantarkan Velia pulang, kalau masih bawa supir. Percuma dan menghabiskan waktu dan tenaga saja.
Bisa sajakah hanya Supir saja yang mengantarkan Vee, sedang-kan Bara duduk manis di rumah.
Tetapi, Bara adalah Bara...ia pasti tidak akan diam saja, ada ada saja yang diinginkan nya dan tentu saja itu tidak bisa di tolak.
"Sudah..."
Bara tersenyum lalu meraih tangan Velia, dan menggenggam nya erat, "Aku ingin seperti ini terus, bisa??"
Bisa apanya?? status mereka tidak memungkinkan untuk Bara dan Velia saling menggenggam tangan. Kalau tidak ada perasaan apa apa mungkin masih bisa, tapi .... Bara yang masih mendamba Velia, membuat Vee harus jaga jarak dengan laki laki itu.
Tidak mendapatkan jawaban dari Velia, karena gadis itu tidak tau harus menjawab apa, menjelaskan nya pun percuma...seakan akan Bara tidak mau mendengar cerita tentang Vee dan Gery dan menganggap Vee masih sendiri dan milik nya.
"Kalau diam, aku anggap iya...dan kamu setuju dengan apa yang aku katakan. Ayok sayank...."
Pernyataan yang gila!! dapat dari mana semua itu...diam berarti iya... sungguh otak Bara memang sudah tidak waras.
Bara membuka pintu mobil untuk Velia, meskipun hanya tangan kiri saja, tetapi ...ia bisa melakukan apapun juga.
Di dalam mobil, tidak ada obrolan dari Vee, walaupun Bara dari tadi terus mengajak nya ngobrol, dan jangan lupakan tangan Bara yang masih menggenggam erat tangan Velia.
Hingga mobil yang di tumpangi Bara dan Vee sudah sampai di depan halaman rumah Papah Cesa, dan Bara pun segera turun untuk membukakan pintu Velia.
Bara pun tersenyum, karena melihat mobil Papah Cesa yang sudah berada di halaman rumah, dan itu tandanya Papah Cesa sudah pulang.
"Assalamualaikum...."
Salam Vee dan juga Bara segera bersamaan.
"Waalaikumsalam...."
__ADS_1
Jawab Papah Cesa. Papah Cesa melihat ke depan dan ternyata sudah ada Vee dan juga Bara yang baru datang.
Beliau hanya tersenyum,.... sudah tidak kaget lagi dengan kedekatan mereka berdua, dari kecil sudah bersama, makanya sampai sampai ada sebuah Perjodohan diantara mereka.
"Loh, sudah sembuh Bar??"
Tanya Papah Cesa, belum juga sempat menjenguk Bara, eh orang nya sudah nongol di sini.
"Alhamdulillah...Pah...maaf pakai tangan kiri."
Bara salim kepada Papah Cesa, tentu saja tidak sopan karena menggunakan tangan kiri, tapi apa boleh buat...tangan kanan nya tidak bisa di gerakkan.
"Tidak apa apa, maaf Papah belum bisa njenguk kamu."
"Enggak masalah Pah, Bara sudah baikan."
Bara duduk di samping Papah Cesa tetapi tidak dengan Velia, ia pergi ke dapur membuat kan kopi untuk Bara dan Papah Cesa, padahal kalau di buatkan kopi, Bara akan lebih lama di sini.
Di dalam hati ia merasa bersalah dengan Gery, bahkan laki laki itu tidak mengirimkan pesan kepada nya lagi setelah satu pesan tadi siang.
"Apakah Gery marah??? atau dia tau kalau aku bersama Bara??"
"Air nya sudah mendidih Non ...."
"Astagfirullah....."
Saking semangat melamun nya, Vee sampai tidak sadar kalau air nya sudah mendidih.
Velia buru buru mematikan kompor dan menuangkan ke gelas yang sudah ada kopi nya.
Ia bergegas ke luar dari dapur untuk menyajikan kopi serta camilan sebagai teman ngobrol.
"Kopi nya Pah, Bar....aku ke kamar ya??"
Tidak ingin terlibat dalam suatu obrolan antara Papah Cesa dan juga Bara, Velia memutuskan untuk ke kamar nya saja, lagipula ia gerah...pengen mandi dan juga ngantuk.
"Iya sayang...."
__ADS_1
Jawab Papah Cesa dan Bara kompak, yang membuat Velia mendelik tajam serasa menggelengkan kepala nya.
...***...
Papah Cesa melihat Velia sudah masuk ke dalam kamarnya, tentu ada alasan tersendiri selain ngantuk dan juga ingin mandi.
Sejak kepulangan dari Jerman, gadis cantik itu menampilkan gelagat yang sangat aneh, bukan apa apa...apalagi setelah bertemu dengan Bara, itu yang Papah Cesa tangkap selama ini.
Papah Cesa mengendarkan pandangan matanya ke arah Bara, ia ingin bertanya kepada laki laki itu, mumpung tidak ada Velia di sini.
"Kamu dengan Velia baik baik saja kan??"
Tanya Papah Besar serius, yang membuat Bara menghentikan sebentar permainan catur nya. Yah, sudah kebiasaan Bara dan Papah Cesa, ngobrol ngobrol sambil main catur.
"Baik Pah... tapi...."
'Hatiku yang tidak baik.'
Kalimat terakhir hanya dapat di ucapkan Bara di dalam hati saja, entahlah....hati nya memang tidak baik baik saja.
"Tapi apa?? Gery??"
Bara tidak menjawab, tidak mungkin juga ia menyalahkan orang lain, meski memang karena Gery , ia dan Vee hubungan nya jadi renggang. Tapi, buka nya Vee dan Gery sudah jadian sebelum Bara mencintai nya?? jadi memang di sini, Gery tidak salah.
"Kamu cemburu??", Bara mengangguk.
Papah Cesa tersenyum, ia menghentikan permainan caturnya dan memilih merebahkan punggung nya di sofa.
"Cinta memang begitu, di saat ada di samping kita, kita sia sia kan , seakan tidak perduli dan tidak butuh, tetapi saat jauh....baru lah terasa kalau dia begitu sangat berarti. Kamu seperti Papah dulu...Papah dulu juga seperti kamu, menolak perjodohan padahal Mommy kamu waktu itu sangat mencintai Papah, dan Papah malahan milih wanita yang sama sekali tidak baik baik saja....hingga Papah sadar, tetapi semuanya sudah terlambat.... Mommy kamu lebih memilih mencintai Daddy mu, yang saat itu belum ada rasa cinta.... mungkin Cherry trauma jika aku meninggalkan nya....."
Bara hanya jadi pendengar setia, memang kisah cinta nya hampir sama dengan kisah Papah Cesa dengan Mommy nya, yang akhir nya Mommy memilih Daddy Brylli.
"Bara tidak mau seperti Papah, Bara akan memperjuangkan cinta Bara...."
Papah Cesa terkekeh, beliau menepuk pundak Bara."Berjuang boleh, tetapi...kalau tidak sesuai dengan kenyataan nya, kamu harus siap dengan segala resiko nya. Karena kamu tau sendiri kan, bagaimana Gery dengan Velia??"
Bara mengangguk paham, tetapi rasa cinta nya itu mengalahkan segalanya...ia akan berusaha untuk mendapatkan hati Velia, bagaimanapun caranya.
__ADS_1
"Satu lagi, jangan ada paksaan."
Seolah olah Papah Cesa tau kalau Bara akhir akhir ini memaksa Velia.