Perjodohan Rahasia

Perjodohan Rahasia
Waktunya


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang berat untuk Vee, semalaman ia merenung diri di dalam kamar. Tidak menyangka juga, akhir nya bisa dititik ini, hari ini.


Bukan karena hari ini atau tepatnya nanti malam Bara akan melangsungkan pertunangan nya dengan Meli, tetapi....nanti siang ia juga harus meninggalkan Indonesia, meninggalkan Papah, Opa, Oma dan juga Gery. Juga meninggalkan semua kenangan manis yang selama ini bersama nya.


Satu buah koper sudah disiapkan, tas , ponsel dan semuanya keperluan nya sudah siap semua.


Gadis itu beranjak dari atas ranjang, kemudian duduk di kursi belajar nya. Ia membuka laci dan mengambil sebuah diary yang sudah lama tidak ia sentuh.


Vee membuka diary bersampul pink, menuliskan kalimat terakhir di atas kertas itu. Sungguh....hatinya ingin menjerit saat ini, namun ia menumpahkan semuanya di dalam coretan tinta hitam nya.


Menuangkan semua perasaan yang ada di dalam dirinya termasuk beberapa hari yang lalu bersama dengan Bara dan kejadian yang tidak pernah ia lupakan.


Oh ya, Vee menemukan kembali kunci diary yang dulu pernah ia buang, dan hari ini memang berniat untuk membukanya.


Setelah di rasa cukup, Vee menutup lalu memasukkan diary itu ke dalam laci. Kali ini sengaja ia tidak menguncinya.


Tok .... tok ..


Suara ketukan pintu membuat gadis itu buru buru menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya, ia yakin yang di luar adalah Papah Cesa.


Ceklek


Dan benar saja, Papah Cesa masuk ke dalam kamar Vee, ia mencoba tegar dan merelakan Vee untuk ke Jerman, walau pun beliau sendiri tau alasan sesungguhnya.


"Maaf sayank.... Papah tidak mau mengantarkan kamu ke Bandara. Papah tidak sanggup melepas kepergian kamu."


Yah, Papah Cesa lebih memilih untuk ke kantor, daripada melihat kepergian Vee.


Vee sudah bersama dengan Papah Cesa cukup lama, dan kini harus merelakan putri nya untuk tinggal di negara orang. Sungguh beliau tidak sanggup.


Vee memeluk Papah nya, "Vee tau Pah. Dan maafkan Vee. Vee janji akan pulang jika sudah lulus nanti."

__ADS_1


Papah Cesa mengeratkan pelukannya, lalu melepaskan. "Papah tunggu. Minggu depan Papah ke sana."


"Dan jaga diri kamu."


"Papah juga."


Setelah itu Papah Cesa meninggalkan Vee dan pergi ke kantor. Hatinya tidak bisa dibohongi dan tidak bisa melihat kepergian Vee.


Dirasa Papah Cesa sudah pergi, Vee melihat ke arah jam...sudah waktunya ia berangkat.


Bukan berangkat ke Bandara, tetapi ke rumah Mommy Cheryy. Bukan pula untuk mengucapkan kata perpisahan, tetapi.... memang sengaja ke sana untuk melihat keadaan dan melihat terakhir kalinya.


"Sudah siap??"


Gery ternyata sudah menunggu nya di bawah, ia kemudian mengambil koper dari tangan Vee.


"Siap.", jawab Vee lirih.


Gery memastikan sekali lagi, apa Vee masih berniat untuk ke sana.


"Yakin. Aku mau pamitan, tetapi dengan bahasa dan cara yang berbeda."


"Aku paham sayank."


Gery menggandeng tangan Vee, dengan tangan satu nya lagi menggeret koper.


"Jangan sedih gitu Ger?? aku pergi untuk kembali."


Vee melihat ke arah Gery, nampaknya laki laki itu hanya diam saja, bahkan Gery sudah memasang kacamata hitam nya.


"Bagaimana aku tidak sedih, pacarku pergi ke negara orang."

__ADS_1


"Jangan lebay. Bukannya Minggu depan kamu juga akan ke Jerman. Senyum donk, biar langkah aku mudah."


Gery menghentikan mobilnya sebentar, tentunya di pinggir jalan, ia membuka sabuk pengaman dan meraih tangan Vee.


"Sebenarnya aku berat, tetapi....jika itu bisa membuat kamu bahagia, aku ikhlas. Tetapi, satu yang aku minta dari kamu. Setia sama aku, jangan ada laki laki lain di sana. Aku menunggu mu."


Cup


Satu kecupan mendarat di kening Vee, penuh sayang dan cinta Gery berikan.


"Aku janji. Kamu juga."


"Pasti sayank."


Gery merasa lega, setidaknya satu satunya penghalang hubungan dengan Vee sudah tidak ada. Bara...iya Bara.... Bara lah yang membuat Vee meninggalkan Indonesia, tetapi Gery senang...itu tandanya Vee memang benar benar akan melupakan Bara.


Gery melajukan mobilnya lagi, dengan tangan nya yang masih memegang tangan Vee, ada kelegaan di dalam hatinya, setelah Vee mengatakan janji akan setia, semoga.


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Gery sudah sampai di depan rumah Mommy Cheryy.


"Aku turun ya??"


"Huumb, nanti aku nyusul."


Vee tersenyum, ia membuka pintu mobil dan bergegas turun.


Dari luar rumah tampak sepi , tidak ada hiasan atau apalah, karena acara nya memang diadakan di sebuah hotel.


Vee masuk ke dalam rumah, tentunya ia sudah menemukan Mommy dan Daddy Brylli yang sedang santai sembari meregangkan otot kaki nya.


Mungkin lelah, karena mengurus segala sesuatu nya. Vee pun melihat sebentar ke arah kanan, dan nampak Bara sedang duduk dengan memegang ponsel di tangan nya, dan juga terlihat sekilas memandang ke arah Vee.

__ADS_1


Yah, sejak kejadian kemarin, baik Vee maupun Bara tidak ada komunikasi, entah apa yang mereka berdua pikirkan...


__ADS_2