Perjodohan Rahasia

Perjodohan Rahasia
Kapan Boleh Pulang


__ADS_3

"Makan dulu Bar....."


Setelah kepergian Vee dan Gery, Vika duduk di samping Bara dan mengambil makanan. Ia tau kalau Bara belum kenyang karena makanan nya masih banyak.


Dan seperti yang ia bilang sama Vee tadi, kalau dirinya akan menyuapi Bara.


Bara menggeleng, rasanya nafsu makan nya sudah hilang, tidak mau makan lagi meskipun perut nya masih lapar. Entahlah...ini hanya perasaan nya saja atau memang benar benar nyata, hatinya hancur saat melihat Vee bersama dengan Gery.


Tetapi tidak ada Velia dan juga tidak dari tangan nya Vee makanan itu , Bara tidak akan makan...


Sedikit lebay, tapi nyatanya begitu. Apa karena sakit Bara seperti itu??? Tantu saja jawaban nya tidak. Dalam keadaan sehat pun Bara sudah manja, terlebih sakit seperti ini.


Dan ia akan memanfaatkan rasa sakit nya itu untuk menjerat seseorang yang sangat ia cintai.


"Lo belum kenyang Bar, lihatlah...ini masih banyak.", paksa Vika.


Vika memperlihatkan makanan yang sudah ada di tangan kepada Bara, dan tentu saja untuk menyadarkan Bara kalau memang ia baru makan sedikit....dan itu bukan porsi Bara.


Bara hanya melihat sekilas, ia masih tidak mau makan..."Gue sudah kenyang, dan jangan paksa gue."


Tentu saja Vika memaksanya, bagaimana mau sembuh kalau makan saja tidak mau.


Suara Bara sedikit meninggi, ia benar-benar tidak mood saat ini. Tidak ada nya Velia di samping nya membuat hidup nya jungkir balik, padahal Vee bukan siapa siapa nya, hanya teman rasa saudara dan seseorang yang pernah mencintai nya dulu.


"Ya sudah kalau enggak mau makan, tapi jangan begitu."


Walau pun sedikit kesal, Vika akhir nya mengalah dan menaruh kembali makan siang untuk Bara, dan menatap lekat wajah Bara, ia tau kalau Bara tidak baik baik saja, selain karena kondisi nya habis kecelakaan, tetapi hatinya juga.


"Velia lagi....kapan Lo sadarnya Bar??"


Ucap Vika yang begitu jengkel, bukan dengan Vee, tetapi pada Bara, ia tau kalau Vee tidak memberikan harapan palsu pada Bara, dan sudah berusaha untuk menghindar, tetapi. ..Bara nya saja yang masih kekeh untuk mendapatkan Vee.


Mendengar ucapan Vika, Bara yang tadi melihat ke samping, sekatika langsung menatap mata Vika...tentu saja ia tidak senang dengan ucapan Vika barusan .

__ADS_1


Sadar...karena ia sadar maka akan merebut Vee, sadar karena hanya Vee yang pantas untuk bersanding dengan nya.


"Karena gue sadar, maka gue akan mendapatkan Vee, dan membuat dia jadi milikku.", ucap Bara.


"Lo sadar??? sadar dari mana nya??? dia sudah punya pacar Bar, tunangan lebih tepatnya dan sebentar lagi mereka akan menikah.


"Baru akan menikah kan?? bukan sudah menikah...dan gue akan membuat Velia menikah dengan ku."


Ucapan Bara barusan membuat hati Vika tersentil. Percuma ia selama ini menaruh rasa kepada Bara, kalau di dalam hati Bara masih tersimpan manis nama Velia.


'Apa seperti ini yang Vee rasakan dulu??? mencintai seseorang yang tidak mencintai nya??', batin Vika.


Menatap dirinya sendiri, bukan ia bodoh atau tidak tau, tetapi...memang perasaan di dalam hati tidak bisa di bohongi. Andai saja ia bisa memilih dan menolak, ia tidak akan memilih Bara untuk masuk ke dalam hati nya, tetapi....sayang sekali....Vika sendiri tidak bisa mengubah apa pun juga


Ia juga sudah mencoba menghilangkan perasaan cinta kepada Bara, tetapi akhirnya...sama saja .. hatinya masih berpaut pada Bara.


"Sebaiknya Lo istirahat saja di sofa, atau pulang..."


Bagas yang mengetahui kedua sahabat nya tidak baik-baik saja, langsung menghampiri Vika....ia pun tau kalau Vika menyukai Bara.


"Gue pulang saja .... percuma gue di sini, lagipula Bara sudah tidak apa apa, dan kabari gue kalau ada apa apa....."


"Mau gue anterin??"


Tidak mungkin Vika menyetir dalam keadaan yang tidak baik baik saja, dan itu membuat Bagas cemas.


Sebagai sahabat yang baik, Bagas tidak mau terjadi sesuatu kepada Vika ataupun Bara, sebisa mungkin ia akan melindungi sahabat sahabat nya.


"Tidak perlu, kebetulan tadi aku tidak bawa mobil, jadi aman ...thank ya, gue naik taxi saja."


"Gue anterin sampai depan, sampai dapat taxi."


Vika melihat sekilas ke arah Bara, yang matanya sudah terpejam...ia tidak mungkin membangunkan laki laki itu hanya untuk sekedar berpamitan.

__ADS_1


Tidak ada yang perlu diharapkan lagi oleh Vika, yang nyatanya...sekuat apapun ia berjuang, Bara tidak akan luluh.


...***...


"Bangun!!! gue tau kalau Lo pura pura tidur!!"


Setelah mengantarkan Vika sampai depan, Bagas menghampiri Bara dan mengambil kursi untuk duduk di samping Bara.


Ia tau kalau Bara tidak tidur beneran, hanya pura pura dan alasannya untuk menghindar Vika.


Bagas tau semuanya, dan itu adalah salah satu cara Bara untuk tidak membuka Vika berharap pada Bara, meskipun cara Bara sedikit melukai hati Vika.


Bara membuka mata, ia lalu tersenyum kearah Bagas yang membuat Bagas geram sendiri.


"Lo tau aja kalau gue hanya pura pura."


Tanpa rasa bersalah, Bara mengucapkan itu. Kalau ada penobatan orang yang paling tega di dunia, ia adalah pemenang nya.


Bagas membantu Bara untuk duduk dan bersandar, ia tau kalau sahabat nya itu akan mengatakan sesuatu padanya.


"Lo enggak kasihan sama Vika??"


Bukan karena Bagas ada rasa sama Vika, tetapi... melihat seorang gadis yang terluka hatinya, Bagas menjadi tidak tega.


"Lo akan lebih kasihan lagi, kalau gue hanya pura pura baik dan tersenyum saat bersama nya, bukannya gue tidak mau baik dengan dia, tidak seperti itu.....gue tau Vika ada rasa sama gue, dan gue tau kalau tidak mungkin menerima Vika."


Pernyataan Bara ada benarnya juga, kalau sudah seperti itu, Bagas tidak bisa berbuat apa apa. Karena cinta tidak bisa dipaksakan, mau sebagaimana pun berusaha kalau tidak cinta dan tidak jodoh, tidak akan bisa bersama.


"Gue tau, tapi bukan seperti itu caranya. Lo bisa ngomong baik baik kan??"


Bara terdiam, ia memikirkan kata kata Bagas barusan, mungkin bagi Bara, kata kata nya tidak terlalu pedas, tetapi...ia tidak tau bagi orang lain yang mendengar nya, apalagi seorang wanita.


"Oke, gue ngaku salah. Besok gue akan minta maaf....Dan kapan gue bisa pulang, rasanya sudah tidak betah lagi di sini, tidak bebas...tidak bisa melihat Velia... hufff....."

__ADS_1


"Astaga....."


Bagas menepuk jidatnya sendiri, kumat gilanya si Bara....baru saja Velia dari sini, eh malahan sudah kangen lagi ... memang...kalau seperti ini, lebih baik Bara amnesia saja, daripada membuat orang jengkel.


__ADS_2