
Setelah makan malam, mereka berdua terlarut dalam pikiran masing masing, masih saling mendekap...bukan karena hawa dingin yang menyiksa, tetapi entahlah ....rasanya mereka tidak ingin kehilangan satu sama lain nya.
Masih di bawah cahaya bintang, Vee mengeratkan pelukannya, ia sedikit mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah tampan Gery.
Ia tau, sudah berapa banyak kesalahan yang ia perbuat selama berada di dekat Gery, dan itu sungguh membuat Vee merasa bersalah.
Tidak seharusnya laki laki sebaik Gery terluka hatinya, apalagi saat ini... dengan keadaan Bara yang mengalami kecelakaan, tidak menutup kemungkinan kalau dirinya akan dilibatkan untuk mengurus Bara, dan berada di sisi Bara.
"Kenapa yank??"
Seperti nya ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh Vee, yang membuat Gery sedikit ada yang mengganggal di hatinya.
"Tidak, kamu Ganteng!"
"Ganteng??? sudah dari dulu kalix, kemana aja yank??"
"Ke hatimu, entahlah...punya pacar ganteng tetapi aku tidak menyadari....bodoh ya aku??"
"Bukan bodoh, cuma enggak peka saja. Untuk aku enggak di gondol wanita lain."
"Ih ..nakal!! coba saja kalau berani."
Vee mencubit gemas perut Gery, kemudian laki laki itu mengadu kesakitan dan malahan memeluk tubuh Vee. Kembali, kedua mata itu saling pandang, saling mengisaratkan kekaguman masing masing.
"Aku tau apa yang ada dipikiran kamu, Bara kan??"
Lagi lagi, dengan berat hati Gery harus mengucapkan nama itu lagi. Harus bagaimana lagi??? nyatanya nama Bara selalu hadir, bahkan berusaha merusak hubungan nya.
"Maaf, tapi aku cuma takut kalau Bara benar benar ilang ingatan, dan itu semua karena aku, andai saja tadi siang aku langsung pergi pas dia datang, pastinya tidak akan seperti ini kejadian nya."
"Jangan menyalahkan diri sendiri, semua sudah Takdir, dan misal kemungkinan terburuk pun, harus kita hadapi bersama....dan itu memang sudah jalan nya Bara."
Ujar Gery memberikan pengertian, ia melihat mata Vee yang berkaca-kaca, dan Gery tau sesedih apa Vee saat ini.
"Makasih.....Kamu selalu ada untuk aku, dan jangan cemburu..."
"Aku tidak akan cemburu jika kamu dan dia bisa bersikap wajar, tetapi...."
"Jangan diterusin, aku enggak mau dengar...ancaman kamu ngeri!!! dan aku minta ijin ..mungkin ke depannya aku akan sering bertemu dengan Bara, tentunya karena urusan perusahaan...."
Gery menganggukkan kepalanya, "Aku ijinkan, asalkan kamu bisa menjaga jarak saja, kamu ingat kan kalau sudah punya tunangan, dan dalam beberapa bulan lagi kita akan menikah??"
__ADS_1
"Tenang saja, aku tidak amnesia sayank.... tetapi aku enggak nyangka saja kalau kamu bisa merampungkan skripsi mu dengan begitu cepat."
Gery tersenyum, ia mengusap lembut pipi Vee. "Dan itu semua karena kamu,. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku juga malas untuk menyelesaikan kuliah ku!!"
"Berarti kamu harus bayar aku donk hahahaha...."
"Tentu saja, semuanya akan aku berikan, setelah kamu menjadi istriku. Hartaku adalah hartamu juga."
Cup
Vee mencium pipi Gery, "Makasih....semoga dilancarkan semua nya."
"Amin..."
"Pulang sayank, besok kamu ada kuliah kan??"
Vee mengangguk, lagian ini juga sudah malam, walaupun tidak ada Papah Cesa di rumah, tetapi jama malam harus dilakukan.
...****...
Berbeda dengan Vee dan Gery, Bagas kini malahan tidak bisa tidur. Laki laki itu terjaga setelah melihat beberapa kali tangan Bara bergerak, tetapi...hanya tangan nya saja, mata nya belum.
Karena panik, Bagas memanggil Dokter jaga, dan meminta untuk memeriksa kondisi Bara. Bagas juga tidak ingin menghubungi orang tua Bara, karena takut nanti malahan kepikiran.
Ia hanya ingin memastikan dulu aja, apa yang terjadi dengan sahabat nya itu
Dokter sudah berada di ruangan Bara, dan kini sedang memeriksa pemuda ganteng dan kaya raya. Beliau pun tersenyum dan dapat bernafas dengab lega, manakala Bara sudah sadar tetapi kondisi nya masih lemah, sehingga hanya mampu menggerakkan tangan nya saja.
"Bagaimana keadaan nya Dok??"
Bagas sudah tidak sabar, ia sendiri ketar ketir dengan nasib sahabat nya itu. Tentu saja berharap yang terbaik untuk Bara.
"Alhamdulillah.... kondisi Tuan Muda tidak apa apa, mungkin sebentar lagi akan sadar sepenuhnya."
"Tetapi kenapa hanya tangan nya saja yang digerakkan?? mata nya belum terbuka Dok??"
"Itu wajah, karena sebelumnya kondisi Tuan Muda sangat lemah dan juga sempat drop, tetapi...dari segi pemeriksaan semua baik baik saja."
Lega....itu yang di rasakan oleh Bagas saat ini, paling tidak ia malam ini bisa tidur pulas setelah mendengar ucapan dari Dokter..
"Saya permisi dulu, mungkin untuk sementara hanya ini yang bisa saya lakukan, dan selanjutnya.... menunggu Tuan Muda sadar dulu, untuk bisa memeriksa kondisi nya."
__ADS_1
"Iya Dok, terimakasih."
Bagas kembali merebahkan tubuh nya di sofa panjang yang juga bisa digunakan untuk tempat tidur. Ia sendiri sudah mula mengantuk, tetapi.....
"Velia....."
"Vee sayank......"
"Shitttt!!"
Baru saja Bagas akan memejamkan mata, tiba tiba terdengar suara memanggil nama Velia, siapa lagi kalau bukan suara Bara.
Bara kembali bangun, ia senang sekaligus jengkel dengan sahabat nya itu. Entah mengapa malahan pertama yang di ingat dan dipanggil nya adalah Velia bukan diirinya ataupun orang tuanya.
Bagas lalu mendekat, memastikan kalau Bara sudah benar benar siuman atau hanya mengigau saja.
"Kenapa Lo di sini??"
Baru saja mendekat dan baru saja membuka mata, Bara sudah menjengkelkan. Baru sadar saja sudah ngomel tetapi jelas.
Tetapi, di samping ia jengkel....Bagas tersenyum senang... karena Bara mengingat nya, dan itu berarti kalau Bara tidak ilang ingatan.
"Alhamdulillah.....Lo sadar juga, Lo tau siapa gue kan??"
Dengan reflek Bagas memeluk Bara, dan itu membuat Bara risi dan langsung mendorong tubuh Bagas.
"Risih gue!! gue masih normal!!! dan gue juga belum gila, gue tau siapa Lo!! asisten sekaligus sahabat gue....Bagas."
"Oke.... berarti Lo aman aman aja sekarang.....enggak jadi ilang ingatan kan??"
"Enggak lah, mana ada Bara yang kuat, ganteng dan hot gini ilang ingatan, yang ada Velia enggak mau sama gue."
Tiba tiba ia teringat dengan Vee, mata Bara mencari kemana mana gadis cantik itu, tetapi tidak ada. "Di mana dia??"
"Velia??"
"Iya siapa lagi. Mana Velia, tega bener enggak nungguin gue!"
Terlihat raut wajah Bara yang mendung, karena berharap pas ia membuka mata, Vee ada si depannya, tetapi.....yang ada malahan Bagas.
"Pulang, lagian ini jam berapa??? Lo jangan gila dan jangan manja. Lagipula Vee dari tadi sore sudah nungguin Lo di sini, tetapi...Lo nya aja yang enggak tau."
__ADS_1