
"Lo yakin mau resign Vik??"
Bara nampak nya masih tidak rela jika Vika resign dari kantor nya, bukan karena ia ada rasa dengan Vika, tetapi....Bara juga merasa bersalah dengan kepergian Vika yang bisa terbilang mendadak tetapi aslinya tidak.
Vika mengangguk, ia sudah mantap dengan keputusan nya, selain desakan Papah nya...rasanya Vika memang sudah harus move on dari Bara....
Bara kini tidak sendiri lagi, dia sudah menikah....dan Vika tau itu, ia harus sadar diri dan juga sadar keadaan...
Kalau dulu memang Vika menolak permintaan Papah nya karena Bara, sebelumnya Bara menikah tentu nya.. Karena Vika yakin saat itu bisa meluluhkan hati Bara, dan juga bisa membuat Bara jatuh cinta padanya, meskipun Bara berulang kali menolak nya.
"Iya, gue serius...bukan nya Lo sudah tau kalau Papah menginginkan gue untuk memimpin perusahaan nya?? dan inilah saatnya gue bisa mengembangkan ilmu yang gue peroleh selama kuliah."
Sebisa mungkin Vika mengatakan alasan yang masuk akal dan logika, meskipun kenyataannya alasan itu hanya beberapa persen saja, dan sisanya yang paling banyak adalah karena hatinya, ia harus benar benar move on dari Bara, dengan sedikit demi sedikit tidak bertemu Bara setiap hari nya.
Jawaban Vika memang ada benarnya juga dan masuk akal, karena sudah berkali kali Papahnya Vika meminta seperti itu, bahan sampai meminta Bara untuk membujuk putri tunggal nya.
"Baiklah....tapi kita masih bisa bersahabat kan Vik??"
Meskipun Bara tau perasaan Vika kepada nya, tetapi...ia masih menganggap Vika adalah sahabat nya, sama seperti Bagas...
"Masih lah Bar, tentu saja kalau Lo masih mau menjadi sahabat gue..."
"Tentu saja Vik, kita masih tetap bersahabat...dan nambah satu lagi ya??"
Vika mengeryitkan alisnya, tidak tau maksud ucapan Bara.
"Istri gue, Velia...yang pastinya ia akan ikut saat kita ketemuan..."..
Vika mengangguk, dan tersenyum...ia kira siapa tadi dan ternyata adalah Velia.
"Tidak masalah, Vee adalah istri Lo dan berarti juga sahabat gue dan Bagas...santai saja Bar, malahan kalau Lo enggak bawa Velia, gue yang enggak enak...."
Kedua nya saling mengobrol , sembari menunggu orang kepercayaan Papahnya Vika yang akan membantu membawakan barang barang Vika.
...***...
"Hai...buru buru amat!!!"
"Astaga .. seperti setan saja, tiba tiba muncul dari tiba tiba hilang."
__ADS_1
"Setan kenapa ganteng seperti ini, mau ke mana?? makan siang bareng yuk??"
"Maaf, aku sudah ada janji ..."
"Dengan si tukang tikung??"
Julukan yang pantas untuk Bara, yang Ardian sendiri berikan pada suami nya Velia.
"Tukang tikung???"
Velia tersenyum, ia tidak menyangka kalau ada yang memberikan nama kepada Bara si tukang tikung, dan memang kenyataannya seperti itu, tukang tikung tunangan orang.
"Iya, benar kan??"
"Ya .. ya.. meskipun benar, tetapi dia adalah suami ku...."
"Suami??? ckk....tukang tikung Vee hahaha....."
"Sudahlah...aku malahan ikut ikutan gila karena Kakak, aku pergi dulu Kak, bye....."
Ardian hanya melihat kepergian gadis yang bukan perawan lagi. Meskipun Ardian sadar kalau Velia sudah menikah, tetapi...laki laki itu masih menyimpan perasaan yang mendalam untuk Velia.
Seperti apa yang dikatakan Velia tadi pagi kepada Bara, Velia siang ini setelah pulang dari kampus, langsung menuju ke kantor Bara. Bukan untuk bertemu dengan Bara seperti yang kebanyakan pengantin pengantin baru lakukan, tetapi....ingin bertemu dengan Vika, tidak enak juga rasanya....karena diirinya lah ..Vika akhirnya resign dari kantor Bara.
Tidak lama Velia sudah berada di depan pintu utama perusahaan Bara, dan ia kemudian turun untuk segera ke atas, karena Velia tau ruangan Vika adalah di lantai atas.
"Siang Nyonya, biar saya saja yang memarkirkan mobilnya..."
Pak Satpam yang berjaga di pintu utama, buru buru mendekati mobil Velia, ketika melihat mobil isttri dari pemilik perusahaan ini berhenti.
"Terimakasih Pak..."
Dengan sopan Velia memberikan kunci mobil dan tersenyum ke arah dua orang satpam yang saat ini tersenyum padanya dengan sangat sopan.
Setelah beramah tamah, Velia langsung saja naik ke atas, untuk segera bertemu dengan Vika.
Ting...
Lift terbuka, dan Velia bergegas untuk keluar dari kotak besi yang sudah membawanya ke lantai atas.
__ADS_1
"Nyonya Bos!!", sapa Bagas dan juga Firman bersamaan, ketika melihat Velia yang berjalan ke arah mereka.
"Haishhh... kalian ada ada saja... panggil seperti biasa saja, aku enggak enak...."
"Baiklah... tapi kalau Bara marah jangan salahkan kami Vee ..."
"Tenang saja, mana mungkin Bara akan marah...kalau berani marah ya siap siap tidur di luar....", ucap Velia yang saat ini punya senjata untuk mengancam Bara.
Tidak berdebat lagi, Veelia sedikit terhenyak dan kaget manakala tidak mendapati Vika di mejanya, Velia berpikir...kalau Vika sudah pergi...
"Telat deh!!"
"Apanya???"
"Kak Vika?? sudah pergi kan??"
Bagas menggeleng, "Belum...itu barang barang nya masih ada di sana.", tunjuk Bagas di meja Vika yang masih ada jelas di sana banyak nya barang barang Vika yang belum sama sekali diambil.
"Astaga...aku tidak melihat nya, lalu di mana??"
"Di dalam, pamitan sama Bos."
Velia mengangguk, ia melangkahkan kakinya untuk menuju ke ruangan Bara, tidak apalah kalau masuk karena di dalam tidak ada orang lain, selain Bara dan Vika..
Ceklek....
Vika kaget, karena melihat pemandangan yang menyesakkan dada. Ia tidak tau kalau akan melihat suaminya dan Vika di dalam seperti itu, kalau tau...ia tidak akan masuk dan lebih baik menunggu di luar saja.
"Sayank..."
,
"Velia..."
Bukan hanya Velia saja yang kaget, baik Vika maupun Bara juga kaget dan langsung melepaskan pelukan mereka.
Yah , permintaan Vika yang terakhir sebelum meninggalkan kantor Bara, hanya pelukan saja tidak lebih dari itu.
"Sayank, ini tidak seperti yang kamu pikirkan....."
__ADS_1
Barra yang sudah melepaskan pelukan Vika, segera menghampiri istrinya, ia tidak ingin Velia salah paham dengan diirinya saat melihat pelukan tadi.