
Bara menautkan kening nya dengan kening Velia...."Aku tidak bisa Sayank....aku mencintaimu.... menikah lah dengan ku, aku akan menerima kamu apa adanya, kalau perlu kita akan tinggalkan Indonesia..."
Ucap Gery dengan sungguh sungguh, tidak ada keraguan sedikitpun di dalam hatinya, bahkan ia sangat yakin se yakin yakin nya.
Vee menggeleng, bukannya ia tidak mau menikah dengan Gery, tetapi...andai saja keadaan nya tidak seperti ini....ia pun dengan senang hati, kapan pun Gery akan menikahi nya, ia siap.
Vee melepaskan diri dari tubuh Gery, ia pun menatap lurus ke depan....tidak mungkin dirinya yang sudah kotor dan ternoda ini menerima Gery yang baik hati....tidak......
Bahkan Gery bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari nya, yang lebih pantas dan segel, bukan barang bekas seperti dirinya.
"Maaf....."
Satu ucapan maaf lolos dari bibir Velia, ia pun menunduk dan tidak berani menatap wajah Gery.
Gery terhenyak, ucapan Velia yang hanya satu kata itu, membuat dirinya paham.
"Kenapa?"
Gery masih kekeh ingin menikahi Velia, ia tidak bisa hidup tanpa wanita cantik itu. Velia adalah hidup nya, tidak mungkin membiarkan Velia dimiliki oleh orang lain.
"Aku tidak pantas untuk kamu Ger, aku sudah kotor....aku....."
Cup
Gery mencium bibir Velia, membungkam bibir itu dengan sangat lembut, mema_gut nya perlahan, dan memejamkan mata.
Velia pun sama, ia membalas pagu_tan bibir Gery, menerkammu mata dan menikmati sentuhan sentuhan yang diberikan oleh Gery.
Yah, hanya sebatas ciuman dan berakhir luma_tan saja, tidak ada aksi sentuhan tangan yang nakal yang merambat kemana mana, karena sangat mencintai Velia dan menjaga Velia dengan sepenuh jiwa dan raganya.
Velia yang sadar, melepas pagu_tan bibir nya, ia tau ...ia salah ....ia juga tidak ingin membuat Gery menginginkan nya, hubungan itu sudah berakhir.... seiring dengan Velia menerima pernikahan dengan Bara.
"Maaf..... sebaiknya kamu lupakan aku....".
Ucap Vee lagi setelah melepaskan pagu_tan bibir nya, ia pun kembali menghadap ke depan, supaya tidak terlena dengan wajah Gery yang saat ini begitu melas...
Sungguh Vee tidak kuat, ia juga sangat mencintai laki laki yang ada di sampingnya saat ini, tetapi.. takdir berkata lain....Velia dan Gery tidak dapat bersatu..
"Bagaimana aku bisa melupakan kami Vee, bagaimana bisa?? kamu tau sendiri....sejak kita masih sekolah, aku sudah mencintai mu, aku sudah sayang dan menaruh hati padamu, jadi ...mana mungkin aku bisa melupakan mu sayank.....aku tidak bisa, tolong mengertilah...."
Wajah Gery sudah tidak terbentuk lagi, ia memelas dan berharap kalau Vee mengubah keputusan nya, keputusan sepihak yang sudah membuat Gery gula segila gilanya.
"Aku mengerti Ger, sama seperti kamu...aku pun juga tidak bisa melupakan mu, aku sangat mencintai mu....."
Gery tersenyum, ia pun meraih tangan Velia dan menggenggam nya erat....
"Menikah lah dengan ku, aku akan bicara kan semua ini dengan Bara dan keluarga nya, aku akan menerima kamu apa adanya, dan aku tidak akan mempermasalahkan apa yang sudah terjadi dengan kamu....ya??"
Kembali, Gery membujuk Velia untuk mau menikah dengan nya, soal lainnya itu urusan belakangan.
"Tidak Geer, maaf...aku tidak bisa....bukan karena aku sudah mencintai Bara, tetapi....".
Velia mengelus perut nya yang masih rata, meskipun ia tau...kalau belum ada tanda tanda kehamilan, tetapi...ia sangat yakin apa yang di tanam Bara kemarin itu akan jadi, mengingat Bara yang sudah melakukan nya berkali kali, dan juga ia dalam masa subur....jadi kemungkinan besar calon anak Bara sudah ada dan tumbuh di dalam rahimnya.
Gery paham, dengan apa yang dimaksud oleh Veelia, ia pun mengambil tangan Veli dan ikut mengusap perut Velia..
"Ini yang kamu takut kan?? kalau pun ada, aku akan menerima nya, dan menganggap anak ini adalah darah dagingku sendiri, seperti aku menyayangi kamu.....", ucap Gery...
Masih berusaha untuk membuat Velia menerima pernikahan dengan diirinya.
Vee terharu, bukan ia tidak percaya dengan Gery, ia percaya dan sangat percaya.. kalau Gery akan menyayangi anak itu seperti menyayangi dirinya sendiri. Tetapi...ada sesuatu yang membuat nya ragu...
"Kamu kenal aku sudah lama kan??", tanya Velia tiba-tiba tanpa terlebih dulu menjawab pernyataan Gery.
"Iya, aku sudah tau seluk beluk tentang kamu, dan juga ke-dua orang tua kamu, "
Yah, Gery paham betul dengan silsilah keluarga Velia, ia pun tidak masalah meskipun lahir dari kelakuan bejad nya Papah Cesa, tetapi bukan itu yang Velia maksud.
"Bukan itu, aku tau kalau apa pun keadaan keluarga ku, kamu pasti bisa menerima nya, tetapi....kamu lihat aku, aku sejak kecil tidak bahagia karena aku terpisah dari kedua orang tua kandung ku sendiri, meskipun Ayah Arga sangat menyayangi ku, tetapi...aku ingin orang tua kandung ku berkumpul dan merawat aku Sejak kecil, kamu paham kan apa maksud nya??
__ADS_1
Gery terdiam sesaat kalau masalah kenyamanan, ia pun paham jika Velia tidak nyaman bersama Ayah Arga.
"Aku paham, tetapi... bagaimana dengan aku Vee, kamu tega meninggalkan aku Sendiri...."
Air mata Velia kembali menetes, ia tidak bisa melihat Gery yang terpuruk seperti ini, tetapi...ia juga tidak mungkin menikah dengan Gery, ia sudah kotor dan tidak pantas untuk laki laki sebaik Gery..
"Aku yakin, kamu pasti akan menemukan seseorang yang bisa membahagiakan kamu, aku yakin pasti kamu juga akan bahagia, please Ger.... lepaskan aku, aku tidak pantas untuk kamu, dan aku juga tidak ingin egois...dengan mengorbankan perasaan nyawa yang sama sekali tidak bersalah, aku tidak ingin dia merasakan apa yang aku rasakan selama ini....."
Gery kembali meneteskan air mata nya, ini sungguh terlalu sulit untuk nya, apa yang dikatakan oleh Velia memang benar, tetapi bagaimana dengan diirinya?? pa bisa hidup tanpa Velia.....
Sejujurnya, Gery tidak ikhlas jika Vee menikah dengan Bara, apalagi Gery tau kalau Velia tidak mencintai Bara, mau di bawa ke mana pernikahan nya nanti.
"Ger....aku mohon, lepas kan aku... Ikhlas kan aku...."
Gery menggeleng, ia kemudian meraih tubuh Velia dan memeluk nya dengan sangat erat, sungguh ini adalah keputusan yang terberat untuk nya, melepaskan Velia untuk orang lain yang sama sekali tidak Velia cintai.
"Haruskah aku melepaskan kamu Vee??"
Tanya Gery sekali, ia meraih memeluk erat tubuh Velia, dan tidak ingin melepaskan pelukan itu.
"Aku sendiri tidak tau Ger, tetapi...keadaan yang memaksa kita untuk tidak bisa bersama.....", jawab Velia ambigu...ia sendiri tidak tau apakah keputusan yang diambil ini benar atau salah.
"Aku berat melepaskan kamu, apalagi kamu tidak bahagia..."
"Aku akan bahagia kalau kamu bahagia Ger, dan aku mohon....kamu tersenyum dan tetap jalani hidup walaupun tanpa aku nantinya....."
Velia melepaskan pelukan Gery, ia pun menghapus airmata yang menetes di pipi Gery.
Cup
Satu ciuman mendarat di bibir Gery, yang Velia sadar mungkin ini adalah untuk terakhir kalinya ia bisa melakukan itu semuanya.
"Aku mencintaimu Ger, dan aku berdoa semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dari aku, jangan benci aku.... kita masih bisa temenan, dan...kita bertemu dan menjalin cinta dengan baik baik, aku ingin kita berpisah dengan baik baik pula.", ucap Velia yang langsung berdiri....ia tidak akan sanggup untuk memandang wajah Gery yang terpuruk saat ini.
"Dan makasih.... makasih atas semua yang pernah kamu lakukan ke aku, perhatian kamu....cinta dan kasih sayang kamu....."
Ucap Velia yang sudah perlahan lahan meninggalkan Gery, ia rasa sudah cukup untuk mengakhiri semua nya, mengakhiri kisah cinta nya ke Gery.
Tetapi, semuanya nyata... meskipun berat dan masih tidak bisa menerima.... tetapi... Gery sadar, semua ada hikmah dibalik kejadian ini.
Gery menoleh, ia melihat Velia yang sudah menjauh darinya..Gery pun berlari untuk mengejar wanita yang masih ada di dalam hatinya.
"Aku anterin pulang, Brisa sudah sampai di rumah...tadi Alex yang mengantarkan....."
Velia melihat ke samping, lalu mengangguk....tidak masalah.... lagipula akses ke sana memang tidak ada kendaraan umum....
"Ayok ...tidak usah dipikirkan,. nikmati liburan kamu."
Gery mengacak rambut Velia memberikannya kekuatan untuk Vee, padahal hatinya sendiri sangat rapuh dan hancur berkeping keping.
Tidak ada jawaban, Vee hanya tersenyum dan mengangguk.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang terucap dari bibir Velia... begitu juga dengan Gery, tetapi....ini lebih baik daripada saling bersuara yang nanti nya malahan akan membuat hati mereka semakin tidak karuan saja, dan membuat luka lagi.
...****...
"Terimakasih Ger, aku turun ya....kamu langsung pulang saja, maaf tidak berniat untuk mengusir...."
"Aku tau...."
Vee mengangguk, ia pun meraih pintu untuk membuka mobil, tetapi....
Tangan Gery menarik tubuh Velia dan kembali memeluk nya, "Aku masih mencintai mu dan sangat mencintai mu, aku berharap ada keajaiban untuk hubungan kita....."
Velia membalas pelukan Gery "Aku pun sama, aku juga sangat mencintai mu....."
Cup
Gery kembali mencium dan melu_mat bibir Velia, mungkin ini adalah yang terakhir untuk mereka....
__ADS_1
Setalah beberapa menit, mereka saling melepaskan pagu_tan bibir nya, kemudian....Gery dengan sayang nya mencium kening Velia.
"I Love U sayank....jangan sedih dan nangis lagi....."
Velia mengangguk, "Love U too Ger, kamu juga harus bahagia....."
Tidak ada jawaban dari Gery, Velia tau kalau Gery masih belum menerima keputusan dan kenyataan pahit ini, tetapi... bagaimana pun kisah mereka harus berakhir... meskipun itu sangat pahit.
Velia keluar dari mobil Gery, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata nya sampai mobil Gery meninggalkan halaman rumah.
Tetapi setelah itu, tangis nya pecah..... Velia tidak sanggup lagi membendung air mata nya yang sudah ia tahan sedari tadi, sungguh....bukan seperti ini yang ia mau....
"Menangis lah Vee.... setelah ini, aku tidak ingin melihat kamu menangis lagi, aku tau...ini sangat berat untuk kamu, tetapi... percayalah... semua sudah ditentukan.... meski pun kamu berusaha keras untuk melawan, kalau Gery bukan jodohmu ...kalian tidak akan pernah bersatu."
Velia menganggap, memang sejauh apa Vee dan Gery ingin mempertahankan hubungan mereka, kalau tidak berjodoh... pastinya tidak akan bersatu.... tetapi.. bukan cara seperti ini yang mereka harapkan.
"Apa aku bisa bahagia dengan Bara??"
Tanya Velia, setelah ia melepas pelukannya....Vee mendongakkan wajah nya seakan akan mencari jawaban yang ia sendiri tidak tau pastinya.
"Jangan tanyakan padaku, tetapi... tanyakan pada hatimu sendiri...aku pun tidak tau karena aku tidak melakukan nya, kamu dan Bara yang akan mengarungi hidup bersama nanti nya, tetapi .. percaya lah...Bara tidak menyakiti mu....aku tau kalau perbuatan nya salah, tetapi .. aku juga tau kalau dia sangat mencintai kamu.... ikhlas dan percayalah....semua akan baik baik saja."
Vee menghela nafasnya, ia pun mengangguk dan mengusap air mata yang sedari tadi membasahi pipi nya.
"Bagaimana kalau kita cari makan??"
"Kamu belum makan??"
Bukan nya menjawab, Vee malahan bertanya pada Brisa.
"Belum...Alex tadi menawarkan aku makan, tetapi.... aku tidak mau, karena aku tau kalau kamu pastinya belum makan...."
"Hmmm boleh lah....keluar saja ya, aku masih ingin jalan jalan, sebelum besok kita kembali ke Jakarta...."
"Astaga aku lupa, kalau hari ini liburan kita terakhir di sini....oke...."
Brisa mengambil kunci mobil Vee, karena ia tadi yang membawa mobil nya....
"Mau kemana??"
"Warung makan yang dekat sini saja ..."
"Oke ..."
Brisa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena warung makan yang dituju tidak jauh dari rumah yang selama ini ia tempati.
Setelah menempuh waktu sepuluh menit, Brisa sudah menemukan warung makan yang katanya rasanya enak...
"Ayok ..di sini makanannya enak...."
Vee langsung keluar, dan tatapan matanya tidak sengaja bertemu dengan Ardian, laki laki yang beberapa hari yang lalu bertemu dengan nya.
Ardian pun melambaikan tangan nya, ia meminta Vee untuk bergabung dengan nya untuk makan siang yang sudah hampir sore.
"Hai....Disni saja, kebetulan aku hanya sendiri....."
Vee melihat ke arah Brisa, meminta persetujuan apakah Brisa mau bergabung dengan laki-laki yang baru saja di kenalnya, tetapi Brisa langsung mengangguk mengiyakan.
"Mau pesan apa?? di sini makanannya komplit, khas daerah sini....."
"Samain saja sama kakak, seperti nya enak.", jawab Velia yang sudah melirik makanan yang ada di piring Ardian yang sama sekali belum di makan nya.
"Boleh, ini memang khas daerah sini dan sangat enak...."
Velia dan Brisa akhirnya memesan makanan yang sana dengan yang Ardian pesan, tentu saja mereka yang tidak saja mengerti apa apa, sok sokan masuk ke warung makan yang katanya enak.
Tidak menunggu lama, makanan yang Vee pesan sudah ada di depan mata nya, ia pun dengan cepat mengambil dan menyantap nya.
"Bagaimana?? enak kan??"
__ADS_1
Veelia mengangguk, "Iya, aku baru merasakan makanan seenak ini, ini sungguh lezat...."
Ardian tersenyum, menatap wajah cantik Velia yang sedang makan itu, Velia terlihat sangat cantik dan mempesona hingga Ardian menaruh rasa pada Velia.