
Bara masih duduk sendiri di tepi pantai, walaupun panas terik matahari yang menyengat kulit nya, itu semua tidak dihiraukan oleh Bara. Ia masih tetap duduk dengan memandang air pantai yang sedang bergelombang, seakan akan mengejeknya.
Beberapa panggilan telpon dari Mommy Cherry tidak ia hiraukan, hingga ia mengirimkan sebuah pesan untuk ibuk yang melahirkan nya itu.
Tentunya, ia tau kalau Mommy nya pasti khawatirr dengan keadaan nya saat ini, dan Bara tidak mau melihat Mommy Cheryy kepikiran tentang nya.
Setalah mengirimkan kabar kalau dirinya baik baik saja, Bara teringat tentang Vee yang sedari tadi tidak bisa di hubungi.
Berbagai rasa berkecamuk di dalam hatinya, ia takut kalau Vee kenapa kenapa, apalagi jika ia teringat tentang mantan pacarnya yang tidak bisa di hubungi dan akhirnya malahan .....
"Vee kamu kenapa??"
Bara mencoba menghubungi Vee kembali, tetapi....lagi lagi...nomer Vee masih tidak aktif., begitu juga dengan nomer Gery yang juga ikut ikutan tidak bisa di hubungi.
Laki laki itu khawatir, hingga ia memutuskan untuk menyudahi aksi menyendiri nya. Bara rasa sudah cukup diirinya berteriak dan merenung, masih ada hari esok yang akan dijalani nya dengan lebih baik, walau pun kenyataan tidak semudah seperti yang ia ucapkan dan pikirkan.
"Aku harus ke rumah Vee.!"
Merasa tidak tenang karena Vee tidak bisa di hubungi, Bara memutuskan untuk ke rumah Vee saja, setidak nya ia akan tau kemana gadis itu pergi, dengan Gery ataupun tidak.
Bara melangkahkan kakinya, dan sekali lagi....ia melempar sebuah batu ke arah pantai, dengan harapan....ia juga akan membuang semua kenangan manis dan pahitnya bersama Meli.
"Kamu bisa Bar!!", ucap Bara menyemangati dirinya sendiri.
Laki laki itu menghampiri mobil nya yang ia parkir kan sembarangan, dan bergegas untuk ke rumah Vee, karena ia merasa ada sesuatu yang tidak beres yang telah terjadi.
Dengan kecepatan penuh, Bara mengemudikan mobil nya, ia juga tidak perduli dengan orang orang yang berteriak bahkan mengumpat nya.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian, Bara sudah sampai di depan rumah Vee. Ia melihat mobil Papah Cesa yang sudah terparkir di halaman rumah, dan Bara yakin kalau Vee juga ada di rumah.
"Assalamualaikum...."
Ucap salam Bara, sebelum masuk ke dalam rumah, kebetulan juga pintunya tidak tertutup sehingga ia bisa langsung masuk.
Bukannya tidak sopan, tetapi sudah terbiasa dan juga ia melihat Papah Cesa yang duduk merenung di ruang tengah seperti memikirkan sesuatu.
"Waalaikumsalam.", jawab Papah Cesa ketika telinga nya mendengar ucapan salam dari seseorang.
Papah Cesa menoleh sebentar, ia ingin melihat siapa yang datang.
Bukannya marah, karena Bara lah penyebab putrinya pergi, tetapi.... Papah Cesa kaget, mengapa Bara bisa sampai di rumah ini, padahal beberapa jam lagi ia akan melangsungkan acara pertunangan nya.
Papah Cesa sendiri belum mengetahui kejadian yang sebenarnya, karena Mommy dan Daddy Brylli belum sempat cerita, masih fokus dengan pembatalan acaranya.
Papah Cesa menoleh ke arah Bara, beliau melihat kedua mata Bara yang terlihat besar dan juga merah, Papah Cesa tau kalau Bara baru saja menangis. Tetapi kenapa??
'Kenapa kamu menangis Bar?? apa kamu sudah tau kalau Vee pergi??', batin Papah Cesa yang menduga duga., namun ia belum berani untuk menanyakan nya.
"Papah kenapa?? ada masalah di kantor??"
'Salah dugaan ku, Bara belum tau kalau Vee pergi.'
"Tidak, hanya sedikit pusing saja.", jawab Papah Cesa sedikit berbohong.
Memang beliau pusing, tetapi lebih tepatnya pusing karena Vee meninggalkan nya untuk waktu yang cukup lama.
__ADS_1
"Sudah minum obat??", Papah Cesa mengangguk, walau sejujurnya belum.
"Kok sepi Pah , Vee kemana??"
Bara melihat ke segala arah, biasanya kalau Papah Cesa pulang dan duduk di sofa, Vee langsung nemplok seperti cicak, dan bermanja manja dengan Papahnya, tetapi.....
"Apa Vee belum pulang??"
Tanya Bara lagi, karena Papah Cesa hanya diam saja, tidak menjawab.
Sedangkan Papah Cesa sendiri bingung, ia tidak tau harus memulai cerita ini dari mana, tetapi tidak mungkin ia tidak memberi tahukan kepada Bara. Cepat atau lambat, Bara pastinya akan tau.
"Lah kamu kenapa malahan kesini?? bukannya persiapan??"
Papah Cesa mencoba memutar alur, beliau kini yang bertanya kepada Bara dengan harapan sedikit mengulur waktunya memberi tahu tentang Vee kepada Bara.
"Tidak ada yang perlu di persiapkan lagi Pah. Semua sudah berakhir."
Jawab Bara dengan menyandarkan punggungnya di sofa, dan menatap langit langit atap rumah Vee.
Bara memang sudah terbiasa bercerita dengan Papah Cesa, ataupun Papi Galen, karena sudah akrab sejak kecil.
"Maksud kamu??"
Papah Cesa sedikit mengangkat alisnya, beliau juga memandang wajah Bara yang tidak seperti biasanya, dan kali ini sangat kacau, seperti diirinya.
Bara mengambil nafas panjang, Papah Cesa adalah orang pertama yang Bara kasih tau tentang kejadian yang baru saja dialaminya, tentu nya dipikiran Bara sembari menunggu kedatangan Vee , karena Bara tau nya Vee tidak ada di rumah, dan masih jalan dengan Gery.
__ADS_1