
Bara memejamkan matanya, rasa yang dulu pernah ia rasakan saat ini ada lagi di dalam hatinya. Ya, dua tahun lamanya ia memendam rindu terhadap gadis cantik yang ada di depannya.
Bara menye_sap lembut bibir Velia, dan mengobrak abrik semua yang ada di bibir manis nan candu itu, namun sayang sekali....Vee hanya diam saja, tidak mambalas bahkan berusaha untuk lari dari kungkungan Bara.
Merasa tidak ada balasan dari Vee, Bara menelan tengkuk Vee dan memperdalam ciuman nya, bahkan salah satu tangan Bara sudah mulai nakal dan ingin membuka kancing baju yang di pakai Vee.
Bara tidak perduli, bahkan jika ia harus melakukan adegan yang tidak seharusnya di lakukan pun, Bara siapa bertanggung jawab sepenuhnya.
Vee yang merasa Bara akan melakukan hal yang tidak diinginkan, langsung saja menggigit bibir Bara sekatika itu juga, dan setelah terlepas Vee juga menginjak kaki Bara.
"Au.....sakit yank....", desis Bara yang merasakan perih di bibirnya dan juga sakit di kaki.
Tetapi Vee tidak perduli, ia segera mengambil tas dan meninggalkan Bara di ruangan meeting seorang diri.
"Vee .. sayank....calon istri ku, tunggu!!!"
"Arhhhhhh......"
Bara ingin mengejar Vee, tetapi sayang sekali kaki nya yang tadi terinjak Vee sangat sakit dan tidak bisa untuk berlari cepat.
"Awas kamu sayank!!"
Sedangkan Vee yang sudah keluar dari ruangan meeting, segera melangkahkan kakinya untuk menuju ke depan kantor BM Group.
Vee tidak lari, bahkan gadis cantik itu masih sempat untuk merapikan rambut dan juga pakaian nya yang sudah acak acakan, ia tau kalau Bara tidak akan mungkin mengejar nya.
"Ya ampun....aku lupa untuk menghubungi Gery.."
Saking paniknya, ia bahkan belum menghubungi Gery kalau sudah selesai dan minta jemput.
Dengan segera gadis itu mangambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Gery dan menunggu nya di lobi kantor.
Bosan, tentu saja... tetapi ini adalah salahnya sendiri yang telat untuk mengabari Gery, dan ternyata sang tunangan masih ada meeting dengan klien.
Mau pulang sendiri, tidak enak karena Vee sudah janji akan menunggu Gery, lagian ia juga merasa bersalah karena sudah bersama Bara dan apa yang telah terjadi padanya tadi.
__ADS_1
Bukannya Vee ingin menyembunyikan semua nya, tetapi...jelas kalau ia cerita dengan Gery tentang kejadian tadi, Gery akan marah besar, bukan marah terhadap nya tetapi dengan Bara.
"Ah.... rumit benar nasibku... apa aku enggak bisa tenang sebentar saja??", gumam Vee.
"Bagaimana kalau minum coklat anget, pasti pikiran kamu adem!!"
Vee mendongakkan wajahnya, dan melihat siapa yang menawarkan untuk minum coklat anget bersama.
"Kak Vika!!", seru Vee dengan mengembangkan senyumannya.
"Gimana?? mau?? kebetulan aku lagi free..jadi bisa temanin kamu. Nunggu Gery kan???"
"Iya Kak, tapi sayang nya Gery masih ada meeting."
"Wah pas kalau begitu.. Kita ke cafe sebelah kantor ini saja, ada cokelat anget dan beberapa camilan, lumayanlah teman ngobrol selagi nunggu Gery."
"Baiklah."
Tanpa berpikir, Vee menyetujui ucapan Vika. Ia juga haus dan ingin makan camilan sebagai pengusir rasa kesalnya terhadap Bara.
"Bara tidak akan menyusul, kaki nya sakit dan sedang diobati oleh Bagas. ", ujar Vika dengan tersenyum.
Gadis itu seakan akan tau apa yang kini di rasakan oleh Vee dan juga apa yang dikhawatirkan oleh Velia.
"Kakak seperti cenayang saja, atau jangan jangan kakak juga tau kalau-----"
Vika tertawa, bukan hanya tersenyum saja dan ia tau semua yang terjadi meskipun tidak melihat secara langsung, tetapi bukti kuat sudah mengatakan yang sebenarnya.
"Siapa yang enggak tau kalau bibir Bata bis bengkak dan berdarah dan juga kakinya yang memar. Kamu sadis Vee??"
"Astaga Kak!!! aku jadi malu!!"
"Tidak usah malu, kamu teman dekatnya Bara, berarti teman aku juga."
Vee mangangguk, sejujurnya ia malu karena ketahuan Habsi berciuman dengan Bara. Ralat...bukan berciuman...tetapi lebih tepatnya Bara yang mencium nya, dan ia sama sekali tidak membalas ciuman Bara, apalagi menikmati nya.
__ADS_1
"Tidak usah malu, aku tau kalau kamu menolak ciuman itu. Pesan apa??"
Mereka berdua sudah sampai di cafe, dan segera Vika menawarkan menu untuk Velia, tentunya sebelum pelayan datang.
"Samain saja sama punya kakak, aku belum begitu tau mana yang enak di sini."
"Oke...."
Vika memanggil pelayan, dan memesan makanan dan minuman yang spesial dan tentu saja rasanya enak, karena cafe ini adalah langganan Vika, jika malas untuk makan siang di tempat yang jauh dari kantor.
Sembari menunggu pesanan, mereka berdua terlibat obrolan dari hati ke hati, bisa di bilang serius tetapi juga bisa dikatakan enggak.
"Bagaimanapun hubungan kamu dengan Gery??? aku dengar kalian sudah bertunangan dan akan segera menikah setelah Gery lulus??"
"Alhamdulillah...sejauh ini kami baik baik saja Kak, dan iya... seperti yang kakak dengar...aku dan Gery akan segera menikah, tentu saja kalau Gery sudah lulus, ya mungkin dalam beberapa bulan ini."
Jawaban dari Vee membuat perasaan Vika jadi tidak kebetulan, entahlah...antara senang dan juga tidak. Ia juga tidak tau kalau Vee jadi menikah dengan Gery, Bara akan menjadi miliknya, gadis itu tidak tau pastinya, karena yang ia tau kalau Bara sangat mencintai Vee, dan sosok Vee tidak dapat digantikan oleh yang lainnya., termasuk diirinya yang sudah lama menjabat sebagai sahabat Bara.
Atau, Vika akan ikut bersedih karena sudah sangat di pastikan kalau Bata akan terpukul bahkan sok dan tidak terima dengan kenyataan yang ada. Entahlah... berita yang baru saja di dengar Vika, membuat nya semakin pusing saja
Dan seperti nya yang butuh coklat hangat sebagai pemenang itu adalah Vika, bukan Velia.
"Aku ikut senang...dan aku dengar juga Gery sudah hampir selesai bimbingan skripsi nya, dia begitu semangat untuk segera menikahimu."
"Yah, begitu lah Kak, padahal aku minta nya setelah aku lulus saja, tetapi...Gery tidak mau."
"Ya jelas saja tidak mau, banyak laki laki yang ingin sama kamu, jadi ... sebagai tunangan...Gery pastinya sangat khawatirr.."
Vee mengangguk, ia segera menikmati cokelat anget yang baru saja di antarkan oleh pelayan.
Dan ternyata benar, setelah meminum coklat anget.... pikiran Vee sedikit lebih tenang.
Tapi apa karena minumannya, atau karena ada Vika sebagai teman ngobrol nya??? mungkin bisa jadi dua dua nya.
"Lalu bagaimana dengan Bara??"
__ADS_1
Satu pertanyaan lagi lolos dari mulut Vika, dan tentunya membuat Vee jadi menatap Vika dengan wajah yang bingung.