
Melihat anggukan kepala dari Velia, Bara langsung memeluk tubuh Velia dengan sangat erat...ia begitu senang dan tidak akan membuat Velia kecewa.
"Aku mencintaimu sayank, dan aku berharap...kamu juga akan mencintai aku. Dulu kamu sudah pernah mencintai aku, dan pastinya untuk kembali mencintai aku lagi, itu tidak lah sulit.....".
Tidak ada jawaban dari Velia, tetapi .. tangan Velia membalas pelukan Bara, dan lagi lagi ..Bara tersenyum dan merasa bahagia, meskipun Velia tidak menjawab... tetapi...dengan bahasa tubuh nya, Bara yakin kalau Velia akan melakukan seperti apa yang ia harapkan.
"Masuk sayank...kita tunggu Brisa dan Bagas di dalam...."
Velia mengangguk, ia pun masuk ke dalam. Tetapi....Vee melotot kan matanya manakala melihat Bara yang sudah melingkarkan tangannya di pinggang nya.
Tidak bisa protes, karena Bara semakin erat saja .."Belajar sayank, supaya kamu terbiasa...."
Ada ada saja yang dikatakan oleh Bara, tentu nya laki laki itu banyak alasannya, yang membuat Velia akhir nya bungkam dan tidak berkutik lagi.
Sesampainya di dalam, Velia menyalakan televisi, sebenarnya matanya lelah, tetapi ia juga lapar.
Hingga....
Yang ditunggu tunggu akhir nya datang, Brisa dan Bagas membawa begitu banyak makanan yang ada di dalam tas kresek.
"Ckk...lama sekali Gas, apa enggak kasihan sama calon istri ku?? dan juga anak anak aku yang ada di dalam perut??"
"Lebay!!"
Bukan Bagas yang membalas tetapi Brisa. Gadis cantik itu sudah terbiasa dengan perlakuan saudara kembar nya yang semena mena, sedangkan Bagas tidak berkomentar....
"Sudah, makan ...aku lapar."
Velia mengambil bungkusan nasi, dan menaruhnya di piring Bara terlebih dulu. Ia sudah seperti istri nya Bara saja, yang melayani suami nya saat makan.
"Makasih sayank, Mas sayank kamu banyak banyak deh.."
"Cihhh Mas....Mas sek@rat?? hahahaha....."
Ledek Brisa, sangat lucu ketika melihat dan mendengar Bara mengucapkan itu, lebay dan gimana...ah....rasanya tidak tahan kalau tidak tertawa.
"Diem Lo Ca!!"
Brisa masih saja tertawa, ia sama sekali tidak takut dengan tatapan tajam dari Bara.
...***...
Setelah makan malam, Velia dan Brisa masuk ke dalam kamar nya, sedangkan Bagas masuk ke dalam kamar tamu yang ada di bawah, begitu juga dengan Bara yang menempati kamar paling ujung di bawah.
"Bagaimana Bara??"
__ADS_1
Tanya Brisa, ia mendadak curiga dengan perlakuan Bara
"Gimana apanya???"
Velia sudah merebahkan tubuh nya di samping Brisa, gadis cantik itu sudah lelah karena seharian ini pergi ke mana mana yang tidak begitu jelas.
"Kamu sama Bara, aku lihat abangku itu mendadak jadi romantis.."
Velia menggeleng, "Aku tadi bertemu dengan Gery lagi..."
Tidak menjawab pertanyaan yang Brisa berikan, Velia malahan bercerita tentang Gery .
"What?? Gery ke sini.??"
Heboh, tentu saja. Apalagi ada Bara di rumah ini. Dan bisa bisanya Gery malahan sengaja datang...apa enggak nyari mati??
"Iya, tadi sore ...", jawab Velia tidak semangat.
Brisa beralih posisi, ia yang tadi menatap langit langit atas, kini beralih ke samping...tentu saja melihat ke arah Velia.
"Kamu enggak apa apa??"
Bukan nya tanya tentang Gery, apakah Gery di pukul Bara, atau kedua nya terlibat adu jotos, Brisa malahan menanyakan kondisi Velia.
Jelas saja, karena Velia nampak sedih saat membahas Gery.
"Aku tau, tidak usah di teruskan lagi, dan aku paham...aku yakin kalau kamu bisa menerima semuanya ini, terlepas dari kelakuan Bara yang salah, Bara sebenarnya sangat mencintai kamu, bahkan yang aku lihat dah aku rasakan...rasa cinta nya jauh lebih besar daripada rasa cinta nya Bara ke Meli dulunya."
Velia tersenyum, ia mengangguk...selain pasrah. Calon istri dari Bara Buminegara itu juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Brisa.
"Tidur kakak ipar ku yang cantik...besok kita pulang, Bara mau nya pagi pagi sekali...."
"Iya, tadi dia juga sudah bilang sama aku...."
Kedua wanita cantik itu menarik selimut, tanpa memikirkan apapun juga Velia terlelap dalam tidur nya malam ini.
...****...
Sedangkan Bara, laki laki itu tidak bisa tidur...ia gelisah ke sana ke mari apalagi di luar hujan dan cuaca begitu dingin.
Terbayang di benak nya, saat ini ingin membawa Velia dan memeluknya. Dan tiba tiba ular nya juga terbangun, bukan karena kedinginan saja, tetapi juga karena menginginkan sesuatu.
Benar yang dikatakan orang orang, kalau sekali melakukan itu, maka tidak akan pernah berhenti untuk tidak melakukan nya lagi, dan tentu saja Bara ingin mengulang kembali adegan panas bersama Velia, apalagi cuaca nya mendukung.
"Gila!! aku benar benar candu dengan tubuh kamu Vee ..."
__ADS_1
Bara memutuskan untuk keluar dari kamar nya, ia melihat situasi di luar sana, dan juga haus ..
Berharap Velia turun ke bawah, dan Bara bisa langsung menerkam nya.
Pucuk dicinta, Vee yang tengah malam ini mendadak haus. Ia melihat di samping tempat tidur nya tidak ada air putih, padahal ia sebelum tidur selalu menyiapkan nya dulu, tetapi malam ini kenapa tidak....
"Ah kenapa aku sampai lupa??"
Karena haus banget dan tidak tertahankan , Velia memutuskan untuk keluar dari kamar, membuka pintu secara perlahan lahan supaya tidak menganggu tidur Brisa.
Tidak ada rasa curiga sedikitpun di hati Velia, dan juga pikiran nya tidak sampai yang iya iya, Velia menuruni anak tangga satu persatu.
Semua nampak terang, karena memang sengaja tidak mematikan nya
Hingga....
Velia sudah sampai di dapur, ia segera mengambil gelas dan membuka kulkas. Sudah menjadi kebiasaan nya minum minuman dingin...
Sedangkan Bara, ia tersenyum penuh kemenangan..tanpa susah payah, Velia sudah sampai di bawah dengan sendirinya.
Dan Velia juga tidak menyadari adanya Bara di sana , hingga....
Grepp..
"Ah....to-----."
"Ini aku yank, jangan teriak....", ucap Bara yang sudah menutup mulut Vee dan juga memeluk Velia dari belakang.
"Bara .. Lepaskan!!"
Velia meronta, rasanya malam ini ia tidak aman, karena sudah terlihat dari gelagat Bara yang menginginkan sesuatu.
"Jangan teriak sayank.....aku menginginkan kamu malam ini...", bisik Bara tanpa basa basi lagi.
"Tidak Bar, kita belum menikah...", tolak Velia.
"Kita akan segera menikah, kalau malam ini juga aku akan membawa penghulu ke sini..."
"Gila!!"
"Ah ....."
Bara sudah menggendong Velia, dan membawa wanita cantik itu masuk ke dalam kamar nya.
Tentu saja, Velia berusaha keras untuk menolaknya, ia pun meronta... tetapi...sayang sekali...kalah kuat dengan Bara, dan lagi Velia tidak mungkin berteriak...
__ADS_1
Bara membuka kamar nya, ia seger membaringkan tubuh Velia ke atas ranjang, lalu mengunci pintu kamar nya . Dan untung saja, kamar yang di tempati Bata berada di pojok sehingga sedikit lebih aman ...