
"Vee tidak pulang, dia akan pulang empat tahun lagi."
Deg
Papah Cesa dengan berat hati akhirnya memberitahukan kepada Bara, beliau tidak mau memendam cerita ini, karena pastinya Bara akan tau.
"Maksud Papah??"
Bara menggeleng, tidak pulang dan akan pulang empat tahun??? perasaan nya sudah tidak karuan karuan, belum belum ia sudah parno duluan.
"Kamu yang sabar!!"
Papah Cesa menepuk pundak Bara, ia melihat Bara bersedih kembali.
"Bara tidak tau apa yang Papah maksud?? apa yang sebenernya terjadi Pah??"
Ini saatnya, laki laki yang tidak muda lagi mengatakan yang sebenarnya, mau tidak mau beliau harus jujur.
"Vee melanjutkan kuliah nya di negara orang."
Jawab Papah Cesa singkat dulu, beliau ingin melihat bagaimana reaksi Bara, dan Papah Cesa juga tidak akan mengatakan yang sebenarnya, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Vee.
__ADS_1
"Tidak!! itu tidak mungkin!!", teriak Bara.
Bener seperti apa yang di pikirkan oleh Papah Cesa, Bara tidak terima kalau Vee meninggalkan nya, entah Bara ada rasa cinta dengan Vee atau memang saat ini dia butuh seseorang yang bisa menenangkan nya.
"Papah bercanda kan??"
Papah Cesa menggeleng, "Papah jujur, Vee melanjutkan kuliah nya di negara orang."
Bara berdiri, ia yang sedang sedih, kini ditambah lagi kesedihan nya, ibarat pepatah.... sudah jatuh tertimpa tangga, itulah yang ia rasakan saat ini.
Bara menyambar kunci mobilnya, ia yakin kalau Vee masih berada di bandara dan belum terbang. Bara akan menyusul nya dan membawa Vee kembali, membatalkan rencana kepergian nya yang entah Bara sendiri belum tau kemana.
"Mau kemana Bar??", tanya Papah Cesa yang melihat Bara menyambar kunci mobil dan melangkah kan kakinya keluar rumah.
"Tunggu!!kamu sudah terlambat Bar. Pesawat yang ditumpangi Vee sudah terbang tiga jam yang lalu."
Deg
"Tiga jam yang lalu?? itu berarti??"
Bara terduduk lemas, ia teringat tadi siang Vee datang kerumah, gadis itu memang terlihat berbeda, dari memeluk kedua orang tuanya, hingga menatap dirinya dengan tatapan yang sangat tajam.
__ADS_1
Bara baru sadar jika siang tadi adalah terakhir kalinya ia bertemu dengan Vee, dan Vee menyampaikan salam perpisahan nya, meskipun hanya dengan pandangan mata.
Bara memeluk lutut nya, masih dengan tidak percaya, di hari yang sama ia ditinggalkan oleh dua perempuan yang disayanginya.
Kini, diirinya hanya sendiri. Meratapi nasibnya yang betah sampai kapan akan membaik.
Kejadian tadi siang saja sudah membuat nya oleng dan tidak berdaya, malahan di tambah dengan berita kepergian Vee.
Bara menghapus air mata nya, ia kemudian berdiri dan menghampiri Papah Cesa yang masih duduk di sofa.
"Vee pergi kemana Pah??" , tanya Bara dengan muka yang kusam dan tersimpan banyak penderitaan di dalamnya.
"Amerika. Vee menerima beasiswa di sana!!", jawab Papah Cesa bohong. Beliau ingat pesan yang disampaikan oleh Vee, dan memang sudah mengatur dengan pihak sekolah seperti itu.
"Amerika??? Bara akan menyusul nya!!"
Bara akan melangkah pergi, tetapi tangannya di cekal oleh Papah Cesa.
"Jangan ke sana dulu, perbaiki hatimu di sini, lagipula kamu harus membantu Perusahaan Daddy kamu."
Bara menghentikan langkahnya, ia memikirkan sejenak apa yang dikatakan oleh Papah Cesa. Lagipula ia belum tau Vee berada di Amerika bagian mana, di kota apa.
__ADS_1
Dan akhirnya laki laki itu tidak jadi melanjutkan langkahnya, ia memilih untuk ke atas, dan tentunya masuk ke kamar Vee.
"Bara ke atas ya Pah?? numpang tidur sini."