
"Sayank....maaf ya, aku telat jemput."
Gery datang dengan mencium kening Vee, dan langsung ikut duduk saja di samping kekasih nya. Vee sudah menjelaskan kalau bertemu dengan Meli.
'Apa Meli menceritakan sebenarnya tentang Bara??'
Gery mulai gelisah, bukannya ia tidak yakin dengan cintanya, tetapi....lagi lagi ia takut kalau Vee berpaling, atau Bara yang merebut Vee dari tangan nya.
"Kalian lengket saja, kapan resmi nya??", tanya Meli.
Meli sudah tidak canggung lagi bertemu dengan Gery, walaupun sempat lama tidak bertemu, tetapi....ia sudah biasa biasa saja.
Apalagi mereka satu kampus, dan Gery adalah teman suami nya sekarang, tentu sedikit banyak yang tau.
"Insyaallah secepat nya, kita akan tunangan dulu."
Bukan Gery yang menjawab tetapi Vee, hingga membuat Gery kaget dan melihat ke arah kekasih nya itu, tetapi ia bahagia karena Vee sendiri yang mengatakan nya.
"Aku senang sekali, semoga cepat menyusul ya, bikin teman nya Orin, kasihan enggak ada teman nya."
"Amin, pasti donk, iya kan yank??"
"Tentu yank."
Meli tersenyum, menatap kembali wajah Gery dan Vee secara bergantian, ia pikir Vee akan berpaling dari Gery dan memilih Bara, tetapi ia salah.
Ternyata Vee memang benar benar mencintai Gery dan sudah melupakan Bara. Meli sudah tau semua nya, setelah kejadian dua tahun yang lalu, ia baru tau kalau sebenarnya Vee menyukai Bara, dan pergi dari Indonesia karena tidak ingin melihat Bara dan dirinya bertunangan.
"Ehem.... akhirnya sepasang kekasih bertemu juga setelah lama tidak berjumpa."
Meli sudah mengirimkan pesan untuk Dio, karena tidak ingin menganggu Vee dan Gery pacaran.
"Iya donk, emang kamu aja yang bisa mesra, kita bisa. Ya kan yank??"
"Iya....."
Dio tersenyum ia menurunkan Orin dan menyerahkan kepada Meli, "Ayok pulang sayank, jangan ganggu mereka.", ujar Dio menggandeng tangan Meli.
"Iya donk....yuk ah balik. Aku balik ya Mel, nomerku masih yang dulu, kabar kabar saja kalau mau nongkrong bareng."
"Oke Mel, siap lah ....aku oke kapanpun itu."
Neraka berempati bersalaman, dan ketika mau pergi Dio membisikkan sesuatu di telinga Gery.
"Lakukan seperti yang aku lakukan, kalau kamu tidak mau kehilangan Vee.", bisik Dio.
"Gila!!"
"Hahahaha...... ikuti apa kata kataku bro!!"
Gery menggelengkan kepalanya, ucapan Dio hanya ia anggap angin lalu saja, mana mungkin melakukan seperti itu, ia sudah janji dengan Vee tidak akan merusak nya sampai halal.
Tetapi.....
'Ah dasar setan Dio!!'
"Kenapa?? Dio ngomong apa yank??"
__ADS_1
Vee yang penasaran langsung saja memberondong berbagai macam pertanyaan, ia curiga dengan apa yang dibisikkan oleh Dio
"Tidak apa apa."
"Awas saja kalau macem macem.", ancam Vee karena ia melihat sesuatu yang aneh dari Dio tadi, firasat nya sudah tidak enak.
"Enggak enggak. Jalan yuk.??"
"Kemana??"
Bukannya ini sudah jalan jalan, mau jalan kemana lagi??
"Pantai mungkin??"
"Pantai?? kamu enggak gila kan??? panas Ger??"
"Hahahaha.....enggak masalah, kamu masih cantik walau pun item nantinya."
Gery mengulurkan tangannya, dan Vee dengan senang hati menyambut nya. Mereka berdua keluar dari mall untuk menuju ke parkiran, dan tujuannya adalah ke pantai. Banyak hal yang akan Gery bicarakan dengan Vee, tentunya tentang Bara.
.
.
.
Pasangan kekasih itu sudah sampai di pantai, untung saja cuaca lagi mendung, jadi gadis cantik itu tidak kepanasan seperti yang ia pikirkan.
"Turun yank, jangan khawatirr kalau item nantinya."
Vee turun, dan benar yang dikatakan oleh Gery, kalau cuaca siang ini tidak membuat kulit menjadi item, karena cuaca yang mendung.
"Maaf...."
Satu kata lolos dari mulut Gery, yah..... seperti nya memang saatnya ia menjelaskan yang sebenarnya, sebelum terlambat, padahal memang sudah terlambat karena Vee tau dari orang lain.
Vee menoleh ke kanan, dengan tangannya yang masih ada di dalam genggaman Gery, ia pun tersenyum.
"Enggak apa apa. Lagipula itu juga bukan salah kamu."
"Tapi aku??"
Vee menggeleng, melepaskan genggaman tangan Gery dan menghadap ke arah laki laki yang sedari tadi merasa bersalah, Vee menempelkan jarinya di bibir Gery.
"Sudah aku bilang itu bukan salah kamu, aku tau.....kamu melakukan ini pasti nya sudah kamu pikirkan sebelumnya, baik buruk nya untuk aku. Justru aku yang berterima kasih padamu. Kalau kamu tidak menyembunyikan nya, aku pasti saat itu langsung terbang lagi ke Indonesia, kamu tau aku kan??? aku enggak tega an dengan orang??"
Gery memegang tangan Vee kembali, ia pun mengangguk dan mengerti apa yang dikatakan oleh Vee,
"Tetapi apakah kamu akan??"
Vee menggeleng, "Jangan ngaco, jangan berpikiran yang tidak tidak, aku memang tidak tegaan dengan orang , tetapi bukan berarti setelah aku bertemu dengan dia, dan melihat dia menderita, aku langsung kasihan padanya, tidak Ger."
"Kalau mungkin kita dekat lagi, itu karena aku dan dia temenan sejak kecil, dan kedua orang tuanya sudah aku anggap seperti orang tuaku sendiri.", ujar Vee panjang lebar.
Gadis cantik itu tau apa yang dipikirkan oleh Gery, dan tidak mungkin ia berpaling dari laki laki yang sudah membuat nya move on, dan berhasil mengeluarkan nama Bara di dalam hatinya.
"Maaf, maaf jika aku membuat kamu sedih, aku hanya takut kehilanganmu."
__ADS_1
Vee tersenyum, tangan nya ikut memegang tangan Gery, "Kamu tidak akan kehilangan aku, besok bawa orang tua kamu ke rumah.", ucap Vee.
"Ke rumah?? serius sayank??"
Vee mangangguk , "Sejuta rius malahan, aku tunggu. Awas saja kalau sampai tidak datang."
"Pasti, aku pasti akan datang."
Gery yang paham dengan maksud Vee lalu memeluk tubuh kekasih nya, setidaknya hubungan mereka bisa selangkah lebih maju, dan Bara tidak bisa mengganggu lagi.
"Beli cincin yank??, masa' ke rumah enggak bawa apa apa."
"Tidak perlu, aku sudah menyiapkan semua nya, cincin juga sudah aku beli, lengkap dengan nama kita."
"Gery kamu??"
"Kenapa?? bingung??"
"Iya ...jujur aku terhura...kamu sudah menyiapkan nya."
"Aku memang sudah menyiapkan nya, sejak kita jadian dulu, aku sudah membeli cincin itu."
"Wow....gimana kalau enggak muat?? aku kan sekarang gedean??"
"No ... enggak mungkin enggak muat, aku tiap menemui kamu selalu mengukur nya."
Vee menutup mulutnya, mau berteriak tetapi malu...ia sungguh tidak bisa berkata apa apa lagi, karena Gery sudah mempersiapkan semua nya.
"Tapi mungkin Ayah dan Bunda tidak bisa datang, karena ini dadakan, yang ada mungkin Daddy dan Mommy, enggak masalah kan??"
"Enggak masalah, lagipula Ayah dan Bunda sudah merestui kita, dan Papah Cesa sudah cukup untuk menyambut kedatangan keluarga aku."
"Baiklah....tapi aku kasihan sama Papah, kamu ada stok wanita baik baik gitu, enggak perlu cantik, yang pasti setia dan tidak matre??"
Vee senyum senyum sendiri, membayangkan kalau saja ia mempunyai ibu tiri.
"Jangan macem macem, untuk Papah kan??"
"Iya, kasihan enggak ada yang membelainya, hahahahaha......"
Vee lari meninggalkan Gery yang membuat Gery menggeleng dan mengejar Vee.
Hap
"Kamu ya?? apa sudah tidak tahan mau aku belai?? nikah saja yuk??", Vee menggeleng.
"Kalau begitu nyicil ya....Depe dulu gitu."
'Depe?? apa apaan??'
Gery menatap wajah Vee tanpa berkedip, dan tidak ada jarak sedikit pun diantara mereka. Seperti terhipnotis, Gery memiringkan kepala nya, begitu juga dengan Vee.
Dua insan manusia itu saling mema_gut, melu_ mata dan juga memainkan lidahnya, membuat aura di sekitar pantai yang sejuk menjadi panas.
Gery menekan tengkuk Vee untuk memperdalam ciuman nya, begitu juga dengan Vee yang melingkar kan tangannya di leher Gery.
Kedua insan itu masih saling beradu bibir, mengutarakan rasa di dalam hati lewat ciuman yang begitu hangat dan bergelora, hingga Gery merasakan sesak di celana nya, dan ia pun segera menghentikan aksinya.
__ADS_1
"Love u sayank."
"Love u too."