
Brakk
Bara keluar dari ruangan Gery, tentu dengan wajah yang menyeramkan dan masih nampak emosi. Ternyata, ia salah datang ke tempat ini, sama sekali tidak dapat memberikan nya informasi, malahan yang ada ia semakin sakit, mengetahui kebenarannya.
"Menyesal aku datang ke sini."
Brakk
Bara menendang botol kaleng bekas yang ada di parkiran, saking kesalnya diirinya.
Bara masuk ke dalam mobil, ia sudah tidak tau lagi harus ke mana, mencari Vee tanpa petunjuk yang jelas itu juga sangat sulit. Apalagi Amerika itu sangat luas.
"Bagaimana??"
Mengambil ponsel kemudian menelpon seseorang, tetapi setelah itu ia menggeleng.
"Brengseekkk!!"
"Bahkan orang orang ku tidak dapat melacak di mana kamu berada."
Bara sudah mengerahkan orang orang nya untuk menyisir negara Amerika, tetapi nihil .. bahkan Bara mendapatkan kabar kalau tidak ada penerbangan ke Amerika atas nama Velia Putri Aditya. Dan ia semakin yakin kalau Vee tidak berada di sana.
"Apa yang harus aku lakukan??"
Laki laki itu bingung, baik Papah Cesa maupun Gery tidak bisa diharapkan, seakan akan semuanya menutupi di mana Vee berada., mau ke rumah Papah Cesa lagi juga percuma.
Mobil yang dikemudikan Bara melaju untuk kembali ke rumah, sungguh pikirannya sangat kacau saat ini. Ia bahkan tidak masuk kuliah, apalagi ke perusahaan nya.
Jiwa nya tidak tenang, Bara merasa separuh dari hatinya hilang entah kemana. Rasa sakit yang Melihat berikan bukan penyebab utama, tetapi kehilangan Vee lah yang membuat dirinya seperti ini.
"Tidak ada cara lain , aku harus ke Jerman. Aku yakin Vee di sana, bukan di Amerika."
Seperti ada ikatan batin, Bara yakin kalau Vee tidak kuliah di Amerika, tetapi di Jerman, ikut dengan Bunda Rania.
Apalagi ia tau bagaimana Papah Cesa dan Bunda Rania memperlakukan Vee, bukan memanjakan nya, tetapi lebih kepada melindungi anak gadis mereka satu satunya.
"Yah, aku yakin itu."
Setibanya di rumah, Bara langsung saja mengambil semua dokumen yang diperlukan untuk perjalanan ke luar negeri, dan segera memesan tiket.
Beruntung sekali, ia dapat penerbangan ke Jerman tiga jam lagi. Ada rasa lega di hati Bara, dan berharap dirinya bisa bertemu dengan Vee dan membawa pulang gadis yang belakangan ini memenuhi pikiran nya.
__ADS_1
Bara sudah siap, ia juga sudah rapi ...diirinya sengaja tidak membawa koper, karena tidak lama di sana, hanya menjemput Vee saja.
.Dengan pede nya ia akan membawa pulang Vee, tanpa tau gadis itu mau ikut dengan nya atau tidak.
"Mau kemana nak??"
Mommy Cherry sedari tadi sudah memperhatikan gerak gerik putra sulungnya itu, ia jadi curiga dengan apa yang dilakukan oleh Bara.
..Terlebih Bara keluar dari rumah dengan senyum senyum sendiri, sudah persis seperti orang gila.
"Ke Jerman Mom??"
Bara duduk di samping Mommy nya, masih ada waktu hingga ia tidak buru buru pergi.
"Jerman?? bukan Vee ke Amerika??"
Seakan akan Mommy tau kalau putra nya akan menyusul Vee, karena setaunya dan itu dari Bara, Vee ke Amerika, bukan ke Jerman.
Mommy Cherry sendiri tidak mendapatkan kabar lagi tentang Vee, bukan nya tidak perduli, tetapi beliau juga tau bagaimana perasaan nya Vee saat ini. Dan mendukung keputusan Vee.
Apalagi dengan sikap Bara belakangan ini, Bara seperti nya memanfaatkan keadaan saja, di mana ia sudah mengetahui kalau di jodohkan, dan akan meminta kembali untuk dijodohkan dengan Velia.
"No, Mom. Bara yakin kalau Vee ada di Jerman, bukan si Amerika. Papah Cesa dan Gery sengaja menutupi nya."
Mommy Cherry terdiam, seakan akan memikirkan apa yang diucapkan oleh Bara, dan jika memang benar...beliau juga setuju dengan keputusan Cesa dan juga Gery.
"Atau jangan jangan Mommy juga ikut-ikutan menyembunyikan Vee??", tuduh Bara.
"Mommy juga tidak tau di mana Vee berada, kalau saja Mommy tau, juga tidak akan memberitahukan kepada kamu.", Ujar Mommy yang setuju dengan apa yang dilakukan oleh Cesa dan juga Gery, bahkan Mommy akan mencari tau di mana Vee berada. Beliau yakin , kalau jejak Vee sudah di sembunyikan oleh Cesa dan Rania, sehingga Bara tidak bisa mengetahui nya.
"Mommy, Papah dan Gery sama saja."
Bara keluar dari rumah nya dengan wajahnya yang tidak bersahabat, tetapi sekilas ia menampakkan senyuman nya, karena berharap akan bertemu Vee.
"Aku yakin, kamu di Jerman...di rumah Bunda Rani sayank."
Tidak sadar, bibir Bara berucap sayank untuk Rania. Entahlah otaknya sudah konslet atau ilang ingatan setelah kegagalan hubungan nya dengan Meli.
Sedangkan di dalam rumah. Mommy Cherry yang memastikan kalau Bara sudah pergi, langsung saja mengambil ponsel dan menelpon Bunda Rania.
Seperti Bara, Mommy juga yakin kalau Vee ada di Jerman, bukan di Amerika.
__ADS_1
"Hallo...."
"Mbak....."
"Ada apa Cherr??"
Emak emak yang banyak itu langsung saja memulai obrolan nya, awalnya Bunda tidak mau menjawab jujur pertanyaan Mommy Cheryy tetapi....
"Aku paham mbak, dan aku setuju dengan keputusan Vee, aku juga tidak akan memberi tahukan di mana Vee berada, yang penting aku sudah tenang kalau Vee memang benar benar ada pada Mbak Rania. Mbak Tami sendiri kan, kalau Aku sudah menganggap Vee seperti anak aku sendiri."
Mendengar ucapan Mommy Cheryy, akhirnya Bunda Rania menceritakan semua nya. Walaupun itu awalnya ide dari Bunda dan Ayah Arga, tetapi....Vee ternyata juga mempunyai pikiran yang sama.
"Aku lega mbak, terima kasih, aku janji tidak memberi tahukan kepada siapa siapa, apalagi Bara saat ini."
Mommy Cherry lega karena Vee berada di sana, itu berarti Vee aman, dan tidak perlu khawatirr lagi.
Mommy Cherry juga menceritakan tentang Bara yang gagal bertunangan.
"Aku juga minta sama Mbak Rania, tolong rahasiakan ini dari Vee, bukannya apa apa, aku takut kalau hatinya goyah, dan aku juga takut kalau Vee hanya dijadikan pelampiasan oleh Bara saja. Mbak paham kan??"
"Aku paham Cherr, makasih infonya. Aku juga sependapat dengan kamu."
"Oh, ya...Bara tiga jam lagi akan ke Jerman, kemungkinan besar langsung ke tempat Mbak Rania, apalagi Bara sudah pernah ke sana kan??"
"Aku tau...Mas Arga sudah menyiapkan semua nya, jika tiba tiba Bara datang. Tenang saja, aku akan menyambut anak nakal itu hahahaha....biarlah dia di sini, bisa main main dengan adiknya Velia, sekaligus bisa refresh otak nya, yang mungkin tersumbat hahaha...."
"Hahaha....Mbak benar. Aku sudah tidak tau lagi gimana ngadepin anaknya Brylli itu."
"Anak Brylli anak kamu juga kan??"
Mereka berdua terlibat obrolan di video call, ke-dua nya sama sama saling merindukan, dan sudah seperti keluarga nya sendiri.
Bahkan kepergian Vee yang Bunda Rania tau kalau gara gara Bara, tidak membuat Bunda Rania dan Ayah Arga marah dengan anak itu. Mereka berdua tau, kalau cinta tidak bisa di paksakan, dan jodoh sudah di siapkan.
Jangan karena anak anak yang masih labil, hubungan persaudaraan yang sudah dibangun lagi jadi renggang, tentu tidak ingin seperti itu.
****
Yang mau tau kisah orang tua Bara dan juga Velia, mampir saja di Sang Casanova.
Terima kasih.
__ADS_1