
"Orang itu tadi menelpon aku untuk membawakan beberapa berkas penting yang memang lupa aku bawa ke kantor. Duh kenapa jadi lupa begini, kalau aku bawa kan tidak usah ke sana, mana jarak apartemen aku lumayan jauh dan macet lagi.", ujar Bara dengan mendrama.
"Udah enggak apa apa, lama dikit enggak masalah, dari pada kita yang ke Surabaya malahan repot dan aku enggak bisa."
Vee tidak curiga sedikitpun dengan Bara, apalagi ia tadi tidur, jadi... antara iya atau tidak pun juga Vee tidak tau. Yang jelas, ia tidak ke Surabaya saja sudah senang, mau mengambil berkas di mana pun juga oke, asalkan masih di Jakarta.
"Tapi aku enggak enak sama kamu."
Bara mulai memainkan aksi kebohongan nya, enggak enak dari mana??? la wong nyatanya tidak ada yang tidak enak....semua baik baik saja.
"Santai saja , lagipula aku tidak ada kegiatan di rumah, dan ini juga proyek Perusahaan kamu dengan perusahaan Papah kan?? jadi memang aku yang seharusnya membantu."
Bara kembali tersenyum, ternyata memang benar kalau mendekati Vee itu harus dengan cara yang halus dan baik baik saja, tidak boleh memaksa, nanti jatuhnya malahan Velia menghindar.
"Makasih....tapi aku tetap tidak enak."
"Hmm enakin aja.....makan ini, nanti juga enak...."
Vee membuka satu kotak burger yang belum di sentuhnya, dan menyuapi Bara dengan sangat lembut dan hati hati.
Tidak ada perasaan apapun untuk Bara dari diri Velia, yang jelas ia sudah menganggap Bara adalah saudara nya sendiri.
Tetapi tidak untuk Bara, laki laki itu sangat senang...bahkan dadanya berdegup kencang tatkala tangan Vee menyuapi nya.
Bara bisa bayangkan, bagaimana Vee kalau sudah menjadi istri nya, pasti kehidupan nya akan sangat menyenangkan.
Tidak terasa, makanan untuk Bara sudah habis dan bertepatan dengan mobil Bara yang sudah sampai di parkiran apartemen.
"Aku tunggu di sini saja ya??", ucap Vee.
Bukan tidak mau masuk ke dalam Apartemen Bara, tetapi ia capek kalau harus keluar dan nanti masuk lagi ke dalam mobilnya, apalagi perut nya yang sudah terisi membuat nya jadi males gerak.
"Jangan donk!! mungkin sedikit lama, karena aku harus memilih mana yang dibutuhkan dan mana ya enggak, yah setidaknya kamu bisa bantu aku untuk memilih nya, biar cepat."
Apa yang dikatakan oleh Bara masuk akal juga, yang membuat Vee langsung mengangguk setuju.
"Oke deh ..tapi pelan pelan ya, mataku masih ngantuk jadi belum konek."
__ADS_1
"Iya iya, bawel banget..."
Bara dan Velia turun secara bersamaan, tidak lupa Meeka membawa makanan nya yang nanti akan di makan di apartemen Bara sembari mencari sesuatu yang di butuhkan nya.
Velia masih tidak menaruh curiga sedikit pun, bahkan gadis cantik itu sedari tadi mengembangkan senyumannya, tanda kalau memang tidak terjadi apa apa dengan nya dan tidak ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
Sementara Bara, ia tersenyum penuh kemenangan dengan apa yang akan terjadi. Dan Bara sudah siap untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan nya, karena ia telah memikirkan matang matang.
Ceklek
"Silahkan masuk, duduk Vee..."
Bara dengan semangat menyambut Velia sebagai tamu istimewa nya, dan tentu saja tanpa menimbulkan kecurigaan sama sekali.
"Kalau mau minum, ambil saja....di dalam juga ada cemilan. Aku ke atas dulu mengambil beberapa berkas yang harus dipilih."
Sengaja Bara meninggalkan Velia dan pura pura ke atas, tentu saja untuk melancarkan aksinya, agar Velia tidak curiga sama sekali.
Vee mengangguk. "Iya ... tapi aku mau pipis, kamar mandi nya di mana??"
Memang di apartemen Bara, ada dua kamar tidur...satu di atas dan yang satu di bawah, dan tentu saja setiap kamar itu adalah kamar mandi dalam nya, dan satu lagi kamar mandi luar yang letaknya di sebelah dapur.
Dan sengaja memang ada di luar, kalau misal ada tamu...tidak sungkan sungkan mau ke kamar mandi.
"Maksud nya??"
"Kamar mandi di dalam kamar atau yang di luar Vee?? otaknya jangan ngeres Kenapa??"
"Eh.... Enggak.. masa' ngeres, cuma aku enggak paham bahasa mu saja. Emm di luar saja."
"Samping dapur...dari sini lurus saja, setelah itu belok kanan. Mau sekalian mandi??"
"Enggak lah, enggak ada baju ganti nya... meskipun sedikit gerah sih!"
Vee yang memang terbiasa mandi, rasanya tidak nyaman jika tidak mandi siang ini .. Apalagi dipikir nya nanti ia akan bertemu dengan orang kepercayaan Bara, yang tidak mungkin dengan muka bantal dan baju kusut.
"Ada, punya nya Brisa...dan kebetulan juga belum pernah di pakai nya ..... dan masih aku simpan."
__ADS_1
"Boleh deh, tapi apa enggak merepotkan???"
Bara mendekati Vee, kemudian mengacak rambut nya gemas.
"Kayak sama siapa aja deh, kamu kan sudah aku anggap seperti saudara ku sendiri...jadi jangan sungkan sungkan, anggap saja ini apartemen kamu juga, santai..."
"Iya, maaf ya...selalu merepotkan."
"Tidak masalah... sebentar, aku ambil pakaian dan handuk dulu."
Bara masuk ke dalam kamar nya, kemudian mengambil kan pakaian, handuk , sabun dan juga sampo .... yah semua perlengkapan wanita Bara ambil.
Karena sebelumnya, Bara sudah menyiapkan semua nya, termasuk sabun kewanitaan yang sering sekali dipakai oleh Velia.
"Sebentar lagi kamu akan jadi milikku sayank...."
Bara mengambil pakaian yang ia klaim sebagai pakaian Brisa, adik kembarnya... tetapi....itu tidak benar, karena....pakaian itu sengaja Bara beli untuk Velia, tentu saja dengan model yang tidak begitu seksiie tetapi juga tidak begitu tertutup...yah... lumayan untuk membangkitkan g@irah Bara nantinya.
Ceklek.
Bara keluar dengan membawa semua peralatan yang di butuhkan oleh Velia, laki laki itu kemudian menyerahkan nya kepada Vee, tentu saja Vee melotot karena semua nya komplit dan persis seperti apa yang ia pakai.
"Ini??"
"Stok di sini, yah...buat jaga jaga saja, siapa tau memang diperlukan seperti sekarang ini kan?? "
"Astaga Bar, tidak perlu sekomplit ini, kamu juga masih hafal betul apa yang aku pakai."
"Bagaimana tidak hafal, dari dulu...aku selalu nemenin kamu dan Brisa belanja., jadi sudah bisa dipastikan kalau aku masih ingatlah."
"Makasih banget ya ... aku merepotin kamu terus."
"Enggak masalah....ya sudah, aku tinggal di atas dulu, kebetulan kamar atas aku pakai untuk ruang kerja aku..."
"Oke .... "
Bara dengan santainya meninggalkan Velia, ia menuju ke kamar atas yang memang di sana adalah ruangan kerja, tetapi bukan untuk mencari berkas... entahlah....yang jelas bukan berkas berkas penting yang akan ia bawa nanti nya ke bawah, tetapi...hanya tumpukan kertas kertas yang tidak berguna.
__ADS_1