
Tidak banyak yang Meli bisa katakan kepada Vee, bukan nya ia tidak menyayangi Velia, tapi ..... terasa sulit untuk mengatakan nya.
Iya kalau apa yang didengarnya kemarin itu memang benar adanya, kalau tidak??? tau sendiri... bagaimana Bara jika bersama dengan Dio, bukan hanya masalah pekerjaan saja yang di bicarakan, terkadang juga masalah yang tidak penting pun dan hanya bersifat guyonan saja juga nyambung untuk kedua nya.
Apalagi Vee dan Bara sudah berteman sejak kecil, pastinya untuk mengatakan hal yang tidak baik tentang Bara, Meli jadi takut sendiri.
'Semoga memang hanya obrolan yang tidak penting saja.'
Hari sudah mulai sore, Orin juga sudah lelah dan saatnya untuk istirahat di rumah, begitu juga dengan kedua laki laki yang sudah menghabiskan kopi nya.
Kedua laki laki itu menghampiri arena bermain, dan tentu saja untuk menjemput istri dan juga calon istri nya bagi Bara.
"Pulang yuk, Orin seperti nya sudah capek.", ujar Dio setelah ia puas ngobrol dengan Bara., dan juga melihat putrinya sudah lelah.
"Iya....aku juga sudah ngantuk, semakin tua tidak kuat lama lama kalau enggak tidur siang.", jawab Meli sedikit mendrama.
"Halah alasan, bilang saja mau buat adeknya Orin, repot amat alasan nya", ujar Bara dengan cengir khas nya.
"Hahaha tau aja Lo!!! buatnya sih tiap hari, tiap ada kesempatan pasti gue serang, tapi ya itu... belum dikasih rejeki lagi.....", jawab Dio .
"Sial Lo!! bikin iri saja"
Bara berdecak kesal, memang obrolan dengan orang yang sudah menikah itu beda jalurnya...selalu saja menjurus ke hal hal yang bersifat anu an.
"Gue tunggu kabarnya, semoga sukses. Asal Lo tau, rasanya perawan itu benar benar enak, kalau enggak percaya coba aja hahaha.", bisik Dio.
Dan untung nya hanya Dio dan Bara yang mendengar nya, kalau tidak....habis Dio di cincang oleh Meli, karena ngajarin yang enggak bener.
"Sialan!!!"
__ADS_1
Lalu kedua pasangan itu berpisah, Dio dan Meli sudah lebih turun ke bawah, sementara Bara dengan Velia masih ada di lantai, memperhatikan sepasang manusia yang begitu mesra bergandengan tangan meskipun sudah ada anak nya.
"Mesra juga mereka ya?? betewe...kamu enggak cemburu kan Bar??"
Tanya Velia, karena melihat tatapan mata Bara yang sedari tadi tidak berkedip melihat Meli dengan Dio.
"Cemburu?? enggak lah....aku malahan iri dengan mereka. Kamu tau kan Vee, bagaimana mereka dulu bisa bersatu??"
Tatapan mata Bara masih melihat ke arah di mana Dio menggendong anaknya dengan tangan satu nya menggenggam tangan Meli, seakan akan laki laki itu tidak ingin kehilangan kedua nya.
Vee mengangguk, "Yah, aku tau....Meli tadi juga cerita bagaimana kehidupan nya selama dua tahun ini....tidak banyak yang berubah...dan tidak banyak yang Dio minta dari Meli, kecuali belajar untuk mencintai Dio dan menerima takdir nya."
Yah, itu yang dikatakan oleh Meli, tadi....cerita Meli membuat Vee mengerti, kalau jodoh itu sudah ada yang mengatur. Sebaik apapun manusia merebahkan, tetap Tuhan lah penentu nya.
Bara tersenyum, "Kalau kamu ada di posisi Meli bagaimana??"
Pertanyaan Bara kali ini serius, dan ia ingin mendengar sendiri jawaban dari dalam hati Velia.
"Pertama aku sok lah ... sama seperti Meli, dan mungkin bukan hanya Meli dan aku saja jika berada di posisi seperti itu, aku yakin jika semua wanita di muka bumi ini akan merasakan yang sama jika mereka berada di posisi Meli saat itu."
"Tetapi, yang kedua...aku akan benci laki laki itu, meskipun dia bertanggung jawab sama seperti yang Dio lakukan, tapi...untuk memaafkan atas kesalahan terbesar nya itu bagiku sulit."
"Dan untuk obsi yang kedua....aku tidak seperti Meli, yang dengan mudah memaafkan Dio, karena aku dan Meli beda.", ucap Vee dengan tegas dan penuh keyakinan.
Jlebb.
Bara mengeryitkan alisnya, jawaban Vee yang kedua membuat dadanya terasa sesak, yang benar saja kalau nanti Vee akan membencinya.
Yah, memang apa yang dikatakan oleh Vee ada benarnya juga , bahkan wanita seperti Vee ini termasuk wanita yang langka...tapi Bara suka.
__ADS_1
"Tetapi walaupun begitu, aku akan tetap menerima pertanggungjawaban dari nya, aku tidak munafik...laki laki mana yang ingin istrinya utuh lahir dan batin, pasti semua laki laki di dunia ini juga menginginkan istri nya masih perwakilan... kalau sudah seperti itu, mau tidak mau yah....aku harus mau sama dia, meskipun aku harus membenci nya sampai entah aku juga tidak tau pasti nya...."
Bara tersenyum....ucapan Vee yang barusan tadi membuat hatinya sedikit lega, setidaknya ia bisa memiliki Vee sepenuh nya dan juga sah.
"Pulang yuk....aku ngantuk."
Tidak ingin membahas hal hal yang begitu mengenaskan , Vee akhirnya mengajak Bara untuk pulang saja.
"Astaga aku lupa...aku kan bawa mobil sendiri...kenapa ngajakin kamu pulang, seakan akan kamu mau mengantarkan aku hahaha"
"Ya tidak apa apa, mobil kamu tinggal saja di sini, nanti biar orangku yang bawa pulang."
"Eh enggak usah, malahan merepotkan..."
"Tidak ada yang di repot kan, lagian kamu lelah ... ngantuk juga... takut kalau malahan kamu tidak bisa konsentrasi."
Vee diam sesaat, merenungi apa yang diucapkan oleh Bara barusan, memang sih...ia sudah lelah dan juga ngantuk, akan sangat bahaya untuk nya kalau nekad menyetir, apalagi jalanan pasti akan ramai dan macet.
"Oke ... aku mau ikut kamu, tapi beneran ya mobil ku dianterin, karena besok aku ada kuliah pagi."
"Iya kalau saja enggak ada yang nganterin, besok aku jemput....besok aku juga mau ke kampus."
"Hmmm terserah deh, ribet kalau sudah urusan dengan kamu."
Bara tersenyum, melihat Velia sudah seperti dulu lagi hatinya benar benar adem, kenapa tidak ia lakukan sejak pertama kali bertemu dengan Vee setelah dua tahun berpisah?? tentu nya sekarang Bara sudah memiliki Vee seutuhnya, tanpa perlu menunggu waktu lama.
Bara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan seperti biasanya, tidak cepat juga tidak lamban, ia tidak akan membuat Vee curiga dengan sikap nya yang baru saja berubah.
Tidak ada obrolan di dalam mobil, Bara jadi bosan sendiri... karena tidak biasa biasanya Vee mengunci mulutnya rapat rapat, tetapi kali ini.....
__ADS_1
"Astaga.... ternyata dia malahan tertidur... pantas saja tidak ada suara nya...."
Bara kembali tersenyum manakala melihat Velia yang sudah terlelap di dalam mimpi nya, tentu saja Bara akan memanfaatkan kesempatan kali ini untuk memandang wajah cantik Vee.