Perjodohan Rahasia

Perjodohan Rahasia
Kondisi Membaik


__ADS_3

Gery yang melihat ke depan menjadi was was juga, karena semua berkumpul di depan ruangan Papah Cesa.


Laki laki itu menggenggam tangan Vee, memberikan dukungan dan juga rasa nyaman, ia tau Vee saat ini juga tidak baik baik saja.


Dengan langkah cepat, ke-dua nya sudah sampai di depan ruangan, dan nampak semua penuh dengan kegelisahan.


Vee tidak berani bertanya, karena ia sendiri takut dengan jawaban nya, namun mata Vee meneliti satu-persatu yang ada di sana, seakan akan meminta penjelasan.


"Papah sedang di tangani Dokter sayank, dan beliau......"


Rasanya Bunda Rania tidak bisa meneruskan ucapannya, beliau sendiri tidak sanggup untuk mengatakan nya pada Vee.


"Tidak!!!"


Vee berteriak, ia sudah menduga akan hal seperti ini, tetapi....andai saja hal buruk menimpa Papahnya, Vee belum siap.


Ceklek


Dokter yang baru saja menangani kondisi Papah Cesa keluar, bukan dengan raut wajah sedih, tetapi dengan sedikit mengembangkan senyumannya.


"Bagaimana kondisi Papah saya Dok??"


Vee yang tidak sabar, menghampiri Dokter itu dan menanyakan langsung bagaimana kondisi Papah Cesa, ia mau tidak mau dan pasrah menerima apapun yang menjadi kehendak pemilik alam semesta ini.

__ADS_1


"Alhamdulillah....ini suatu mukjizat....Tuan Cesa sudah lepas dari masa kritis nya, dan beliau sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan."


"Alhamdulillah....."


Semua berucap syukur, mereka yang tadinya sudah tidak punya harapan lagi ..kini sudah lega, begitu juga dengan Vee yang langsung menghapus air matanya, tidak ingin Papah Cesa melihat nya nanti.


"Walaupun kondisi Tuan Cesa sudah stabil, tetapi.....tidak boleh banyak pikiran."


"Iya Dok, terimakasih."


"Bunda...."


Vee menghampiri Bunda Rania dan mereka berdua berpelukan, lega rasanya mendengar berita yang baru saja di dengar nya.


. . .


"Sebaiknya kalian istirahat dulu, pasti capek perjalanan jauh."


Mommy Cherry menghampiri Vee dan juga Bunda Rania, karena sedari tadi gadis kecil itu tidak mau beranjak dari samping Papah Cesa.


"Vee di sini saja Mom. Biar Bunda dan Ayah yang pulang."


Bunda Rania dan Ayah Arga sedari tadi masih berada di Rumah Sakit, sedang-kan adik adik Velia, sudah di bawa Beryl ke rumah Mommy Cheryy.

__ADS_1


"Iya mbak, dan kali ini .... Mbak dan Kak Arga tinggal di rumahku, tidak ada penolakan, jauh kalau kalian kembali ke Bandung."


Bunda Rania memang sudah tidak mempunyai rumah di Jakarta, mereka hanya mempunyai satu rumah di Bandung, yang memang sengaja tidak dijual.... untuk tempat tinggal pas pulang ke Indonesia.


Tidak ada penolakan dari Bunda Rania, Bunda mengangguk....lagi pula juga tidak lama berada di Jakarta, juga sudah sering menolak ajakan Mommy Cheryy, jadi tidak enak.


"Mommy, Bunda dan yang lainnya pulang dulu, nanti malam gantian sayank ... jangan lupa istirahat."


Bunda menunjuk satu bed yang lumayan besar untuk tidur, dan memang ruangan perawatan Papah Cesa ini sangat eksklusif.


Semua yang tadinya berada di ruangan Papah Cesa, kini sudah pulang semua, tinggallah Vee sendirian, karena Gery juga mengantarkan Oma dan Opa Adit.


Dirasa Papahnya sudah baik baik saja, Vee melangkahkan kakinya ke sebuah bed yang ukuran nya besar, cukup untuk dirinya menutup mata, mengistirahatkan tubuh nya sejenak, tidak dipungkiri...ia juga lelah, lelah badan dan juga pikiran.


Bukan memikirkan Bara, tetapi memikirkan kondisi Papah Cesa.


Bara??


Sampai saat ini Bara juga belum tau kondisi dari Papah Cesa, karena Bara masih ada di Australia...dan satu Minggu lagi baru akan pulang.


Dan tentang perasaan Vee kepada Bara, sudah pudar seiring berjalan nya waktu, juga dengan perhatian dan cinta Gery pada Vee yang membuat gadis cantik itu bisa move dengan cepat.


Vee juga tidak menanyakan di mana Bara berada, ia tidak kepikiran sama sekali perihal rumah tangga laki laki yang pernah ada dalam hatinya. Vee yakin, kalau Bara juga bahagia dengan anak dan istri nya

__ADS_1


__ADS_2