
Setelah satu jam perjalanan, tibalah Vee dan juga Bara di depan pintu gerbang yang sangat megah dan juga menjulang tinggi itu.
Dan pas sekali , Velia juga terbangun setelah beberapa tidur nyenyak di dalam dekapan Bara.
"Ih ..di bilangin jangan nempel napa??"
Vee mendorong tubuh Bara, gadis itu kembali ke mode juteknya lagi, padahal sedari tadi Velia tidur dengan sangat nyenyak...bahkan tidak ingin melepaskan tangan Bara, tapi sayang sekali...Vee tidak tau.
"Iya iya ..aku jauhan, tapi kita sudah sampai di tempat nya Papi."
Glekk
Vee seketika membulatkan mata nya, manakala mendengar ucapan dari Bara kalau sudah sampai di rumahnya Papi Galen.
Dan itu berarti, ia harus siap untuk melihat Papahnya kecewa, karena Bara tidak mau membatalkannya apa yang di ucapkan nya.
"Ayok sayank turun..."
Bara mengajak Vee turun, karena ia memang sengaja tidak memasukkan mobilnya di halaman rumah Papi Galen, tentu saja ingin membuat kejutan untuk mereka.
Tetapi, baru saja Bara ingin keluar, tangan nya sudah di cekal oleh Vee, gadis itu pun menggelengkan tanda tidak siap bertemu dengan orang tuanya.
"Kenapa lagi??? aku yang akan menjelaskan nya."
Tidak ada keraguan di dalam hati Bara, ia adalah laki laki sejati yang pastinya akan bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dilakukan nya, tentu saja termasuk menikahi Velia yang memang sudah diidam idamkan nya.
"Bar....aku mohon, bisakah tidak bicara dengan mereka?? aku takut membuat Papah kecewa dan terluka."
Kembali lagi, Vee ingin mengurungkan niat Bara untuk menceritakan apa yang sidah terjadi.
"Tidak sayank....aku tidak mau menunda nya lagi, lagipula mau menunda nya sampai kapan?? sampai kamu benar benar hamil anakku??? atau sampai perutmu terlihat??"
"Tidak sayank...aku tidak bisa....salah langkah sedikit ..aku akan kehilangan kesempatan untuk menikahi mu...", lanjut Bara lagi.
__ADS_1
Vee diam sesaat, kembali ... ucapan Bara memang ada benarnya juga...tidak mungkin ia baru mengatakan nya pas dirinya sudah hamil dan perutnya terlihat, walau Velia tidak menginginkan itu semua tetapi...apa dia bisa menjamin nya?? bahkan Vee juga lupa tidak minum pil KB setelah Bara menyentuh nya, ia malahan menangisi diirinya yang sudah tersentuh oleh Bara, jadi kemungkinan ada anaknya Bara di dalam perutnya Vee itu sangat lah besar..
"Tapi Bar, bagaimana kalau kita tidak usah memberitahukan pada orang tua kita, tapi...aku janji akan mutusin Gery.".....
Ucap Vee dengan wajah sendu, mau tidak mau ia harus mengambil keputusan dan mengatakan kepada Bara, supaya Bara tidak mengatakan semuanya.
Bara tersenyum simpul, ia pun menutup kembali pintu mobil yang sudah di buka nya sedikit, kemudian mengalihkan pandangan matanya ke arah Velia, menatap lekat wajah cantik gadis yang sudah menjadi miliknya seutuhnya meskipun belum ada ikatan pernikahan yang sah.
"Apa kamu sadar dengan yang kamu ucapkan?? apa itu jaminan untukku kalau kamu mau menikah dengan ku nantinya??"
Vee terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Bara, karena sejati nya memang tidak atau belum ada niatan untuk menikah dengan Bara... tetapi...
"Kamu diam. Kamu saja tidak bisa menjawab apa yang aku tanyakan, dan pastinya kamu juga tidak berpikir dengan jernih dengan apa yang sudah kamu ucapkan."
"Oke fine ... kamu sudah putus dengan Gery, terserah... bagaimana pun caranya dan dengan kata kata seperti apa hingga Gery mau putus dengan mu, tetapi...setelah itu...apa kamu akan menikah dengan orang lain?? setalah apa yang sudah aku lakukan padamu?? Enggak!!!", lanjut Bara dengan sedikit emosi... entah bagaimana caranya Bara meyakinkan pada Velia tentang keseriusan nya.
"Bar...aku janji Bar...."
Bara tetap saja menggeleng, ia akan kekeh dengan sesuatu yang pernah diucapkan nya, meskipun Velia menolak.
Bara keluar dari mobil, ia juga menunggu Vee keluar tetapi tidak kunjung keluar juga, hingga akhirnya Bara membuka pintu mobil Vee dan menarik tangan Vee kemudian menggenggam nya dengan sangat lembut tetapi penuh dengan paksaan, takut saja kalau Vee kabur nanti nya.
Sampai di pintu gerbang, Bara dan Velia di sambut oleh dua satpam yang sudah kenal dengan pasangan itu, dan dengan segera Pak Satpam itu membukakan pintu untuk kedua nya, supaya bisa langsung masuk.
Deg
Velia menghentikan langkahnya, ketiak melihat mobil milik Ayah Arga yang sudah terparkir di halaman rumah, sungguh....ia benar benar tidak siap untuk mengatakan semua nya ini.
Berbeda dengan Bara, ia mengembangkan senyumnya manakala melihat mobil yang sudah berjejer rapi di sana, dan tentu saja ada mobil milik Bunda Rania juga, ibu kandung dari Velia.
"Jangan takut...semua akan baik baik saja.,"
Bara kembali menggenggam tangan Vee, sudah seperti pasangan romantis saja, padahal kedua nya bukan pasangan yang sebenarnya.
__ADS_1
Pintu utama rumah tidak tertutup, yang berarti semua orang kini sudah ngumpul di ruangan keluarga, memang sudah menjadi tradisi seperti itu kalau pas kumpul bersama.
"Assalamualaikum...."
Bara dan Vee kompak mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam"
Jawab kompak semua yang ada di ruangan itu, hingga pandangan mata mereka tertuju pada dua orang saling berpegangan tangan, itu menurut versi mereka.
"Bara"
"Velia.."
"Kalian nyusulin kami?? kenapa tidak bilang??"
Mommy Cherry yang menyambut kedua orang itu dengan antusias, dan juga matanya yang sedari tadi tidak pernah lepas dari memandang tangan Bara yang menggenggam tangan Velia.
"Iya Mom...ada hal penting yang mau Bara sampai kan dan memang sengaja.", jawab Bara yakin, bahkan tidak ada rasa takut sama sekali meskipun ada banyak orang tua di sana.
Sementara Velia, hanya diam saja...ingin sekali bilang tidak dan jangan dikatakan, tapi ..mungkin Bara tetap mengatakan nya.
"Oh apa?? duduk dulu sayank..."
Melihat gelagat yang aneh dari Vee, Mommy Cherry langsung saja mengambil alih tangan Vee dan membawa nya duduk bersama Bunda Rania.
"Sayank....apa kabar?? bunda kangen...dan kenapa enggak telpon kalau mau kesini."
"Vee juga kangen Bunda, mendadak...kangen Bunda.", jawab Vee yang memang tidak juga bohong, kalau ia juga merindukan Bunda nya.
"Ada yang ingin Bara sampai kan, dan ini sangat berat penting sekali."
Ucap Bara tiba-tiba, dan itu membuat Vee semakin gugup saja, ia benar-benar takut dengan apa reaksi dari orang tuanya.
__ADS_1
"Ada apa?? anak Papi mau ngomong apa?? kelihatannya serius??"
Papi Galen ikut nimbrung, beliau tau dengan gelagat Bara, karena sejak Bara kecil Papi Galen ikut mengasuh dan melihat tumbuh kembang laki laki itu.