
"Ya sudah, aku pulang."
Kesal Gery karena Vee tidak menjawab ataupun tidak bergerak sedikit pun juga, dan lebih memilih untuk menemani Bara malam ini.
Gery keluar dari ruang perawatan Bara, tentu saja dengan perasaan yang bercampur aduk saat ini. Entahlah, sedikit ada rasa jengkel di hati nya.
Bukan ia ingin egois, ia tau kalau Vee sudah lebih dulu mengenal Bara dibandingkan dengan nya, dan Gery pun tau kalau Vee dan Bara adalah teman sejak kecil, bahkan sebelum mereka lahir, kedua orang tua mereka sudah berteman...
Tetapi bisakah malam ini, ia egois sedikit saja??? yah hanya sedikit saja...ia hanya meminta untuk Vee pulang dan istirahat di rumah, bukan menunggu Bara di Rumah Sakit.
Lagian sudah ada Bagas yang menunggu, dan juga Bara dinyatakan kondisi nya sudah baik baik saja, tinggal menunggu sadar dan melihat perkembangan berikutnya.
Tetapi sayang, jangan kan memberikan keputusan, Velia seakan akan malahan tidak fokus dan mengacuhkan Gery, padahal Gery juga meminta dengan baik baik, menjelaskan dengan lembut dan penuh kasih sayang, dan itu semua hanya untuk Vee, untuk kesehatan Vee tentu nya.
Melihat Gery pergi, Vee malahan diam saja. Jujur ia dihadapkan dengan posisi yang sangat sulit. Bukan masalah cinta, tetapi rasa bersalah nya. Kalau saja tadi siang tidak ada adegan sindir menyindir, Mungin Bara tidak akan mengalami kecelakaan seperti ini.
Dan apa jadinya jika Bara mengalami amnesia???? sungguh, Vee sendiri tidak bisa membayangkan jika itu benar benar terjadi.
Bagas menepuk pundak Velia, menyadarkan gadis cantik itu dari lamunan nya.
"Kejar Gery Vee, dan kamu pulanglah. Aku yang akan menjaga Bara,."
Vee kaget, ia sadar dari lamunannya yang sedari tadi menatap kepergian Gery yang sudah tidak terlihat lagi.
"Tapi Kak??"
"Aku tau, bagaimana perasaan kamu, tetapi ini sudah malam, sebaiknya kamu pulang dan istirahat saja di rumah."
Vee masih terdiam, ia sedikit melihat ke arah Bara yang belum membukakan mata nya, jujur....ia ingin melihat Bara sadar dan tau kalau tidak terjadi sesuatu yang tidak inginkan.
"Dan kejarlah Gery, dia sangat mengkhawatirkan kamu. Jangan gara gara sakitnya Bara, hubungan kamu dengan Gery jadi renggang."
Ngomong apa kamu Bagas, mulut mu memang tidak bisa dikondisikan dengan benar. Pikiran Bagas sekarang terombang ambing antara mendukung sahabat nya Bara, atau teman nya Gery.
Kedua laki laki itu cukup ia kenal dan cukup dekat dengan Bagas. Ia tau kalau Vee adalah tunangan Gery, dan ia pun tau kalau kedua nya saling mencintai.
__ADS_1
Tetapi di sisi lain, ia tidak ingin melihat Bara menderita dan kecewa karena cintanya tidak terbalas kan. Atau yang lebih parah lagi, Bara akan melihat dan menyaksikan wanita yang dicintainya, di nanti kehadiran nya menikah dengan laki laki lain.
Sungguh, itu membuat Bagas tidak tau harus berbuat apa. Tetapi, dari sinilah Bagas tau kalau sebenarnya, di dalam hati Velia masih menyimpan rasa untuk Bara, meskipun rasa itu tidak besar seperti dulu.
"Pulanglah Vee.... nanti aku akan kabari lagi perkembangannya Bara, dan kamu bisa kembali lagi besok. Kita bisa gantinya jaga besok kalau kamu tidak ada kuliah, ya??"
Ujar Bagas lembut, ia bahkan sudah seperti kakak Vee sendiri, menyadarkan dan menentukan perhatian untuk adiknya.
"Baiklah Kak, aku pulang dulu, nanti kalau ada apa apa hubungi aku. Kaka Bagas sudah tau nomer aku kan??", Bagas mengangguk.
"Siapa yang enggak tau nomer kamu Vee?? hanya laki laki bodoh yang tidak menyimpan nomor gadis secantik kamu, dan tentunya aku tak bodoh , tidak seperti Bara hahaha....."
"Kakak bisa saja. Orangnya saja antara hidup dan mati, malahan Kakak ngomongin begitu, kasihan kan hahahha......"
"Eh....malahan ikut ikutan tertawa, dan tadi apa?? antara hidup dan mati??? kalau Bara mati beneran gimana???"
"Astagfirullah.....amit amit jangan lah Kak. Kesalahan nya saja masih banyak, dia juga belum membahagiakan aku."
"Eh!!"
"Aku pulang Kak."
Dengan malu, Vee akhirnya meninggalkan ruang perawatan Bara, ia pun akan mengejar Gery, dan kalaupun tidak menemukan Gery di parkiran, ia akan menemuinya di rumah nya.
Sedangkan Bagas, ia menggeleng...tetapi setelah itu ia pun tersenyum.
"Andai Lo melihat dan mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Vee, Lo pastinya akan senang dan langsung memeluk gadis itu."
"Hufffh...cinta memang sangat rumit."
...****...
Vee sudah sampai di parkiran, yakin tidak yakin tetapi sejak keluar dari ruang perawatan Bara, ia melangkah kan kakinya ke parkiran.
Gadis itu melihat ke sekeliling, dan tentu saja letak mobil Gery tadi. Tetapi, sayang sekali .. Vee tidak menemukan mobil Gery di sana.
__ADS_1
Sudah pasrah, mungkin pikiran Vee... Gery marah dan meninggalkan nya, tetapi.... di saat ia akan meninggalkan parkiran, bunyi klakson mobil dari belakang mengagetkan nya.
Vee menoleh, ia seketika tersenyum tatkala melihat mobil yang ada di belakang nya adalah mobil Gery.
"Mau masuk atau berdiri saja di sana??"
Gery tidak turun, tetapi ia membuka kaca mobil dan juga membukakan pintu mobil untuk Vee dari dalam.
"Masuk yank ..maaf."
Vee tersenyum, dan senyaman nya itu sangat manis hingga membuat Gery tidak bisa berlama lama marahan dengan Vee.
Setelah memberikan senyuman manis nya, Vee kemudian masuk kedalam mobil dan memakaikan sabuk pengaman.
"Yank maafkan aku!!"
Ujar Vee dengan sorot mata yang masih memandang ke arah Gery, ia tidak ingin Gery salah paham dan akhirnya marah marah,.
Oke, Vee akui ...ia memang salah, tetapi....ia juga tidak mau jika di diemkan saja oleh Gery.
Tidak ada jawaban dari Gery, laki laki itu fokus untuk menyetir mobil, karena jalanan yang semakin malam semakin macet saja.
"Yank....maaf!!"
"Makan malam dulu, aku lapar. Nanti kita bicarakan lagi."
Hanya itu jawaban dari Gery, ia tidak marah sebenarnya...hanya saja sedikit kecewa dengan tunangan., dan bukan mengarah pada cemburu.
Hanya saja ia tidak ingin Vee jatuh sakit akibat kelelahan karena kurang nya istirahat, hanya itu saja.
Tidak ada suara diantara keduanya, pasangan kekasih itu masih terdiam dengan pikirannya masing masing, hingga mobil Gery sudah sampai di sebuah angkringan yang entah malam ini begitu ramai.
"Makan di sini??"
Tanya Vee dengan mata yang berbinar binar. Bukannya tidak suka atau tidak level dengan menu yang sajikan nya, tetapi....ini adalah tempat yang selalu ia kangenin saat berada di Jerman.
__ADS_1