
Pagi hari menyapa, Velia yang memang terbiasa bangun pagi saat di Jerman, kini jam empat ia sudah bangun. Mematikan alarm di ponsel nya, dan kemudian berdiri menghidupkan lampu kamar.
Kebiasaan, Vee membuka jendela dan berdiri di sana. Hawa dingin dan segar menerpa tubuhnya, tetapi ...ini yang ia inginkan, udara pagi yang belum ada polusinya.
Vee melihat ke depan, mata menatap ke sebuah mobil hitam mewah yang barusan pergi dari depan gerbang nya,, tetapi sayang sekali...ia tidak dapat melihat siapa yang ada di dalam mobil itu.
"Mobil siapa?? aneh!! kenapa malahan pergi saat aku buka jendela??"
Vee menggeleng, tetapi sejenak ia tidak perduli dengan siapa yang ada di mobil itu, lebih baik ia segera mandi dan ke bawah, siapa tau ada sesuatu yang bisa di bantu, apalagi Vee juga harus memastikan sarapan pagi untuk Papah Cesa, meskipun kondisi Papah Cesa sudah membaik, tetapi gadis itu masih khawatirr.
Setelah mandi dan menyiapkan semua yang diperlukan untuk kuliahnya, karena ini kuliah pertama untuk Vee, bukan mengulang lagi semester satu, tetapi....ia hanya melanjutkan saja, kebetulan pemilik kampus itu kenal baik dengan Ayah Arga, jadinya segala sesuatu nya bisa di permudah.
Pagi ini Vee tidak sarapan di rumah, mungkin nanti hanya minum saja, karena sudah ada janji dengan Gery, akan sarapan di kantin kampus saja.
"Pagi Pah...."
Vee mencium kedua pipi Papah Cesa, ia yang niat awalnya ingin membantu bibik di dapur malahan tidak jadi, karena sambung video call dengan Brisa tadi pagi.
Dan alhasil...Vee turun ke bawah sudah ada Papah Cesa dan juga sudah ada menu makanan di atas meja makan.
"Pagi sayank ..."
Papah Cesa sudah rapi, dan itu membuat Vee menggeleng. Dan menebak kalau sang Papah pastinya akan ke kantor.
Vee duduk di samping Papah Cesa. "Papah mau ke mana??"
Vee mencoba basa basi dulu, siapa tau Papah tidak ke kantor.
"Kantor sayang, perusahaan butuh papah."
"Kantor??"
Vee mengeryitkan alisnya, bukan masalah perusahaan butuh Papaahnya tetapi mengingat kondisi Papahnya yang baru saja keluar dari Rumah Sakit membuat ia khawatir.
"Iya sayang, kamu tau sendiri Opa dan Oma sekarang memilih untuk menghabiskan waktunya di Belanda, dan menyerahkan semua perusahaan , restoran, cafe dan hotel nya kepada Papah."
"Vee tau Pah, tetapi....Papah kan??"
Papah Cesa mengusap lembut rambut Velia, ia pun paham dengan apa yang Vee rasakan.
"Papah sudah tidak apa apa, lihatlah...Papah sudah sehat, tentunya karena ada kamu di samping Papah."
Vee terdiam, tetapi akhirnya...ia mengangguk, itu juga karena melihat Papan Cesa yang sudah tidak pucat dan juga sudah segar, bahkan lebih muda dan sangat tampan.
"Kenapa ngelihatin Papah seperti itu??"
"Papah ganteng, kenapa enggak cari Mamah lagi?? Vee enggak keberatan kalau Papah nikah lagi."
__ADS_1
"Upss bukan nikah lagi, tetapi..... nikah hahahaha.", sambung Velia lagi.
Papah Cesa tersenyum, ia mencubit gemas hidung Vee, ternyata putrinya lupa kalau Papahnya sudah pernah menikah sebelum bertemu dengan Bunda Rania.
"Kamu lupa, Papah sebelum bertemu dengan Bunda kamu, dulu pernah menikah??"
"Astaga....iya Vee lupa, Padahal Papah sudah pernah bercerita, salah sendiri enggak pernah bertemu dengan mantan nya Papah yang itu."
"Buat apa?? lagian Papah juga tidak pernah tau kabarnya lagi setelah dulu Papah menceraikannya."
Vee mengangguk, tidak ada rahasia diantara dirinya dan Papah Cesa.
"Pagi....."
Seorang laki laki tampan masuk ke dalam rumah dan langsung bergabung di meja makan, laki laki itu yang sudah biasa keluar masuk kediaman Aditya, langsung saja ke ruang makan, karena ia tau kalau saat ini waktunya sarapan.
"Pagi Pah, pagi sayank...."
Gery menghampiri calon mertuanya dulu, dan salim kepada beliau, setelah itu mencium kening Vee.
"Sarapan Ger??"
"Terimakasih Pah, tapi mau langsung ke kampus saja."
"Sarapan di kantin Pah, katanya ada menu sepesial di sana.", ujar Velia menambahinya.
"Tentu Pah, Papah juga."
Gery salim lagi kepada Papah Cesa dan diikuti oleh Velia, kemudian kedua anak itu pergi meninggalkan kediaman Aditya dan bergegas untuk ke kampus.
"Apa enggak terlalu pagi yank??"
Vee melihat jam di tangannya, masih ada waktu satu setengah jam lagi untuk masuk ke kampus jam pertama, tetapi mengapa sudah berangkat, padahal jarak rumah dengan kampus enggak begitu jauh, hanya dua puluh menitan saja, kalau lancar.
"Enggak apa apa, takut saja kalau macet, nanti tidak bisa sarapan."
Gery mengusap lembut rambut Velia, ia memandangi wajah cantik Vee yang tidak sedikit pun membosankan.
"Pakai sabuk pengaman sayank, atau mau aku pakaikan??"
Gery sudah mendekat, ia siap untuk memasangkan sabuk pengaman Vee, dan....
"Stop!! aku bisa pakai sendiri, nanti kamu modus!!"
Vee mendorong pelan tubuh Gery, dan segera memasang sabuk nya, ia takut kalau Gery tiba tiba mencium nya seperti yang biasa dia lakukan.
"Galak banget, aku kan hanya pengen masangin, dan minta cium dikit lah!!"
__ADS_1
Cup
Gery mencium bibir Vee, tentunya di saat Vee lengah, dan tidak mengira kalau akan di cium oleh Gery.
"Ihhh....tuh kan bener kan??? sukanya modus deh!!"
"Bukan modus, tetapi memang pengen, bikin candu deh....nikah yuk yank....kalau aku enggak kuat gimana?", ujar Gery dengan menatap lembut wajah Vee.
"Minum obat kalau enggak kuat yank...gitu aja kok repot hahahahaha....."
"Kamu ya...Awas saja."
"Awas apa?? macem macem aku aduin ke Papah loh!!"
"Aduin aja, sekalian bilang kalau kamu habis aku cium, bukan hanya sekali tetapi berkali kali, dan setelah itu kita langsung di nikahkan."
"Asem!! kalah aku kalau seperti itu."
"Mau jalan sekarang?? atau mau ke dalam untuk mengadu sama Papah??"
Vee melotot, bukan terlihat jelek tetapi malahan tambah cantik dan tambah nggemesin, bukan juga terlihat menyeramkan, tetapi sangat lucu.
"Jalan Ger!!"
"Jalan?? aku enggak mau, capek yank kalau jalan!!", goda Gery lagi.
Entah mengapa pagi ini, Gery lebih suka menggoda Velia, dan membuat kekasih nya cemberut itu adalah hobi baru nya saat ini.
"Gery!!!", teriak Vee!!
"Apa sayank?? mau di cium lagi??"
"Mau ke kampus Gery sayank, yuk anterin!!"
"Bayarannya dulu??"
Gary menunjuk pipinya, yah hanya pipi saja....sudah cukup sarapan pagi nya mencium bibir Vee, kalau di terusin, pastinya tidak akan ke kampus, dan Gery tambah ingin melakukan yang lebih dari itu.
"Oke .."
Hanya pipi saja, dan Vee langsung mencium kekasihnya dengan kilat.
Cup
"Udah kan?? ayok jalan, katanya takut macet dan enggak jadi sarapan nanti nya."
"Oke....let's go sayank."
__ADS_1