Perjodohan Rahasia

Perjodohan Rahasia
Korea


__ADS_3

Tok...tok....tok....


Suara ketukan pintu membuat kedua insan yang masih tidur berpelukan itu sontak langsung terbangun...tentu saja Vee sangat kaget karena ia bisa tertidur lelap di dalam dekapan Bara, laki laki yang saat ini di benci nya.


"Bar....satu jam lagi kita akan berangkat, bangun Bar!!"


Vee yang terbangun duluan langsung saja mendorong tubuh Bara, karena ia baru sadar kalau berada di pelukan Bara.


Brukk


"Au......sakit!!"


Bara memegang bokongnya.....ia yang baru saja bangun karena bokongnya terkena lantai, meringis seketika....di samping karena kaget, ia juga kesakitan.


"Sayank...kejam sekali..."


Bara mengasuh kesakitan, karena merasa nyeri di bagian bokong nya.


Sedangkan Vee, hanya melotot kan matanya, karena ia sendiri sebenarnya malu ketahuan tidur pulas di pelukan Bara.


"Jangan begitu sayank....serem tau!!"


Bara berdiri, ia kemudian membukakan pintu yang sedari tadi tidak pernah berhenti di ketuk.


"Iya bentar, bawel!!"


Bara yang tau kalau Bagas yang berada di depan kamarnya, seger membukakan pintu....kali ini Bagas tidak berani langsung membuka pintu kamar Bara, karena Bagas tau kalau di dalam kamar ada Velia.


Ceklek


Begitu pintu kamar terbuka, Bagas mengalihkan pandangan matanya ke dalam, tentu saja ia mencari sosok wanita yang selalu di puja oleh sahabat nya itu.


"Cari apa Lo??", tanya Bara seketika.


Ia tau kalau Bagas sedang mencari Velia, dan tentu saja Bara tidak menyukai nya.


"Cari Velia lah, memang nya cari siapa.", jawab Bagas santai, seperti nya tidak ada beban mencari calon istri orang, tidak tau saja kalau pemilik nya ada di depannya dan melotot tajam.


"Berani Lo!!"


"Aku hanya mencari saja, juga ingin melihat Vee", penasaran apakah Vee siang ini juga di tiduri lagi oleh Bara, mengingat mereka berdua tidur bersama.


"Kau siapkan mobil nya saja, Vee lagi mandi, lagipula gue tidak akan mengijinkan Lo untuk melihat calon istri gue...."

__ADS_1


"Ih pelit.... semoga enggak ditikung....",


Bagas meninggalkan kamar Bara, dengan raut wajah yang senang karena habis membuat Bara murka dan juga marah.


"Sial!!!"


"Dan aku tidak akan membiarkan orang lain menikung Velia...."


Brakkkkk


Dengan kasal, Bara menutup pintu kamarnya....laki laki itu kemudian mencari koper dan memasukkan barang barang nya juga barang barang Velia., tidak banyak yang di bawa Bara, karena ia tidak berencana untuk tinggal lebih lama di Korea.


"Bajunya Sayank....aku sudah siapkan.."


Bara menyerahkan satu stel pakaian untuk Vee, dan dengan wajah yang datar....Vee langsung mengambil nya.


"Jutek amat yank..."


Tanpa memperdulikan Bara, Vee segera kembali ke kamar mandi, rasanya ia lebih nyaman untuk ganti pakaian di sana daripada di ruang ganti.


Sepeninggal Vee, Bara hanya menggelengkan kepala nya saja, ia sama sekali tidak marah ataupun tersinggung dengan ucapan dan perlakuan Velia.


...****...


"Jangan khawatirr.... Perusahaan aman, dan gue tunggu kabar baik nya, jangan sampai Lo pulang dalam keadaan yang gila hahahaha....."


"Sial!!! gue pastikan akan bahagia, dan tidak gila..."


Bara menggandeng tangan Vee, setelah berpamitan dengan Bagas tentunya.


Vee sendiri tidak banyak ngomong dan hanya pasrah saja, ia memilih untuk memikirkan bagaimana mengatakan pada orang tua nya dan juga Gery, sungguh... rasanya belum siap untuk mengatakan nya.


Tiba tiba gadis itu menghentikan langkah nya, dan membuat Bara mengeryitkan alisnya...dan berpikir kenapa Vee berhenti mendadak.


"Kenapa Sayank??"


Memang sih, belum waktu nya untuk pesawat nya berangkat, tetapi melihat tingkah Vee, Bara jadi berpikir yang tidak tidak.


"Bisakah kita kembali, aku belum siap untuk mengatakan pada mereka..."


Vee menundukkan kepalanya, antara malas dan juga memang dirinya belum siap untuk bertemu dengan Papah nya.


"Ada apa?? ada aku yang selalu di sampingmu."

__ADS_1


"Aku belum siap, bisakah kalau tidak usah mengatakan pada kedua orang tua kita?? dan melupakan apa yang telah terjadi."


Yah setelah Vee berpikir, ia akan melupakan apa yang terjadi dengan dirinya, bahkan ia juga tidak akan mengungkit lagi apapun itu.


"Tidak....aku tidak akan melupakan nya ... aku juga tidak akan mundur, kamu kenapa??"


"Aku hanya takut mengecewakan Papah, aku tidak sanggup membuat nya menderita...aku......"


"Jangan seperti itu...aku yang akan bicara sama Papah, lagipula....kalau kita lupakan semua yang telah terjadi dan akhir nya kamu hamil anakku gimana?? kamu tidak ingat kalau aku sudah melakukan itu berulang ulang dan juga menumpahkan benihku di rahim mu?? dan kamu pasti nya tau kalau waktu itu kamu sedang masa subur subur nya...."


Deg


'Astaga....mengapa aku melupakan semua nya?? oh Tuhan...jika memang benar...aku harus bagaimana??'


"Atau kamu mau bersama dengan Gery??? kalau memang iya. .aku tidak akan mengijinkan nya, untuk kali ini aku egois dan serius tidak akan membiarkan kamu dimiliki oleh dia, atau pun laki laki lainnya...."


Semua ucapkan Bara sudah mewakili apa yang ada di pikiran Vee. Dan....memang nyata nya Vee masih berat untuk menikah dengan Bara.


"Ayok sayank, jangan pikirkan apapun itu.... pesawat kita sudah siap...aku mencintaimu...."


Bara menggenggam tangan Vee, kemudian membawa wanita cantik itu untuk segera masuk ke dalam pesawat pribadi nya.


Mereka sudah berada di dalam pesawat, dan sepanjang perjalanan Bara terus menggenggam tangan Vee yang terasa dingin itu, dengan Bara mengatakan sesuatu yang membuat Vee seketika diam dan tidak berkutik.


Keberangkatan Bara ke Korea tidak memberitahukan kepada Orang tuannya ataupun Papah Cesa, ia memang sengaja tidak mengatakan pada mereka, karena tidak ingin membuat mereka cemas dan dan penasaran dengan apa yang akan disampaikan nya.


"Tidurlah, nanti aku bangunin."


Seakan tersihir oleh ucapan nya Bara, Vee menyandarkan kepala nya di pundak Bara, dengan matanya yang sedikit demi sedikit terpejam.


"Bobok di dalam kamar saja gimana??", Vee menggeleng.


Dan Bara tidak bisa berbuat apa apa, mungkin Vee merasa nyaman bersandar di pundak Bara di bandingkan harus tidur di kasur.


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya... pesawat yang di tumpangi Bara sudah mendarat dengan selamat.


Bara lega, bahkan laki laki itu sama sekali tidak gugup ataupun takut karena ini memang diinginkan nya.


Bara yang tidak tega membangunkan Vee, ia memilih untuk menggendong Velia dengan sangat pelan supaya tidak membangunkan nya.


Di Bandara, Bara sudah di jemput oleh orang suruhan nya yang memang di minta untuk diam saja, tidak usah menceritakan kepada orang tuanya.


"Langsung ke tempat Papi, Om..."

__ADS_1


Laki laki yang hampir seumuran dengan Daddy nya itu mengangguk, dan Melania mobil nya dengan segera.


__ADS_2